Istri Lima Milyar

Istri Lima Milyar
Bab 12. Pesan ibu mertua


__ADS_3

Suasana tampak hening saat Riana masuk ke mobil. Tidak ada satu katapun keluar dari mulut mereka, hingga mereka sampai di rumah. Riana membantu Rio turun dan segera mendorongnya hingga masuk kedalam rumah. Sementara semua barang-barang yang sudah mereka beli, di bawa masuk oleh pak Karjo. Apa yang mereka beli itu terlihat sangat banyak. Bagi keluarga Rio, mungkin itu tidak masalah. Tetapi bagi Riana, belanja seperti itu seperti pemborosan saja.


Mereka duduk santai di ruang tamu, sambil menatap barang-barang belanjaan Bu Elena dan Tiwi.


"Rio, besok kami memutuskan untuk pulang," ucap Bu Elena memecah kesunyian.


"Ma, kenapa mendadak sekali? Tadi siang baru sampai, besok sudah mau pulang. Apa Mama tidak betah tinggal di sini?" tanya Rio kecewa.


"Bukannya Mama tidak betah. Mama akan datang lagi setelah ...," Bu Elena menghentikan ucapannya. Dia menatap Riana dengan tatapan dingin. Itu menurut Riana, yang sudah merasa jika ibu mertuanya membencinya.


Semua menunggu lanjutan dari ucapan Bu Elena yang menimbulkan rasa penasaran. Bahkan Riana sudah lebih dulu sedih. Dulu saja, yang mertuanya biasa saja, sudah menganggapnya sampah. Apalagi Bu Elena yang jauh lebih kaya dan berpendidikan.


Riana menghela napas panjang untuk menyiapkan hatinya. Dia tidak ingin sakit hati mendengar apa yang akan di katakan ibu mertuanya.


"Setelah apa, Ma?" tanya Rio yang juga cemas.


"Kami akan datang lagi, setelah kalian memberi kami cucu. Semakin cepat, semakin baik," jawab Bu Elena.


Rio tersenyum malu mendengar ibunya menginginkan cucu. Tidak bisa Rio pungkiri jika dia juga menginginkan hal yang sama. Betapa sempurnanya keluarga mereka saat itu.


Tidak hanya Rio, Riana juga kaget mendengarnya. Dia tidak pernah menyangka jika ibu mertuanya akan berkata seperti itu. Meskipun hatinya senang karena telah mendapatkan restu, tetapi untuk memiliki anak, tidakkah itu terlalu buru-buru. Meski mereka telah menikah, tetapi hubungan mereka tidak seperti pasangan suami istri. Mereka lebih seperti majikan dan pengasuh.


"Ma, masalah anak, kita serahkan saja pada Allah. Lagipula, anak itu rahasia Illahi. Kita tidak tahu, kapan kita akan diberi kepercayaan itu," jawab Rio agak malu.


"Tapi, kalian juga harus berusaha. Bagaimana Allah akan memberikan seorang anak, jika kalian tidak berusaha. Benar begitu, Riana?" tanya Bu Elena yang membuat Riana kaget.


"I--iya," jawab Riana spontan.


"Nah, Riana juga tahu itu. Riana, ini semua untuk kamu," kata Bu Elena sambil menunjuk barang-barang yang ada di atas meja.


"Semua?" tanya Riana.

__ADS_1


"Iya. Mama masuk dulu, mau istirahat. Ayo Tiwi," jawab Bu Elena lalu mengajak Tiwi.


Riana masih terlihat tidak percaya. Dia berdiri mematung lalu dia melihat ke arah Rio. Rio tersenyum dan mengangguk pelan untuk meyakinkan Riana.


"Kita masuk dan beristirahat saja dulu. Nanti biar Bik Ijah yang mengantarnya ke kamar," kata Rio mengentikan lamunan Riana."Bik Ijah!"


"Ya, Pak Rio," jawab Bik Ijah patuh.


Riana membawa Rio masuk ke kamar dan membantunya berbaring ke tempat tidur. Bik Ijah mengikuti mereka sambil membawa semua barang tersebut.


"Letakkan saja sofa, Bik," ucap Riana.


"Bibik pergi dulu, Pak Rio, Bu Riana. Assalamualaikum," ucap Bik Ijah.


"Wa'alaikum salam," jawab Riana dan Rio bersamaan.


Setelah kepergian Bik Ijah, Riana langsung merebahkan dirinya di samping suaminya. Dia penasaran dengan barang-barang yang dibeli ibu mertuanya. Tetapi, dia malu pada Rio. Nanti dia dikira mata duitan.


