Intan, Gadis Tomboy

Intan, Gadis Tomboy
Bab. 31. Cuma melanggar lampu merah


__ADS_3

"Aku cuma melanggar lampu merah," Intan terduduk bersandar ditembok. Melihat ruang sekelilingnya yang nampak sempit dengan ukuran ruangan 3x3 meter.


"Halah, itu kasus ringan kamu akan segera bebas jika ada uang jaminan di muka," kata Gina.


"Ya, aku sedang menunggu orang tuaku datang, tapi entahlah mereka sepertinya tidak perduli lagi denganku, karena aku terlalu sering membantah ucapan mereka mungkin," kata Intan sadar akan perbuatan-nya.


"Tidak mungkin, pasti orang tuamu akan ke sini menolongmu memberikan jaminan agar kamu bisa keluar dari sel ini," ucap Gina lagi.


"Ya semoga saja, tapi mana mungkin Emak ngasih jaminan? uang buat makan aja kadang masih ngutang!" Intan memijat keningnya dengan kesal. Sungguh sangat mengecewakan kalau sampai Ibu Minah tidak datang ke kantor polisi. Tapi Intan juga tidak terlalu berharap lebih.


Satu polisi datang dan membawa kunci sel ruangan itu. Mata Intan berpindah-pintar melihat sang polisi membuka selnya.


Dalam hati sudah berkata pasti orang tua Intan telah datang dan membebaskannya dari sini, "yes!"


"Saudari Intan, ada tamu yang ingin mengunjungimu. Mereka menunggu di ruang pengunjung," kata polisi.


"Aku di bebaskan kan Pak Polisi?" Intan sangat gembira hati ini.


"Sudah, kamu temui saja karena yang datang adalah orang tuamu sendiri," jawab polisi yang lengkap memakai baju dinasnya.


"Baik Pak!" Netra Intan berkaca-kaca. Dan tak sabar ingin keluar dari tempat menyeramkan itu.


"Buk! ehh Emak! Bapak!" teriaknya dengan mata bahagia. Hampir putus asa Menunggu mereka tidak datang juga.


"Kamu ini, manggil Emak ya ibuk!" Misbah sedikit bergurau di tengah kegelisahan putri sat wayangnya.


Intan memeluk ibu dan bapaknya Intan menganggap hari ini mereka datang untuk membebaskan Intan dari penjara ternyata mereka hanya melihat keadaan Intan saja.


"Bu,, Intan minta maaf ya karena Instan, eh Intan sudah membuat kalian kecewa karena kelakuan Intan ini, sampai Intan dimasukkan ke dalam sel, terimakasih banyak udah datang mengeluarkan Intan dari sini Intan janji tidak akan mengulanginya lagi ayah ibu, janji! super!" ucap Intap Intan dengan mengangkat dua jari tengah dan telunjuknya.


"Ayah sudah tidak tahu lagi harus mendidik kamu seperti apa, karena kamu tidak bisa berubah Intan. Maafkan ayah karena hari ini ini tidak bisa mengeluarkan kamu dari penjara!" ucap Misbah sedikit menyesal.


Intan terkejut mendengarnya, apa maksudnya, "Apakah Ayah dan Ibu kesini hanya untuk membesuk?" dengan terkejut Intan mengangkat kedua alisnya bertanya dengan tidak percaya.


"Ya benar, ibu dan ayah datang kesini untuk melihat keadaan mu apakah kamu saat ini baik-baik saja dan ternyata kamu tidak apa-apa dan kami bisa lebih tenang melihatnya," ucap Minah dengan wajah tidak perduli.


"Lha, Intan ingin pulang Ayah, Ibu. Kalian tega sekali sih melihat Intan berada di dalam jeruji besi bersama para tahanan lain!" Intan mengerucutkan bibirnya, orang tuanya datang untuk membesuk bukan untuk membebaskan Intan.

__ADS_1


"Ini Ibu bawakan semur jengkol kesukaanmu, pasti kamu tidak cocok makanan di sini kan? Pasti kamu rindu masakan Ibuk," dengan menyodorkan rantang yang berisi nasi dan lauk semur jengkol hasil masakannya.


Intan sama sekali tidak bersemangat dengan seberapapun lezatnya masakan buatan ibunya itu, karena keadaannya saat ini benar-benar tidak bisa ia percaya.


