
"Riana, tinggalkan pelanggan kamu sebentar. Ayo ikut aku," ajak Mila terlihat serius.
"Mia, aku harus melayani pelangganku dengan baik. Tidak bisa main tinggal begitu saja," jawab Riana. "Silahkan. Yang ini cocok untuk kulit Mbak yang putih bersih."
"Benarkah? Boleh juga. Kalau begitu aku ambil yang ini saja sesuai rekomendasi dari kamu," ucap seorang pelanggan wanita dengan senang.
"Oke, siap. Akan kami bungkus segera. Semoga senang belanja di tempat kamu. Anda puas, kami senang," kata Riana menambahkan slogan.
Setelah pelanggan pergi, Mia kembali mendekati Riana. Mia benar-benar ketakutan karena terlambat memberi salam pada Trisni.
Trisni tampak mulai tidak senang karena Riana dan Mila tidka bergegas memberi salam padanya saat dia datang. Ini tidak seperti biasanya. Meskipun pegawai baru, kebiasaan ini sudah berlangsung hampir satu tahun. Semuanya tunduk padanya.
"Riana, ayolah lebih cepat sedikit. Kita sudah terlambat," kata Mila panik.
Riana santai saja berjalan mengikuti Mia. Bahkan Mia yang menarik tangan Riana agar lebih cepat. Riana masih belum mengerti aturan tidak tertulis itu. Dia hanya diam dan berdiri saja.
Hal itu membuat Trisni merasa kesal pada Riana. Mia berusaha memberi isyarat pada Riana untuk meniru sikapnya, tetapi Riana sama sekali tidak mengerti. Dia bukan pemilik mall ini, dia juga bukan atasan mereka. Bukankah apa yang mereka lakukan terlalu berlebihan dalam menjamu pelanggan?
"Riana, beri salam dulu pada Mbak Trisni, seperti yang lain," kata Desi teman kerja Riana.
"Riana, ayo, sebelum dia marah," tambah Mila.
Riana sebenarnya tidak ingin mengikuti sikap mereka, tetapi melihat Mia tampak begitu ketakutan, Riana menyetujui keinginan Mila dan menganggap kalau dia sedang bertemu pelanggan.
"Selamat siang, nyonya. Selamat datang di AB Mall," ucap Riana formal.
Trisni acuh tak acuh mendengar ucapan Riana. Dengan angkuhnya dia menatap Riana. Hatinya sudah terlanjur kesal sejak mendengar cerita tentang hubungan tunangannya dengan Riana. Riana memang terlihat percaya diri dan tidak takut dengannya. Riana juga enggan mengucapkan salam padanya, berbeda dengan pegawai yang lain.
"Kalian kembali bekerja, kecuali kamu," ucap Trisni sambil menatap Riana.
__ADS_1
Riana menarik napas panjang. Dia mulai merasa ada sesuatu yang tidak beres. Tetapi, apapun itu, Riana sudah siap.
"Kamu, Riana?" tanya Trisni lembut. Dia tidak ingin terlihat jahat di mata karyawan lain karena mereka masih belum jauh dari tempatnya berdiri.
"Benar, Mbak. Ada apa," tanya Riana penasaran.
"Apa hubunganmu dengan tunanganku?" tanya Trisni dengan nada semakin tinggi.
"Tunangan Mbak siapa? Saya tidak mengenal tunangan Mbak, jadi jangan menuduh tanpa bukti," jawab Riana agak kesal.
"Kamu tahu pemilik mall ini? Dia adalah tunanganku. Jangan jadi ulat keket, mendekati Mas Fahry dengan gaya menjijikkan. Jauhi Mas Fahry, atau kamu akan tahu akibatnya," ancam Trisni.
Riana baru menyadari jika Trisni adalah tunangan Fahry. Wanita yang sangat sombong dan arogan itu, bagaimana bisa meluluhkan hati Fahry yang alim? Dunia memang penuh dengan kejutan dan di luar dugaan.
"Saya dan Mas Fahry, tidak ...," ucap Riana terhenti karena sebuah tamparan mendarat di pipinya.
"Dasar wanita penggoda. Berani-beraninya kamu memanggil atasanmu dengan sebutan 'Mas'!" teriak Trisni saat menampar Riana.
Keributan itu, sampai juga ke telinga Fahry dari seorang karyawan. Fahry bergegas menuju ke tempat kejadian. Saat sampai di situ, tampak Riana terjatuh dan dari balik roknya terlihat bercak darah.
