
Dion telah sampai di kantor, seluruh karyawan dan karyawati menundukkan kepala.
"Selamat siang Pak Dion!" sapa mereka serentak.
"Siang juga! bekerjalah dengan baik, buatlah perusahaan saya maju dengan kerja keras kalian, saya akan memberikan hadiah bulanan jika pekerjaan kalian memenuhi kriteria aku!" perintah Dion pada bawahannya, wajahnya kali ini lebih cerah dari sebelumnya bahkan mereka yang bekerja di kantor perusahaan Dion merasa sedikit aneh padanya. Hari ini Dia terlihat sangat tampan dan ramah.
"Baik, Pak Dion," jawab mereka serentak.
"Baiklah lanjutkan bekerjanya. Saya mau pergi ke ruang meeting," ucapnya meninggalkan mereka.
Belum sampai di ruang meeting, dia dihadang oleh seorang wanita berparas cantik memakai rok setinggi lutut, serasi dengan jas pendek sepanjang siku.
Wanita itu menghalang langkah Dion menuju ruangan, Dion berusaha menghindari sang wanita, namun sepertinya wanita itu memang sengaja menghalaunya.
"Kamu bisa minggir? Aku sedang terburu-buru saat ini," ucapnya dengan kedua bola mata menatap dengan tajamnya.
"Tidak bisa, kita keruangan kamu dulu, baru aku bisa membiarkanmu pergi," ucap wanita cantik bertubuh indah bernama Alexa.
Dion tidak perduli, dia dengan paksa mendorong tubuh Alexa hingga tubuh perempuan itu bergeser ke samping untuk memberinya jalan.
"Ah sakit Dion!" rintih Alexa minta perhatian, namun sayang Dion kali ini sudah tidak menggubrisnya.
"Dion tunggu!" Alexa mengejarnya, dengan sedikit berjalan cepat, mengikuti langkah panjang Dion.
"Sayang, meeteng-nya di batalkan, jadi kamu jangan tegang begitu dong," jelas Alexa, sebagai sekretaris pribadinya.
"Hah? dibatalkan? Kenapa tidak bicara dari tadi!" Dion melenguh panjang. Merasa kecewa karena tidak bisa menemani Intan karena meeteng tersebut.
"Aku sudah bilang, kamu tidak perlu ke ruangan meeting. Kita bersenang-senang saja di ruang kantormu, mau kan Sayang?" pinta Alexa.
__ADS_1
"Kamu jangan macam-macam, kamu jangan belajar menggoda saya! Karena saya ini adalah atasan kamu!" ancam Dion.
Dion berlalu saja dari Alexa, segera ia menaiki lift untuk cepat sampai di ruangan kantor nya.
Tujuan Alexa merayu Dion hanya untuk mendapatkan hartanya, tidak lebih.
"Sudah, kamu jangan membuntuti-ku! aku masih banyak pekerjaan jadi aku mohon mengertilah!" Perintahnya pada Alexa yang masih mengikutinya sampai masuk ke ruangan.
"Kamu kenapa sih Dion? Tidak biasanya kamu seperti ini padaku? Kali ini sikapmu sangat dingin dan kaku, sudahlah bersikap seperti biasanya saja. Aku sangat membenci pria yang sok jual mahal seperti kamu! Kamu masih mengerti kan, siapa yang membesarkan perusahaan kamu? Semua karena bantuan papaku, jadi jangan sampai lupakan itu!" Alexa memperingatkan.
Dion menatap Alexa dengan tajam, bagaimana dia bisa lepas dari jeratan wanita penggoda itu. Jika selalu bayang-bayang kebaikan orang tuanya selalu ia ungkit-ungkit saat ia ingin pergi darinya.
"Kamu paham kan Dion?" lagi, tanya Alexa kembali karena pria itu tidak kunjung menjawabnya.
"Ya," jawabnya singkat.
"Ya sudah kamu bisa pergi!"
"Okey. Tapi ci-um dulu!" pinta Alexa maju berapa langkah ke arah Dion berdiri. Dan, akhirnya ci-uman yang beberapa kali itu ia dapatkan.
