Istri Lima Milyar

Istri Lima Milyar
Bab 13. Bertemu teman lama


__ADS_3

Ibu mertua dan adik iparnya telah pergi. Riana kembali menjalani hari-harinya seperti biasa. Peralatan sholat yang Riana pesan, juga sudah sampai ke tangan Riana. Tetapi Riana masih belum berani memberikan semua itu pada Rio. Riana menunggu waktu yang tepat.


Tiba-tiba ponsel Riana berdering. Panggilan masuk dari nomor yang tidak dia kenal, membuatnya mengerutkan dahi. Dia menjadi bingung antara mengangkat atau tidak.


["Assalamualaikum," sapa Riana lembut.


"Wa'alaikum salam. Riana, ini aku, Handi," jawab Handi dari sebrang sana.]


["Oh, Handi. Bagaimana kamu bisa tahu nomorku?" tanya Riana.]


["Maaf, aku meminta nomor kamu dari ibu panti. Ada hal yang ingin aku bicarakan dengan kamu," jawab Handi.]


["Maaf, bukankah aku sudah pernah bilang, kalau Akau sudah menikah. Aku tidak bisa pergi tanpa izin dari suamiku," jawab Riana tegas.]


["Riana, bagaimana kalau ini menyangkut keluargamu. Bukankah kamu selalu ingin tahu makam orangtuamu?" tanya Handi.]


Riana terdiam sesaat dan dia mulai mengingat masa kecilnya yang kini hanya tinggal samar-samar. Semenjak orangtuanya meninggal, dia di serahkan ke panti asuhan yang jaraknya sangat jauh dari rumahnya. Saat itu Riana kecil mengalami trauma dan dia tidak mau bicara pada siapapun. Karena saat kecelakaan itu terjadi, hanya dia yang selamat. Setelah dewasa, meskipun dia telah sembuh dari traumanya, dia lupa dimana dulu dia dan orangtuanya tinggal.


Handi adalah teman satu panti dengan Riana. Tetapi, saat usia 15 tahun, dia diadopsi oleh keluarga kaya. Meski begitu Handi tidak pernah melupakan Riana. Tapi sebaliknya, Riana tidak begitu dekat dengan Handi.


Cinta sepihak Handi, membuatnya berusaha untuk mewujudkan keinginan Riana. Berharap, suatu saat Riana akan melihat ketulusan cintanya. Riana sendiri, telah melepaskan masa lalunya dan menikah dengan Anwar.


Sebenarnya, dalam hati Riana yang paling dalam, mengetahui masa lalunya adalah hal yang sangat Riana inginkan. Kalau saat ini Handi bisa mewujudkannya, alangkah baiknya.


["Riana, bagaimana, kenapa kamu diam saja?" tanya Handi setelah lama Riana tidak menjawab.]


["Baik. Share saja alamatnya, aku akan datang," sahut Riana.]


["Baik. Assalamualaikum," ucap Handi mengakhiri panggilannya.]


["Wa'alaikum salam," jawab Riana.]


Riana melihat ke arah jam dinding yang tidak jauh dari tempatnya duduk. Dia meletakkan ponselnya diatas meja yang tidak lama kemudian terdengar pesan masuk. Alamat telah dikirimkan Handi padanya.

__ADS_1


Untuk beberapa saat, Riana masih berpikir antara meminta izin atau tidak pada Rio. Ini bukan masalah yang harus Rio ketahui. Cukup dia sendiri saja yang tahu tentang ini. Rio juga tidak akan peduli.


Riana bergegas berganti pakaian yang rapi. Meski tidak memakai jilbab, dia memakai pakaian yang cukup tertutup. Dia mencari Bik Ijah di dapur.


"Bik, Riana mau pergi dulu. Mau bertemu teman. Paling nanti pulangnya agak sorean. Kalau Mas Rio pulang ceper dan aku belum pulang, bilang saja ketemu teman lama," pesan Riana.


