Intan, Gadis Tomboy

Intan, Gadis Tomboy
Bab. 7. Tertidur Di Bukit


__ADS_3

Intan kedua kali ini menjatuhkan tubuhnya lagi di rerumputan. Dia berharap tidak ada gorila yang memangsanya kali ini. Mana ada gorila ditempat itu? haha.


Intan merentangkan kedua tangan dan kakinya di atas rumput dan digerakkan seperti sedang renang gaya bebas. Melihat awan di langit yang hampir seluruhnya berwarna jingga.


"Ahh, Segarnya. Damai banget, baru nemu tempat yang tentram disini. Seharian aku bekerja keras. Kalau imanku goyah, aku bakal mencari pekerjaan yang menguji adrenalin. Misalnya nuyul, ngepet. Hahah," Intan berceloteh sendiri. Tanpa sadar dia tertidur disana. Hingga malam tiba.


****


"Kemana anak ini? Uda jam tujuh malam gak pulang, bikin kepikiran orang tua aja!" Minah menggerutu dengan ayah Intan (Misbah).


"Apa kamu marahi lagi anak itu, Bu?" Misbah bertanya dengan serius pada Minah.


"Tadi siang dia pulang minta makan, tapi aku lagi ngambek nggak masakin dia


terus dia pergi lagi setelah aku pukul dengan sapu," jawab Minah jujur tanpa ditutupi.


Membuat Misbah melayangkan satu tamparan keras ke pipi Minah karena emosi.


Plak!


"Ah, sakit Pak!" Minah memegangi pipi kirinya yang sangat panas oleh tamparan Misbah.


"Kenapa Bapak malah penampar ibu, niat Ibu cuma ingin membuat Intan berfikir kalau dia sudah mulai dewasa dan waktunya dia untuk bekerja minimal mengerti pekerjaan rumah. Bapak malah memanjakan dia sehingga dia menjadi anak yang sulit untuk di kendalikan," jelas Minah dengan merasakan sakitnya tamparan suaminya.


"Tapi kasihan, seharian dia tidak makan apa kamu memikirkan hal itu, sekarang dia tidak pulang, apa kamu tidak menghawatirkan keadaannya sekarang, pasti saat ini dia sangat kelaparan dan tidak berani pulang karena kejahatan mu," olok Misbah membuat Minah tidak berani menjawab lagi karena bersalah.


"Coba telepon Zaky, mungkin saat ini dia berada di rumahnya!" Perintah Misbah pada Mina yang sudah siap dengan telepon yang sudah ada pada genggamannya.


"Baik Pak," jawabnya patuh.


Minah tidak lega, karena Zaky berkata Intan saat ini tidak berada di rumahnya. Namun Zaky berjanji untuk membantu Minah mencari Intan malam ini.


Zaky cari di beberapa tempat kebiasaan mereka nongkrong, tak juga ia temukan gadis tomboy itu.


Sampai dia berada di sebuah bukit, dia memastikan ini adalah tempat terakhir Zaky mencarinya. Dia berharap bisa menemukan Intan di sana.


Setelah beberapa langka, dengan menggunakan penerangan senter pada hp-nya, Zaki melihat ada seseorang yang tengah tidur di bawah pohon.


"Astaga, itu manusia apa demit? Kalau manusia ngapain malam-malam gini tidur di sini apa nggak ada tempat lain buat istirahat? Didekati apa enggak ya. Kok aku jadi merinding sendiri," Zaky tetap maju perlahan memastikan bahwa dia manusia.

__ADS_1


Saat sudah berada jarak terdekat, Zaky sangat terkejut kalau dia adalah Intan. Terlihat dari baju yang ia pakai sejak tadi.


Zaky membuat ide ingin menggodanya. Kebiasaan buruk mereka suka jahil menjahili.


Zaky bersembunyi dibalik pohon, dan melemparkan kerikil ke arah Intan. Satu dua kerikil tidak dia rasakan.


"Ini anak, doyan banget tidur, digigit nyamuk rasanya tidak berasa untuknya. Pantas saja Ibunya sering marah-marahin dia, memang sifatnya yang belum dewasa layaknya gadis," celotehnya untuk Intan.


Sekali lagi ia lemparkan kerikil yang ukurannya besar, pas kena jidat Intan.


Sontak Intan terkejut dan bangun, melihat sekeliling gelap dan dia baru sadar kalau tadi sore dia tiduran di bukit ini.


"Astaga dragon, ngapain aku bubuk cantik disini? Oh ya, aku tadi ngerasa ada yang nimpuk aku pake batu kecil," Intan mencari ke sekelilingnya. Tidak ada siapapun disana.