Dion mengusap bibirnya, tidak ingin siapapun mengetahui bekar bibir itu di bibirnya
"Sayang, doggy nyariin kamu tuh. Kapan-kapan kamu ajak jalan-jalan lagi dia ya? Seperti tempo hari, itu terakhir kali kamu ngajak dia main," kata Alexa, mengingatkan hewan peliharaan di rumah yang biasa bermain bersama Dion.
'Aish, menyebalkan. Kalau bukan karena terpaksa aku tidak mungkin melakukan hal itu, benar-benar membuang waktu saja,' gumam Dion.
Alexa buru-buru pergi ke luar, dia tidak ingin pria itu menyulut emosi padanya, ia tidak ingin Dion memarahinya.
Pria berpawakan tinggi itu segera menyeret map yang berisi file-file yang harus ia tanda tangani, sesuai dengan perintah Alexa. Meski dalam keadaan kesal dia tetap harus bekerja secara profesional. Setelah dia baca dan ia pahami, baru ia berani memberikan tanda tangan ya.
__ADS_1
Dion melihat beberapa tumpukan berkas berkas file di meja dan juga di email masuknya, belum ia lihat untuk hari ini, di saat selesai mengerjakan file yang berada di map, baru ia membuka laptopnya. Dan benar saja banyak chat masuk lewat email pribadinya mengenai perusahaan.
"Ah kenapa sore ini pekerjaanku sangat banyak sekali? Biasanya Tidak seperti ini? Ah tidak masalah asalkan perusahaanku maju dan berkembang pesat aku akan rela lembur demi perusahaanku ini," katanya sendiri.
****
Keesokan harinya Intan sudah lebih baik, dia bisa masuk sekolah lagi seperti biasanya di SMA negeri sentosa. Bersama Zaki teman sekelas sekaligus teman sekampung nya yang tiada tara baiknya.
"Zak, kemarin ada PR nggak? Aku lupa tanya kamu!" Intan menunggu Zaky menjawabnya, pria berusia 18 tahunan itu terlihat sedang mengingat sesuatu. Karena ingatan pagi ini dia buruk, akhirnya dia mengecek sendiri buku di dalam tasnya.
Di sana terdapat pekerjaan rumah matematika, dan ternyata dia juga lupa untuk mengerjakannya, pria itu melihat jam di atas dinding waktu masuk pelajaran sekolah pertama kurang 5 menit saja.
"Bagaimana Zaki? Ada PR tidak kemarin untuk hari ini?" tanya Intan, gadis yang tidak sabar menunggu jawaban Zaki segera melirik ke buku tulis yang dipegang Zaki namun tertutup oleh lembar sampulnya.
"Astaga, ada pr Zaky, dan soal kamu kosong belum kamu jawab. Berarti hari ini kamu tidak mengerjakannya? Aduh nasibmu bakalan sama seperti aku pada hari-hari sebelumnya saat tidak mengerjakan PR pasti Miss Imelda akan menghukum kita," jawab Intan menakut-nakuti Zaki.
Ini adalah kali pertama pria itu tidak mengerjakan PR sekolah, dan rasanya jantung Zaki berdetak lebih cepat hampir tidak beraturan karena takut.
Intan tertawa melihat ekspresi wajah Zaky yang tidak biasa itu.
"Kenapa kamu malah tertawa Intan? Ingat nanti yang dihukum bukan hanya aku tapi kamu juga," kata Zaky
"Namun kali ini, aku tidak akan dihukum Zak, karena aku baru sembuh dari sakit. Pasti Miss Imelda kasihan melihat keadaanku, kalau dia tetap menghukumku berarti dia adalah guru yang super tega sama muridnya," jelas Intan.
"Nggak bisa gitu dong, sudah jelas-jelas hari ini kamu sudah nampak sehat, jadi siap-siap saja nanti kita dihukum bersama. Haha," ledek Zaky.
Jam sudah menunjukkan pukul 07.00 tepat, keduanya gemetaran saat langkah kaki gurunya itu memasuki pintu utama kelas.
Zaki dan Intan berpura-pura diam, dan akan menerima konsekuensinya karena kesalahan mereka sendiri.
__ADS_1