
Intan hanya memilih satu setel pakaian. Dia menolak tawaran Zaky. Dia yakin, dia tidak cukup banyak uang untuk membayar semua pakaian yang dia pilih, karena dia hanya anak sekolahan, pengangguran sama sepertinya. Hanya bisa menengadahkan kedua tangannya pada orang tua.
Intan jadi malu sendiri melihat kehidupannya yang tidak karuan.
"Kamu ganti sekalian! Pake aja yang baru. Dan buang yang lama!" Suruh Zaky pada Intan, namun dalam gurauan.
"Berasa orang kaya saja, baju kotor buang beli baru hehehe," kata Intan tertawa.
Setelah Intan memakainya, ya sama aja tidak ada yang berbeda dengan anak itu. Dengan memakai satu anting di telinganya kirinya udah kaya anak cowok pake tindik. Buat Zaky geleng kepala.
Dalam pikiran Zaky, Intan adalah gadis manis yang baru saja memilih gaun pengantin dan menunjukkannya pada calon suaminya. Terus suaminya terpukau dengan kecantikan calon istrinya. Bukan seperti yang di tampakkan Intan saat ini, sebelum dan sesudah sama aja. Hahah.
"Gimana menurut kamu? pantas gak kaos yang aku pakai?" Intan minta pendapat Zaky yang menunggunya diluar tempat ganti pakaian.
"Em, bagus. Bagus banget," jawab Zaky bingung mau berkata apa. Yang sebenarnya sama saja dengan semula. Yah biar hati Intan merasa senang dikit, pikirnya.
Zaky menarik lengan Intan dan berbisik, "Uda kalau uda dipakai, gak bisa ditukar lagi."
"Ya aku ngerti kok. Cepat bayar Zak, terus kita nonton!" Ajak Intan.
"Tapi kamu yang bayar tiket masuknya ya. Hehehe," lanjutnya sebelum Zaky bersuara.
"Ya bebek, semua pakai uangku. Kamu tenang aja, jangan khawatirkan soal uang," imbuhnya dengan menarik dagu Intan.
"Lagaknya kaya bos besar," Intan cengengesan melihat Zaky yang tidak biasa saat ini.
Mereka keluar mall, dan masuk ke bioskop. Dengan dua tiket berada ditangan Zaky.
"Beli popcorn ya, buat cemilan?" Intan memberi pendapat.
Hari itu ditayangkan film horor kesukaan Zaky. Intan tidak menyukai film semacam itu. Sebenarnya dia takut, tapi tidak aku mengaku pada Zaky, gengsinya besar.
"Wah, film horor nih. Kesukaan aku banget," Zaky melihat ke depan layar tanpa berpaling. Dia tidak melihat Intan merinding ketakutan.
Intan hanya fokus pada popcorn yang dia bawa. Itu membuatnya menghindari rasa takutnya. Hingga belum setengah dari film itu selesai cemilan itu hampir habis.
Saat semua orang berteriak, Intan diam. Bagaimana bisa berteriak menengok depan aja tidak, Hahaha.
Zaky penasaran, gadis yang berada disampingnya itu diam tidak bersuara. Dia menoleh ke arah Intan disebelahnya. Dia asyik makan
"Eh ini anak. Ngajak nonton apa ngajak makan di bioskop?" Zaky bergumam sendiri. Dan melirik ke tempat pembungkus popcorn.
"Astaga dragon, Uda habis?" Lanjutnya berkata lirih.
__ADS_1
Intan melirik Zaky, dia kepergok sedang asyik makan, hehehe.
"Uda habis Zak," ucap Intan berlebihan.
Dan dia berpura-pura melihat ke depan layar, dan terkejut saat yang dia lihat, wujud penampakan menyeramkan yang ingin menghisap pemeran utamanya.
Spontan Intan berteriak, dan merangkul lengan Zaky dengan erat. Zaky menikmatinya. Dia tersenyum lebar saat Intan memeluk erat lengannya, Intan menyembunyikan wajahnya dibalik lengan Zaky.
Saat tersadar, dia membanting lengan itu ke sembarang arah. Hingga tangan Zaky terbentur kursi.
"Eh, apa-apaan aku ini," Intan tidak menyadari.
"Huh dasar suka pake jaga image," kata Zaky pelan.
"Ngomong-ngomong, sakit juga tanganku, dasar ini cewek pengen rasanya jitak kepalanya!"
"Pulang yuk!" Ajak Intan.
