
Bagaimana kabarnya Anwar, sang mantan suami yang telah hidup sukses setelah menjual istrinya?
Setelah membantu Riana kembali ke Indonesia, Anwar kembali melanjutkan pekerjaannya yang tertunda cukup lama. Waktu yang dia gunakan untuk menemani Riana di rumah sakit di Singapura. Dia menghubungi Rio dan mengatakan bahwa saat ini, Riana telah bahagia rujuk kembali dengannya. Anwar sangat menikmati kebohongan itu.
Ketika dia kembali, dia sangat bahagia. Tetapi, ketika dia hendak masuk ke dalam rumah, dua orang penjaga, menghalanginya. Tentu saja Anwar sangat kaget dan marah.
"Apa-apaan kalian! Kalian ini siapa, berani melarang aku masuk ke rumah aku sendiri!" teriak Anwar sambil emosi.
Anwar mencoba berjalan masuk, tetapi orang-orang itu memegangi tangan Anwar. Anwar memang tinggi dan gagah. Tetapi ternyata, di itu tidak memiliki tenaga untuk melepaskan diri dari dua pria yang tampak seperti ahli bela diri.
"Maaf, kami hanya menjalankan tugas sari pemilik rumah," jawab salah satau sari mereka.
"Pemilik rumah yang mana? Cepat panggil keluar! Be-debah, breng-sek kalian," ucap Anwar dengan kata-kata kotornya.
Sebelum merek sempat menjawab, Santi keluar sambil memegangi perutnya yang sudah terlihat besar. Santi kaget saat melihat Anwar sedang berdebat dengan pengawalnya.
"Hai ... kalian, lepaskan dia! Kalian tidak tahu kalau dia ini calon suami aku," teriak Santi sambil berjalan mendekati Anwar.
Mereka melepaskan Anwar dan kembali ke pos mereka masing-masing. Anwar tampak sangat gusar dan penuh emosi. Dia sangat penasaran dengan apa yang terjadi setelah dia pergi menemui Riana di Singapura.
"Mas Anwar, jangan marah. Ayo masuk dulu," ucap Santi sambil bergelayut manja.
Anwar menahan emosinya melihat Santi yang sedang hamil tua. Dia tidak ingin mempengaruhi kesehatan bayi yang sedang di kandung Santi. Anwar berjalan perlahan diikuti Santi yang tampak penuh kebencian pada Anwar.
Santi masih mencoba tersenyum dan menyambut kedatangan Anwar dengan penuh perhatian. Sekian lama Anwar menggantung statusnya hanya demi bisa bersama Riana.
__ADS_1
"Sayang, aku sudah meminta bibik untuk memasak makanan kesukaan kamu. Kamu mandilah dulu, aku akan menyiapkan pakaian ganti untukmu," ucap Santi lembut, meski dihatinya penuh duri.
"Santi, kamu berhutang penjelasan padaku," jawab Anwar kesal. "Katakan, apa yang terjadi?"
"Mas, aku takut tinggal di rumah ini sendirian. Makanya aku menyewa penjaga. Kamu sih, perginya kelamaan. Hanya Demin mantan yang tidak mau balikan lagi. Percuma semua yang kamu lakukan untuknya. Kamu sama sekali nggak dianggap," ucap Sinta kesal.
Anwar sangat marah mendengar ejekan Sinta. Sebuah tamparan melayang di pipi wanita yang sedang hamil tua itu.
"Tutup mulutmu, wanita gila. Dia pantas menjadi istri, tapi kamu, wanita murahan. Diam saja, jika masih ingin tetap tinggal di rumah ini!" bentak Anwar yang langsung ke kamarnya untuk mandi dan beristirahat. Anwar berniat pergi ke perusahaan esok hari.
Santi hanya bisa menahan sakit dan sorot matanya berubah sinis, saat Anwar sudah hilang dari pandangannya. Dia berjalan pelan menyusul Anwar dan menyiapkan pakaian ganti untuk pria yang kini sangat di bencinya.
Tunggu saja pembalasanku, Anwar, batin Santi.
