Istri Lima Milyar

Istri Lima Milyar
Bab 36. Bertemu Paman


__ADS_3

Hari itu juga, Rio mengetahui apa yang terjadi pada Anwar. Rio juga bertemu dengan pengacara yang menjadi pengacara Riana saat perceraian dulu.


Kini, semua telah jelas sejelas-jelasnya bagi Rio. Riana sama sekali tidak bersalah. Anwar yang telah bersalah memalsukan tanda tangan Riana. Selama perceraian, Riana masih dalam keadaan koma.


Justru yang menjadi penyesalan Rio, adalah saat Riana dalam kondisi sakit, dia tidak berada di sampingnya. Bahkan Rio malah berusaha membencinya karena cemburu mendengar kebohongan Anwar.


Rio berjalan menuju ke kamarnya. Dia mengambil sebuah kotak dari dalam lemari. Dikeluarkanlah semua isinya dan dipajangnya kembali foto pernikahan dirinya diatas meja sama seperti dulu. Rio mengembalikan semuanya pada tempatnya.


Rio meminta Yuda memasang mencetak ulang kembali, foto pernikahan Rio dan Riana dengan ukuran yang besar. Rio ingin memasang foto itu, dan mengembalikan kondisi rumah seperti 6 tahun yang lalu.


Mungkin sudah terlambat bagiku menyadari semuanya. Tetapi, jika saat ini kamu belum menikah lagi, aku berjanji akan mengejarmu, batin Rio.


Kenapa Rio sangat peduli dengan status Riana, karena jika saat ini sudah menikah lagi, Rio tidak akan melakukan kesalahan yang sama seperti dulu. Berusaha mengambil Riana dengan jalan membelinya. Dia tidak ingin menyakiti hati Riana lagi.


Sementara itu, Ryan sedang makan di temani Bik Ijah. Ryan tampak sedih karena kangen dengan ibunya. Tetapi, demi bisa mengenal ayahnya, dia berusaha menahannya. Jika ibunya pernah menikah dengan ayahnya, pasti Bik Ijah tahu cerita sebenarnya.


"Bibik, apakah Papa Rio pernah menikah?" tanya Ryan sambil makan.


"Pernah. Tapi, mereka sudah lama berpisah. Kenapa bertanya seperti itu?" tanya Bik Ijah agak kaget dan penasaran.


"Siapa namanya?" tanya Ryan lagi.


"Namanya Bu Riana," jawab Bik Ijah yang membuat Ryan menahan perasaan bahagia di hatinya. Semua perlahan jelas untu Ryan.


"Apakah Papa Rio jahat pada istrinya, sehingga Papa Rio meninggalkan Mama?" tanya Ryan keceplosan.


Bik Ijah kaget mendengar pertanyaan Ryan. Bahkan, Rio yang saat itu hendak mengajak Ryan jalan-jalan setelah selesai makan, mendengarkan dengan hati galau. Rio merasa curiga jika ada sesuatu yang disembunyikan bocah kecil itu darinya.


"Mama, Mama siapa, Den Ryan?" tanya Bik Ijah kaget.


"Maksud Ryan, aku memanggilnya Mama karena aku memanggil dia Papa," jawab Ryan gugup. Ryan tahu jika ibunya sangat membenci ayahnya. Mengatakan bahwa ayahnya pergi mengambilkan bintang untuknya, padahal Ryan tahu jika ibunya berbohong.

__ADS_1


Rio mengurungkan niatnya untuk jalan-jalan. Dia ingin mengetahui siapa sebenarnya bocah itu setelah pengakuan Ryan tadi. Dia meminta Yuda untuk melakukan tes DNA dan berharap hasilnya akan segera keluar.


Rio meminta Bik Ijah menemani mereka pergi ke AB Mall milik Fahry. Rio ingin membeli beberapa helai pakaian ganti untuk Ryan. Sekaligus, ingin menguji kakaknya, apakah memiliki pemikiran yang sama jika Ryan mirip dengannya.


Rio dan Bik Ijah membantu Ryan memilihkan pakaian yang cocok untuknya. Setelah itu, Ryan meminta buk Ijah untuk membantu membawanya ke mobil. Sedangkan Rio membawa Ryan menemui Fahry di kantornya.


Rio mengetuk pintu kantor Fahry sebagai etika dalam bertamu. Meskipun mereka saudara kandung, mereka ingin memberi contoh yang baik untuk karyawan mereka.


"Masuk," suara Fahry terdengar tegas.


Sebelum membuka pintu, Rio tersenyum pada Ryan.


