Istri Lima Milyar

Istri Lima Milyar
Bab 6. Berusaha ikhlas menjadi istrinya


__ADS_3

Riana terdiam mendengar ucapan Rio. Riana mencoba menatap suaminya yang terlihat berwajah dingin, meski yang tampak hanya sebagian wajahnya saja.


Riana melanjutkan membaca tulisan yang ditulis rapi di tangannya. Ada beberapa poin yang cukup membuat Riana menarik nafas panjang. Yang terutama adalah poin yang mengharuskan dia untuk menuruti semua perintah suaminya. Kalau yang lainnya, Riana masih bisa menerima.


"Aku tidak setuju dengan dengan poin ini. Menurutku, ini berarti aku disini dianggap seperti budak dan aku disini hanyalah boneka saja. Anda jangan lupa, aku juga manusia yang punya hati dan perasaan," ucap Riana sambil menatap Rio.


"Sepertinya ini bukan waktu yang tepat untuk membicarakan semua ini. Lebih baik kita makan dulu, setelah itu kita bicarakan hal ini di tempat lain," kata Rio menghentikan pembicaraan mereka.


Diana tidak memiliki nafsu makan lagi setelah melihat isi perjanjian tersebut. Dia merasa, dia tidak melihat masa depan di sana. Akhirnya dia menyadari bahwa dirinya tidak jauh berbeda dengan budak. Orang yang sudah diperjualbelikan, yang tidak ada harganya lagi. Saat ini dia tidak memiliki hak untuk bertanya ataupun memiliki kebahagiaan.


Rio meminta Riana untuk membawanya masuk ke dalam kamar. Riana beranjak dari kursinya dan membantu mendorong kursi roda hingga ke dalam kamar.


"Duduklah," titah Rio.


Riana duduk di tepi ranjang dengan perasaaan campur aduk. Pikirannya masih kacau dan belum bisa untuk diajak berpikir jernih. Bagi Riana, Rio adalah pria yang sangat menakutkan.


"Aku akan menjawab keberatan kamu tentang poin kedua. Untuk yang satu ini, aku akan meniadakannya. Kamu boleh memberikan pendapat asalkan kamu memiliki kata yang bisa kamu pertanggung jawabkan," kata Rio panjang lebar.


"Maksudmu?" tanya Riana.


"Kamu bisa berkata tidak, ketika kamu bisa meyakinkan aku," jawab Rio. "Cepat tanda tangani sekarang!"


Riana menatap tajam wajah suaminya dengan tatapan penuh kebencian. Siapa yang akan membela dirinya kalau bukan dirinya sendiri?


"Kalau aku tidak mau?" tanya Riana.


"Jadi, kamu tidak mau tanda tangan? Baik, aku akan memenjarakan mantan suamimu dan kamu juga karena telah menipuku," jawab Rio kesal.


Rio mengeluarkan ponsel dari dalam kantong bajunya. Dia segera menghubungi Yuda.


["Hallo, Yuda. Kamu sekarang pergi ke kantor polisi untuk ...."] Suara Rio terhenti karena tiba-tiba, Riana merebut ponsel Rio dan mematikannya.


"Baik, aku akan tanda tangan sekarang," ucap Riana kesal bercampur marah.

__ADS_1


Riana sangat takut masuk penjara. Membayangkannya saja, dia sudah bergidik. Riana bergegas mengambil kertas tersebut, dan segera menandatanganinya tanpa protes lagi.


"Perjanjian ini berlaku setelah kamu tanda tangan. Bantu aku berbaring, aku lelah dan ingin beristirahat," titah Rio berlagak seperti Bos.


Riana beranjak dari tempatnya duduk. Dia membantu Rio beralih ke atas tempat tidur. Tubuh Rio cukup berat, tetapi, dia tidak boleh mengeluh jika tidak ingin di penjara karena penipuan.


"Mau kemana?" tanya Rio ketika Riana melangkah pergi setelah membantunya berbaring.


"Aku ingin sholat, apa kamu akan melarangku?" tanya Riana kesal.


"Tidak, pergilah."


Riana melanjutkan langkahnya untuk mengambil air wudhu. Saat dia kembali, Rio sudah tertidur. Riana menarik napas berat. Tetapi dia sudah cukup bersyukur karena Rio membiarkannya menjalankan kewajibannya tanpa banyak bertanya.


Riana segera menjalankan kewajibannya. Tidak lupa, dia berdoa untuk meminta kekuatan hati menghadapi kenyataan hidup yang tidak sesuai harapannya.


"Ya Allah, berilah hambamu ini kekuatan untuk tetap bertahan. Cobaan ini terlalu berat untukku. Saat ini aku membencinya, disisi lain dia adalah suamiku. Letak surgaku ada bersamanya. Berikanlah hamba hati yang ikhlas untuk menerima semua ini. Menerima dia dengan segala kekurangannya dan perilakunya. Semoga dia bisa menjadi suami yang mampu menjadi jalan surgaku, meskipun pahit tetapi aku merasakan madu. Semoga dia bisa menerima diriku dengan segala kekuranganku. Aamiin ya Robbal 'alamin."


