Istri Lima Milyar

Istri Lima Milyar
Bab 23. Kedatangan Anwar


__ADS_3

Riana sudah diperbolehkan untuk pulang setelah 3 hari di rawat. Dia masih tampak terpukul setelah kehilangan bayinya. Rio dengan sabar menemani Riana dan tidak membiarkan Riana sendirian.


Rio memutuskan untuk cuti selama dua hari untuk memberikan dukungan pada Riana. Rio juga ingin menghibur Riana agar Riana tidak sedih lagi. Rio mengajak Riana pergi ke sebuah taman untuk sekedar refreshing.


Bukannya Riana bahagia, tetapi Riana malah tampak semakin sedih tatkala melihat anak-anak kecil yang sedang bermain bersama ayah dan ibu mereka.


"Riana, jangan sedih lagi. Percayalah, kelak kamu pasti akan hamil lagi. Kita akan memiliki 5 anak. Tiga cowok dan dua cewek. Rumah kita akan sangat ramai. Setiap pulang kerja, mereka akan menyambutnya dengan tawa mereka. Pasti sangat menyenangkan," kata Rio sambil tersenyum.


"Banyak sekali, Mas. Memangnya aku pabrik anak," ucap Riana cemberut.


"Segitu masih belum banyak. Lihatlah orang zaman dulu, anaknya Sampai ada yang sampai sepuluh. Kan buatnya enak," kata Rio sambil tersenyum.


"Jangan mesum," ucap Riana malu.


Rio masih terus berusaha membuat Riana agar bisa tersenyum lagi dan melupakan kesedihannya. Meskipun tidak sepenuhnya berhasil, Rio sudah cukup senang karena Riana sudah mulai bisa tersenyum lagi.


Enam bulan telah berlalu. Sejak Riana keguguran, dia sudah tidak bekerja lagi di tempat kakak iparnya. Dia lebih memilih membuka toko kue. Riana hanya bertugas menerima pesanan, sedangkan semuanya di kerjakan oleh pegawainya.


Saat dia sibuk menyiapkan pesanan, seorang pegawainya menyampaikan jika ada yang datang mencarinya.


"Bu Riana, ada yang datang mencari ibu. Dia menunggu di meja tamu," kata Sri.


Riana bergegas keluar untuk menemui orang tersebut. Riana sama sekali tidak pernah menyangka jika dia akan mendapatkan kejutan hari ini.


"Mas Anwar," gumam Riana saat mereka berhadapan.


"Riana. Apa kabar?" tanya Anwar sambil matanya berkaca-kaca.

__ADS_1


"Baik. Ada apa kamu datang mencariku, bukankah kita sudah tidak ada hubungan lagi?" tanya Riana kesal. Riana teringat saat Anwar menjualnya pada Rio.


"Aku datang untuk meminta maaf padamu. Kamu pasti sangat menderita sekali, menikah dengan pria cacat seperti Rio," ucap Anwar penuh penyesalan.


"Tidak juga. Aku malah berterima kasih padamu, karena kamu sudah mempertemukan aku dengan Rio. Dia pria yang sangat baik meskipun dia cacat. Wajahnya memang ada luka, tetapi bagiku dia istimewa," kata Riana berusaha membuat Anwar kesal.


"Riana, apa jangan-jangan kamu sudah jatuh cinta pada dia? Aku tidak yakin kamu jatuh cinta sama Rio. Kamu hanya mencintai aku, bukan?" tanya Anwar kecewa dengan ucapan Riana. "Riana, kali ini aku datang untuk menepati janjiku padamu. Aku akan menebus dirimu kembali. Dan kita akan hidup bahagia."


Anwar memegang tangan Riana, akan tetapi Riana menepisnya.


"Kita bukan lagi muhrim. Lagipula, aku juga tidak pernah meminta Mas Anwar untuk menebus aku kembali. Kamu sudah melepaskan aku, dan memilih jalanmu sendiri. Apa yang sudah kamu tinggalkan, tidak akan bisa lagi kamu miliki," ucap Riana dengan mata berkaca-kaca.


"Riana, aku menyesal telah menjual kamu pada Rio. Aku pikir, hidupku kaan bahagia setelah aku memiliki uang yang berlimpah. Tetapi nyatanya, meskipun aku memiliki uang, aku tidak pernah bahagia. Aku mencintai kamu, Riana," ucap Anwar berusaha meyakinkan Riana akan cintanya.


