
“Bagaimana Intan, kau terima aku tidak menjadi pacarmu sekarang?' sekali lagi, Zaky bertanya tentang keseriusannya untuk menjalin kasih bersama Intan, wanita yang amat di cintainya.
"Bagaimana ya Zaky, sebenarnya aku tidak ingin buru-buru pacaran sama kamu, tahu tidak hubungan persahabatan lebih baik daripada menjadi hubungan kekasih, aku lebih nyaman menjadi sahabatmu saja, dari pada kekasihmu," jawab Intan, membuat hati Zaky menjadi patah dan berkeping.
"Yah, padahal dengan berat hati dengan perencanaan yang cukup matang aku telah menyiapkan semua ini untukmu Intan, tapi ternyata alhasil kau tidak mau menerimaku menjadi kekasihmu, sungguh Syulit ini untukku Intan, rasanya hatiku patah, Apakah kamu punya lem? Aku butuh perekat untuk menyatukan hatiku yang sudah rusak ini," kata Zaky curhat sekalian bercanda.
"Ya, seperti itu kalau sudah patah hati Zak? Payah kamu! Berarti kamu harus berusaha lebih gigih lagi untuk mendapatkan aku, karena cinta itu butuh pengorbanan, tidak cukup satu kali dua kali berkorban untuk mendapatkan cinta, tapi sampai berkali-kali agar si hati wanita luluh di tangan seorang pria," jelas Intan. Ada adegan menggoda Zaky kali ini.
"Bagaimana bisa kamu mengatakan satu kali dua kali, ingat saja perjuanganku menjadi sahabat kamu itu tidak mudah, aku harus menjadi teman sekaligus bodyguardmu kemanapun kamu pergi, ingat tidak Intan setiap saat aku berada di sampingmu melindungimu, dan menjagamu," jelas Zaky mencoba mengingatkan Intan.
"Ya … aku hampir saja lupa, Untung kau ingatkan, haha," gelak tawa Intan tidak sedap untuk di dengar Zaky. Seperti ia tertawa di atas deritanya.
"Jadi gimana nih kau terima atau kau menolakku?" tanya Zaky dengan manyun.
"Terima, tolak, terima, tolak, terima, …" Intan menghitung dengan jari telunjuknya. Dalam jari yang kelima, dia akan menerimanya.
"Jadi bagaimana Intan?ngeselin sih! lama bener mau jawab Nerima aja, susahnya kaya ngajak anak gadis nikah!" lagi, Zaky tidak sabaran.
"Ye…. aku juga gadis tahu! sial-lan loh!" dengan mendorong kepala Zaky.
"Intan, Semula aku bimbang dengan perasaan ini, aku belum bisa mengartikan perasaanku sendiri, tapi, saat kau tidak ada perasaan rindu yang tiba-tiba muncul, saat kau memikirkan Dion, aku cemburu, dan lama-lama aku menyadari bahwa ini adalah perasaan cinta, bukan hubungan perasaan antara teman atau sahabat," jelas Zaky, dengan menatap wajah Intan yang sama memandangnya.
"Benarkah itu Zaky? Kenapa baru kau ucapkan Sekarang?"
"Hem … namanya juga baru bisa mengumpulkan keberanian untuk mengungkapkan itu sekarang Intan, ayolah Intan, jangan permainan perasaan ku ini," wajah Zaky mulia berubah, lebih serius dari seperti biasanya.
Intan mengangguk, lalu menunjukkan jari kelingkingnya ke hadapan Zaky.
"Apa ini maksudnya?" sudut bibir Zaky terangkat.
"Ia Zaky! aku terima, puas gak?"
__ADS_1
"Benarkah Intan?"
"Ia!"
"Yey … Iove you Intan! oh ya, mau gak aku panggil Sayang?"
"Gak, udah Intan aja!"
"Yah, gak romantis, seperti sama aja antara pacar dan teman dong! kan aku mau pamer sama teman-teman, kalau aku punya ayang!"
"Sudah, gak perlu cerewet," Intan terkekeh membuat jawaban itu.
"Ya sudah terserah kamu aja, mau gak kita dansa dulu?" ajak Zaky dengan menjulurkan tangannya, mengajak Intan berdiri dan berdanca.
Dengan senyum riang, Intan berdiri dan menerima ajakan Zaky.
Dengan memutar musik romantis mengiringi danca kecil mereka, kedua tangan Intan lingkarkan di leher Zaky, dan Zaky memegang pinggul Intan.
