
Setelah beberapa menit lamanya menghabiskan waktu di Cafe Cinta, keduanya melanjutkan perjalanan kembali, entah kali ini mereka akan balik pulang atau masih menikmati kehidupan santai mereka.
"Sekarang kita mau pergi ke mana lagi?" tanya Zaky memberikan helm yang baru diambil dari gantungan motor.
"Hem, lebih baik kita pulang aja deh Zaky. Aku takut Emak aku nanti marah. Aku bakal diancam nggak dimasakin lagi, tahu sendiri kan emak kalau marah. Seisi rumah bisa jadi kapal perang," kata Intan sedikit kesusahan memakai helm bogo milik Zaky.
Zaky yang melihatnya, segera meraih helm dan membantu memasangkan. Tanpa sengaja keduanya saling bertatap muka. Kedua pasang netra saling bertemu. Hingga mereka kehilangan beberapa menit waktu untuk saling memandang.
"Ah, apaan sih!" Intan melengos dan berpura-pura tidak terjadi apapun. Melupakan sedikit waktunya yang baru saja terbuang tanpa di sadari.
"Apa? malu ya kepergok sedang melihat wajahku yang ganteng ini?" Zaky tersenyum lebar dan sengaja di buat-buat, untuk mempermalukan Intan saat ketahuan memerhatikannya.
Tak!
Intan menjitak kepala Zaky yang tertutup helm, dan segera memutar tubuh pria itu untuk segera menaiki motornya.
"Ayo cepat balik!" ajaknya, segera iapun menaikinya.
"Eh!" Zaky melupakan sesuatu, membuat Intan terdiam dan ikut berpikir apakah yang dilupakan oleh Zaky.
"Apa lagi?" sedikit gemas, Intan tidak bisa sabar menghadapi pria itu. Kalau pikirannya kesal pasti dipukul aja sekalian.
"Tiba-tiba perutku sakit, boleh gak kalau kamu yang bonceng aku, takut nanti kena apa-apa," Zaky mencari alasan untuk mengerjai Intan wanita tomboy yang menjadi idolanya.
"Kenapa tiba-tiba perut kamu sakit? atau jangan-jangan kamu hanya mengerjai aku saja ya! nanti kamu bisa mengambil kesempatan dalam kesempitan!" sorot mata Intan tajam memandang Zaky. Hingga dia tersudut, dan hampir ketahuan kalau dia sedang ingin menggoda Intan.
"Eh, kamu jangan berburuk sangka terus dong sama aku, aku ini udah berubah menjadi anak yang baik, jadi gak akan berbuat hal yang macam-macam. Ayolah, gantian ya boncengin aku!" pinta Zaky. Dia turun dari motornya dan segera pindah posisi ke belakang.
"Ah, maksa deh! ya udah," akhirnya Intan menyetujui permintaan Zaky.
"Yes!" ucap Zaky dengan gembira. Wajah Zaki berubah menjadi cerah. Entah apakah yang saat ini dia pikirkan.
"Apa?" sedikit ragu, tapi Intan akan berusaha jadi teman yang baik saat teman sakit dan membutuhkan bantuannya.
"Senengnya…hahah," gumam Zaky.
__ADS_1
Intan memulai laju motor Zaky, yang besar dan tinggi. Sedikit kesusahan. Tapi apa yang tidak bisa untuk Intan. Semua yang berbau-bau cowok dia berusaha untuk bisa.
Dari pakaian, gaya, dan kelakuan Intan 90% tidak jauh beda dengan cowok. Entahlah Minah dulu mungkin akan melahirkan bayi cowok namun gak jadi. Hehe.
Intan dengan gaya mengegas ulang stank motornya. Hingga memunculkan suara keras berulang kali dari knalpot motor. Sedikit berisik bagi pengendara lain. Namun cuek bebek Intan tidak perduli.
Satu dua orang sudah memberi nasihat, dengan meneriakinya, tidak satupun dia dengar. Masuk telinga kanan keluar telinga kiri. Begitulah sifatnya yang bebal dan keras kepala. Semua serba benar sendiri.
Terkadang Zaky harus extra sabar menghadapi sifat Intan yang selalu ingin menang sepihak.
"Eh Mas, tolong hargai pengendara lain. Suara motornya berisik, jelaskan pada pacar Mas!" salah satu pengendara motor mengulang ucapannya.
