Istri Lima Milyar

Istri Lima Milyar
Bab 37. Anak Riana


__ADS_3

Ryan sudah satu hari, berada di rumah Rio. Rio memperlakukan Ryan seperti anaknya sendiri. Rio ingin lebih meyakinkan diri, jika Ryan adalah anaknya Riana. Karena itu, Rio menunjukkan pada Ryan, foto Riana saat masih bersamanya.


Awalnya Ryan terlihat biasa saja. Bahkan terkesan bingung dan sedih. Rio berusaha meyakinkan Ryan bahwa dia sangat mencintai Riana.


"Ryan, kamu lihat wanita yang ada di dalam foto ini. Dia adalah wanita yang Papa cintai," ucap Rio ingin melihat reaksi Ryan.


"Apakah, Papa sangat mencintai mama?" tanya Ryan sambil menatap Rio.


"Jadi, dia benar mamamu?" tanya Rio sambil tersenyum.


"Ehm. Dia mama aku. Dia pernah jadi istrinya Papa, 'kan?" tanya Ryan lagi.


"Iya. Bagaimana kabarnya mamamu, apakah dia baik-baik saja?" tanya Rio sambil berkaca-kaca.


"Mama, baik-baik saja. Papa tidak ingin bertemu mama? Ryan ingin, punya Papa," Jawa Ryan sedih.


"Kamu tenang saja. Aku adalah Papamu. Maukah kamu bantu Papa untuk bisa bersama mamamu lagi?" tanya Rio penuh harap.


Ryan mengangguk sambil tersenyum bahagia, karena Rio berjanji akan menjadi Papanya. Saat itu, Bik Ijah datang memberitahukan bahwa ada seorang polisi yang datang untuk menjemput Ryan.


"Pak Rio, ada polisi yang datang mencari Den Ryan. Bibik sudah suruh dia masuk dan sekarang sedang menunggu di ruang tamu," ucap Bik Ijah pelan.


Rio agak sedikit panik. Dia tidak menyangka, jika Riana akan menghubungi polisi.


"Polisi? Baiklah, aku akan segera turun. Ryan, kamu tunggu di sini sebentar. Papa sedang ada tamu, Papa temui dulu," ucap Rio sambil mengelus rambut Ryan.


Ryan tampak tersenyum lalu bermain dengan mainan barunya. Rio bergegas menemui orang tersebut, yang ternyata adalah Yadi.


"Maaf, anda siapa?" tanya Rio sambil menatap tajam pria berseragam polisi di depannya.


"Perkenalkan, nama saya Yadi. Saya Papanya Ryan. Saya datang untuk menjemput dia, sesuai yang anda inginkan," jawab Yadi tegas sambil menjabat tangan Rio.

__ADS_1


"Oh Papanya Ryan?" tanya Rio kaget mendengar pengakuan Yadi.


"Ini foto aku dan Ryan. Ini juga ketua identitasku sebagai anggota kepolisian. Jika kamu tidak percaya padaku, kamu bisa datang mencariku di polres," jawab Yadi sambil memperlihatkan foto dan kartu identitasnya.


Rio mengambil foto dan kartu identitas milik Yadi. Dia memperhatikan dengan seksama. Semua asli. Tetapi entah kenapa hati Rio terasa sedih. Bukan hanya dia yang kini menjadi papanya Ryan. Tetapi ada Yadi juga yang mengaku sebagai papanya Ryan.


Rio tidak ingin patah hati. Dia segera mengembalikan barang-barang milik Yadi.


"Pak Yadi silahkan tunggu. Saya akan membawa Ryan turun menemui Pak Yadi," ucap Rio agak tidak rela.


"Terima kasih, Pak Rio," jawab Yadi santai.


Rio berjalan pelan seolah tidak ingin cepat sampai di kamarnya. Dia sungguh tidak rela berpisah dengan Ryan. Padahal tadinya Rio berharap jika Riana yang akan menjemput Ryan. Harapannya bertemu Riana pupus sudah.


"Ryan, ada seseorang yang datang menjemput kamu," kata Rio saat sampai di kamarnya.


"Mama?" tanya Ryan senang.


Rio menulis nomor ponselnya, disebuah kertas berukuran kecil. Lalu dimasukkan ke dalam kantong celana Ryan.


