
"Alexa, kamu pernah tanya kenapa aku menjauhi-mu? semua karena gadis ini, dia adalah gadis yang membuat aku menemukan arti cinta sebenarnya. Dia yang merubah aku, merubah hidup ku, dia telah memberi warna baru,-" jelas Dion panjang kali lebar. Intan berdiri menutup mulutnya dengan jari telunjuk.
Tidak ingin mendengarkan kalimat selanjutnya, apa yang akan di katakan Dion.
"Cukup ya Dion! kamu tidak berarti apa-apa untukku! tidak ada perasaan apapun aku terhadapmu, jadi kamu jangan terlalu berharap lebih padaku, aku masih SMA, dan perjalananku masih panjang, aku masih ingin menggapai cita-cita ku sebagai pemain basket wanita," tutur intan dengan melipat tangan di dada.
"Oke, aku akan menjadikanmu atlet nasional, aku bisa mewujudkan semuanya jika kamu mau," Dion tidak segan untuk menunjukkan berapa seriusnya dia pada Intan.
"Haha bisa saja kamu Dion, buat hati wanita klepek-klepek dengan uang yang kau miliki, memang kau kira semua bisa di ukur dengan materi? Hah?" Zaky yang merasa tidak terima ikut bicara, ketar ketir juga jika sampai Intan terjerumus cinta karena uangnya itu. Memang benar, uang bisa membutakan segalanya.
"Aku tidak bicara padamu anak singkong! kamu diam-lah, semua keputusan ada di tangan Intan bukan?"
"Aku ingin menjadi atlet dengan kerja kerasku sendiri Dion, terimakasih atas tawarannya."
"Sayang, kamu sudah dengar sendiri kan, dia bicara apa, kenapa kau masih ingin mengejar gadis urakan itu sih! lihat aja tampangnya gak jelas gitu, nama dia akan merusak nama besar keluargamu nantinya," penjelasan wanita itu membuat Intan dan Zaky tertantang, Intan mendorong tubuh Alexa hingga ia tersungkur.
"Cih! begitu saja uda jatuh, lemah sekali!" umpat Intan, "Lain kali hati-hati mulutmu bicara! gaya pakaian dan mulut saja tidak sopan, mana bisa wanita sepertimu di hargai pria!" lagi, oloknya dengan kasar.
"Sayang, marahi dia Sayang, dia sudah menghina aku habis-habisan, kasih mereka pelajaran, Sayang!" rengek Alexa bak anak kecil yang baru di bully, dan minta balas.
"Rasakan sendiri, itu balasan kamu telah menghina orang sembarangan," Dion tidak menghiraukan Alexa yang masih di lantai. Dengan menahan malu, dia akhirnya berdiri sendiri tanpa bantuan dari Dion. Orang-orang di sekeliling memandanginya dengan tatapan aneh, Alexa terpaksa menutup wajahnya dengan tas selempang yang tergantung di pundaknya.
"Kamu kejam Dion! aku kan laporkan ke papa tentang ini!" ancam Alexa, Dion sedikit bergidik, karena sang ayah memiliki saham besar di perusahaan nya.
"Silahkan saja kau lapor, aku tidak akan mau mengenalmu lagi setelah ini, " Dion membalik pernyataan Alexa. Hingga wanita itu tidak bisa membantah.
"Ah! stop! stop! tahu tidak, kalian telah menghancurkan mood makan ku!" teriak Intan, "Ayo Zak, kita pergi! aku sudah tak selera!" kata Intan menyeret tangan Zaky dan pergi, sampai di meja kasir ia berhenti, dan membayarnya, lalu pergi, dan Dion tidak bisa mengejarnya, tangan Alexa menahan Dion pergi.
__ADS_1
"Biarkan saja mereka, kamu akan mengganggunya saja nanti," ucap Alexa.
"Sudah lepas!" Dion membuang tangan Alexa yang bergelayut manja di lengannya. Dan pergi saja meninggalkan Alexa.
"Dion tunggu!" teriaknya mencoba berlari, mengejar, namun sayang highles yang ia pakai membuatnya kesusahan berlari.
