
Setelah mendengar ucapan sang suami, Riana lebih banyak diam. Dia lebih berusaha mendekatkan diri pada Allah dan mencoba untuk tidak terlalu memikirkannya. Riana masih berharap jika semua itu tidaklah nyata. Atau dia hanya salah paham saja seperti sebelumnya.
Harapan itu masih tersisa di hati Riana, sampai kedatangan Fahry membuat semuanya jelas di mata Riana. Saat itu, dia ingin menyajikan teh hangat untuk kakak iparnya yang jarang berkunjung ke rumah mereka. Riana mendengar pembicaraan suami dan kakak iparnya dengan hati yang sedih di depan pintu.
"Mas Fahry, aku tidak bisa tahan melihat Riana menderita," ucap Rio ketika mereka berbincang di ruang kerja Rio.
"Menurutku, Riana cukup bahagia menjadi istrimu. Mungkin itu hanya perasaan kamu saja. Lebih baik bicarakan baik-baik dengan Riana," nasehat Fahry sambil menatap Rio yang tampak bimbang dan ragu.
"Bagaimana aku akan bicarakan itu dengannya. Aku belum siap mendengar hal buruk itu," kata Rio sambil menghela napas panjang.
"Kamu ini terlalu cepat berprasangka. Sudah dua tahun kalian menikah, tidakkah kamu bisa memahami isi hati istrimu? Aku saja bisa melihat ketulusan Riana. Mungkin, memang dia belum sepenuhnya mencintai kamu. Tetapi aku yakin jika dia sudah berusaha untuk mencintai kamu. Cobalah untuk bersabar," ucap Fahry lagi.
"Aku cukup memiliki alasan, untuk bisa menceraikan dia," ucap Rio sedih.
Riana tersentak kaget mendengar ucapan Rio. Apa yang pernah dia anggap hanya kesalahpahaman, kini ternyata itu sebuah kenyataan. Kaki Riana terasa lemas dan dia tidak mampu lagi berpikir jernih.
Langkah kaki Riana terasa berat melangkah. Tatap matanya kosong. Dia meletakan baki berisi dua gelas teh hangat di atas meja. Entah apa yang dia pikirkan, dia keluar dari rumah Rio tanpa tujuan. Yang ada dalam hatinya, dia tidak ingin diceraikan oleh Rio.
Semakin lama semakin jauh berjalan. Kakinya juga semakin lelah. Tetapi dia tidak ingin berhenti. Dia tidak ingin bertemu Rio dan bercerai dengannya. Dia masih ingin hidup sebagai istrinya Rio meski jauh darinya.
Tiba-tiba, dari arah berlawanan, muncul sebuah mobil yang hilang kendali. Tidak sempat bagi Riana untuk menghindari tabrakan itu. Untungnya, sang sopir masih sempat untuk membelokkan kemudi, meskipun masih menyerempet tubuh Riana. Riana jatuh terbentur aspal.
Orang-orang segera menolong Riana dan membawanya menuju ke rumah sakit. Riana segera mendapatkan perawatan.
__ADS_1
Sementara itu, Rio dan Fahry masih meneruskan obrolannya tentang ruang tangga Rio dan Riana. Riana ternyata hanya mendengarkan sampai Rio ingin menceritakan dia. Riana tidak mendengar, alasan sesungguhnya Rio ingin menceritakan Riana.
"Mas, aku ingin mengejar Riana secara normal. Seperti pria pada umumnya. Aku ingin menghapus sebutan istri lima milyar dari Riana. Aku ingin, orang-orang mengenalnya sebagai wanita yang aku cintai. Betapa bahagianya dan kami tidak akan memiliki beban lagi," ucap Rio menjelaskan. "Sungguh, sebutan itu menjadi beban dan seperti sebuah penghinaan dari cintaku padanya."
"Iya, aku setuju saja. Tapi kamu harus pertimbangkan juga pendapat istrimu. Kalau dia tidak masalah dengan sebutan itu, lebih baik jangan membahas soal perceraian. Kamu sudah beruntung memiliki Riana, jangan sampai kamu menyesal seperti mantan suaminya," ucap Fahry terus mengingatkan Rio.
