
"Agung, jangan tinggalkan aku! Kamu berjanji padaku, bahwa kamu akan selalu menemaniku!" teriak seorang gadis muda yang bernama Fatma.
Fatma Anindita, gadis yang baru dimabuk asmara dan akan segera menikah itu terkulai lemas. Airmatanya tidak berhenti mengalir, tatkala melihat kekasihnya terbaring kaku di depannya. Fatma masih tidak percaya jika calon suaminya telah meninggal dunia.
"Fatma, kamu yang sabar, Nak. Ikhlaskan dia pergi. Doakan agar Allah menerima dia disisi-Nya. Menerima semua amal kebaikannya dan mengampuni semua dosa-dosanya," ucap Bu Sarti, ibunya Agung.
"Benar, Fatma. Ibu yakin, Agung tidak ingin melihat kamu seperti ini. Kamu harus bisa menerima takdir. Kita hanya manusia biasa, manusia berencana tetapi Allah yang menentukannya. Biarkan Agung tenang dan damai di sana," kata Bu Parmi, ibunya Fatma.
Mendengar ucapan dari ibunya Agung dan juga ibunya sendiri, ternyata tidak mampu membuat airmata dan kesedihan Fatma hilang. Fatma masih belum sanggup untuk menerima kenyataan pahit ini. Ditinggalkan saat sedang sayang-sayangnya.
__ADS_1
Agung Suhermanto, pria yang merupakan teman masa kecilnya. Pria yang menjadi cinta pertamanya saat masih duduk di bangku SMA. Cinta diam-diam ini akhirnya berbalas, saat mereka masuk perguruan tinggi. Agung menyatakan cinta padanya, dan dia menerimanya.
Mereka menjalin kasih, selama hampir 3 tahun. Masa di mana kedua keluarga akhirnya memutuskan untuk bertunangan. Rencana pernikahan sudah diputuskan akan di laksanakan seminggu lagi. Tetapi, semua itu gagal total karena kecelakaan yang dialami Agung. Semua ini, begitu berat bagi Fatma.
Selama acara pemakaman, Fatma beberapa kali tidak sadarkan diri. Setiap kali Fatma teringat Agung, dia pasti menangis dan dia tidak kuat menahan goncangan hidup yang pahit ini. Sampai kedua keluarga merasa kasihan melihatnya. Mereka tidak menyangka jika cinta Fatma begitu dalam pada Agung.
Setiap hari Minggu, Fatma selalu mengunjungi makam Agung. Dia menghabiskan waktu liburnya dengan berdoa di makam tersebut Setelah itu dia bercerita seolah Agung masih ada dan mendengarkannya.
Airmatanya mengalir deras diiringi isak tangisan yang memilukan hati. Setiap kali dia datang, dia akan membawa curhatan yang berbeda-beda. Sesuai situasi hati dan perasaannya saat itu.
__ADS_1
Kebiasaan itu, mulai berkurang seiring berjalanya waktu. Sekarang, Fatma akan datang satu bulan sekali atau pada saat dia kangen pada Agung, dia pasti akan pergi ke sana.
Sejak Agung meninggal, Fatma tidak memiliki semangat hidup lagi. Dia lebih sering menyendiri dan dia selalu melamun saat bekerja. Hal ini membuat orang tuanya berpikir keras untuk bisa membuat Fatma ceria lagi.
Pertemuan Sena dan Fatma.
"Nah, Kak Sean dengar. Dia seorang wanita yang begitu memahami dunia olahraga berselancar. Katakan pada Mama untuk tidak perlu khawatir. Bay-bay," kata Samuel lalu pergi meninggalkan Sena dan Fatma.
Sean menatap tajam Fatma. Tatap matanya di penuhi amarah. Tetapi ada sesuatu yang yang membuat hatinya tiba-tiba berdebar kencang. Sean begitu panik dan dia berharap bisa pergi dari tempat ini secepatnya.
__ADS_1
"Jangan sampai kita bertemu kembali," ucap Sean lalu pergi meninggalkan Fatma.
Fatma hanya menghela napas panjang. Ada sesuatu yang dia rasakan saat pria itu menatapnya. Meskipun ada amarah di sana, tetapi hati Fatma malah berdebar-debar.