Istri Lima Milyar

Istri Lima Milyar
Bab 38. Ryan sakit


__ADS_3

Riana bangun pagi-pagi sekali. Dia segera mandi dan berganti pakaian. Dia juga bergegas membangunkan Ryan agar bersiap juga. Mereka akan berangkat sekitar pukul 7 ke terminal terdekat.


"Ryan, Mama mau buat sarapan dulu untuk kita dan Papa Yadi. Kamu duduk saja dulu di sini. Nanti kalau sarapannya sudah siap, kamu panggil Papa Yadi ke sini," ucap Riana sambil tersenyum.


"Siap, Ma," jawab Ryan semangat. "Ma, boleh pinjem ponsel Mama sebentar nggak?"


"Mau main game? Boleh saja, ini. Mama masak dulu, ya?" jawab Riana dengan pertanyaan juga.


"Ehm."


Riana memberikan ponselnya pada Ryan yang terlihat sangat senang. Ryan segera masuk ke kamar dan mengeluarkan kertas dari sakunya. Rupanya, Ryan ingin menghubungi Rio.


Perlahan, Ryan menekan tombol keyboard ponsel ibunya dengan hati-hati. Dia takut salah menekan sehingga dia melihat satu demi satu angka di kertas tersebut.


Suara dering ponsel masih terdengar, pertanda panggilannya telah masuk ke ponsel Rio. Beberapa saat kemudian, terdengar suara Rio.


["Assalamu'alaikum, Ryan?" ucap Rio terdengar penuh harap.]


["Wa'alaikum salam, Papa. Ryan hari ini, mau pulang ke rumah sama Mama," jawab Ryan pelan, takut mamanya mendengar.]


["Apa ... Riana? Maksud Papa, Mama kamu datang. Kalian tinggal satu di mana?" tanya Rio panik. Hatinya berdebar-debar mendengar Riana ada di kota yang sama dengannya.]


["Di rumah Papa Yadi," jawab Ryan polos.]


["Asrama polisi? Kalian nginap di sana, mama kamu juga?" tanya Rio kaget.]


Rio tidak habis pikir, bisa-bisanya dia menginap di rumah pria. Apa mereka sudah menikah? Tidak mungkin. Kalau mereka sudah menikah, Ryan tidak akan memanggilnya papa.


["Iya, Papa. Mama tidur di rumah Papa Yadi. Udah ya Pa, Ryan takut ketahuan mama. Nanti Mama marah," jawab Ryan lalu pamit pada Rio.]


["Iya. Hati-hati di jalan. Assalamu'alaikum," ucap Rio sedih.]


["Wa'alaikum salam," jawab Ryan.]


Setelah selesai berbicara dengan Rio lewat ponsel ibunya, Ryan bergegas menemui ibunya untuk melihat, apakah sarapan sudah siap.

__ADS_1


"Ma, sudah siap?" tanya Ryan sambil berdiri disamping ibunya.


"Sudah. Kamu panggil Papa Yadi untuk sarapan bareng," jawab Riana sambil melihat ke arah Ryan sesaat.


"Oke," jawab Ryan lalu berlari menuju ke kamar Yadi.


"Jangan lari, nanti jatuh!" teriak Riana mengingatkan.


Ryan hanya tersenyum mendengar teriakan ibunya. Dia sangat senang menggoda ibunya. Dia bahkan melambaikan tangannya agar ibunya mengejarnya. Tetapi, Riana hanya tersenyum sambil menghela napas panjang.


Pagi itu, mereka sarapan bersama. Mereka memang jarang bertemu, tetapi mereka sangat akrab satu sama lain. Terutama hubungan antara Yadi dan Ryan. Ryan pernah berkata, jika dia ingin menjadi polisi seperti Papa Yadi.


Pagi itu juga, Riana dan Ryan berangkat menuju ke terminal terdekat diantar Yadi. Riana masih lebih suka naik angkutan umum daripada naik mobil. Selain karena dia tidak bisa mengemudi, dia lebih suka bertemu dengan banyak orang.


Samali di rumah, Riana mulai membicarakan masalah sekolah lada Ryan. Sudah saatnya Ryan masuk sekolah taman kanak-kanak.


"Sayang, besok mama daftarkan kamu sekolah di dekat rumah makan mama. Jadi, nanti kamu bisa pulang ke sana," ucap Riana sambil menonton acara televisi anak-anak.


