Istri Lima Milyar

Istri Lima Milyar
Bab 7. Teman masa kecil


__ADS_3

Riana cukup kaget, mendengar perintah dari suaminya. Membuka celana dan apa yang akan terjadi kemudian?


Riana menarik napas panjang. Dia lalu berjalan ke depan Rio. Meskipun hatinya masih ragu dengan apa yang akan dia lakukan, Riana perlahan namun pasti, tangannya bergerak ke arah celana Rio. Dengan cepat dia berusaha membuka kancing celana suaminya.


"Berhenti, stop!" teriak Rio.


Riana mengentikan aksinya. Dia menarik tangannya dari celana Rio dan berdiri dengan cepat. Dia masih bingung dengan sikap Rio yang suka berubah-ubah. Apa karena dia menganggap Riana budak, jadi dia bisa seenaknya perintah ini perintah itu.


"Ada apa? Bukannya kamu sendiri yang suruh?" tanya Riana.


"Nggak jadi, lebih baik aku sendiri saja. Kamu keluar dulu, kalau nanti sudah selesai, aku akan panggil kamu lagi," kata Rio terlihat gugup.


"Baik. Aku tunggu di luar," jawab Riana lega.


Akhirnya, tugas ini tidak jadi dia lakukan. Tetapi, ada sesuatu yang membuat Riana curiga, jika Rio menyimpan suatu rahasia yang besar. Tadi saat Riana membuka kancing celana Rio, wajah Rio tampak merah. Apakah dia sama sekali belum pernah menyentuh seorang wanita?


"Riana, Riana. Apa urusannya dia masih perjaka atau tidak. Itu bukan urusan kamu," gumamnya pelan.


"Tapi, pria seumuran dia mana mungkin masih perjaka. Atau karena dia jelek dan cacat, makanya tidak ada wanita yang mau berhubungan dengan dia? Tetapi meskipun dia jelek dan lumpuh, sekarang dia adalah suamiku," gumamnya lagi.


Riana berdiri di depan pintu kamar mandi. Dia mulai berpikir untuk membantu agar kaki Rio bisa sembuh. Membantunya melakukan terapi, siapa tahu dengan begitu, suaminya yang dingin itu, bisa tersenyum.


"Riana!" teriak Rio dari dalam kamar mandi.


"Iya. Aku masuk, ya," jawab Riana.


Riana perlahan membuka pintu karena takut jika Rio belum selesai buang airnya. Nanti malah akan membuat mereka sama-sama canggung.


"Kenapa kamu lambat sekali?" tanya Rio kesal.


"Maaf, aku takut kamu belum selesai. Jadi aku masuk pelan-pelan," jawab Riana.


Riana mendorong kursi roda dan kemabli membantu Rio untuk berbaring di tempat tidur. Setelah itu dia menyelimuti tubuh Rio dengan selimut. Baru setelah itu, Riana juga merebahkan diri di samping tubuh Rio.


"Pak Rio, aku ingin membantu menyembuhkan kaki Pak Rio," ucap Riana ragu.

__ADS_1


"Pak Rio? Tidak perlu, aku tidak butuh bantuanmu," jawab Rio sinis.


"Kenapa? Kamu menolak bantuanku karena aku memanggilmu, Pak Rio? Baik, kamu katakan saja, aku harus memanggilmu apa," kata Riana serius.


"Aku tidak perlu mengatakannya. Karena harusnya kamu tahu, harus memanggilku apa. Kamu juga pernah bersuami, kamu bukan gadis," ucap Rio seperti sembilu.


"Aku memang bukan gadis. Kamu tahu itu, saat kamu membeliku. Harusnya kamu menyesal sebelum kita menikah. Itu akan lebih baik untukku," ucap Riana kesal.


Riana kali ini tidak hanya kesal tetapi juga marah. Tujuannya untuk membantu, malah berakhir seperti ini. Dia sengaja mempermalukan aku. Riana merasa percuma peduli pada suaminya yang tidak menghargai usahanya untuk bersikap baik padanya.


Riana tidur membelakangi Rio yang tampak menyesal telah membuat istrinya marah dan kesal. Sebenarnya dia tidak ingin malam pertamanya berakhir seperti ini. Rio membayangkan bagaimana dia bisa bersikeras menikahi Riana.


Saat itu, Rio masih berusia 7 tahun. Tubuhnya yang gendut dan berat badannya yang berlebih, membuat semua temannya menjuluki dia gajah. Setiap kali Rio lewat, mereka akan mengejek Rio dan mereka akan membuat Rio menangis.


