Istri Lima Milyar

Istri Lima Milyar
Bab 25. Ingin jadi istri setia


__ADS_3

Riana terus memperhatikan Rio yang duduk termangu di depan cermin. Sesekali dia melihat bagian wajahnya yang terdapat bekas luka. Sebenarnya tidak terlalu besar, hanya saja, cukup membuat orang tidak percaya diri.


Riana perlahan mendekatinya. Dia ingin memberikan semangat pada Rio agar dia bisa lebih percaya diri.


"Mas, jangan dilihat terus, kenapa tidak lihat aku aja," ucap Riana sambil meraih tangan Rio yang saat itu menutupi bekas lukanya.


"Riana, kamu pasti jijik melihat bekas luka ini, bukan? Wajahku sangat buruk, kamu pasti takut melihatku," tanya Rio dengan nada putus asa.


"Mas, jangan bicara seperti itu. Aku tidak jijik, hanya bekas luka kayak gitu. Kalau aku jijik, mana mungkin aku sampai hamil anak kamu," kata Riana malu-malu.


"Karena kamu menutup mata dan lampunya mati," ucap Rio berusaha tetap mencari pembenaran.


"Nggak juga. Memangnya, kalau lampunya nyala dan aku buka mata, apa nggak malu ?" tanya Riana sambil menatap Rio.


"Itu tandanya kamu memang jijik melihatku," jawab Rio kesal.


Riana bingung. Dia tidak tahu harus dengan cara membuktikan jika dia tidak memandang fisik semata. Timbullah pemikiran Riana untuk melakukan sesuatu.


Riana menarik tubuh Rio hingga mereka berhadapan. Riana lalu menundukkan kepalanya membuat Rio merasa canggung. Sebuah ciuman hangat dari Riana tepat di bekas luka Rio. Hal itu membuat Rio kaget sekaligus menikmatinya karena Riana melakukannya tidak hanya sekali.


Jika sudah seperti itu, siapa yang bisa tahan godaan. Rio segera berdiri dan menggendong Riana menuju ke tempat tidur. Kali ini, lampu tidak akan di matikan dan Riana tidak boleh menutup matanya.


Malam telah semakin larut dan mereka menikmati proses penyatuan dengan hati bahagia. Baik Riana maupun Rio, sama-sama berusaha untuk menerima kekurangan masing-masing.


Setelah puas berhubungan, Rio berbaring sambil memeluk tubuh Riana yang masih tidak berbusana. Sebuah bisikan cinta terdengar manis di telinga Riana.

__ADS_1


"Aku mencintaimu, Riana."


Riana hanya tersenyum. Dia masih belum bisa membalas ucapan cinta Rio. Riana belum yakin benar jika dia sudah bisa mencintai suaminya. Sejak awal, dia hanya ingin menjalankan kewajibannya saja sebagai seorang istri. Walaupun sempat dia merasakan sesuatu saat Rio mulai menunjukkan sikapnya yang ternyata jauh lebih baik dari yang dia kira.


Tetapi Riana belum yakin jika rasa itu adalah cinta. Seperti yang pernah Anwar katakan, jika tidak akan semudah itu untuk jatuh cinta pada pria lain secepat itu. Sesungguhnya dia tidak ingin terpengaruh dengan ucapan mantan suaminya, tetapi dia juga tidak bisa memungkiri jika sulit melupakan cinta pertama.


Saat hati Riana galau dan dilema, dia menatap wajah Rio yang mulai mengantuk. Seharusnya, dia harus bisa mencintai suaminya dan tidak berpikir tentang pria lain. Dia sudah berdosa karena setelah kehadiran Anwar, hati Riana mulai meragukan cintanya pada Rio.


Riana memejamkan mata sesaat dan mencoba untuk meyakinkan hatinya. Siapa sesungguhnya yang dia cintai saat ini. Wajah Rio dan Anwar datang silih berganti. Dan pada akhirnya, Riana telah menemukan jawabannya.


Keesokan harinya, sebelum berangkat ke tempat kerja masing-masing, Riana dan Rio sarapan bersama.