"Ryan tidak mau sekolah," jawab Ryan dengan wajah cemberut.


"Nggak. Ryan tidak mau," ucap Ryan lalu pergi meninggalkan Riana.


Ryan, maafkan mama. Mama tidak bisa memberimu keluarga yang sempurna, batin Riana.


Keesokan harinya, Rian masih tetap membuat Ryan mau sekolah. Dia membangunkan Ryan, tetapi Riana sangat kaget karena tubuh Ryan sangat panas. Riana mengukur suhu tubuh Ryan dengan termometer dan dia sangat kaget. Suhu tubuhnya mencapai 40 derajat Celcius.


Riana bergegas membawa Ryan ke rumah sakit. Riana sangat panik. Padahal semalam Ryan masih baik-baik saja. Riana sedih melihat kondisi Ryan. Riana yakin Ryan jatuh sakit karena dia ketakutan Riana memaksanya masuk sekolah.


"Riana, bagaimana kondisi Ryan?" tanya Tante Mega.


"Riana yang salah Tante. Riana tidak tahu harus bagaimana. Semalam Riana memaksanya untuk masuk sekolah. Tapi dia tidak mau. Kalau tahu akan begini, aku tidak akan memaksanya untuk sekolah," jawab Riana penuh penyesalan.


"Riana, apa yang kamu katakan? Apakah selamanya kamu tidak akan menyekolahkan dia? Kamu rela dia menjadi anak tak berpendidikan?" tanya Tante Mega agak emosi.


"Aku lebih baik melihat dia bodoh daripada dia sakit seperti ini," jawab Riana putus asa.

__ADS_1


"Tante tidak menyangka, pikiran kamu terlalu dangkal. Kenapa kamu tidak mencari solusi yang lain. Beri dia seorang ayah. Hanya itu yang dia mau saat ini. Tante rasa, kamu bisa melakukannya," jawab Tante Mega yakin.


Riana terdiam mendengar ucapan Tante Mega. Apa yang dikatakan Tante Mega memang benar. Tetapi, apa yang bisa dia lakukan untuk bisa memberinya seorang ayah. Sedangkan dia dan Rio sudah bercerai.


"Mama," suara Ryan terdengar lemah.


"Iya Sayang. Ryan mau apa, katakan saja pada ibu," jawab Riana sambil memegang tangan Ryan.


"Iya Ryan. Katakan apa yang kamu inginkan pada ibumu. Kali ini ibumu pasti akan mengabulkannya," ucap Tante Mega.


"Mama, Ryan ingin punya Papa. Papa kandung Ryan. Bisakah?" tanya Ryan pelan.


Riana menatap tantenya. Dia tidak tahu harus menjawab apa. Lalu Riana kembali melihat ke arah Ryan yang masih terlihat lemas. Dia tidak bisa menyakiti Ryan lagi karena egonya.


"Maafkan Mama," ucap Riana sedih Hanya kata itu yang keluar dari mulut Riana.


Ryan di rawat di ruang sakit selama tiga hari. Selama itu pula, mereka tidak pernah lagi membicarakan masalah sekolah. Saat mereka hendak pulang, tiba-tiba sebuah ketukan pintu mengagetkan Riana dan Tante Mega.


Saat pintu terbuka, seorang pria yang sangat Riana cintai, berdiri di sana. Dia adalah Rio.


"Mas Rio?" gumam Riana.


Rio berjalan mendekati Ryan. Raut wajahnya tampak sedih melihat Ryan sakit. Rio menggenggam tangan Ryan. Riana bermaksud melarang Rio, tetapi Tante Mega menarik lengan Riana dan memberikan isyarat agar membiarkan mereka.


"Ryan," ucap Rio dengan nada bergetar.


"Papa, Ryan kangen Papa," ucap Ryan sambil menangis.


"Iya, Papa juga kangen. Sekarang Papa sudah datang. Kamu harus sembuh," kata Ryan menguatkan hati Ryan.


"Tunggu. Bisa kita bicara di luar?" ajak Riana saat mendengar Ryan memanggil Rio Papa.


"Baik. Ryan, Papa bicara sebentar dengan Mama. Doakan Papa, agar Mama tidak marah lagi sama Papa," ucap Rio sambil tersenyum. Ditangannya, sebuah dokumen yang dia harapkan mampu membuat Riana menerima kehadirannya sebagai ayahnya Ryan.


...****************...

__ADS_1


__ADS_2