Keesokan harinya, Anwar pergi ke perusahaan. Dia tampak sangat bahagia karena perusahaan yang dia miliki, telah berkembang pesat. Tetapi, hal yang tidak terduga terjadi. Perusahaan Anwar, kini telah berpindah kepemilikan menjadi milik Santi.
"Apa, bagaimana ini bisa terjadi? Aku tidak pernah memberikan perusahaan ini kepada Santi. Bagaimana mungkin, pasti ada yang memalsukan tanda tanganku," ucap Anwar kesal, marah, dan emosi bercampur menjadi satu.
"Menurut pengacara, tanda tangan ini asli tanda tangan pak Anwar. Tapi kalau pak Anwar masih tidak percaya, kiat bisa mencari ahlinya," ucap Geri, asisten Anwar.
Geri menghubungi pengacara dan seorang yang ahli dalam menganalisa sebuah tanda tangan itu palsu atau asli. Hasilnya, tanda tangan itu asli.
"Pak Anwar, tidak hanya perusahaan ini saja yang sudah berpindah nama. Tetapi seluruh aset yang Bapak miliki, sudah atas nama Bu Sinta. Apa yang sebenarnya terjadi, Pak Anwar?" ucap Geri yang membuat Anwar semakin gelap mata.
"Apa, rumahku juga? Kurang ajar, wanita gila itu benar-benar harus diberi pelajaran. Dia ternyata seorang penipu. Bodohnya aku, telah tertipu sikap manisnya yang ternyata beracun. Aku akan pulang untuk menanyakan hal ini pada Santi," ucap Anwar panik.
__ADS_1
Anwar memendam amarah yang sudah membara. Bagaimana dia bisa tertipu? Kapan dia menandatangani surat pengalihan aset pada Santi.
Anwar sudah tidak sabar. Dia ingin segera sampai di rumah. Dia akan pastikan jika Santi akan hancur jika dia memang benar-benar telah menipunya.
Anwar sangat syok dan mencoba mengingat apa yang terjadi sebelum dia pergi ke Singapura. Tetapi, Anwar sudah tidak bisa mengingat apapun karena pikirannya saat ini sudah buntu.
Mobil Anwar berhenti tepat di depan pintu gerbang rumahnya. Beberapa kali dia membunyikan klakson, tetapi pada pengawal Santi tidak ada pergerakan untuk membuka pintu gerbang. Mereka seolah tidak menganggap Anwar ada. Hal ini, lebih menyakitkan bagi Anwar.
Anwar turun dan berteriak-teriak meminta pengawal itu untuk membukakan pintu gerbang untuknya.
"Woe, cepat buka pintu gerbangnya! Kalau tidak kalian akan aku pecat," teriak Anwar kesal.
Anwar sudah kehilangan kesabaran. Dia menggebrak pintu gerbang rumahnya dengan kasar. Saat itu, Santi muncul dari dalam rumah sambil membawa koper dan tas. Dia berdiri di depan Anwar, tetapi dia berada di dalam dan Anwar terpa diluar gerbang.
"Santi, buka pintunya. Kita harus bicara," ucap Anwar emosi.
"Mas Anwar, rumah ini sudah menjadi milikku. Tidak apa-apa, kamu tidak mau menikahi aku. Karena aku sudah mendapatkan gantinya. Terima kasih, Mas Anwar. Ini, aku sudah bantu kamu membereskan barang-barang kamu," ucap Santi dengan sombongnya.
"Dasar rubah betina. Aku pastikan kamu tidak akan hidup tenang. Kamu pencuri!" teriak Anwar ingin menelan Santi hidup-hidup.
"Kamu kira, aku tidak tahu kalau semua yang kamu miliki sekarang, hasil dari menjual istrimu. Kita sama-sama pencuri. Kalian, bawa koper dan tas ini. Berikan padanya. Kalau dia macam-macam, kalian hajar saja dia," perintah Santi pada kedua anak buahnya.
Mereka berdua segera mengambil koper dan tas lalu dilemparkan ke arah Anwar. Anwar tampak marah dan berlari menuju ke arah Santi. Anwar melampiaskan kemarahannya dengan menganiaya Santi hingga Santi mengalami pendarahan. Kedua pengawal itu berlari membantu Santi.
Saat melihat Santi pendarahan, Anwar melarikan diri.
__ADS_1