"Riana, besok aku akan melakukan operasi plastik. Aku memberitahu lebih awal karena aku tidak ingin kamu kaget," ucap Rio yang membuat Riana menghentikan aktivitas makannya.


"Entahlah, semenjak kedatangan Anwar, aku jadi tidak percaya diri. Dia bukan lagi mantan suamimu yang miskin dan sederhana. Dia sekarang sudah jauh berubah. Tampangnya sudah keren dan dia kaya. Dia sudah menjadi pria sempurna," kata Rio merasa rendah diri karena bekas lukanya.


"Mas, kamu hanya melihatnya dari luarnya saja. Tapi, aku melihat dia masih memiliki kekurangan. Dia sendirian, dia tidak bisa hidup tenang, setelah apa yang dia lakukan," jawab Riana.


"Berarti aku lebih beruntung karena aku memiliki kamu. Istri yang sangat cantik luar dan dalam," ucap Rio sambil menatap Riana.


"Dia mendapatkan semua itu dari menjual istrinya," jawab Riana kesal.


Rio terdiam. Setiap kaki Rio mendengar ucapan Riana itu, Rio merasa bersalah. Dia telah menjadikan Riana wanita yang memiliki julukan khusus. Istri Lima milyar. Dan itu membuat hati Rio sakit.


"Mas, jangan pernah berpikir untuk operasi plastik lagi. Aku terima kamu apa adanya. Aku hanya berharap, suamiku bisa bahagia hidup bersamaku," ucap Riana saat melihat Rio sedih.

__ADS_1


"Aku mengerti. Aku percaya, meskipun wajahku buruk, kamu tidak akan pernah berpaling pada pria lain. Meskipun mereka lebih sempurna dariku," kata Rio sambil tersenyum.


"Selesai sarapan, aku antar kamu ke toko. Nanti pulangnya, aku akan minta pak Karso untuk menjemputmu. Aku ingin lebih lama melihatmu," ucap Rio sedikit manja.


"Baiklah. Sebagai istri, aku manut suami. Karena selama ini juga, semua keinginanku sudah suamiku kabulkan semua," jawab Riana ikutan manja.


Mereka tertawa dan tersenyum bersama. Rio berusaha untuk tidak berpikir melakukan operasi plastik lagi. Dia yakin jika Riana akan tetap setia padanya, meskipun dia tidak sempurna.


Selesai sarapan, mereka segera berangkat menuju ke toko kue Riana. Saat turun dari mobil, Rian sempat mencium punggung tangan Rio. Mobil Rio segera melaju pergi meninggalkan Riana yang masih berdiri di depan toko kuenya.


Baru saja dia berbalik badan, tiba-tiba seseorang membekap mulutnya dengan saputangan yang diberi obat bius. Riana langsung pingsan dan segera di masukkan ke dalam mobil.


Saat itu, ada salah satu karyawan yang melihat kejadian itu. Dia berteriak memanggil Riana, dan berusaha mengejar. Sayangnya mobil itu sudah lebih dulu melaju kencang meninggalkan toko.


Karyawan itu panik sehingga membuat karyawan lain penasaran. Dia akhirnya menceritakan apa yang dia lihat pada temannya yang lain. Mereka segera mencari nomor rumah Riana dan menghubungi Bik Ijah.


Setelah mendengar berita penculikan majikannya, Bik Ijah segera menghubungi Rio. Tetapi rupanya lagi itu, Rio sedang ada rapat, sehingga dia tidak mengangkat panggilan dari Bik Ijah.


Bik Ijah tidak putus asa. Dia terus melakukan panggilan hingga akhirnya Rio menjawab panggilannya.


"Apa, bagaimana bisa. Oke, secepatnya aku akan pergi ke toko," jawab Rio panik."Yuda, ikut aku."


Dia segera meninggalkan ruang rapat diikuti Yuda. Rio pergi tanpa peduli lagi dengan mereka yang rapat pagi ini. Mereka semua bertanya-tanya dan saling berpandangan.


...****************...

__ADS_1


__ADS_2