Intan, Gadis Tomboy

Intan, Gadis Tomboy
Bab. 14. Tiba-tiba Cinta


__ADS_3

Intan berjalan dengan melihat ke arah Zaky yang sudah tidak mau menoleh ke arahnya, Inan bersedih melihat itu. Seperti ada jarak diantara keduanya.


Padahal mereka tidak bisa jauh sehari pun. Tiap hari mereka jalani berdua, tidak ada bosannya mereka bersenang-senang.


"Woy, awas kepentok pintu! jalan lihat depan! udah biarkan saja temanmu, dia udah punya pasangan kan? jadi jangan ganggu mereka!" kata Dion.


Intan cemberut, hatinya sangat sakit melihat mereka.


Sementara Zaky yang masih di dalam restoran...


'Intan, kenapa kau tega sekali padaku. Ah, aku benci hari ini, kenapa ada hal seperti ini pada kita. Aku tidak mau kau bersama pria itu Intan, kamu dengar gak sih isi hatiku , menyebalkan! kenapa juga aku harus membiarkan wanita ini bergabung makan bersama-ku, jatuhnya Intan juga merasa cemburu padaku, dia pasti berpikir macam-macam padaku,' gerutu Zaky tiada habisnya.


"Maaf Kak, aku harus pergi, maaf ya!" kata Zaky, tidak menghabiskan makanannya, di berdiri dan segera pergi dari sana.


"Ta-Tapi Kak! kau belum menyentuh makanan kamu!" wanita yang menawarkan diri duduk bergabung bersama Zaky itu, berusaha menahan Zaky, tapi dia tidak perduli lagi padanya. Dalam pikiran Zaky, hanya ada Intan. Memory pria itu kali ini penuh dengan nama Intan saja.


Zaky berlari mengejar Intan, setelah sudah berada di luar restoran, pria itu mencari gadis yang sudah ada di hatinya, entah dari kapan perasaan itu muncul.


"Intan! Intan!" berteriak dan mencari Intan di segala sisi luar restoran, tak di jumpai wajah gadis itu bersama pria tadi.


"Mereka sudah pergi," ucapnya pasrah.


"Semoga mereka hanya berteman," lagi, ucapnya lirih, dan berjalan ke parkiran motor, lalu membawa motornya pergi.


...


"Tan," panggil Dion yang berada dalam mobil.


"Jangan panggil aku gitu dong, kesannya kaya manggil setan! Intan gitu napa!" gadis yang wajahnya tidak serius-serius amat itu, tidak pernah di anggap serius oleh Dion, baginya mau dia bercanda atau serius dia tetap lucu.

__ADS_1


"Ya," jawabnya singkat, dia fokus lihat jalan depan.


"Sebelah mana rumahmu?"


"Nanti ada belokan ke dua, kamu belok kiri, ada lampu merah, udah berhenti di sana," jawab Intan dengan melihat-lihat pemandangan di luar, melewati kaca jendela mobil.


"Yon, bisa buka kaca mobil mu gak? Aku pengen lihat pemandangan luar dengan jelas," pinta gadis yang dari tadi membelakanginya.


"Ya, bentar!" Pria itu sedikit luluh oleh gadis itu, menuruti saja perintahnya. Setelah kaca terbuka, AC di matikan.


"Hmm,, indah sekali kan Yon, lihatlah luar! Cuacanya lagi bersahabat sekarang, rasanya tempat ini baru turun hujan, jadi masih terasa segar udara," kata Intan, dengan menghirup udara siang yang dingin itu.


Dion melihat keluar, memang benar pemandangan yang biasa dia lewati ini sangat indah, dia tidak pernah memperhatikan itu. Kalau bukan Intan yang memberitahu dia tidak akan menyadarinya.


Dion memberhentikan mobil itu menepi, "Turun yuk, kita duduk disana," ajak nya, Intan nurut saja, tidak seperti semula dia yang takut pada Dion karena ancaman hukuman. Kali ini pria itu lebih hangat.


"Bang, pentol bakar dua porsi!" Dion memesan pada penjual pentol yang berdagang di sana. Dengan menggunakan arang batok, membuat baunya lebih sedap.


