Intan, Gadis Tomboy

Intan, Gadis Tomboy
Bab. 17. Mendadak Demam


__ADS_3

Intan masih menunggu Zaky membalas pesannya lebih dari sepuluh menit Intan menunggu. Rasanya pengen sekali ponsel itu ia banting saja.


Bug!


Yah, karena berpikir bahwa ponsel itu masih berguna untuknya,dia hanya berani melempar saja di kasurnya.


"Zaky ... Ku mohon jangan siksa aku seperti ini Zak! Cukup Emak saja yang menyiksa aku, please. Terlalu sakit hati ini jika harus tersisak batin," sendiri tidak jelas arahnya.


Ting Ting!


"Eh, ada pesan masuk lagi!" tubuh yang tadi duduk manis di jatuhkan lagi dan mengambil ponselnya di sebelah bantal.


"Eh Zaky chat lagi!" mata Intan berbinar-binar.


Saat di buka, [Eh maaf Kera, ketiduran]


Dengan wajah masamnya, setelah membacanya Intan sudah tidak tahan lagi dengan monyet itu. Dalam pikiran Intan, bisa-bisanya saat dia chattingan dengan Intan, bisa sengaja tertidur.


[Dasar monyet kampret!] umpat Intan. Meski kesal dia masih bisa tertawa.


[Kamu nulis itu cemberut, kenapa saat kamu kirim sudut bibirmu berubah naik? kamu masih waras kan?]


[Salam waras]


[Dasar gila!]


[Kamu yang gila]


Tidak lama kemudian, Zaky membuat panggilan pada Intan. Membuat gadis itu makin gugup.


"Oh Bebeb, dia menelpon aku, bagaimana ini? apa yang harus aku lakukan?"


"Hallo! kenapa membuat panggilan? Bukankah lebih seru main chat aja?" tanya Intan mula-mula. Memulai percakapan.


"Intan, keluar yuk!" ajak Zaky suaranya terdengar dari seberang telpon.


"Ah, kamu tahu tidak bahwa saat ini aku sedang dikunci emak di dalam kamar nggak bisa keluar aku, Zak!" Intan dengan wajah cemberutnya yang khas, terlihat sendiri dari kaca rias di sebelah ranjangnya.


"Ha? kok bisa?"


"Ya, karena tadi pulang mendekati petang, biarlah Zak, asal aku tidak di hukum lainnya, aku masih bisa hubungi kamu," jawabnya jujur.

__ADS_1


"Aduh kasihan sekali sahabat ku... Sabar ya, apa perlu aku kesana?"


'Dih, sahabat. Kok aku nyesek ya dengar dia anggap aku cuma sebatas sahabat?'


"Intan?" Panggil Zaky dari seberang telpon, menunggu gadis itu bersuara.


"Ah ya? Oh, tidak perlu Zak. Santai saja! aku bisa atasi semua ini, kan aku Intan. Heheh," celotehnya asal mangap.


"Sabar ya Intan," pinta Zaky pelan, suara sebelahnya terdengar parau.


"Aku berharap cepat pagi dan berangkat sekolah bersamamu, biar rindu ini terobati," ucap Intan langsung mengakhiri panggilan nya.


'Eh, aku baru aja melawak. Malu-maluin namaku saja. Akhbtadi bilang apa sama Zaky? Ups. Ah, bagaimana nasibnya esok. Aku pasti sangat malu pada Zaky. Biarlah, itu biar jadi kisah kita berdua saja. Hehe.'


"Hallo? Intan? kamu masih di sana?" tanya Zaky berulang kali. Menuggu tidak ada sahutan.


"Ah, ya, hallo. Aku masih mendengar suaramu," jawab Intan.


"Zak, besok anak-anak minta latihan setelah jam pulang sekolah usai. Menurut kamu gimana dong? masalahnya sekarang Emak lagi marah sama aku," Intan meminta perhatian Zaky.


"Sabar ya, nanti bilang sama teman-mu, ada acara atau apa gitu aja."


"Ya Intan?"


"I love you!" jawab Intan, buru-buru lalu mengakhiri panggilannya.


Deg!


Intan telah mengungkap perasaan nya secara langsung, entah itu benar atau salah bagi seorang wanita nembak cintanya si pria.


Merasa bodoh amat, dia memejamkan matanya, siapa tahu di alam mimpi nanti Mereka bertemu lagi.


