Istri Lima Milyar

Istri Lima Milyar
Bab 34. Menolak


__ADS_3

Riana pergi untuk menjemput Ryan, seperti biasanya. Tetapi kali ini, dia agak terlambat karena ada pesanan yang harus diselesaikan segera.


Dia sempat menghubungi pihak yayasan agar menjaga Ryan untuk sementara sampai dia datang menjemput Ryan. Karena itu, Riana cukup santai dan tenang.


Riana sampai di tempat penitipan anak, dan dia bergegas masuk untuk menemui pengawas di sana. Tetapi Riana sangat panik saat sala seorang pengurus mengatakan bahwa Ryan hilang.


"Apa, anakku hilang? Bukankah kita sudah sepakat kalau kalian akan menjaga Ryan sampai saya datang?" tanya Riana panik dan kecewa.


"Maafkan kami. Saat Bu Riana menghubungi kami, ternyata Ryan sudah tidak ada di tempat ini lagi. Kami sudah mencari ke sekitar tempat ini. Menurut informasi, ada anak kecil yang mengalami kecelakaan. Mungkin saja itu, Ryan," jawab salah satu pengurus.


"Kenapa kita tidak cari ke rumah sakit terdekat saja dulu," kata Riana sambil mengajaknya.


Rian dan salah satu pengawas, pergi ke rumah sakit terdekat. Riana bergegas menuju ke UGD untuk mendapatkan informasi tentang Ryan. Benar saja, salah satu dokter jaga mengatakan jika memang ada seorang anak kecil yang mengalami kecelakaan dan dibawa ke rumah sakit ini. Tetapi, karena lukanya tidak ada yang serius, maka anak itu sudah diperbolehkan pulang beberapa waktu yang lalu.


"Siapa yang membawanya pulang?" tanya Riana panik.


"Ayahnya, karena ia panggil pria itu, dengan sebutan Papa," jawab dokter itu lagi.


"Papa? Lalu, dibawa kemana?" tanya Riana semakin panik. Seseorang mengaku sebagai ayahnya Ryan, mungkin saja itu seorang penculik.


"Maaf, kami tidak tahu," jawab dokter menyesal.


"Kalau begitu, saya ingin tahu identitas mereka. Pasti mereka meninggalkan nama dan alamatnya bukan?" tanya Riana memaksa.


"Maaf kami tidak tahu, itu menjadi wewenang bagian pendaftaran. Silahkan anda cek di sana jika diizinkan," jawab Dokter itu datar.

__ADS_1


Setelah mendengar jawaban dokter itu,Riana bergegas pergi menuju ke bagian pendaftaran. Di sana dia berdebat dengan salah satu pegawai rumah sakit bagian pendaftaran. Karena dia tidak ingin memberikan rahasia pada sembarang orang. Riana sangat marah karena ini menyangkut kehidupan anaknya.


"Jika kamu tidak memberitahu identitasnya, saya akan menuntut anda dan rumah sakit ini, karena telah bersekongkol dengan penculik. Saya akan lapor polisi atas penculikan anak saya," ancam Riana. Riana ingin melihat, apakah mereka siap dengan tuntutan Riana.


"Ibu, tolong jangan lakukan itu. Saya akan konsultasikan dulu dengan pimpinan kami. Mohon menunggu sebentar," ucap pegawai itu panik.


"Baik, saya akan tunggu itikad baik anda," jawab Riana dengan nada penuh emosi.


Riana menunggu dengan gelisah. Tatap matanya tidak lepas dari wanita yang sedang menelepon pimpinannya. Ada perasaan tidak sabar yang di kekang kuat oleh Riana. Bagaimana nasib anaknya jika terlalu lama dibiarkan?


Setelah selesai menelepon, Riana di minta untuk menemui pimpinan rumah sakit. Karena ini menyangkut nama baik perusahaan, maka pihak rumah sakit tidak ingin gegabah menangani masalah hilangnya seorang anak.


Riana bergegas menemui pimpinan rumah sakit. Dia bersikeras akan menuntut pihak ruang sakit, jika tidak diberi akses mengetahui orang yang membawa anaknya pergi.


"Nona, karyawan kamu hanya menjalankan tugas sesuai aturan yang berlaku. Jadi Nona tidak bisa menuntutnya. Kami akan memberikan akses itu asalkan anda mau menandatangani surat perjanjian. Anda tidak akan mengajukan tuntutan setelah kami memberikan informasi yang anda perlukan," ucap Pimpinan rumah sakit.