"Baik, Bu Riana. Tapi, Bu Riana mau pergi sendiri atau butuh sopir? Bibik takut Pak Rio marah, kalau tahu Bu Riana pergi sendirian," tanya Bik Ijah.


"Ini sangat penting bagi Riana, Bik. Semoga sebelum sore, Risna sudah bisa pulang," jawab Riana.


Riana segera keluar untuk menunggu taksi yang sudah dipesannya secara online. Setelah taksi datang, Riana bergegas masuk dan meminta pak sopir untuk mengantarkannya ke tempat yang sudah di kirimkan Handi padanya.


Taksi berhenti di sebuah cafe yang cukup mewah. Pasti tidak sembarang orang bisa masuk ke dalamnya. Meski hati Riana agak ragu, dia tetap masuk. Informasi tentang masa lalunya cukup membuatnya menjadi berani untuk bertindak tanpa seizin suaminya.


"Riana, sini!" teriak Handi sambil tersenyum.


Riana bergegas menuju ke meja yang sudah dipesan oleh Handi. Riana berusaha tersenyum meski dia paksakan. Handi mempersilakan Riana duduk dengan lembut.


"Handi, apa informasi apa yang akan kamu berikan padaku?" tanya Riana sudah tidak sabar lagi.


"Makan, kenapa malah makan?" tanya Riana bingung.


"Setelah makan, aku akan memberikan apa yang kamu inginkan," kata Handi.


Riana tidak bisa menolak keinginan Handi. Hanya sekedar makan saja, tidak masalah bagi Riana. Riana dan Handi asyik menikmati ayam crispy kesukaan Riana. Handi terlihat bahagia bisa makan berdua dengan Riana. Cinta masa kecilnya yang tertunda.


Sementara itu, Rio dan Yuda baru saja selesai menemui klien, berniat membeli ayam Crispy kesukaan Riana di cafe itu. Rio bersikeras untuk ikut masuk karena dia ingin memesan sendiri. Tetapi, saat melihat Riana makan bersama seorang pria, membuat Rio terbakar cemburu.


Dari wajahnya, terlihat jelas jika Rio sangat marah. Meskipun dia berusaha menekannya, tetapi sorot matanya terlihat merah menyala. Rio terlihat, siap berperang.


"Yuda, bawa aku ke sana yakin !" titah Rio menunjuk ke arah Riana dan Handi.


"Pak Rio, ingat, ini di tempat umum. Jangan sampai Bu Riana malu," kaia Yuda mengingatkan.

__ADS_1


"Aku tahu," jawab Rio singkat.


Yuda membawa Rio menuju meja Rian dan Handi. Rio menatap Riana yang makan dengan asyiknya.


"Riana ...," panggil Rio dengan nada berat.


Riana kaget saat mendengar suara Rio. Lebih kaget lagi saat melihat Rio sudah berada di belakangnya. Riana merasa sangat bersalah karena pergi tanpa izin.


"Mas Rio?" gumam Riana. Dia menghentikan aktivitas makannya.


Riana bergegas berdiri dan berjalan mendekati Rio yang terlihat sangat tidak senang.


"Maaf, Mas Rio. Riana pergi tanpa izin," ucap Riana.


"Tunggulah di mobil," ucap Rio dengan nada bergetar.


"Iya. Handi, maaf, aku pulang dulu," ucap Riana sebelum pergi.


Riana bergegas pergi meninggalkan suaminya. Dia tahu Rio sangat marah dan dia tidak boleh membantah.


Sementara itu, Rio mendekati Handi dan menyapanya tajam. Handi juga tidak mau kalah. Mereka seolah saling berperang tatapan mata.


"Jangan temui istriku lagi," ucap Rio memecah keheningan.


"Kalau aku tidak mau?" jawab Handi seolah Menayang Rio.


"Jangan bilang kalau kamu ...," ucap Rio terhenti.


"Benar, aku mencintai Riana," sahut Handi.


Rio tersenyum sinis. Harga dirinya sebagai suami merasa tertantang. Tetapi dia tidak ingin kalah dari pria itu.


...****************...

__ADS_1


^^^..^^^


__ADS_2