Intan, Gadis Tomboy

Intan, Gadis Tomboy
Bab. 6. Sial Untuk Ke Sekian Kali


__ADS_3

Kedua mata mereka saling beradu pandang, tidak lama itu, pria yang berbadan tegap melepaskan tubuh Intan sampai dia terjatuh.


"Aduh! Sakit banget! Dasar pria tidak punya belas kasihan!" Celoteh Intan merasakan sakit di punggungnya.


Dia kesulitan berdiri, Intan memandang pria itu, tidak ada sedikitpun dia ingin membantunya berdiri.


Malah memalingkan wajahnya, hati Intan kali ini sangat geram. Bisa-bisanya ada pria semacam dia. Masih bagusan pribadi Zaky. Meski tampang beda jauh.


"Dasar pria tengil! Kamu udah tahu kerugian telah menjatuhkan aku? Gak sebanding dengan lemparan batu ke anjing kamu!" Celotehnya lagi.


"Enggak bisa! Kamu harus ganti rugi karna melemparkan batu ke anjingku!"


"Eh, aku juga kesakitan tahu kepala sama punggungku!" Intan tidak mau kalah. Sepertinya pria ini akan menghabiskan uangnya kalau menuruti ucapannya. Sepertinya dia pria kaya. Dia harus cari cara untuk mengelaknya dan lepas darinya.


"Gak bisa, kita impas dong! Aku merasa dirugikan juga kan sama kamu. Kalau mau aku bisa melaporkanmu ke polisi, dengan ancaman tindak kekerasan!" Ancam


"Oke oke! Kita impas!" Ucap pria dengan tubuh atletis itu, dengan baju santai yang dipakainya. Membuat segar dipandang mata. Sayangnya Intan sudah terlanjur benci kepadanya.


Tidak ada ucapan pamit, Intan berjalan saja melewati sang pria yang saat ini dibenci nya jika sampai dia bertemu lagi dengan cowok ini, dan kembali berulah dia akan menghajarnya jika perlu.


Rasanya emosi ini sudah dipuncak ubun-ubun. Ingin meluapkan namun tertahan.


Intan melemparkan batu yang masih digenggamnya tadi, dengan keras ke sembarang arah, tanpa sepengetahuannya batu itu terpental jauh ke jendela warga sekitar taman.


Pyar!


Sontak membuat Intan terkejut dan takut, dia berusaha melarikan diri. Sebelum sang pemilik rumah mengetahui nya.


"Siapa yang melakukan ini!" Teriak suara perempuan dari dalam rumah namun belum terlihat batang hidungnya.


"Kabur aja! Lari!" Teriaknya spontan.

__ADS_1


Intan berlari sejauh mungkin meninggalkan taman. Sambil melihat kebelakang, tapi pria itu masih disana, pasti dia nanti akan bilang kalau aku yang memecahkan kaca jendelanya.


"Ih, sial kenapa aku harus bertemu dengan pria macam itu sih. Beberapa kali aku mengalami kesialan hari ini. Benar aku harus di buatin bubur merah putih nih, biar merdeka. Hahah," Intan masih bisa tertawa melihat ulahnya sendiri. Dia belum memikirkan jika sang pemilik rumah datang mencarinya, memarahinya, dan pasti minta kerugian atas kerusakan rumahnya.


Intan tidak perduli, yang penting dia lari dulu. Masalah itu biar dipikir nanti.


"Astaga dragon, ini hari apa sih. Apa hari perlombaan maraton sedunia, Sampai aku dari tadi gak kunjung berada pada garis finish, aku belum ngelihat garis finish-nya," Intan berlari dengan berceloteh sendiri.


Setelah dikira pemilik rumah tidak akan mengejarnya, Intan berhenti berlari di sebuah warung kecil.


"Kebetulan sekali, aku laper dan haus juga. Masuk kesini ah. Kayaknya tadi aku masih nyimpen uang dua puluh ribuan di kantung celana," gumamnya tanpa memeriksa isi sakunya. Padahal uang yang dimaksud sudah jatuh dijalan saat dia berlari.


Dengan gebrakan tiga kali tangannya di atas meja, membuat pemilik warung sedikit kesal. Karena dia sedikit mengenal cewek yang sedang duduk di kursi miliknya. Dia sering membuat kerusuhan, dikampung. Siapa tidak kenal dengan gadis itu? Intan Ayu Cahyani. Gadis tomboy yang doyan berkelahi.


