
Anwar tidak terima, rencananya gagal. Gagal meminta Riana kembali padanya. Riana sepertinya sudah tidak ingin bersamanya lagi. Gagal menebus Riana dari tangan Rio.
Anwar bertambah kesal, karena Rio tidak mau mengembalikan Riana padanya.
Dia terus menatap sebuah foto pernikahannya dengan Riana yang penuh kebahagian. Semua terasa indah saat itu, meski hidup serba sederhana. Riana juga selalu menerima dia apa adanya dan tidak pernah mengeluh.
Anwar sangat menyesal dan kini penyesalan itu kian mencekiknya. Uang memang telah membutakan mata hatinya. Karena uang juga dia kehilangan istrinya. Lalu untuk apa dia mencari uang hingga bermilyar rupiah, jika dia tidak bisa bersama Riana.
Dulu dia menuduh Rio adalah pria yang bodoh, karena mau membeli Riana dengan harga lima milyar. Sesungguhnya dialah yang bodoh karena tidak melihat begitu berharganya Riana bagi dia. Riana adalah cahaya hidupnya yang tidak ternilai harganya. Tidak seharusnya dia menjual Riana seharga lima milyar.
Kini, uang lima milyar yang dia miliki, tidak bisa membuat Riana kembali padanya. Bahkan ditambah dengan bunga dari lima milyar itu, masih tidak bisa membawa Riana kembali di sisinya.
Anwar menangis sedih di dalam kamarnya. Dia berusaha mengeluarkan rasa sakit hatinya. Dia benar-benar patah hati. Dengan menangis, dia berusaha, menghilangkan rasa sesak didadanya.
Kehilangan uang, masih bisa dicari, karena uang tidak hanya satu. Tetapi kehilangan orang yang dicintai, kemana harus mencarinya? Riana hanya ada satu, dan sekarang dia sudah menjadi istri orang lain.
Anwar menghentikan tangisannya. Dia mulai berpikir untuk mengejar Riana kembali. Anwar masih tidak yakin jika Riana jatuh cinta pada Rio semudah dan secepat itu.
Pasti di dalam hati Riana, hanya ada aku. Aku yang pertama kali bertemu Riana. Aku juga yang lebih dulu mencintai Riana. Jadi aku yang lebih berhak memiliki Riana, batin Anwar.
Saat itu, datanglah seorang wanita. Wanita yang sangat mirip dengan Riana. Baik dari segi penampilan dan juga rupa. Wanita itu mengetuk pintu kamar Anwar dan Anwar bergegas membukanya.
"Mas Anwar, kenapa tidak datang? Mas Anwar lupa, hari ini ulang tahunmu?" tanya wanita yang bernama Santi itu.
"Maaf, aku tadi terlalu banyak pekerjaan jadi lupa. Tunggu lima menit, aku akan segera bersiap," jawab Anwar.
__ADS_1
Santi segera mengikuti instruksi dari Anwar. Dia bergegas menuju ruang tamu. Dia duduk sambil membuka-buka majalah.
Tidak berapa lama, Anwar datang dan mereka segera pergi menuju ke rumah Santi. Di sana, Santi sudah menyiapkan makan malam untu Anwar. Santi meminta Anwar duduk dan dia mempersiapkan sebuah kue lengkap dengan lilinnya.
Anwar terlihat tidak bahagia meskipun dia sudah berusaha untuk tersenyum. Dia masih teringat dengan Riana, meskipun saat ini dia sedang bersama Santi.
Santi adalah wanita yang kekasih Anwar. Wanita yang selalu mengingatkannya dengan Riana karena kemiripannya. Setiap kali Anwar merindukan Riana, Anwar akan selalu datang menemui Santi.
Santi hanyalah pengganti yang nyatanya tidak bisa menggantikan posisi Riana di hatinya. Kalau hanya kebutuhan biologis, dia bisa mendapatkan dari Santi atau dari wanita lainnya. Karena dia banyak uang. Semalam dia bisa bersama lebih dari satu wanita malam.
Tetap saja, hanya Riana yang dia inginkan.
"Mas, kenapa melamun saja? Dimakan dong. Mau yang mana, biar aku ambilkan," tanya Santi penuh perhatian.
"Tidak. Ini saja, aku masih kenyang," jawab Anwar datar sambil memainkan sendok ditangannya.