****
"Intan, kita pulang?" tanya Zaky ketika mereka berada di atas motor.
"Gak mau, aku mau ke lapangan basket Zak, aku sudah lama tidak mengurus grup basket ku, sekalian aku ingin melatih melemaskan otot-otot tubuhku," dengan setengah berteriak di samping telinga Zaky ia bicara.
"Gak, nanti kamu demam lagi Intan, kamu kan baru saja sembuh, aku gak izinin!" tolak Zaky, sampai dia harus menggeleng kepalanya karena tidak setuju.
"Please ya Zak, kalau kamu tidak mau, aku gak mau temenan sama kamu lagi lho," Intan mencari cara agar Zaky mau menuruti permintaannya.
"Ya ... kamu ngancam nih? oke-oke, tapi cuma bertemu anak-anak saja tidak lebih!"
"Ya ..." Dengan sangat terpaksa Zaki mengiyakan permintaannya, meski nantinya kalau ada apa-apa pasti yang disalahkan adalah Zaki, apalagi Emaknya Intan suka hukum orang yang menurutnya salah. Tak perduli siapapun dia.
Motor Zaky berhenti di tempat biasa, lapangan basket berstandar Nasional di kota Jakarta pusat.
"Yes, sekarang ada jadwal anak-anak latihan Zak, buruan masuk!" Intan meletakkan helm asal saja di jok motor Zaky, dan berjalan cepat masuk lapangan, melewati gerbang.
Tampak di sana anak-anak sedang berlatih, mereka melihat kedatangan Intan dan menghentikan permainannya.
"Siang Intan! woy, kamu lama nih gak gabung kita-kita, kirain kamu udah gak mau lagi latihan!" teriak satu teman cewek yang usil di antara lainnya.
__ADS_1
"Ah iya, aku di larang Emak main basket lagi. Entah bagaimana aku harus membantah perintah Emak." Intan menepis pukulan yang di hantam-kan ke bahu Intan.
"Sakit girl! duh! aku baru sembuh, jangan aniaya aku kaya gitu donk!"
"Ah, maaf-maaf! sama siapa kamu kesini?" sambil melirik Zaky yang sudah tenang duduk di kursi penonton.
"Yah, sama Zaky lagi? apa gak bosen kamu di tempelkan pria itu terus? waktunya kamu punya cowok Intan, apa kamu udah jadian sama dia?"
"Sial an, gak ya, dia masih sahabat ku, jadi jangan anggap aku pacarnya dia," sungut gadis yang makin hari makin manis di mata Zaky. Hehe.
"Yuk kita main!"
"Ayo! tanganku udah gatal, lama tidak pegang bola basket."
Segera mereka berkumpul ke tengah lapangan, dan bermain bersama Intan. Permainan Intan memang sangat lihai. Baru beberapa tembakan, dia sudah memasukkan bola dalm ring tiga kali.
Sementara di kursi penonton, hanya ada beberapa orang yang duduk disana, entah teman, atau keluarga pemain.
Zaky memperhatikan permainan Intan yang memang keren. Sayang jika bakat Intan harus di kubur, karena larangan orang tua Intan.
Zaky gemas, rasanya kakaknya ingin melangkah maju memasuki lapangan, tapi dia lihat pemain itu hanya para gadis. Tidak mungkin dia ikut bergabung bersama mereka. Biar saja dulu ia menunggu Intan.
Ada seorang gadis mendekati Zaky disana, dan bertanya apa dia boleh bergabung duduk bersamanya di sana.
Zaky mempersilahkannya, dengan menebar senyum, hanya untuk menghormati saja.
Tanpa di sadari Intan melihat mereka. Dan ada cemburu di sana. Intan melihat mereka saling dekat. Dan sepertinya mereka saling kenal. Karena kurang konsentrasi, bola basket itu meleset terus tidak bisa masuk ring.
__ADS_1
"Kenapa kamu Intan? kenapa permainan-mu jadi jelek banget gitu?"
"Tahu ah! aku mundur!" Intan memakai jaket yang ia letakkan di kursi wasit, dan pergi. Tampaknya Zaky buru-buru mengejarnya.