"Baik Pak! maaf ya!" Zaky tersenyum sambil mengangguk malu.
"Hey!" sapa Zaky dengan menepuk bahu Intan yang sibuk fokus pada jalan depan.
"Apaan sih!" Wajah Intan asem saat Zaky menepuk bahunya karena teguran pemotor pria tanpa helm yang berada di belakang motor cowok Zaky.
"Itu lho dapat teguran dari orang di belakang gitu. Berisik katanya!" Zaky menasehati Intan yang terlihat masa bodoh.
Intan hanya melihat dari kaca spion. Menyatukan ujung alisnya. Dan tingkah dia malah membabi buta.
Di berdiri, dan mengegas motor Zaky berulang-ulang, hingga semua pengendara motor lain merasa terganggu.
"Woy! ini bukan jalanan milik nenek moyang loh! bisa minggir dikit gak? mana gak mau ngasih pemotor lain jalan buat lewat!" pengendara lain ikut berteriak pada Intan. Saat motor yang dikemudikan Intan berjalan di tengah jalan. Memang sengaja dibuat seperti ini.
"Intan! sudah hentikan! kita jadi kena masalah nanti! udah kita pinggir biar aku yang bonceng kamu!" Zaky merasa was-was, takut saja nanti tiba-tiba dihadang oleh kawalan polisi, dan meringkus mereka.
"Cemen banget sih kamu! percaya aja kita gak akan kenapa-napa!" Intan sekali lagi menegaskan bahwa dia aman.
Zaky mengerutkan kening! bagaimana bisa dia melawan ucapan Intan. Omongannya tidak akan bisa disalahkan. Terpaksa Zaki diam dan tidak membahas lagi meskipun banyak pengendara lain terganggu dengan cara Intan mengemudikan laju kendaraan motornya.
Lama-lama cewek itu slow juga, bagaimana tidak slow, di depan terlihat ada lampu merah. Dia mempersiapkan mesinnya untuk berhenti pelan.
Hati Zaky yang sedari tadi tidak tenang, telah kembali pulih, dengan mengontrol nafasnya seirama.
__ADS_1
Di dekat lampu merah persimpangan jalan, ada pos polisi berjaga. Satu dua polisi ikut mengatur lalu lintas jalan.
Suara peluit ditiup keras-keras. Untuk mengarahkan kendaraan.
Tanpa di duga, Intan menyalakan mesinnya dan segera menambah kecepatan maximal lajunya .
Kali ini potong urat nadi Zaky tidak akan putus dan tak akan ada darah yang mengucur saking takutnya, menghadapi uji adrenalin yang di buat Intan.
"Intan!" teriaknya Zaky kesal. Bagaimana bisa dia melakukan hal itu. Menyerobot lampu merah dengan detik yang masih berjalan?
"Woy tunggu!"
"Berhenti!"
Pritt! priiittt!! priiittt!!
Zaky takut, menenggelamkan wajahnya di atas punggung Intan. Dia tidak siap setelah ini.
"Hahaha! ayo kejar!" teriak Intan pada dua polisi yang bersiap mengejar dengan motor pria dinas berwarna putih. Intan menoleh ke belakang.
"Entahlah Mak, bagaimana nasib anakmu setelah ini!" bibir Zaky komat kamit tidak tentu. Zaky sudah pasrah lahir dan batin.
Intan hanya tertawa melihat ulahnya yang membahayakan orang lain. Sebenarnya Zaky tidak menyukai sikapnya ini.
"Huuhhh! Mantab kan Zaky.." Intan meminta penjelasan dari diamnya sambil melirik wajah Zaky yang ketakutan.
Tidak ada suara sahutan! Intan menambah kecepatan motor, seketika Zaky terkejut dan merapatkan kedua tangan dipinggulnya.
Intan tidak perduli dengan dua polisi di belakang mereka. Dua pria berseragam putih tengah mengejar motor mereka.
Zaky sering kali melihat kebelakang, dan polisi-polisi itu hampir dekat dengan motor yang di kendarai mereka.
"Abis ini pasti ketangkap! biarlah aku pasrah saja," dengus Zaky dengan jantung berdebar.
"Kenapa kamu Zak? haha," terlihat wajah Zaky pucat. "udah mending kamu pegangan yang kuat, aku mau ngebut!" lagi lanjutnya.
__ADS_1