Sebenarnya dia tidak percaya dengan hantu, tapi kali ini dia merasa agak takut tapi dikit.


Zaky melempari lagi satu kerikil mengenai kepalanya.


"Aduh, setan alas. Mana mungkin setan suka nimpuk pake batu gini? Apa setan itu uda lupa cara goda manusia hingga alih profesi jadi tukang timpuk?" Intan berkata-kata sendiri dengan gemas.


"Intan... Intan... " Suara Zaky menggodanya dengan lirih menyerupai suara kuntilanak.


Lama-lama Intan jadi sedikit takut, dan mulai berlari kencang meninggalkan Zaky disana.


"Eh, Intan! Intan! tunggu aku!" Teriak Zaky ditinggal sendiri. Dia tidak mendengar teriakannya. Karena sudah berlari jauh.


"Kenapa jadi aku yang ditinggal?" Zaky berusaha lari juga dari sana. Tanpa sengaja baju Zaky tersangkut di ranting pohon.


"Eh, siapa nih yang memegang bajuku? Aduh Intan... tolong aku Intan!" Teriaknya dari keras dan makin melemah karena dikiranya ada makhluk halus yang sedang menarik bajunya.


Zaky tidak berani menoleh kebelakang, karena pasti yang ia lihat hantu perempuan yang menyeramkan.


"Ampun nona hantu, saya masih perjaka. Belum nikah, daging saya tidak enak. Izinkan saya pergi dari sini. Lepaskan tarikan bajuku!" Celoteh Zaky tidak karuan, Zaky jera. Dia terpaksa memberanikan diri menoleh kebelakang.


"Eh, apa-apaan aku ini. Cuma nyangkut di ranting ternyata," segera dia menarik dari ranting itu. Segeralah pergi dari sana.


Zaky berhasil membalap Intan didepannya. Dan mengagetkannya dari belakang.


"Dor!"

__ADS_1


"Ampun nih anak lagi! Dari mana malam-malam gini?" Intan terkejut melihat Zaky membuntutinya.


"Maaf Tan, setan. Tadi aku yang nimpuk kamu di bukit," ungkapnya jujur.


"Oh jadi kamu yang bikin ulah tadi!" Intan meninju lengan Zaky.


"Maaf-maaf. Abis kamu dicari nih sama enak-mu dirumah. Gak pulang-pulang sampai jam segini, mana asyik tidur di rumput. Tahu tempat-lah!"


"Ya tahu, aku tadi ketiduran,ya udah aku balik!" Ucap Intan dengan ringannya mendorong kepala Zaky.


****


Keesokan harinya, Intan ada rencana main basket bersama temannya di GOR, latihan untuk hari minggu ada perlombaan basket se nasional. Dia dipilih sebagai kapten.


"Bu, aku pamit latihan!" Intan meminta izin Minah dengan rambut pendek dan gaya yang sudah menyerupai anak laki-laki.


"Dirumah saja! Gak usah ikut grup basket-basket lagi!" Kecam Minah.


"Eh, maaf Bu, itu gak bisa. Aku sudah ada janji dengan mereka. Aku kapten mereka," Intan membantah ucapan Ibunya.


Inilah sifat buruk lain dari Intan, sering membantah ucapan ibunya.


"Sekali saja kamu dengarkan ibu Intan, pernah gak sih ibu minta hal lain padamu?"


"Maaf Bu, ini terlalu mendadak. Mereka tidak akan cepat mendapatkan kapten kalau Intan tiba-tiba keluar, mohon ibu pengertiannya," jelas Intan dengan memegang kedua lengan ibunya dan menatap wajah Minah dengan harapan bisa diizinkan pergi.


Mobil anggota grup sudah sampai didepan rumah Intan untuk menjemputnya.


"Bu, mereka sudah datang. Intan pergi ya?" Ucap Intan lagi.


Namun akhirnya Minah mengangguk dan memberikan izinnya.


"Love you Mom, emuach," Intan mencium kedua pipi Minah dan segera pergi.


Minah menatap kepergian putrinya yang sudah beranjak dewasa, sebenarnya dia tidak ingin Intan menjadi perempuan seperti ini. Minah mengharapkan memiliki putri yang anggun, cantik dan mendapatkan suami yang mapan.


Bagaimana bisa laki-laki menyukainya jika gayanya seperti itu.


Minah tersenyum sendiri melihat kelakuan Intan yang tiap hari menjengkelkan. Dia membuatnya tertawa jika harus mengingat-ingat ulahnya.

__ADS_1


__ADS_2