"Ayo makan-lah sayang! Jangan sampai kamu tidak makan, isi dulu perutmu sebelum menghadapi kenyataan yang pahit ini," ujar Misbah menasehatinya.


Intan masih tidak percaya Misbah masih bisa tersenyum melihat putrinya berada di tempat terkutuk ini.


Dengan sangat terpaksa Intan tetap mencicipi masakan ibunya, karena memang perutnya terasa sangat lapar sekali. Melahap sambil berlinangan air mata. Sampai Misbah dan Minah tidak tega menatapnya.


Lima belas menit berlalu polisi datang mengajak Intan masuk kembali ke selnya.


"Mari saudari Intan, kita lanjutkan hukuman mu," Polisi berbadan tegap menarik tangan Intan dengan tidak terhormat.


"Yah, Pak polisi, biarkan putri saya makan dulu Napa, ini nasi masih dia makan sedikit, biarkan dia habiskan dulu," Minah ingin menghentikan ajakan polisi itu.


"Tidak bisa Bu, jam besuk sudah selesai, jadi mau tidak mau putri ibu harus kami masukkan kembali," ucap polisi langsung saja membawanya tanpa memperdulikan sikap ibu Intan yang sudah ingin menangis.


"Mari, Bu, kita pergi dari sini," ajak Misbah pada istrinya.


Saat didalam sel…


Intan menggelengkan kepala dengan wajah masam, "Ternyata mereka hanya menjengukku saja, bukan mau mengeluarkan aku dari sel ini."


"Sabarlah, sana cepat tidur, semoga besok kamu bisa keluar. Jangan sampai seperti kami!"


****


Keesokan harinya…


"Hey Intan bangun," terdengar suara Gina dengan tendangan keras di perut Intan membuat dia terkejut, segera bangun dari tidurnya.


Tidur beralaskan kardus, di bawa lantai yang dingin. Sepertinya Intan masuk angin.


"Kamu bisa biasa saja mbak? Tidak perlu menendang-nendang seperti itu, emang kamu pikir nggak sakit apa?" Intan tidak terima perlakuan Gina barusan.


"Ya seperti ini aku kalau bangunin orang, maaf-maaf saja kalau kamu tidak terima!" sungutnya.

__ADS_1


"Padahal kemarin malam kamu bersikap baik, kenapa pagi ini kamu, membuatku emosi!" Geram Intan maju beberapa langkah ke depan dan memukul wajahnya.


Bug!


"Kurang ajar kau bocah tengil! sini aku akan balas perbuatanmu!"


Keduanya saling baku hantam, meski Intan kecil, tapi ilmu bela dirinya mumpuni.


Kedua teman yang lain terbangun, memperhatikan mereka bertengkar, tidak juga mereka lerai, malah mereka dukung masing-masing.


"Woy hentikan!" terdapat dua polisi yang berteriak pada mereka.


Salah satu polisi membuka sel tahanan dan memanggil Intan keluar dari sana.


"Ada tamu, keluarlah!" ucap polisi lainnya.


"Siapa?"


"Sudah kamu keluar saja! nanti juga kamu tahu!"


Intan bersama dua polisi keluar, dan mempersilahkan Intan menemui tamunya.


"Dion! Zaky? kalian janjian apa nemuin aku?" Intan buru -buru duduk mendekati mereka, berharap Dion bisa membantunya keluar dari sel.


"Aku benci kau ,Zak, kamu tinggalkan aku sendiri kemarin," Ucap Intan, dia baru sadar kalau lagi ngambek pada pria itu.


"Maaf ya, Aku hanya ingin memberikan efek jerawat padamu saja, dan pagi ini kami berniat untuk membebaskan," jelas Zaky pada Intan.


"Hah? benarkah?" Intan tidak percaya ada apa yang didengarnya barusan.


"Aduh!"


Intan mencoba mencubit pipi Zaki dengan keras, dan dia berteriak, berarti kali ini apa yang didengarnya tidak dalam keadaan bermimpi.


"Sakit Intan!" sungut Zaky masih memegang pipinya yang membekas jari Intan yang berwarna merah.


"Aku cuma testing, sedang mimpi apa nyata, eh, ternyata nyata!" ucap Intan tertawa terbahak-bahak.

__ADS_1


"Ya, hari ini kamu bebas Intan, kami menjaminmu. Jadi aku dan Zaki minta kamu tidak mengulangi perbuatan untuk lagi, agar akibatnya tidak sampai seperti ini!"


__ADS_2