Riana menandatangani surat perjanjian itu dan setelah itu, pemimpin rumah sakit memberikan nama dan alamat pria yang membayar biaya pengobatan anaknya.


Mata mengamati nama dan alamat yang kini ada ditangannya. Nama dan alamat yang tidak asing baginya. Yuda. Hati Riana agak tenang setelah mengetahui hal itu. Jika Yuda ada di kota ini, berarti Rio juga pasti ada di sini.


Riana tidak ingin bertemu mereka dan mengetahui jika Ryan adalah anaknya. Setelah mengantarkan pengawas yayasan pulang, Riana pulang ke rumahnya dan berusaha tenang.


Keesokan harinya, jika sesuai prediksi Riana, maka mereka akan membawa Ryan ke tempat penitipan anak pagi ini. Riana bersembunyi ke tempat yang aman untuk melihat hal itu.


Benar saja, sebuah mobil berhenti tepat di depan tempat penitipan anak tersebut. Riana sangat mengenal mobil dan pemiliknya. Tetapi, hingga beberapa menit berlalu, tidak ada seorangpun yang turun dari mobil tersebut.

__ADS_1


Riana hanya sempat melihat kepala seorang anak kecil yang keluar dari jendela. Setelah itu, masuk kembali dan mobil itupun berlalu pergi dengan membawa Ryan bersama mereka.


Riana bergegas mengejar mobil tersebut, tetapi mobil itu terus melaju dan hilang dari pandangan Riana. Riana jatuh terduduk karena lelah dan lemas. Dia menangis karena tidak bisa membaca Ryan kembali.


Apakah ini takdir, agar mereka bertemu dan saling mengenal? Batin Riana.


Riana mencoba berdamai dengan keadaan. Mungkin, dia harus memberi waktu pada Rio dan Ryan untuk saling mengenal. Ini adalah kesalahan Riana sendiri. Karena dia tidak ingin bertemu Rio dan memilih bersembunyi. Entah sampai kapan dia akan bisa menghadapi kenyataan jika dia diceraikan oleh Rio saat hamil.


Riana memilih pulang. Meskipun hatinya sedih, dia memilih diam. Sejujurnya, dia ingin Rio jatuh hati pada Ryan. Tetapi dia juga takut jika Rio akan merebut Ryan darinya.


Sementara itu, Ryan yang menolak diantarkan kembali ke penitipan anak, akhirnya dibawa kembali ke hotel. Sedangkan Yuda Kemabli ke sana untuk menjelaskan pada pihak penitipan agar tidak panik dan salah paham.


Yuda mengatakan jika Ryan tidka ingin kembali ke sana karena dia selalu di bully teman-temannya karena tidak memiliki ayah. Yuda meninggalkan alamat hotel tempat mereka tinggal sementara, jika keluarga ingin menjemput Ryan.


"Kami akan menunggu sampai jam 4 sore. Karena kami harus segera kembali pulang," ucap Yuda.


Yuda bergegas kembali ke hotel. Sembari menunggu ibunya Ryan datang, Ryan dan Rio bermain seharian. Jika lapar, mereka makan dan jika lelah mereka tidur.


Tepat jam 4 sore, Riana meminta Tante Mega untuk menjemput Ryan di hotel tersebut. Tetapi, saat bertemu Ryan, Ryan malah berkata bahwa dia tidak mengenal Tante Mega. Tentu saja, Mega sangat kaget dan bingung dengan sikap Ryan.


Ryan lebih memilih pria asing ketimbang dirinya. Bahkan, saat Tante Mega memaksa, Ryan berontak dan menangis ketakutan. Seolah Tante Mega orang jahat. Hal itu membuat Rio akhirnya meminta Tante Mega untuk pergi.


"Maaf, sebaiknya anda pergi saja. Ryan sangat ketakutan saat melihat anda. Say tidak bisa menyerahkan Ryan pada anda karena anda bukan orang tuanya. Ryan akan aku bawa ke kotaku. Jika ingin menjemput dia, harus ayah atau ibunya dan berikan buktinya. Jika tidak, terpaksa, Ryan akan tinggal bersamaku," ucap Rio tegas.


Tante Mega tidak bisa berbuat apa-apa. Dia memilih pergi setelah, Yuda memberikan alamat rumah Rio pada Tante Mega.

__ADS_1


...****************...


__ADS_2