"Ya iya … aku masih bisa kok jaga diri, jangan khawatir Intan Sayang," kata Zaky mengedipkan sebelah matanya.
"Eh dari kapan kamu genit begitu?" Intan mencubit kupingnya dengan tersipu malu.
"Sudah Intan, aku tidak mau bercanda, aku ingin serius, untuk saat ini, izinkan akang Zaky menjadi pangeran-mu dalam sehari," ucap Zaky masih mencoba serius dengan usahanya mendapatkan hati Intan.
"Sayang,-"
"Cukup panggil Intan saja!"
"Oke, Intan, saat aku memandangmu, sejak awal mula aku mengenalmu, aku mulai menyukaimu, aku mencoba menepis perasaan ini, tapi aku tidak mampu, Aku hanya bisa memendam rasa ini dalam-dalam, kan aku tahu kau hanya menganggapku sebagai teman, tidak lebih dari itu, sungguh aku tidak pernah bosan menghabiskan seluruh waktuku bersamamu saja, kau yang membuat hidupku serasa berwarna, Intan. Terima kasih untuk semua itu. Dan mulai hari ini, aku akan berjanji menghabiskan seluruh hidupku bersama-mu saja," ucapan Zaky membuat Intan tertawa.
"Sudah ngomongnya?"
__ADS_1
"Kenapa kamu tertawa sih? Udah susah-susah aku nyiapin semuanya kamu malah ngetawain kayak gitu."
"Maaf maaf;"
"Oh ya aku masih mempunyai sesuatu untuk kamu sebuah hadiah yang kamu pasti suka," Zaki menghentikan gerakan dancanya, lalu mengambil sesuatu di kantong di kemeja.
Intan nampak berbinar karena Zaki mengeluarkan sebuah kotak perhiasan kecil dan ia bisa menebak mau isinya adalah sebuah cincin.
Tidak lama kemudian, Zaky membukanya, dan ternyata benar bahwa isinya adalah sebuah cincin, mata Intan berbinar melihatnya.
Zaky duduk di atas satu lututnya dalam keadaan terjongkok menghadap Intan, seperti pujangga yang sedang melamar pasangannya, begitulah drama yang dimainkan oleh Zaky sekarang.
"Jadilah kekasihku untuk selamanya, jika kita sudah lulus nanti, aku tidak akan menyia-nyiakan waktu untuk segera melamarmu sebagai istriku, Intan. Aku serius untuk ini," ucap Zaky tanpa menunjukkan wajah berguraunya.
"Haha, ah itu masih lama sekali tahu! dasar payah! kita masih cinta monyet, jadi tidak usah di buat serius, kita jalani aja seperti air yang mengalir, dan terima kasih untuk semua yang kau persiapkan untuk hari ini ya Zaky."
"Setidaknya aku sudah utarakan semuanya."
"Sini aku pakaikan cincin ini di hari manismu, muat apa gak ya, kan jarimu Segede gajah, takutnya gak muat," Zaky terkekeh saat mengucapkan itu, siap-siap di akan mendapatkan jitakan di kepala seperti yang biasa ia lakukan padanya.
"Sial-lan loh! Gini-gini jariku lentik tahu, meski tidak pernah melakukan perawatan."
"Muat, malah pas banget, kamu kelihatan cewek banget pakai ini!"
"Dari dulu apa gak nyadar kamu, Zak! Kemana aja Lo selama ini? Oh ya, apa tidak ada acara makan-makan? tahu tidak aku nunggu kamu nawarin makan, lapar tahu dari penjara aku tak makan apapun dari pagi! Kejam Lo Zaky!"
"Ya, oke-oke yuk silahkan duduk dulu Tuan Putri, aku mau panggilkan pramusaji," Zaky membantu menggeser kursi Intan kebelakang, dan menyuruhnya duduk.
Sejak saat itu hubungan mereka semakin dekat, meski terlihat sama saja, tapi setidaknya Zaky sudah memberi tanda cincin yang melingkar di jari Intan, bahwa gadis itu miliknya.
****
__ADS_1
Terimakasih untuk yang sudah mampir di cerita singkat saya, entah ada atau tidak ada, karena saya juga jarang promosi, tapi mudah-mudahan bisa menghibur kalian semua, tidak ada konflik berat, hanya memberikan konflik ringan, dan semua bertujuan untuk menghibur pembaca. Sekian dan terimakasih***** Tamat*****