Istri Lima Milyar

Istri Lima Milyar
Bab 26. Trauma


__ADS_3

Rio sangat panik ketika sampai di toko kue milik Riana. Dia bergegas menemui karyawan Riana yang melihat langsung penculikan Riana.


"Joni, apa kamu tahu berapa nomor mobilnya?" tanya Rio sambil menahan sedih.


"Saya tidak begitu ingat. Tapi saya akan coba mengingatnya," jawab Joni mencoba tenang.


"Coba ingatlah. Itu akan jadi petunjuk berharga untuk bisa menemukan istriku," ucap Rio penuh harap.


"Iya Jon. Ingat-ingatlah sebisa mungkin," ucap karyawan yang lain.


Joni berusaha mengingat nomor mobil penculik. Rio meminta salah satu karyawan Riana untuk mengambilkan pulpen dan kertas untuk Joni. Joni mencoba menuliskan nomor yang dia ingat dan dia tuliskan di kertas yang diberikan oleh temannya.


Akhirnya, Rio bisa mendapatkan nomor mobil itu. Dia segera meminta Yuda untuk mencari tahu milik siapa mobil itu. Sementara dia bergegas menuju ke pos satpam untuk melihat CCTV yang ada di sepanjang jalan toko Riana.


Segala usaha telah Rio coba untuk bisa menemukan Riana kembali sebelum terjadi sesuatu padanya.


Sementara itu, Riana tersadar dari obat bius yang membiusnya. Matanya terbuka perlahan dan dia merasakan sakit di pergelangan tangannya. Dia kaget saat mendapati dirinya terikat kaki dan tangan pada sebuah kursi. Mulutnya tertutup lakban.


Dia berusaha berontak, tetapi tidak ada satupun orang di tempat itu. Ini seperti sebuah kamar kosong yang sudah sangat berantakan. Riana mencoba menerka-nerka, siapa orang yang tega melakukan ini padanya. Tetapi, rasa panik itu cukup membuat pikirannya buntu.


Saat Riana mulai tenang, datanglah tiga orang pria dan seorang wanita. Ternyata dia Trisni. Riana cukup syok dan tidak mengira jika orang yang menculiknya adalah Trisni.


"Apa kabar, Riana?" tanya Trisni sambil tersenyum sinis.


"Aku lupa, mulut kamu tertutup, jadi kamu tidak bisa bicara. Buka lakban di mulutnya!" perintah Trisni pada anak buahnya


Salah satu dari mereka membuka lakban di mulut Riana. Riana merasa cukup lega dan dia bisa bertanya tujuan Trisni menculiknya.

__ADS_1


"Trisni, kenapa kamu menculikku?" tanya Riana penasaran.


"Kamu masih bertanya? Jangan pura-pura lupa. Kamu yang membuat Fahry memutuskan pertunangan denganku. Aku tidak akan melepaskanmu semudah itu," jawab Trisni emosi.


"Seharusnya aku yang marah padamu. Kamu sudah membuat aku keguguran. Kali ini aku tidak akan mengampuni kamu. Aku akan membuatmu di penjara," ucap Riana marah.


Terdengar suara tawa dari Trisni yang mengejek Riana. Trisni mendekati Riana dan mengangkat dagu Riana dengan kasar.


"Riana, aku ingin lihat, apa kamu ada kesempatan untuk melakukan itu. Karena, hari ini kamu tidak akan selamat. Aku tidak yakin, kamu akan bisa keluar hidup-hidup dari tempat ini," kata Trisni.


"Trisni, lepaskan aku. Kamu akan benar-benar dipenjara. Kamu masih muda, masih banyak hal yang bisa kamu lakukan. Aku akan memaafkan kamu jika kamu mau melepaskan aku," bujuk Riana sambil menahan sakit.


"Aku nggak takut dipenjara. Karena aku tidak akan tertangkap. Kamu berusaha membujukku agar aku merasakan kamu, bukan? Percuma, aku tidak akan termakan omonganmu," jawab Trisni mengejek Riana.


Riana tidak tahu harus bagaimana lagi. Dia ingin mengulur waktu agar akan ada bantuan yang datang dan menemukannya.


"Tutup kembali mulutnya!" teriak Trisni membalas teriakan Riana.


Kedua pria maju dan kembali menutup mulut Riana dengan lakban. Setelah itu, Trisni kembali memegang dagu Riana sambil tersenyum sinis.