Fahry tampak panik dan bergegas mendekati Riana yang merintih kesakitan. Saat ini Rio sedang dinas ke luar negeri dan Fahry yang ditugaskan untuk menjaga Riana. Kalau sampai terjadi sesuatu pada Riana, Rio pasti akan menyalahkannya.
"Sayang, dia jahat padaku," rengek Trisni manja. Dia berusaha menarik lengan Fahry, tetapi Fahry melepaskan tangan Trisni. Dia hanya memandang tunangannya sejenak lalu segera menggendong tubuh Riana dan segera dibawanya ke rumah sakit.
"Hai ...!" teriak Trisni kecewa. Fahry lebih memilih membantu Riana daripada mendengarkan ucapannya.
Riana sudah tidak bisa berpikir lagi. Dia sendiri bingung, kenapa dia bisa pendarahan. Dia hanya bisa menyerahkan semuanya pada takdir.
Sebelum mobil Fahry pergi, Trisni bergegas ikut masuk ke dalam mobil. Fahry tidak sempat mengusirnya, karena dia lebih mementingkan kesehatan dan keselamatan Riana.
__ADS_1
Mobil melaju cepat menuju rumah sakit terdekat. Riana masih terus meringis menahan sakit di jok belakang. Sedangkan Trisni tampak kesal dan hatinya dipenuhi banyak pertanyaan. Fahry tidak pernah memperhatikan wanita lain, apalagi hanya seorang karyawan biasa seperti Riana.
Sesampainya di rumah sakit, Riana segera mendapatkan perawatan. Fahry segera menghubungi Rio karena Fahry tidak ingin disalahkan jika terjadi sesuatu pada Riana.
Setelah mendapatkan pemberitahuan dari kakaknya, Rio merasa sangat panik. Dia segera membeli tiket pulang tanpa menunggu pekerjaannya selesai. Riana lebih berharga dari pekerjaan apapun.
Sementara, Riana masih menjalani perawatan dokter, Trisni berusaha membujuk Fahry untuk meninggalkan rumah sakit. Tugas Fahry sebagai atasan sudah selesai.
"Mas Fahry, kenapa tidak pulang. Mas sudah berbaik hati mengantarkan karyawan ke rumah sakit. Mas juga sudah menghubungi Keluarganya, untuk apa masih di sini?" tanya Trisni manja.
Fahry menatap tajam Trisni. Dimatanya tampak tersirat rasa kecewa yang dalam pada tunangannya itu. Fahry lebih kecewa karena Trisni tidak ada rasa bersalah sama sekali.
Fahry dan Trisni sudah setahun bertunangan. Ketika Fahry ingin menikahi Trisni, Trisni lebih memilih pekerjaannya daripada menikah dengannya. Meskipun kecewa, Fahry masih memberi kesempatan pada Trisni untuk menunggu satu tahun lagi.
Setelah hampir satu tahun, Fahry merasa, hubungan mereka sudah tidak sehat lagi. Fahry merasa jika Trisni terlalu egois. Dia tidak mau melepaskan pekerjaannya, juga tidak mau menikah dengannya. Sebagai seorang model, dia sudah menandatangani surat perjanjian jika dia tidak boleh menikah selama menjadi model di sana.
"Trisni, lebih baik kita putus saja. Kita batalkan saja pertunangan kita," ucap Fahry kemudian.
"Apa, putus? Membatalkan pertunangan? Sayang, kamu melakukan itu demi wanita itu?" tanya Trisni marah.
"Jangan melibatkan Riana. Kita sendiri tahu masalah kita. Aku sudah tidak bisa menunggumu lagi," jawab Fahry tegas.
"Sahang, seharusnya kamu lebih memahami aku. Menjadi model adalah impianku. Kesempatan itu tidak akan datang dua kali," ucap Trisni menjelaskan.
"Belum cukupkah aku memahami? Aku sudah berulang kali menerima selalu menjadi pilihan kedua. Mari putus secara baik-baik," kata Fahry berusaha tetap tenang.
"Sayang, aku tidak mau putus. Aku ... aku akan melepaskan pekerjaan aku dan menikah denganmu seperti yang kamu inginkan. Oke, jangan marah," jawab Trisni panik.
"Sudah terlambat."
__ADS_1
...****************...