Sorot matanya tajam menatap Santi yang juga menatapnya penuh harap. Menjalin hubungan selama satu tahun dengan Anwar. Bahkan mereka sudah sering melakukan hubungan selayaknya suami istri sebelum menikah. Santi tentu saja tidak ingin seperti itu selamanya.
"Sayang, bukankah dulu kita sudah berkomitmen untuk berhubungan tanpa status? Kenapa sekarang kamu malah meminta aku menikahimu?" tanya Anwar kecewa.
"Mas, waktu itu, aku pikir karena kamu masih merintis karier, makanya kamu belum siap menikah. Sekarang kamu sudah sukses, dan aku tidak bisa terus seperti ini. Aku sudah menyerahkan segalanya padamu dan kamu tidak ingin bertanggungjawab?" tanya Santi mulai sedih.
"Aku tidak pernah memintamu melakukan itu. Kamu sendiri yang menyerahkan dirimu padaku. Sebagai laki-laki normal, siapa yang tidak senang jika disuguhi hal gratis. Tapi bukan berarti aku harus menikahi kamu," jawab Anwar sinis.
"Kamu kejam, Mas. Kamu sudah mengambil semua milikku lalu kamu mengelak dari tanggung jawab. Di mana cintamu, mas?" tanya Santi kecewa.
__ADS_1
"Santi, maafkan aku. Aku sama sekali tidak mencintaimu. Aku mendekatimu karena kamu mirip dengan mantan istriku," jawab Anwar tanpa merasa bersalah.
"Jadi, kamu hanya menjadikan aku sebagai pengganti mantan istrimu yang telah kau jual itu? Mas, aku tidak perduli apapun tujuanmu, tetapi yang pasti kamu harus menikahiku secepatnya," ucap Santi kecewa. Wajahnya yang tadinya penuh harapan, kini berubah masam.
"Santi, aku ...," ucap Anwar terhenti.
Santi mengambil pisau yang ada di atas piring tempat buah. Anwar panik saat Santi terlihat benar-benar serius. Santi mengarahkan pisau itu, ke arah pergelangan tangannya.
"Mas, jika kamu tidak berjanji menikahiku, lebih baik aku mati saja. Aku mencintaimu, Mas Anwar. Aku ingin kamu akan selalu mengingatku sebagai wanita yang rela mati demi kamu," ucap Santi sambil menatap sendu Anwar.
"Santi, jangan lakukan itu. Serahkan pisau itu padaku. Kamu bisa terluka," ucap Anwar dengan tangan gemetar.
Anwar teringat perbuatannya dulu pada Riana. Bagaimana dulu dia juga melakukan hal yang sama. Menakut-nakuti dengan berniat bunuh diri untuk mendapatkan apa yang dia mau. Sekarang Anwar mengalami sendiri.
Meskipun dia tidak yakin apakah Santi sungguhan ingin bunuh diri atau berpura-pura. Anwar tidak ingin membuat Santi berbuat nekat seperti dirinya dulu.
Anwar merasa sedikit kasihan pada Santi. Bagaimanapun juga, Santi sudah banyak berkorban untuknya. Sudah menjadi tempat pelampiasan hasratnya tanpa syarat. Anwar pikir, karena suka sama suka, semua akan berakhir berpisah secara baik-baik. Nyatanya Santi malah ingin menjadi istrinya.
"Santi, jangan bercanda. Aku yakin kamu pasti hanya pura-pura saja. Aku yakin kamu tidak akan berani melakukannya," ucap Anwar setelah menyadari dia dulu berbohong pada Riana.
"Mas, aku kecewa sama Mas Anwar. Bisa-bisanya menuduh aku berpura-pura," ucap Santi semakin kesal.
Santi memejamkan mata selama beberapa saat. Setelah itu dia membuka mata dan dia bergerak cepat memutus urat nadinya dengan pisau di tangannya.
Melihat Santi berbuat nekat, Anwar tampak panik dan bergegas membawa Santi ke rumah sakit agar Santi bisa selamat. Anwar merasa karma itu, satu persatu mulai datang padanya.
__ADS_1
Riana, maafkan aku. Apa yang kamu rasakan saat itu, kini aku merasakannya, batin Anwar.
...****************...