
Intan tidak melawan tarikan tangan Zaky, hingga pria itu menemukan salah satu tempat duduk dengan pemandangan yang indah, di atas balkon.
'Ternyata ada juga cafe di atas balkon gini, tapi tempat itu cukup menampung 5 meja kursi,' kata Intan tanpa suara.
Intan berdiri dari kursinya, berjalan mendekati pagar pembatas lantai atas, terbuat dari besi yang kuat.
Menikmati satu persatu tempat istimewa itu. Di lihatnya pemandangan dari dia berdiri begitu cantik. Meski tomboy, dia juga kagum melihat keindahan alam ini.
"Keren!" satu kata dari mulutnya mempertegas akan apa yang di lihatnya saat ini.
Pohon yang rindang, taman bunga yang di tata sedemikian rupa hingga mata Intan takjub dan segar memandangnya.
Zaky berjalan mendekatinya lalu berdiri di samping Intan. Melakukan aktivitas yang sama yaitu menikmati keindahan ciptaan-Nya.
"Gimana Unta? haha," lagi Zaky membuat kepala Intan bergerak lurus dengan wajahnya. Lagi matanya hampir copot mendengar kata Unta terngiang ditelingahya.
"Ampun! ampun!" Zaky berlarian mengitari balkon atas untuk menghindari pukulan Intan padanya.
"Sini kamu! aku mau jitak keras kepalamu Zaky!" Intan mengejarnya hingga dapat.
Meraih kerah baju Zaky hingga tertangkap, dan kebiasaannya menjitak kepala Zaky dengan keras akhirnya terlaksana.
"Aduh! sakit banget!" keluh Zaky. Biar dia merasa kesakitan namun melihat Intan tertawa sudah menjadi kebahagiaannya tersendiri.
Meski sakit terhadap perilaku Intan yang terlihat bar-bar, dia telah menyadarinya bahwa ada satu perasaan suka pada gadis tomboy itu namun dia tidak belum berani mengungkapkannya. Karena dari dulu mereka tidak pernah serius akan suatu hal. Menganggap semua hanya permainan yang mereka ciptakan sendiri.
"Aku lelah Intan, yuk rehat!" ajaknya, dengan menarik satu kursi untuk ditempati sendiri. Membiarkan Intan mencari kursi yang enak untuknya meletakkan pantatnya.
Seorang pramusaji datang menghampiri meja mereka dan menanyakan pesanan. Dan keduanya memesan cemilan dan minuman yang sama.
"Baiklah Tuan dan Nona, silahkan ditunggu pesanan akan segera saya antar!" ucap pramusaji cantik, tinggi, berhijab putih, memakai gincu berwarna merah bata. Make up nya natural. Membuat Zaky beberapa menit lamanya menatap wajah wanita tersebut.
Tanpa diketahui Zaky, Intan memergokinya, saat wanita itu pergi dari meja mereka, barulah Intan menyindirnya habis-habisan.
"Hah, kelakuan buaya! nggak tahan dengan yang bening-bening kayak gitu, kalau misalnya kamu digoda karena kesetiaan. Sepertinya kamu akan kalah Zaky, karena terlihat dari kedua matamu kalau kamu itu memang buaya darat, tidak bisa melepaskan yang cantik-cantik di depan matanya," celoteh Intan, tanpa memperhatikan wajah Zaki yang tertangkap menyembunyikan malunya.
__ADS_1
"Haha, kamu cemburu ya Intan?" Tebakan Intan membuat gadis itu terkejut. Kenapa tiba-tiba Zaky menanyakan kalau dia lagi cemburu saat Zaky melihat gadis lain, pikirnya.
"Yee, siapa? aku? ya enggak lah! percaya dirimu mulai keluar, gak ada dalam kamus Intan kalau Intan cemburu sama Zaky," jelasnya dengan wajah cemberut.
Dia tidak mau terlihat lemah di hadapan Zaky, tentang hatinya. Dia juga tidak pernah merasakan jatuh cinta pada siapapun.
Tapi saat melihat Zaki memperhatikan wajah pramusaji yang terlihat ayu tadi, pikiran Intan menjadi kalut.
"Ah, sudahlah. Lupakan hal itu," tenangnya pada dirinya sendiri. Hingga dia terdiam beberapa saat membuat Zaky makin curiga akan tebakannya itu benar.
Cletak! Cletak!
Zaky membunyikan suara dari petikan jari tengah dan ibu jari tangannya berulang kali.