"Ya, kita akan pulang. Pasti kamu juga lelah abis latihan basket trus ke mall, kelayapan kerjaannya bersamaku, nanti emak kamu marahin aku gara-gara bawa anak gadisnya kabur," celoteh Zaky
"Cus..." Intan bersiap dibonceng Zaky.
"Kelakuan nih anak!" Zaky cengir-cengir melihat Intan yang mulai berdiri lagi. Di memandang wajah Intan yang manis.
"Zaky, ada penjual balon. Turun yuk!" Teriak Intan.
"Kamu nyadar gak sekarang uda umur berapa?" Tanya Zaky menurunkan kecepatan motornya dan berhasil menepi.
"Nyadar, sekarang aku uda mulai keriput ini pipi dan keningku, apa aku uda kaya nenek-nenek, Zak?" Intan turun dari motor dan memperlihatkan wajahnya lebih dekat ke Zaky, yang masih duduk di atas motornya.
"Haha, ya benar. Coba kamu lihat wajahmu di kaca spion! Uda keriput banget!" Zaky mendorong kepala Intan mendekati kaca.
Intan tidak perduli dan berjalan ke arah penjual balon yang usianya sudah tua. Dengan sepeda gayuh tua.
"Aku gak perduli, Zak. Aku uda lama gak main balon sama kamu. Aku pakai uangku sendiri kok," Intan mempertegas.
"Pak, balonnya dua!"
"Ya Neng," Bapak tukang balon akan menarik dua balon untuk Intan.
"Berapa harga semua balon, Pak?" Tiba-tiba Zaky bertanya dengan serius. Intan melongo, apa yang dilakukan dengan semua balon itu?
"300 ribu, Mas!" Jawab penjual.
__ADS_1
"Ya saya beli semua balon ini, Pak!" Zaky tidak mau mendengar komentar Intan. Namun sepertinya dia hanya diam.
"Ini uangnya, Pak!" Ucap Zaky menyerahkan empat lembar uang warna merah.
"Kebanyakan, Mas!" Bapak tua itu mengembalikan satu lembar.
"Tidak, itu untuk Bapak. Ambil saja!" Zaky menegaskan.
"Alhamdulillah, terimakasih banyak ya, Mas. Seharian ini Bapak belum dapat pembeli. Sekali ada diborong semua," jelasnya dengan senyum bahagia diwajahnya yang sudah bergaris.
Zaky tersenyum saja, dan Intan dia merasa kagum dengan kebaikan Zaky. Dia masih merasakan apa dia saat ini sudah kehabisan uang di dompetnya?
"Ini untuk kamu!" Ucap Zaky menyerahkan semua balon ke tangan Intan.
"Hahaha, mau aku apakan dengan semua balon ini?" Intan bertanya dengan linglung.
"Dulu kamu suka nerbangin balon-balon itu ke udara, kan?" Zaky mengingatkan kenangan-kenangan masa kecil bersamanya.
"Kamu ingat saja, gak berasa ya kita sekarang uda dewasa," kata Intan sambil tersenyum.
"Ini kalau dibawa kejalan raya bahaya, Zak!"
"Siapa suruh bawa kejalan, kamu bisa nerbangin satu persatu balon itu ke langit dari sini!" Intan membaginya bersama Zaky,
"Kamu benar juga, yuk kita mulai, satu, dua, tiga!" Ucap Intan memberi perintah. Dengan perasaan senangnya.
Dan mulai menerbangkan balon bersama-sama, sampai balon terakhir.
"Bagaimana? Kamu senang?" Tanya Zaky melihat wajah Intan yang jarang bersedih. Dia selalu menampakkan keceriaannya.
"Cus pulang!" Ucap Intan.
"Mampir ke cafe dulu ya, laper!" Ajak Zaky yang sudah di atas motor menuju cafe terdekat.
Intan tidak percaya, apa saat ini Zaky bawa uang banyak?
"Kamu masih ada uang? Setelah beli pakaian, nonton, beli balon, sekarang ngajak makan di cafe?" Tanya Intan, dia tidak mau hukuman yang di dapatkan setelah tidak membayar makanannya.
"Jangan cerewet, pilih saja makanan yang kamu suka!" Zaky menyodorkan menu pada Intan.
"Kayak benar ini, kamu abis menang lotre!" Sindir Intan. Dengan menunjuk daftar menu yang ada di buku menu.
"Uang hasil lotre kog dipakai makan, Bek. Haram itu mah," jawab Zaky cengengesan.
__ADS_1