"Penyesalan itu memang datangnya terlambat. Aku meragukan apa yang kamu katakan. Cinta, apakah benar itu cinta?" kata Riana sambil tersenyum sinis.


"Riana ...," ucap Anwar.


Anwar terpaksa pergi meninggalkan Riana yang terduduk lesu. Hati Riana kembali sedih. Kedatangan Anwar telah membuka luka lama Riana berdarah kembali. Hampir dua tahun lamanya, Riana mencoba melepaskan masa lalunya.


Sementara, Anwar tidak ingin berhenti sampai di situ. Setelah menemui Riana dan dia merasa gagal membujuk Riana, Anwar di datang ke kantor Rio.


Suasana tampak tegang ketika Rio dan Anwar bertemu. Mereka saling berpandangan dan Rio berusaha menenangkan hatinya. Ketakutannya selama ini akhirnya datang juga.


"Pak Rio, aku datang untuk menebus istriku kembali," ucap Anwar dengan rasa percaya diri.


"Anwar, maaf. Aku tidak akan melepaskan istriku. Dia bukan barang yang bisa diperjual belikan sesuka hati kita," jawab Rio tegas.

__ADS_1


"Kamu jangan sok suci, Rio. Aku hanya ingin mengambil kembali apa yang seharusnya menjadi milikku. Aku akan kembalikan uang lima milyar beserta bunganya. Dan kamu harus serahkan kembali Riana padaku," kata Anwar mulai emosi.


"Sudah aku katakan, sekarang Riana adalah istriku. Aku tidak akan menjualnya kepada siapapun. Termasuk padamu, Anwar," ucap Rio mantap.


"Kamu jangan egois, Rio. Riana sangat mencintai aku. Dia mau aku jual kepadamu karena begitu besar cintanya padaku. Cintanya tidak akan mungkin pudar begitu cepat. Riana tidak akan pernah jatuh cinta padamu," kata Anwar yakin. "Lagipula, lihatlah wajahmu yang cacat itu. Apa kamu yakin, apa kamu masih berharap ada wanita yang tulus mencintaimu atau hanya kasihan melihatmu?"


Rio terdiam. Dia membenarkan ucapan Anwar. Setelah Anwar pergi, Rio terus berpikir dan mencoba untuk meyakinkan hatinya akan keputusannya tetap mempertahankan Riana. Riana bukan wanita seperti itu. Ataukah memang Riana hanya kasihan padanya?


Rio sangat mencintai Riana, dan dia tidak akan mungkin mengembalikan Riana pada Anwar berapapun Anwar akan membayarnya. Tetapi keraguan itu muncul setelah Anwar datang.


Sampai di rumah, Riana sudah menyiapkan makan malam untuknya. Rio bergegas membersihkan diri lalu berganti pakaian yang sudah di siapkan oleh Riana. Rio berusaha menenangkan hatinya untuk tidak membahas tentang kedatangan Anwar.


"Riana, mari kita sholat berjamaah," ajak Rio tiba-tiba.


"Apa, Mas. Aku tidak salah dengar, bukan?" tanya Riana kaget.


"Tidak. Mulai malam ini, aku akan menjadi imammu," jawab Rio yakin.


"Mas, aku bahagia sekali mendengarnya. Aku sudah menunggu cukup lama hal seperti ini," ucap Riana sambil tersenyum.


"Maaf, aku baru bisa menjadi imammu sekarang. Karena aku belum yakin bisa menjadi imam yang baik. Aku tidak ingin ada kesalahan," kata Rio sambil tersenyum melihat reaksi Riana yang begitu bahagia.


Rio tidak lagi memperdulikan apakah Riana bertahan di sisinya karena kasihan atau yang lainnya. Yang pasti, selama Riana masih mau bersamanya dengan alasan apapun, Rio pasti akan tetap mempertahankannya sampai kapanpun.


Sejak malam itu, Rio berusaha menjadi imam yang baik untuk Riana. Rio berharap pernikahannya akan baik-baik saja. Sebisa mungkin, Rio ingin menjadi suami idaman Riana.


Kebahagian Riana dan Rio, membuat Anwar kecewa dan sedih. Dia merasa, Rio telah merebut kebahagiannya. Seharusnya dialah yang saat ini berada di sisi Riana, bukan Rio.

__ADS_1


Tunggu pembalasanku, Rio.


...****************...


__ADS_2