Ana makanan itu?" Intan bertanya dengan bingung.


"Percaya diri sekali, ia kamu kenyang, aku tadi hampir tidak makan gara-gara melihat kamu makan seperti iblis kelaparan," umpat Dion.


"Asem banget ucapanmu, bilang aja kamu gak ikhlas traktir aku makan!"


"Eh, tidak. Jangan berkata macam-macam tentangku, aku tidak pernah mengungkit apapun yang sudah aku niat berikan," jelasnya penuh kedewasaan.


"Silahkan mas, mbak!" pedagang pentol bakar memberikan pesanan kami.


"Eh, katanya tadi gak mau! Sini balikin, itu porsi-ku 2."

__ADS_1


"Ye ... gak bisa, aku juga mau!" Intan tertawa lepas.


"Dasar bocah!" Dion mengacak rambut Intan hingga berantakan. Pria Itu tidak pernah sebahagia ini sebelumnya. Belum lama kenal anak gadis itu, dia sudah mencuri hatinya. Meski sikapnya yang agak nyeleneh, tapi Dion suka. Entah apa yang membuatnya jadi suka pada gadis itu.


Tanpa waktu lama, Intan segera menghabisi satenya satu persatu. Dengan kecepatan penuh .


"Astaga, gadis bisa makan dengan baik? kamu dari tadi aku perhatikan makan kaya orang kesetanan aja."


"Maaf, ini aku doyan banget Dion, sumpah. Kalau di puncak biasanya aku suka beli dua porsi, ya kan di puncak hawa dingin membuat kita jadi pengen yang anget -anget, apa lagi pentol bakar, hemm.. yummy deh pokoknya," ucap Intan, setelah berhenti menggiling mulutnya, menjejali lagi dengan sisa makanan itu, dengan saos kacang yang di sukai Intan.


"Kamu pinter, tahu cemilan kesukaanku Dion, padahal kamu baru kenal aku," ucap Intan dengan mulut belepotan.


"Eh, percaya diri, aku kan gak berniat beliin kamu, aku mau beli 2 untuk diriku sendiri, kamu aja yang main rebut," jawab Dion ngeyel.


"Dasar pelit!" umpatnya kesal.


"Terserah kamu deh!"


Sebuah motor berhenti di tepi jalan, keduanya melihat dan mengira bahwa hanya pengendara jalan yang akan memesan pentol bakar, ternyata dia Zaky. Pria itu berjalan ke arah mereka lalu duduk di samping Intan. Membuat Intan terkejut.


"Lho Zaky? Di mana wanita yang tadi kau ajak makan bersama di restoran itu?" tanya Intan, baru Zaki duduk dia sudah bertanya soal wanita itu tadi membuat Zaki kesal saja, padahal saat ini dia sedang ingin bertemu dengan Intan. Dalam aku selama itu dia masih bersama pria itu lagi. Zaki tidak boleh membiarkan mereka setiap saat, mereka tidak boleh memiliki hubungan. Atau tidak, hidup lagi akan hancur tanpa Intan.


"Ku mohon, jangan menanyakan wanita itu lagi. Aku tadi mencarimu, dan baru aku sadari, bahwa aku tidak bisa kehilangan kamu Intan," ungkap Zaky to the point.


Intan maupun Dion terkejut mendengar pengakuan Zaky, "Maksud kamu Zak?" tanya Intan tidak mengerti. Sebenarnya dalam hatinya mengatakan kalau kali ini Zaky ingin mengungkapkan isi hatinya, namun situasinya saat ini sedang berbeda. Di sana ada Dion, dan itu membuatnya tidak nyaman.


"Sudah, sudah, apa kamu tidak malu ada aku disini?" Dion yang masih dalam kegiatan makanya melirik tajam ke arah Zaky.


"Kamu pulang bareng aku ya, kita jalan dulu seperti biasanya!" ajak Zaky di depan Dion Zaky tidak perduli pada pria di sebelah Intan itu.

__ADS_1


"Tidak bisa, aku sudah berjanji padanya kalau mau antar dia pulang," kecam Dion tidak terima. Hari ini dia sudah berjanji pada dirinya sendiri akan mengantar Intan pulang.


__ADS_2