
Riana menggenggam tangan Rio. Meskipun dia pernah marah dan kecewa dengan Rio karena perceraian itu, tetapi Riana juga tidak bisa memungkiri jika dia masih mencintai Rio. Mereka berpisah saat mereka sama-sama saling jatuh cinta.
Setelah beberapa saat, Rio mulai menggerakkan jari-jarinya. Perlahan, dia mulai membuka matanya. Rio tampak senang saat melihat Riana. Riana juga tampak senang karena Rio sudah mulai sadarkan diri.
"Mas Rio sudah sadar? Aku akan panggil dokter," ucap Riana yang segera bangkit dari duduknya dan berniat pergi. Tetapi, tarikan tangan Rio membuat Riana menghentikan langkahnya.
"Jangan pergi. Tetaplah di sini," ucap Rio dengan suara lemah.
Riana tidak tega, melihat Rio dengan wajah memelas. Riana pun kembali duduk. Dia berusaha melepaskan tangannya dari pegangan Rio, tetapi Rio enggan melepaskannya. Bahkan dia tersenyum meski dia dalam keadaan terluka.
"Kenapa tersenyum, apakah luka kamu tidak sakit?" tanya Riana heran.
"Tidak. Karena aku bisa menggenggam tanganmu. Sakit itu tidak akan terasa," ucap Rio penuh rayuan.
"Setelah tidak bertemu selama 6 tahun, kamu sudah banyak berubah. Mana Rio yang dingin itu?" tanya Riana menyindir Rio.
"Lalu, Rio yang mana yang kamu sukai, yang dingin atau yang hangat?" jawab Rio dengan pertanyaan juga.
Riana hanya diam sambil menggelengkan kepalanya. Dia tidak ingin menjawabnya karena pertanyaan itu sebuah jebakan. Dia tidak ingin melanjutkan obrolan yang tidak perlu itu.
Riana setiap hari menjaga Rio, karena Riana merasa bersalah atas luka yang dialami Rio. Juga karena di iota ini, Rio tidak memiliki kerabat dan orang yang dia kenal hanya Riana. Riana hanya pulang untuk mengecek warung makannya, yang dia serahkan pada orang kepercayaannya untuk sementara waktu. Semua berjalan sesuai yang Riana harapkan.
__ADS_1
Sore ini, Rio sudah diperbolehkan pulang oleh dokter. Riana sudah mempersiapkan taksi yang akan mengantarkan Rio sampai ke rumahnya. Tinggal menunggu obat saja. Setelah Rio pergi, masalahnya akan berkurang satu.
Saat Rio pergi nanti, Riana akan fokus pada sekolah Ryan. Karena sampai hari ini, Ryan masih belum mau sekolah sebelum dia memiliki ayah. Riana termenung dan menyandarkan tubuhnya di kursi di samping Rio yang masih tidur. Riana tidak tahu jika sejak tadi Rio sudah terbangun.
"Riana," panggil Rio yang mengagetkan Riana.
"Sudah bangun? Sebaiknya Mas Rio segera bersiap-siap. Karena sore ini dokter sudah memperbolehkan kamu pulang. Aku sudah menyiapkan taksi yang akan membawamu kembali ke rumahmu," kata Riana senang.
"Riana, apa kamu tega membiarkan aku pulang sendirian, dalam kondisi seperti ini? Aku masih belum sembuh benar. Aku seperti ini karena kamu, jadi kamu harus bertanggungjawab," kata Rio berusaha membuat Riana tidak mengusirnya dari hidup Riana.
"Mas Rio, aku tahu kamu terluka karena aku. Bukankah aku sudah bertanggungjawab dengan menjagamu selama beberapa hari ini? Aku harus bertanggungjawab bagaimana lagi?" tanya Riana bingung.
Riana terdiam sesaat. Tiba-tiba terlintas dipikiran Rian untuk memanfaatkan kesempatan ini, membuat Ryan mau masuk sekolah.
"Tapi aku memiliki syarat," ucap Riana licik.
"Syarat apa?" tanya Rio agak kaget.
"Bantu aku untuk membujuk Ryan, agar mau masuk sekolah," jawab Riana sambil menatap Rio penuh harap.
"Oh, aku pikir syarat apa? Cuma ingin aku membujuk Ryan untuk sekolah. Oke, setuju," jawab Rio sambil tersenyum.
__ADS_1
"Maksud Mas Rio apa? Apa yang ada didalam pikiranmu?" tanya Riana penasaran dengan jawaban Rio.
Rio tidak menjawab. Dia hanya tersenyum penuh misteri. Tujuannya untuk tinggal di rumah Riana sudah terwujud. Tinggal bagaimana dia bisa meyakinkan Riana untuk rujuk kembali.
Taksi yang seharusnya membawa Rio pulang, kini membawa Riana dan Rio menuju ke rumah Riana. Kedatangan mereka segera disambut Ryan dengan penuh kebahagiaan. Ryan tampak senang saat tahu Rio akan tinggal bersamanya.
"Papa, asyik Rio punya papa," ucap Rio kegirangan sambil menarik-narik tangan Rio. "Rio senang, papa akan tinggal bersama Rio. Terima kasih, Mama."
Riana merasa sedih mendengar ucapan terdiam kasih dari Ryan. Tidak terasa air matanya menetes melihat kebahagiaan yang terpancar dari wajah Ryan.
Meskipun Riana tahu jika kebahagiaan ini hanya sementara saja. Riana akan tetap bersyukur bisa memberikannya pada Ryan. Setelah Rio sembuh, dia harus pergi dan memulai menjalani hidup masing-masing.
Maafkan mama, Ryan. Hanya ini yang bisa mama berikan. Untuk selanjutnya, biarlah Allah yang menentukan, batin Riana.
Riana sudah meminta Tante Mega, menyiapkan kamar untuk Rio. Meskipun awalnya Tante Mega tidak setuju Rio tinggal di rumah Riana. Meskipun Rio adalah ayah kandung Ryan, tetapi hubungan mereka sekarang bukan suami istri lagi.
Riana mengerti akan kekhawatiran Tante Mega, tetapi demi bisa membuat Ryan mau sekolah, terpaksa Riana mengizinkan Rio tinggal. Tante Mega juga akhirnya setuju dengan keputusan Riana.
"Ryan, biarkan Papamu istirahat. Bawa dia ke kamarnya. Mama dan nenek mau masak, nanti kalau sudah siap, kita makan bersama," kata Riana sambil menghela napas panjang. Riana merasa seperti memiliki sebuah keluarga.
Ah, ini hanya pikiranku saja yang lagi berharap memiliki keluarga utuh. Jangan terlalu berharap, batin Riana sambil menggelengkan kepalanya.
__ADS_1