Mengganggu lamunan Intan yang memakan beberapa menit lamanya membuat Zaki menunggu.
"Woy! ngelamun! awas kesurupan monyet!" kata Zaky membuyarkan lamunan Intan.
Bug!
"Aduh, suka ngeselin ya kamu!" Intan berlipat tangan di dada. Lagi-lagi dia menunjukkan wajahnya yang cemberut.
"Sialan kamu Zak!" Intan menutup wajah dengan kedua telapak tangannya. Saat ini dia tersipu malu dan tidak ingin menunjukkannya kepada Zaky.
"Kenapa ditutup gitu mukanya?" Zaky memaksa melepas tangan Intan yang menutupi wajahnya.
Kala ini, dia ingin melihat wajah Intan yang berubah merah karena malu. Seperti kepiting rebus.
"Apaan sih! rempong kau Zaky!" gelak tawa mereka pecah, tidak ada waktu bagi mereka untuk tidak bergurau. Keduanya tidak pernah menjalani kehidupan mereka dengan beban. Menjalani kesehariannya bersama dengan gembira. Itulah yang membuat hubungan persahabatan antara mereka kuat.
Tidak lama itu waitres datang dan membawakan pesanan mereka di atas nampan kayu berbentuk persegi beserta dua gelas mocktail.
"Silahkan Tuan, Nona!" waiters mempersilahkan mereka menikmati hidangan sesuai dengan pesanan.
Lagi Zaky, menggoda Intan dengan memperhatikan waitress itu terus menerus dengan tatapan kosong dan tersenyum seperti orang gila.
__ADS_1
"Terimakasih Nona manis!" jawab Zaky, mengedipkan sebelah matanya pada perempuan yang berdiri setelah meletakkan plate berisi pesanan mereka.
Waiters membalas senyum Zaky, membuat Intan sedikit mengerutkan kening.
"Ih, ternyata pelayan itu sok cantik juga. Menyebalkan!" gumamnya, dengan kesal dia menarik plate di depannya tanpa ragu dan melahap makanan di hadapannya.
Mengangkat mocktail lalu mengaduknya dengan kesal. Membuat Zaki Dan pelayan itu tersenyum. Mereka menahan tawa melihat Intan bertindak konyol.
"Baiklah, silahkan menikmati makanan yang sudah kami siapkan dan jika ingin menambah pesanan Tuan dan Nona bisa memanggil saya kembali," dengan menundukkan kepala gadis itu berlalu dari mereka.
"Woy! dasar tukang bohong! Kalau cemburu cemburu aja nggak perlu ditutup-tutupin kayak gitu, ketahuan tahu kalau kamu lagi bad mood melihat aku perhatian sama pelayan yang baru saja mengantar pesanan," ejek Zaky.
Intan tidak menghiraukan ucapannya dia terus saja melahap habis makanan itu dan segera meminum mocktail miliknya. Sampai tetes terakhir, tersisa dua tiga balok kecil es batu.
"Ampun ini anak, makan pelan-pelan sakit kalau tersedak!" tutur Zaky, menghentikan kegiatannya demi melihat tingkah aneh Intan wanita penjaga image-nya sendiri dengan raut wajah tidak sedap di pandang.
"Biarin! siapa memangnya kamu? berani-berani mengatur hidup aku! Kakak bukan, tetangga bukan, pacar bukan," Sulut Intan tidak menoleh sekalipun ke arah Zaky.
"Gimana kalau mulai sekarang aku pacar kamu!" ucap Zaky tiba-tiba.
"Uhuk uhuk uhuk!" Intan terkejut dan tersedak seketika mendengar ucapan Zaky yang keterlaluan.
"Minum-minum!" Zaky menyodorkan gelas kosong pada Intan.
"Ih, gak ada isinya." menunjukkan gelasnya ke depan Zaky.
"Oh ya, bentar. Corry corry, udah aku mau melanjutkan makananku dulu mubadzir kalau makanan ini dibuang kan!" Zaky tidak memperhatikan Intan kembali, Dia segera menghabiskan makanan beserta minumannya.
Gleekk!
"Ih, jorok banget! Gimana ada cewek yang suka sama kamu kalau kelakuannya kayak gini!" kata Intan.
"Ada donk!"
"Siapa?"
__ADS_1
"Bukannya kamu?!"
"Haha, ngaco kamu Zak! dah ah yok balik!" ajak Intan menutup pembahasan mereka tentang kecemburuannya