"Intan!" panggil suara seseorang ya ini Emak Minah, yang baru saja membuka pintu kamarnya.


"Mak?" mata Intan terbuka melihat Minah membangunkannya..


Intan terbangun, Melihat jam dinding sudah menunjukkan pukul 08.00 malam.


"Kenapa di buka pintunya? Intan tidak menyuruh Emak buka pintunya biar saja Intan dikurung di kamar ini selamanya."


"Kamu bicara apa sih Intan? Maafin emak, emak hanya memberikan efek jera padamu, supaya kamu tidak mengulangi perbuatan kamu lagi, paham kamu Intan?" Emak bertolak pinggang menatap ke arahnya.

__ADS_1


"Ya Mak, Intan minta maaf ya Emak," wajahnya yang sengaja di polos-kan itu membuat Minah maka tidak tega telah menghukumnya.


"Intan, ayo kita keluar. Bapak menunggumu di meja makan, kita makan malam bersama!" ajak Minah.


"Intan tidak lapar Mak. Bapak sama Mak saja silahkan candle light berdua," Intan tersenyum.


"Opo iku cendel Lik diner?" tanya Mak dengan mudah susah bicara menirukan anak ya.


"Candle light dinner, Mak. Ih Emak."


"Sudah-sudah! mari isi perut dulu! Mak masak banyak," kata Minah menyeret tangan Intan yang saat ini terasa sakit, karena kegiatan tadi pagi, di gudang Dion.


"Lho, kamu demam Intan?" tanya Mak Minah, saat dia menggandeng lengan Intan, merasa suhu tubuhnya tinggi.


Intan sendiri tidak merasa bahwa saat ini dia sedang demam, dia hanya sempat pusing saja tapi dia tidak merasa tidak enak badan.


"Maafin Emak ya Intan, ya sudah, kamu di sini aja biar emak yang mengambilkan makanan untuk kamu ke sini nanti sekalian aku bawakan obat Paracetamol untuk kamu, tunggu ya Sayang, jangan tidur dulu," kata Minah buru-buru keluar untuk membuatkan bubur.


Tubuh Intan tiba-tiba menggigil, dia merebahkan kembali tubuhnya di atas ranjang lalu menarik selimut menutupi tubuhnya.


Beberapa menit kemudian, Minah kembali dengan membawa air dalam baskom beserta handuk berwarna putih.


Kembali iya memeriksa suhu badan Intan menggunakan telapak tangannya yang ia tempelkan di atas kening.


"Panas Intan, maafin Emak Intan!" lagi-lagi Emak mengucapkan permintaan maaf untuk kesekian kali. Wanita itu segera mencelupkan handuk itu ke dalam baskom yang berisi air tadi, memerasnya lalu meletakkan di atas kening Intan.


Di susul Misbah yang menenteng mangkuk kecil. Dan segelas air putih.


"Ini Mak, suruh Intan makan bubur ini dulu, terus minum obatnya," suruh Misbah, meletakkan mangkuk dan gelasnya di atas meja.


Pria tua yang berusia tidak kurang dari usia istrinya itu, duduk di tepi ranjang dengan memijit kaki Intan.


Melihat putri yang di sayangi itu sakit, merasa tidak tega saja melihatnya. Namun melihat tiap hari kenakan putrinya itu, juga membuatnya emosi lagi. Dia sudah dewasa, seharusnya pola pikir gadisnya itu sudah berubah. Tapi yang dia lihat semakin ke sini dia semakin nakal saja, bahkan tidak bisa di beri nasehat.


Tangannya meminati kaki Intan, dengan sedikit memberi kata mutiara untuknya.


"Nak, Anaku yang cantik jelita tiada tara. Bapak ini sudah tua, Bapak ingin kamu itu berubah dewasa, Kenapa malah yang ku lihat kamu makin tidak beres saja sih," ucap Misbah pelan tapi menyakitkan hati Intan.


"Bapak, lihatlah kondisi anakmu, sudah lemah begini masih di beri kata bijak, malah bijaknya sangat menyayat hati," ucap Intan dengan mengerucutkan bibirnya.


"Haha, bapak hanya menasehati kamu Intan, di dengarkan saja jangan protes, sudah ayo duduk, Mak suapin bubur dulu," ucap Minah, dengan membantu membangunkan Intan dari tidurnya.

__ADS_1


__ADS_2