"Ini nomor ponsel Papa. Jika sudah sampai rumah, segera hubungi Papa. Jangan sampai mamamu dan orang yang menjemputmu tahu. Ini akan jadi rahasia kita berdua. Kamu masih ingat perjanjian kita? Kamu akan membantu papa mengejar Mama. Bukankah kamu ingin keluarga kecil kita utuh?" kata Rio panjang lebar.


"Ryan tidak akan lupa. Ryan masih ingin memiliki papa dan mama," jawab Ryan dengan polosnya.


Rio menggandeng tangan Ryan dan turun ke bawah. Saat Ryan melihat Yadi, Ryan segera melepaskan pegangan Rio dan berlari ke arah Yadi.


"Papa Yadi," teriak Ryan.


"Ryan, anak papa. Bagaimana keadaan kamu, Naka papa yang paling ganteng?" tanya Yadi sambil menggendong Ryan.


"Ryan kangen Mama," jawab Ryan sambil memeluk Yadi.

__ADS_1


Rio hanya bisa melihat dengan hati galau. Ryan benar-benar memanggil Yadi dengan sebutan papa juga.


Ah, dasar bocah bocah, kenapa semua pria dia panggil dengan sebutan papa? Harusnya cukup sama aku saja dia panggil papa, batin Rio kesal.


"Terima kasih, Pak Rio. Anda sudah mau menjaga anakku. Lain kali, kalau ada waktu, saya pasti akan mentraktir anda makan dan minum sepuasnya," ucap Yadi tegas. "Ayo Ryan, ucapkan terima kasih pada Pak Rio, setelah itu kita pulang."


Ryan turun dari gendongan Yadi. Dia mendekati Rio yang masih tidak bisa menerima kenyataan.


"Papa, Ryan pergi dulu. Ryan kangen Mama," ucap Ryan sedih.


Yudi sempat kaget mendengar Ryan memanggil Rio dengan sebutan papa. Tetapi dia sangat memahami kondisi Ryan yang merindukan sosok seorang ayah. Sedangkan Rio tidak menjawab ucapan Ryan. Dia langsung memeluk Ryan dan berbisik di telinga Ryan.


"Sampai jumpa lagi. Papa mencintaimu dan mamamu," bisik Rio.


Rio melepaskan kepergian Ryan dengan hati sedih. Tetapi saat ini dia belum memiliki bukti jika Ryan adalah anak kandungnya. Hasil tes DNA itu belum keluar.


Sementara Rio diliputi kesedihan, Yadi dan Ryan pulang ke asrama Yadi. Di sana, Riana sudah menunggu kedatangan mereka. Saat melihat Ryan turun dari sepeda motor Yadi, Riana langsung menjemput memeluk Ryan.


Riana menumpahkan perasaan rindunya pada putra semata wayangnya. Tidak ada hal yang lebih menakutkan, dari kehilangan Ryan. Riana tidak dapat menahan tangisnya. Dia melepaskan pelukannya dan memeriksa jika ada sesuatu yang terjadi pada Ryan.


"Sayang, apa ada yang terluka? Mana yang sakit?" tanya Riana panik.


"Mama, Ryan baik-baik saja. Ryan tinggal sama Papa dan Papa sangat baik pada Ryan. Ma, bisakah kita tinggal sama Papa?" tanya Ryan yang menghentak dada Riana.


Wajah Riana yang tadinya penuh ekspresi, kini terdiam membeku. Bagaimana tidak, Ryan berani berkata seperti itu setelah 2 hari hidup bersama Rio. Riana tidak akan pernah memaafkan Rio. Pria yang sudah menceraikannya tanpa belas kasihan.


Setelah 6 tahun Riana menjalani hidup tenang, kini dia berusaha mengusik hidupnya dengan berpura-pura baik pada Ryan. Untung saja, Riana belum pernah bertemu Rio lagi. Dan Rio tidak akan tahu, jika Ryan adalah anaknya.


"Sayang, bukankah kita sedang menunggu Papa di rumah? Nanti kalau papa datang, kita tidak ada, takutnya papa akan pergi lagi. Jadi, besok, kita harus kembali pulang ke rumah," jawab Riana lembut.


Ryan tidak mau membuat ibunya sedih, karena itu dia menuruti keinginan ibunya untuk pulang ke rumah esok hari. Ibunya terlihat sangat membenci ayahnya, jadi tidak akan semudah itu untuk membuat ayah dan ibunya bersatu kembali.

__ADS_1


...****************...


__ADS_2