"Ryan, kamu masuk dulu. Papa mau ke toilet sebentar. Kamu tidak perlu takut. Yang didalam adalah kakakku. Jadi kmu bisa panggil dia Om atau Paman," ucap Rio yang ternyata memiliki rencana untuk mempertemukan mereka dan melihat reaksi Fahry.


Rio membuka pintu perlahan dan segera menyuruh Ryan masuk. Rio lalu bersembunyi di luar. Sementara itu, Ryan berjalan dengan percaya diri, setelah tahu jika pria didalam adalah pamannya.


"Sore, Paman," sapa Ryan menggemaskan.


Kenapa kamu mirip seperti Rio saat kecil? batin Fahry.


Ryan berjalan mendekati tempat duduk Fahry. Ryan lalu memegang tangan Fahry seraya bersikap manja.


"Paman, namaku Ryan. Papa bilang, Paman adalah kakaknya Papa," jawab Ryan manja.


"Papa, siapa papamu?" tanya Fahry menghentikan aktivitasnya.


Fahry menatap dan memperhatikan dengan seksama, bocah di hadapannya. Rasa penasaran itu semakin kuat, memaksanya untuk meraih tubuh mungil itu dalam pangkuannya.


"Papa Rio," jawab Ryan sambil tersenyum.


Fahry terdiam mendengar jawaban Ryan. Suasana menjadi hening dan sunyi. Lalu terdengar suara tawa Fahry memecah kesunyian.

__ADS_1


"Bocah, jadi kamu anaknya Rio? Wah, berarti kamu ponakan aku. Paman mau kasih hadiah, mau minta hadiah apa?" tanya Fahry penuh semangat. Walaupun dia belum tahu pasti apakah yang dikatakan bocah itu benar atau tidak. Tetapi melihat matanya, bocah itu tidak berbohong.


"Paman, Ryan mau Mama dan Papa," jawab Ryan sedih.


Fahry mendadak ikut sedih mendengar permintaan Ryan. Siapapun pasti paham apa maksud dari permintaan Ryan tersebut. Timbul rasa curiga, jika Rio memiliki wanita lain setelah bercerai dari Riana. Tetapi, balik lagi pada kenyataan bahwa Rio bukan pria brengsek. Dia akan menikahi ibu dari anaknya jika memang dia ayahnya.


"Siapa nama mamamu? Siapa tahu, Paman bisa membantu membuat Papa dan Mamamu bersama. Kamu ingin tinggal bersama mereka berdua, bukan?" tanya Fahry meyakinkan Ryan.


"Mama Riana," jawab Ryan singkat. Tetapi jawaban itu membuat Rio yang saat itu berada di luar, nyaris jatuh karena kakinya terasa lemas.


"Riana. Kamu anaknya Riana? Bukankah, kamu memiliki ayah bernama Anwar?" tanya Fahry semakin ingin memperjelas situasi.


"Tidak ada. Mama dan aku, tinggal berdua saja. Aku ingin Papa, Paman," jawab Ryan memelas.


"Iya, Paman ngerti. Kamu jangan khawatir. Paman akan menghadiahi kamu seorang Papa," ucap Fahry yakin jika itu adalah keponakannya meski tanpa tes DNA.


Saat itu, Rio yang mulai bisa mengontrol dirinya, mengetuk pintu dan langsung masuk. Dia tidak dapat menahan rasa bahagianya bertemu dengan putra dari Riana yang kemungkinan besar adalah putranya.


"Mas Fahry, dia anaknya Riana," ucap Rio berasa dia bermonolog sendiri.


"Rio, dia memang anaknya Riana, tetapi apakah dia anakmu atau bukan, belum ada buktinya," ucap Fahry berusaha agar Rio tidak terlalu berharap. Jika Ryan terbukti bukan anak Rio, takutnya Rio patah hati lagi seperti dulu.


"Aku tidak perduli. Sekalipun dia anak Riana dengan pria lain, aku tetap akan menyayanginya. Sini, sama Papa," ucap Rio seperti orang yang baru mendapatkan air di saat kehausan.


"Panggil aku lagi," titah Rio sambil tersenyum.


"Papa, Papa, Papa," ucap Ryan dengan senangnya. Ryan memeluk Rio dengan eratnya, seolah yakin jika Rio adalah ayahnya.


Fahry menyaksikan hal yang mengharukan itu, sambil menggeleng-gelengkan kepalanya. Dia hampir tidak percaya jika Rio sangat ingin menjadi seorang ayah dari anaknya Riana. Benar-benar cinta yang aneh.


...****************...

__ADS_1


__ADS_2