
Dion tidak terima, Zaky mengajaknya paksa. Untuk hari ini, dia tidak boleh menyia-nyiakan waktunya. Karena gadis itu saat ini sangat berharga untuknya.
"Maaf Zaky, aku sudah akan di antar Dion pulang, jadi kmu lebih baik pulang duluan saja, hari ini aku sudah lelah, pengen istirahat dirumah," jawab Intan, tanpa mendengar isi hati Zaky yang sangat kesal.
"Baiklah, itu pilihanmu. Mobil lebih mewah daripada motor kan?" ucapnya tiba-tiba, perasaan kalut muncul di pikiran Intan saat itu.
"Bukan begitu maksud aku Zak," belum sempat melanjutkan ucapannya, Zaky buru-buru pergi.
"Kenapa sih kamu Zak? aku sedih antar kita Harus begini," gadis itu menundukkan kepala, dengan perasaan sedih.
'Kenapa aku galau merasakan ini, apa aku benar cinta sama sahabat ku itu? tapi kenapa saat bersama dia, perasaan tidak aku rasakan sebelumnya, ah, aku benci semua ini," kesalnya sendiri.
"Dion, aku mau pulang sendiri kamu tidak perlu mengantarku," garis itu berdiri dan berjalan meninggalkan pria yang masih duduk di atas rumput itu.
"Eh, Intan! Intan! tunggu!" Dion berdiri lalu mengejarnya, dan di hadang penjual makanan tadi.
"Eh, Mas mau kemana? ini belum di bayar loh!" kata sang penjual mengingatkan.
"Eh Pak, gadis itu pergi Pak, aku tidak ada waktu mengambil uang," kata Dion.
"Eh, tidak bisa begitu! bayar dulu baru pergi? apa kamu tidak mau bayar? lagak seperti orang kaya! jajanan kampung murah tidak bisa bayar!" umpat penjual kesal.
Mata Dion fokus Intan yang berjalan dan sudah tidak terlihat lagi setelah angkot yang baru berhenti, gadis itu menaikinya.
"Ya, kan. Gara-gara Bapak nih pacar saya ngambek tuh, dia naik angkot sekarang aku harus pulang sendiri tanpa dia, Bapak penjual pentol bakar harus tanggung jawab! Buat mendapatkan cinta gadis itu susah pak!" Curhat Dion, melampiaskan kesalnya pada pria paruh baya yang berkumis tebal, beserta alisnya.
Percekcokan Dion dan pria itu, membuat beberapa orang harus nunggu lama untuk segera di ladeni. Mereka berhenti saat pembeli ngamuk.
"Yah, waktu sudah selesai untuk hari ini bersama gadis aneh itu, terlalu cepat. Ah, kenapa dia jadi trending topik di otakku sih!"
Tring tring ...
Suara ponsel Dion berbunyi dari kantong celananya, segera dia mengambil dan melihat siapa yang membuat panggilan untuknya.
__ADS_1
Saat dia melihat nama pemanggil, 'Kak Reno', nafas Dion mulai naik turun, amanat Kakaknya tidak di kerjakan sesuai janjinya.
["Hallo Kak Reno, ada apa?"] sapa Dion mulai percakapan.
["Hallo, sekarang masih sama Intan, kan?"] tanya Reno langsung saja.
["Dia pulang sendiri, naek angkot,"] jawab Dion datar. Sudah siap jika setelah ini pria di seberang telpon itu akan ngamuk-ngamuk.
["Kok bisa, kamu kan aku suruh ngantar dia sampai rumah, kenapa malah dia nEk angkot?"]
["Jangan marah gitu donk, Kak. Dengar dulu aku mau bicara,"] sergah Dion.
["Sudah kamu jangan banyak alasan Dion, kamu harus Ki hukum,"] teriak Reno lalu mematikan panggilannya.
"Dasar burung kakak tua!"
****
Sementara Intan yang masih di dalam perjalanan ...
"Ahh! aku gak boleh kek gini terus!" ucapnya dengan nada tinggi. Dia lupa saat ini dia berada di dalam angkutan umum.
"Woy! Kesambet lu! bisa diam gak? Que timpuk lu pake sendal!" Seorang pria yang duduk di ujung kursi angkot menerakinya dengan keras membuat Intan diam dan bergidik di ketakutan.
