
Anwar melarikan diri dengan menggunakan mobilnya. Dia merasa bingung dan panik saat melihat darah Santi. Tetapi dia sama sekali tidak menyesal. Anwar merasa bahwa itu adalah hukuman bagi Santi. Orang yang telah merampas semua miliknya.
Anwar berhenti di sebuah bar. Dia ingin bersantai sejenak setelah mengalami kenyataan yang membuatnya sangat terpukul. Dia memesan minuman karena dia ingin melupakan kejadian hari ini. Anwar ingin semuanya akan kembali padanya, saat dia sadar nanti.
Sambil minum, Anwar mengenang masa lalu. Ternyata tidak ada yang abadi di dunia ini. Ternyata pilihan hidup yang dia pilih, adalah sebuah kesalahan yang fatal.
Seorang istri yang Solehah, adalah harta milik kita yang paling berharga. Lebih berharga dari apapun. Bahkan tidak bisa ditukarkan dengan uang atau harta sebesar apapun.
Anwar kini menyadari, andai saja penyesalan ini mampu mengembalikan kehidupan nya di masa lalu, dia akan akan sangat senang. Sayangnya, kini dia sudah tidak memiliki apa-apa lagi. Istrinya hilang, bahkan hartapun juga hilang.
Saat itulah, Dua orang polisi datang dan menangkapnya atas laporan Santi. Anwar dituntut pasal penganiayaan yang mengakibatkan meninggalnya bayi dalam kandungan Santi.
"Selamat malam. Kami dari kepolisian, silahkan ikut kami," ucap salah satu dari polisi tersebut.
"Saya tidak ada urusannya dengan polisi. Kalian pergilah!" bentak Anwar dalam keadaan mabuk.
"Ini surat perintah penangkapan anda. Kami harap, anda kooperatif," ucap yang lain.
Anwar mulai panik, dia bergegas ingin melarikan diri. Tetapi dengan cepat kedua polisi itu berhasil menangkap Anwar. Pengadilan memutuskan Anwar dipenjara selama 4 tahun.
Penyesalan itu sudah tidak ada gunanya lagi.
Lima tahun kemudian.
Rio melakukan perjalanan bisnis ke sebuah kota kecil. Dia berniat mengakuisisi sebuah hotel di kota tersebut. Dia datang bersama Yuda. Suasana hatinya masih dingin seperti lima tahun yang lalu, saat dia dan Riana bercerai.
Wajah Rio, tampak terlihat berbeda karena dia telah menjalani operasi untuk menghilangkan bekas luka di wajahnya. Meskipun Rio tampak dingin, tetapi aura religi sangat terlihat pad dirinya. Dia memang telah banyak berubah.
"Yuda, kita jalan-jalan sebentar di sekitaran hotel. Aku ingin melihat dan mengamati prospek hotel itu ke depannya," titah Rio sambil melihat keluar jendela mobilnya yang terbuka sedikit.
"Baik, Pak Rio," jawab Yuda singkat.
__ADS_1
Yuda tidak ingin berbicara banyak agar tidak membuat suasana hati Bosnya buruk. Semenjak Rio memutuskan untuk berhenti mencari Riana, Susana hati Rio cepat sekali berubah-ubah.
Rio menyerah setelah Anwar mengirimkan foto-foto kedekatan Anwar dan Riana saat di Singapura. Anwar mengatakan jika dia dan Riana telah rujuk kembali. Anwar meminta Rio untuk menerima dengan ikhlas keputusan Riana memilih menikah dengan Anwar kembali.
Rio sempat patah hati dan hampir putus asa. Tetapi, ketika dia menemukan barang yang ditinggalkan Riana untuknya, sarung , peci dan sajadah, Rio berjanji akan menjadi seperti apa yang Riana inginkan saat hidup bersamanya.
Jika suatu saat nanti, mereka bertemu, Rio akan bisa berdiri tegak di depan Riana. Dia bisa menjadi pria yang diharapkan Riana. Mungkin saja, Riana berharap, meski mereka tidak bersama lagi, Rio bisa menjadi pria yang lebih baik.
Tiba-tiba, Yuda mengerem mobilnya mendadak hingga membuat lamunan Rio terhenti.
"Yuda, ada apa?" tanya Rio kaget.
"Sepertinya, kita menabrak seorang anak," jawab Yuda panik yang segera keluar diikuti Rio.