"Bisa sopan sedikit mbak? Aku tidak perduli jika kamu tidak jadi beli makanan di tempatku," penjual warung berdecak kesal.


"Maaf Bu, hari ini aku sangat lapar bisa pesan nasi pecel sama es teh gak?" Intan dengan mudahnya bicara tidak melihat wajah ibu penjualnya yang sedikit emosi.


"Ya, mbak tapi yang sopan ya. Jangan buat kerusuhan disini! Kasihan pembeli lain merasa terganggu," ucapnya.


Nasi pecel dengan bumbu khas yang menggoda , lauk bali ayam, sayur toge plus rempeyek kacang. Pesanan Intan dia lahap segera setelah sampai di mejanya. Dengan rakusnya dia makan sampai bersendawa keras. Lalu meneguk es teh manisnya.


"Alhamdulillah," ujarnya sambil mengelus-elus perutnya yang sudah kenyang.


Pembeli yang lain malah mengucapkan, "Astagfirullah," melihat Intan dengan tatapan aneh. Intan melihatnya dengan linglung. Apa dia salah sebut.


"Aku benarkan habis makan baca Alhamdulillah? Kenapa mereka enggak, apa ada yang salah. Udahlah aku gak perduli, yg penting aku kenyang," gumamnya sendiri masih dengan mengelus-elus perutnya yang sedikit buncit.


"Bu, berapa nasi pecel sama es tehnya?" Tanya Intan dengan nada sombong dikit, berasa kayak juragan empang.


Intan mencari uang disaku celana Levis pendeknya, yg bergaris-garis karena sengaja disayat membujur.

__ADS_1


Dengan waktu beberapa lama dia mencoba mencari lembaran lusuh yang asal saja di masukan saku. Tidak kunjung dia temukan .


"Lima belas ribu mbak, ada gak uangnya?" Tanya pemilik warung dengan tidak percaya. Intan tidak juga menjawabnya. Dia sibuk mencari di segala sisi saku celana dan kaos yang dipakai.


"Ga ada ya?" Tanyanya lagi.


"Kalau gak punya uang, Jangan berlaga seperti orang kaya dong, ayo sini ikut aku ke belakang dapur!" Ajak pemilik warung dengan menyeret kerah kaos Intan.


"Eh tunggu-tunggu! Aku mau dibawa kemana nih, Jangan kaya gini dong Bu, aku malu dilihat orang-orang?" Kata Intan dengan menutup wajahnya karena sangat di lecehkan.


"Ini akibat jika orang mau makan tapi gak mau bayar, ayo cepat cuci semua piring dan gelas yang numpuk di dapur itu!" Suruh ibu pemilik warung dengan menunjuk tumpukan piring kotor yang berbaris dengan tidak rapi.


Intan dengan pasrah, akhirnya masuk dapurnya dan mencoba mencuci piring di tempat cuci piring.


Dengan perasaan jijik dia mengambil satu piring dan mencucinya dengn sabun cuci piring. Setelah bersih dia tengkurap-kan di tempatnya. Sebelumnya Intan tidak pernah membantu ibunya dalam pekerjaan rumah.


Satu piring dua piring selesai, piring ketiga


terlalu kebanyakan sabun, licin jatuh


Pyar!


Suara itu membuat Ibu pemilik warung datang dengan emosi lagi.


"Eh kamu! Uda enak ya aku kasih hukuman ringan cuma cuci piring, sekarang malah kamu pecahkan gerabah. Uda kamu keluar aja dari sini!" Ucapnya dengan berteriak.


Intan melangkah dengan langkah gontai, dia malu sebenarnya tiap hari di hadapkan masalah karena ulahnya sendiri.


Dia menundukkan kepalanya dengan malu, melewati pembeli lain yang memperhatikannya.


Terpaksa dia harus ambil langkah seribu untuk mempercepat jalannya dari orang-orang yang memperhatikannya disana.

__ADS_1


"Huft apes banget aku! Lelah hayati sekarang, butuh tempat buat semedi," ucapnya sendiri mencari tempat yang sepi untuk beristirahat. Yang disana gak ada anjing, Kera, iblis,dan semacamnya. Biar bisa istirahat dengan tenang.


Di dekat perkampungan miliknya ada sebuah bukit yang lumayan luas bisa ia jadikan tempat beristirahat. Menetralkan pikirannya yang saat ini sedang kalut.


__ADS_2