'Anjay, aku sampe lupa kalau sedang di dalam angkot, sial.' gumamnya sendiri. Beberapa waktu lamanya, baru dia sadar kalau dia kebablasan turun. Padahal tempat yang seharusnya dia turun sudah terlewati.
"Ah... Pak Pak! berhenti Pak!" Intan berdiri dan menggebrak langit angkot.
Setelah mobil umum itu menepi, dia bayar lalu melompat, ke trotoar jalan. Sedikit kesal, uang sisa buat bayar angkot udah habis, malah dia harus putar balik lagi.
"Huh, apes bener nih. Lagi apes, terus ada sogokan makan di resto, mau pulang di antar pake gaya-gayaan gak mau, berlagak bengek dll, ish, bagaimana aku bisa balik pulang, nampaknya udak mulai sore, aku harus mencari cara agar bisa cepat sampai rumah. Kalau tidak, Mak Mina pasti mengajar gua habis-habisan seperti tempo hari."
'Apa aku minta bantu Zaky aja ya menjemputku kemari?' gumam Intan dalam hati.
__ADS_1
'Aish, tadi kan kita sempat bertengkar. Jadi nggak mungkin dia mau menolongku, hmm.. ini nih, kalau hidup nebeng orang terus. Salah Bapak sih, aku gak di bliin motor. Kalau ada motor, aku tidak perlu susah payah mencari barengan." Intan terus menyeletuk dalam hati. Kali ini yang menimpa padanya, semua yang disalahkan adalah karena bapaknya. Padahal semula dia enjoy aja ada Zaky, saat dia jauh dari pria itu barulah terasa bahwa hidupnya tidak bisa jika tidak menggantungkan Zaky.
Intan menyebrang jalan, dan berdiri di bawah pohon. Menunggu siapapun yang akan lewat di jalan itu, untuk menumpang. Ini satu-satunya cara agar dia sampai rumah tepat waktu sebelum maqrib tiba.
Tangan kiri melambai-lambai pada sebuah pengendara yang akan melewatinya. 'Aku yakin, mereka akan berbaik hati membonceng-ku,' gumamnya percaya diri.
"Kakak, boleh minta tumpangan?" tanya Intan dengan berteriak. Nampaknya tidak ada tanda-tanda motor itu akan berhenti, saat melewatinya ternyata malah di gas aja.
"Kampret tuh bocah! gak tahu apa pesonaku tiada tara! Hah!"
Sekali lagi Intan melambaikan tangan pada pengendara berikutnya, seorang pria memakai motor cowok, dengan helm teropong.
"Mas, boleh menumpang?" teriak Intan dengan sedikit berjalan maju ke depan.
"Woy! mau mampus loh!" umatnya dengan membuka kaca helmnya. Dia tidak berhenti, lewat aja dengan cepat.
"Ahh! susah sekali nyari orang baik!" ucapnya dengan kesal.
Seorang bapak-bapak berhenti di depannya, dan menawarkan tumpangan pada Intan.
"Mau kemana, Mbak? sini saya antar!" ajaknya dengan baiknya.
"Wah syukurlah, saya mau pulang Pak, saya minta bonceng turun di jalan Panglima Sudirman no. 5 aja."
"Ayo, Bapak sekalian ke arah sana!" ucapnya, Intan segera naik ke atas motornya dengan senyum mengembang.
"Adek pegang yang kuat, sini di pinggang bapak," bapak tua itu meraih tangannya, akan melingkarkan di perut buncitnya, sontak membuat Intan gelagapan. Eh! Pikiran intan sudah melalang buana.
"Eh, bukan muhrim Pak!" jawab Intan melepaskan tangannya dari pegangan satu tangan bapak-bapak berumur 60 tahunan.
"Halah, gadis-gadis seperti kamu yang sering mangkal di jalan-jalan begini, sudah ketahuan mau jual diri, jadi jangan munafik!" ucap pria yang di kira Intan baik, malah sebaliknya.
Dug!
__ADS_1
Intan meninju kepala pria tua itu dari belakang.
"Aduh! apa yang kau lakukan? kamu memukulku? dasar gadis setan!" pria tua itu menepikan kendaraannya, dan segera menyeret tangan Intan.