Tanpa Riana sadari, Rio terus memperhatikan Riana sejak Riana mulai menjalankan ibadahnya. Ada rasa sejuk di hati Rio, melihat istrinya dekat dengan Tuhannya. Tidak seperti dirinya yang sudah melenceng jauh. Meskipun saat kecil dia pernah belajar agama, tetapi ketika remaja, dia mulai jauh dari agama. Dia lebih banyak bermain dengan temannya keluar rumah, hingga lupa waktu.


Riana berniat untuk beristirahat lebih awal karena dia ingin bangun tengah malam untuk sholat istikharah, meminta petunjuk tentang jalan yang akan dia tempuh ke depannya. Dia tidak ingin menyerah untuk meraih kebahagiaannya sendiri. Sekalipun Anwar sudah menyakitinya, setidaknya Riana masih memiliki kesempatan untuk bahagia dengan caranya sendiri.


Riana perlahan naik ke atas tempat tidur. Dia masih bisa bernapas lega karena saat ini dia masih belum bisa dan belum siap menerima Rio seutuhnya. Dia tidak akan dituntut oleh Rio untuk menyempurnakan pernikahan.


"Sudah tidur?" tanya Rio tiba-tiba.


"Kamu belum tidur?" tanya Riana kaget.


"Ini masih terlalu sore untuk tidur. Aku tidak terbiasa," jawab Rio datar.


"Lalu kenapa kamu berbaring di sini?" tanya Riana lagi.


"Biar kita lebih leluasa berbicara. Aku ingin mengingatkan kamu, kita sudah menikah dan itu nyata. Kamu seharusnya memanggilku dengan lebih hormat. Setidaknya, aku masih merasa jika aku memiliki harga diri," ucap Rio sambil menatap Riana.

__ADS_1


"Lalu, aku harus memanggilmu apa? Pak Rio atau Bos Rio. Bukankah itu sudah sangat menghormatimu?" tanya Riana.


"Kamu ...." Rio tampak kesal mendengar jawaban Riana.


Riana cuek saja melihat Rio yang kesal padanya. Saat itu ponsel Rio yang berada di atas nakas, berdering cukup keras. Rio bergegas meraih ponselnya dan tersenyum saat melihat siapa yang menghubunginya.


["Hallo, bagaimana kabar Mama, baik-baik saja bukan?" Nada bicara Rio berubah lembut.]


["Mama mau datang? Oke, besok aku akan menyuruh Yuda menjemput Mama."]


["Istri Rio? Baik, kita akan menunggu kedatangan Mama. Selamat malam."]


Hanya itu yang bisa Riana dengar. Riana menatap Rio dengan tatapan ragu. Bagaimana dia akan menghadapi ibu mertuanya yang sama sekali belum pernah dia temui. Belum lagi dia baru saja menikah, belum tahu kebiasaan orang kaya, terutama keluarga Rio.


Ataukah ini kesempatan untuk membuat ibu mertuanya membencinya sehingga ibu mertuanya akan meminta Rio untuk menceraikannya?


"Kamu tidak perlu takut. Mama, wanita yang sangat baik. Dia tidak akan mempersulit keberadaan kamu di rumah ini," ucap Rio berusaha menenangkan hati Riana. "Riana, aku ingin ke kamar mandi, bantu aku."


"Apa, ke kamar mandi, mau apa?" tanya Riana agak gugup.


"Masak ke kamar mandi mau tidur, yang buang air kecil, Sayang?" jawab Rio menggoda Riana. "Kita ini suami istri. Aku menikahi kamu agar kamu tidak akan malu lagi saat membantuku."


Riana tampak agak malu. Meskipun Riana sadar, jika mereka memang sudah muhrim. Lagipula, Riana juga sudah pernah melihat bentuk vital pria. Lebih jelasnya alat vital Anwar, mantan suaminya. Jadi tidak ada alasan baginya untuk malu lagi. Semua milik pria, pasti sama.


Riana beranjak dari tempat tidurnya. Dia bergegas membantu Rio duduk. Setelah itu dia membantunya duduk di kursi roda. Riana sedikit kesal, saat melihat wajah Rio masih saja dingin seperti kulkas.


Tidak ada ucapan terima kasih. Setidaknya, dia menghargai sedikit dirinya sebagai seorang istri. Riana kini akan fokus untuk melakukan tugasnya, sesuai kesepakatan.


Riana mendorong kursi roda, hingga sampai di dalam kamar mandi. Rian berhenti dan berdiri mematung sambil tetap memegangi kursi roda.


"Kenapa diam saja? Bantu aku membuka celana!"


...****************...

__ADS_1


__ADS_2