"Jangan pernah berharap kamu akan keluar dari tempat ini dengan selamat," ancam Trisni.


Riana hanya bisa berontak meski tidak ada gunanya. Apalagi saat melihat Trisni menggunakan ponselnya untuk memanggil seseorang, Riana merasa ada sesuatu yang buruk yang akan Trisni lakukan padanya. Benar saja, Trisni ternyata menghubungi seseorang dengan ponselnya.


'Apakah dia menghubungi Rio untuk meminta tebusan? Tetapi, sepertinya Trisni anak orang kaya dan tujuannya pasti bukan uang. Dia mau balas dendam terhadapnya. Lalu siapa yang Trisni hubungi?' batin Riana.


Belum tahu siapa yang dihubungi Trisni, Trisni memerintahkan ketiga pria itu untuk membawanya pergi. Riana semakin takut dan cemas dengan apa yang direncanakan Trisni. Semakin Riana berontak, semakin kasar mereka memperlakukan Riana.

__ADS_1


Mereka mendorong tubuh Riana masuk ke dalam mobil dengan kasar. Trisni berbisik pada salah satu dari mereka. Setelah itu, mereka membawa Riana pergi menuju kesebuah losmen.


Trisni semakin panik. Perasaannya sudah tidak enak dan dia tidak bisa menyembunyikan lagi jika dia sangat ketakutan. Bayangan sesuatu yang buruk terus bermain di pikirannya. Airmatanya mengalir ketika mereka Kemabli membiusnya.


Riana dibawa ke sebuah kamar di losmen dekat pinggiran kota. Tubuh Rian yang sudah tidak sadarkan diri dilemparkan begitu saja di atas ranjang. Riana mulai sadar ketika dia merasa ada seseorang yang menciumi wajahnya.


Riana ingin berontak tetapi tubuhnya terasa lemah akibat dari efek obat bius yang masih bereaksi. Riana menangis dalam hati dia merasa jijik dengan tubuhnya sendiri yang kini dalam kungkungan pria lain. Riana tidak bisa melihat dengan jelas siapa pria yang saat ini berusaha menodainya.


Karena terlalu tertekan dengan kejadian ini, Riana tiba-tiba Kemabli tidka sadarkan diri. Dia sudah tidak ingat apa-apa lagi. Yang dia ingat, hanyalah dirinya kini sudah tidak suci lagi.


Riana tersadar setelah satu jam berlalu. Tetapi, Riana tampak syok saat teringat kejadian yang dia alami hari ini.


"Riana, kamu sudah sadar? Kamu baik-baik saja, bukan? Apa ada yang kamu rasa sakit?"ucap Rio senang melihat Riana baik-baik saja.


"Jangan mendekat! Pergi!!" teriak Riana panik.


"Riana, kamu kenapa? Ini aku Rio, suamimu," ucap Rio kaget melihat reaksi Riana saat dia mendekatinya.


Riana tampak sangat ketakutan dan seperti orang trauma akan sesuatu. Dia memang sudah dua kali mengalami penculikan. Meskipun Rio bisa menyelamatkan Riana tetapi kali ini, lebih meninggalkan trauma bagi Riana.


Rio bergegas memanggil perawat dan perawat segera menyuntik obat tidur untuk Riana, agar Riana bisa beristirahat dengan baik. Rio segera berkonsultasi dengan dokter, tentang apa yang dialami oleh istrinya.


Dokter menyarankan agar Riana dibawa ke psikolog untuk mengobati rasa trauma akibat penculikan tersebut. Rio sebenarnya sedih melihat Riana tergolek lemah diatas tempat tidur pasien. Lebih sedih lagi, ketika melihat Riana sadar tetapi selalu merasa ketakutan.


Rio berusaha melakukan pendekatan pada Riana. Berusaha menumbuhkan rasa aman di hati Riana, tetapi tetap saja, Riana menolak bersentuhan dengannya. Bahkan sampai saat Riana diperbolehkan pulang, Riana tidak mau tidur satu kamar dengan Rio. Dengan terpaksa, Rio meminta Bik Ijah untuk merawat Riana dan menemaninya tidur.


Rio sangat khawatir dengan kondisi kejiwaan Riana. Dia merasa sudah gagal menjadi suami yang baik untuk Riana.

__ADS_1


...****************...


__ADS_2