"Mas Fahry benar. Harusnya lebih sabar lagi menghadapi Riana. Kalau sampai dia benar-benar ingin cerai, hidupku pasti akan hancur. Aku tidak bisa hidup tanpa dia," kata Rio sedih.
"Mama khawatir tentang kamu dan Riana. Mama juga ingin kabar baik dari kalian. Tau sendiri, Mama sudah pingin punya cucu. Beruntung karena kamu yang nikah duluan. Jadi, aku bebas. Oke, aku pamit pulang dulu," ucap Fahry sambil tersenyum lebar. Dia merasa bebas dari mamanya dan mamanya tidak akan memaksanya lagi untuk segera menikah.
"Aku juga pingin punya anak. Tunggu sampai kondisi Riana membaik. Maaf, nggak ada minuman. Mungkin bibik lupa," sahut Rio agak heran karena biasanya bibik yang menyuguhkan minuman untuk dia dan kakaknya.
Rio mengantarkan Fahry sampai di depan pintu melewati meja tamu. Rio berhenti sejenak saat melihat baki berisi dua gelas air minum, tergeletak begitu saja di meja.
"Coba Mas Fahry lihat. Bik Ijah kok bisa lupa kayak gini. Mau kasih minum sampai tamunya udah mau pulang malah di tinggal di sini," gumam Rio sambil tersenyum.
"Bik Ijah, Mas Fahry mau pulang," teriak Rio sambil menatap ke arah dapur.
"Udah, jangan teriak-teriak," ucap Fahry sambil menepuk bahu Rio.
Tidak berapa lama, Bik Ijah datang sambil tersenyum. Tetapi ketika dia melihat baki berisi minuman diatas meja, Bik Ijah sangat kaget.
"Kenapa minuman ini berada di meja ini?" tanya Bik Ijah pada dirinya sendiri.
__ADS_1
"Kenapa, Bik, bukannya Bik Ijah sendiri yang meletakkannya di sini?" tanya Rio sambil tersenyum. Rio dan Fahry saling berpandangan. Mereka ingin menggoda Bik Ijah.
"Bukan Bibik, Pak Rio, Pak Fahry. Tadi Bu Riana yang ingin mengantarkan minuman ini ke ruangan Pak Rio. Makanya bibik heran, kok masih ada di sini," jawab Bik Ijah penasaran. "Lalu kemana Bu Riana?"
"Apa benar yang Bibik katakan? Lalu di mana Riana sekarang berada?" tanya Rio panik.
"Rio, jangan panik dulu. Cari aja, barangkali dia ada di kamar," jawab Fahry berusaha menenangkan Rio.
Rio bergegas menuju ke kamarnya. Dia mencari ke semua sudut kamar dan ke kamar mandi. Rio bertambah panik saat tidak mendapati istrinya di kamarnya. Dia bergegas keluar dan berteriak memanggil Riana.
"Riana, kamu di mana? Riana ...!" teriak Rio panik dan dia berlarian dari satu kamar ke kamar lain.
Fahry dan Bik Ijah ikut membantu mencari keberadaan Riana. Tetapi, Riana tidak ditemukan di manapun di rumah ini. Mereka terlihat panik.
"Apa, jangan-jangan Riana di culik?" tanya Rio sambil menatap Fahry.
"Siapa yang berani menculik Riana di rumahmu. Atau mungkin, dia mendengar apa yang kita bicarakan tadi," kata Fahry membalas tatapan Rio.
"Mana mungkin dia mendengar. Kalaupun dia mendengar, harusnya dia bertanya padaku, bukannya pergi meninggalkan rumah," jawab Rio sambil berusaha menenangkan diri.
"Kalah begitu, kita temukan dia dulu. Kalau sudah ketemu, kita bisa tanyakan apa yang terjadi," ucap Fahry. "Kita lihat CCTV di komplek perumahan ini dulu."
"Buk Ijah, tolong jaga rumah. Siapa tahu Riana pulang. Kalau dia pulang, bilang saja aku keluar sebentar dan segera hubungi aku," titah Rio yang disambut anggukan oleh Bik Ijah.
__ADS_1
Rio dan Fahry bergegas pergi ke pos satpam komplek perumahan untuk melihat CCTV. Rio berharap, akan bisa mengetahui keberadaan Riana.
...****************...