"Kamu tidak perlu memikirkan apa yang di katakan Mama tadi. Aku tidak akan memaksamu untuk menerima aku secepat itu," kata Rio saat melihat Riana gelisah.


"Aku tidak memikirkan itu. Aku ...," jawab Riana gugup.


"Lalu apa yang kamu pikirkan, kenapa kamu tampak gelisah?" tanya Rio kaget mendengar jawaban Riana. Riana sama sekali tidak memikirkan ucapan ibunya. Padahal sejak tadi, Rio terus memikirkannya. Membayangkannya dan bahkan mengharapkan itu nyata.


"Aku penasaran dengan apa yang dibeli ibumu untukku. Sebanyak itu, untukku semua. Apakah pakaian jelek yang sengaja untuk mempermalukan aku. Berpura-pura baik untuk menyakitiku?" jawab Riana dengan banyak pertanyaan.


"Apa yang kamu katakan. Mama tidak akan pernah menyakitimu. Jika kamu penasaran, kenapa tidak melihatnya?" jawab Rio agak kecewa dengan ucapan Riana.


"Oke. Kita lihat saja, isinya apa," kata Riana.


Riana beranjak dari tempat tidurnya dengan perasaan gugup. Sementara Rio terus memperhatikan Riana. Riana membuka paper bag pertama. Dia mengeluarkan isinya perlahan karena takut ada kejutan. Isinya gaun malam warna hitam yang sangat elegan. Dia menempelkannya di tubuhnya yang ramping. Pas sekali ukurannya.

__ADS_1


Riana meletakan gaun itu di atas sofa. Lalu dia membuka paper bag kedua. Dia mengeluarkan isinya dengan santai. Tetapi, dia terperanjat saat melihat isinya. Sebuah Lingerie warna hitam yang sangat tipis dan banyak bolongnya. Riana menempelkan lingerie itu pada tubuhnya dan dia tertawa pelan. Riana merasa malu saat melirik Rio yang terus melihatnya.


Riana meletakan lingerie itu disamping gaun malamnya. Dia mencoba melihat paper bag lain tanpa mengeluarkan isinya. Riana semakin melebarkan matanya melihat isinya. Semuanya ada, lengkap. Mulai dari pakaian santai sampai pakaian dalam.


Ya Allah, apakah ini semacam ingin merubah diriku? Tapi, aku tidak akan berubah demi apapun. Riana adalah Riana. Meskipun aku orang miskin, tidak akan semudah itu berubah, batin Riana.


Riana meletakkan semuanya kembali ke tempatnya semula. Dia kembali merebahkan diri dan langsung tertidur karena dia merasa lelah hati dan pikiran. Rio tidak berani mengganggu Riana lagi.


Keesokan harinya, Bu Elena dan Tiwi sudah bersiap pergi. Riana yang melihat itu, segera membangunkan Rio. Riana tidak ingin Rio merasa sedih karena terlambat mengantarkan ibunya.


Rio mengajak ibu dan adiknya menuju ruang makan untuk sarapan.


"Ma, kita sarapan dulu. Entah kapan kita bisa makan bersama lagi," ucap Rio.


"Jangan bicara seperti itu. Semakin kalian cepat memiliki anak, Mama dan seluruh keluarga besar, akan datang ke rumah ini dan Mama janji akan mengadakan pesta untuk cucu pertama keluarga Hutama," kata Bu Elena.


"Kak, jangan sedih gitu. Usahanya diperkeras lagi supaya bisa cepat terkabul. Bukannya semalam, Mama dan adikmu ini, sudah memilihkan barang-barang yang bagus untuk kalian. Terutama untuk Mbak Riana, bagus 'kan Mbak?" tanya Tiwi sambil tersenyum pada Riana.


"Ba-bagus. Bagus iya, bagus," jawab Riana gugup plus malu dan canggung.


"Ayo makan," kata Rio untuk membuat Riana tidak malu.


Selesai makan, Bu Elena dan Tiwi pamit pergi. Beliau mendekati Riana yang berdiri di samping Rio.


"Riana, Rio memang cacat dan lumpuh. Kamu sebagai istri, tetap wajib mematuhi perkataan suamimu. Mama mohon, kabulkan keinginan Mama untuk memiliki cucu. Mama tidak tahu bagaimana caranya, berusahalah untuk memiliki anak dari Rio. Setelah kamu memiliki anak dari Rio, apapun yang kamu inginkan, akan Mama kabulkan," bisik Bu Elena sambil memeluk Riana.


Riana tidak mampu membalas ucapan Bu Elena. Bibirnya terasa dingin dan lidahnya terasa kelu.


Anak dari Rio?


...****************...

__ADS_1


__ADS_2