Benar saja, mereka menabrak seorang bocah laki-laki yang kini pingsan. Rio juga ikut panik dan segera mengangkat bocah tersebut. Rio membawanya masuk mobil dan meminta Yuda, untuk segera membawanya ke rumah sakit terdekat.
Sesampainya di rumah sakit, bocah kecil yang ternyata adalah Ryan, anaknya Riana, segera mendapatkan perawatan. Rio dan Yuda menunggu dengan gelisah. Mereka terus berdoa, agar Ryan tidak ada yang serius.
"Bagaimana kondisinya, Dok?" tanya Rio panik.
"Bapak tenang saja. Anak Bapak hanya mengalami benturan kecil saat jatuh. Dia hanya syok saja. Nanti juga boleh langsung dibawa pulang saja," jawab Dokter tenang.
"Alhamdulillah. Terima kasih, Dok," ucap Rio dengan hati bahagia. Hatinya tenang saat mengetahui bahwa Ryan baik-baik saja.
"Bagiamana selanjutnya?" tanya Yuda cemas.
"Kita antar saja dia pulang. Kita akan meminta maaf pada orangtuanya," jawab Rio sambil menghela napas panjang.
Yuda segera mengurus biaya perawatan karena setelah sadar nanti, Ryan sudah diperbolehkan pulang. Rio menemani Ryan dan beberapa menit kemudian, Ryan sudah sadarkan diri. Rio segera memanggil dokter jaga dan dokter menyatakan bahwa Ryan sudah siap untuk pulang.
"Papa," gumam Ryan pelan.
__ADS_1
"Kamu panggil siapa, Nak?" tanya Rio kaget.
"Papa. Aku ingin punya ayah seperti Paman," jawab Ryan terbata-bata.
"Memangnya, kamu tidak memiliki ayah?" tanya Rio lagi.
"Ryan hanya punya Mama. Bolehkah aku panggil Paman, Papa?"jawab Ryan sedih.
"Baiklah, kamu boleh panggil Papa. Ayo Paman antar pulang," jawab Rio sambil tersenyum.
Rio menggendong tubuh Ryan dan membawanya masuk mobil yang sudah disiapkan Yuda. Mereka ingin mengantarkan Ryan pulang. Tetapi, Ryan ternyata tidak tahu arah jalan pulang ke rumahnya.
Rio dan Yuda akhirnya memutuskan untuk membawa Ryan menuju ke hotel. Mereka akan melakukan pekerjaan mereka terlebih dahulu sebelum mencari alamat Ryan.
Selama pertemuan dengan pihak manajemen hotel, Ryan terus mengikuti Rio dan duduk di pangkuannya. Meskipun semua orang memandangnya penuh tanda tanya, tetapi tidak seorangpun berani bertanya langsung pada Rio.
Ryan terlihat lelah dan akhirnya dia tertidur di pangkuan Rio. Rio membawa Ryan menuju ke salah satu kamar hotel yang disiapkan untuknya. Rio berharap Ryan bisa tidur dengan nyaman. Setelah itu, Rio melanjutkan pekerjaannya.
Selesai bekerja, Rio bergegas mandi dan beristirahat sebentar. Rio sedih saat melihat Ryan terus memanggilnya papa, hanya karena dia tidak memiliki ayah.
Dia tidak tahu bahwa tidak semua pria bisa dipanggilnya Papa, batin Rio.
Rio ingin sekali membangunkan Ryan karena sejak siang tadi Ryan belum makan apa-apa. Tetapi Rio mengurungkan niatnya, setelah melihat Ryan tidur dengan pulasnya.
Dua jam kemudian, Ryan terbangun dan dia sangat senang saat mendapati Rio tidur disampingnya.
"Papa," gumam Ryan pelan. Dia takut membangunkan Rio. Pasti mereka akan membawanya pergi mencari ibunya.
Tiba-tiba, Ryan berpikir untuk membuat Papa dan Mamanya bersama. Dengan begitu dia akan memiliki orang tua yang utuh. Tetapi, dia masih bingung dengan apa yang akan dia lakukan selanjutnya. Ibunya memang terlihat membenci ayahnya, tetapi terkadang, Ryan melihat ibunya menangis sendirian dan berpura-pura tidak ada apa-apa.
Pasti, mama masih mencintai papa, batin Ryan.
__ADS_1