Mereka selalu membully Rio dimanapun Rio berada. Sampai suatu hari, mereka membuang tas Rio ke selokan. Mereka tampak sangat puas sudah mengerjai Rio.


"Ayo Gajah, ambil tas kamu kalau bisa. Masuklah ke selokan kalau muat!" teriak Tyo sambil tertawa.


"Hei, kalian sedang apa? Apa yang kalian lakukan padanya?" tanya Riana kecil dengan nada agak keras.


Riana tampak kesal dengan perlakuan Tyo dan kawan-kawannya. Riana langsung menghajar mereka dengan beberapa pukulan. Mereka menangis dan mengancam Riana.


"Aku akan adukan pada ibuku, huhu ...," ucap Tyo sambil menangis.


"Adukan saja, aku tidak takut. Kalian sendiri yang memulai!" teriak Riana dengan penuh keberanian.


Setelah Tyo pergi, Riana mendekati Rio yang tampak senang dibela oleh Riana.


"Kamu jangan takut. Aku akan mengambilkan tas kamu dari dalam selokan," kata Riana.


"Terima kasih," ucap Rio pelan.


Riana turun ke selokan yang tampak kotor karena ada airnya. Tapi Riana tidak merasa jijik sama sekali.


"Ini tas kamu. Ini agak kotor dan terkena air," kata Riana.

__ADS_1


Rio mengambil tas dari tangan Riana.


"Tidak apa-apa. Terima kasih. Nama kamu siapa?" tanya Rio.


"Riana. Anak kelas 2. Kalau kamu?" tanya Riana.


"Aku Rio, anak kelas satu," jawab Rio sambil tersenyum.


"Mili sekarang, kalau mereka ganggu kamu lagi, bilang saja padaku. Aku pasti akan membela kamu," ucap Riana agak sombong.


"Bisakah kita berteman?" tanya Rio.


Riana dan Rio setuju untuk berteman. Sejak itu mereka terlihat bersama setiap jam istirahat dan pulang sekolah. Rio sangat mengagumi Riana. Bahkan dia sempat mengatakan pada Riana hal yang sangat tabu bagi anak seusia Rio saat itu.


"Riana, jika sudah besar nanti, aku pasti akan menikahi kamu. Saat itu, aku harap kamu akan menerimaku," ucap Rio terlihat serius.


Rian Hany tersenyum dan menganggap apa yang dikatakan Rio hanyalah gurauan anak kecil. Mereka masih anak-anak dan tidak ada yang harus dianggap serius.


Masa-masa kebersamaan mereka hanya berlangsung satu tahun saja. Rio dan keluarganya harus pindah ke luar kota untuk mengikuti pekerjaan sang ayah. Rio sangat sedih saat dia berpamitan pada Riana. Mereka berjanji untuk tidak akan saling melupakan. Mereka akan tetap berteman.


Tetapi siapa sangka, setelah kepergian Rio, kedua orangtua Riana mengalami kecelakaan dan Rian terpaksa dititipkan ke panti asuhan. Riana hidup penuh dengan liku-liku kehidupan sehingga dia sudah tidak lagi teringat pada sahabat masa kecilnya, Rio.


Selama ini, Rio sudah susah payah mencari keberadaan Riana. Dia menelusuri tempat tinggal dan sekolah Riana waktu kecil. Tetapi, mereka semua tidak ada yang tahu kemana Riana pergi.


Sampai suatu hari, dia bertemu Riana saat kecelakaan yang terjadi padanya. Riana kembali menjadi penyelamat hidupnya. Disaat mobil yang ditumpanginya akan meledak, Riana dengan berani dan tanpa takut, berusaha menariknya dari dalam mobil.


Tepat setelah Rio berhasil dikeluarkan oleh Riana, mobil Rio meledak. Tetapi sayangnya, mereka berdua pingsan di tempat.


Setelah sadar dan kondisi Rio mulai membaik, dia mencari tahu keberadaan gadis yang sudah membantunya. Riana, gadis dari panti asuhan yang ternyata adalah teman masa kecilnya. Sekian lama mencari, tidak berhasil mendapatkan informasi. Tetapi ternyata Tuhan berkehendak lain. Mempertemukan mereka di saat yang genting. Dan lagi-lagi, Riana menjadi pahlawan baginya.


Sayangnya, saat Rio ingin menemui Riana, ternyata Riana sudah menikah dengan Anwar. Kebetulan, Anwar adalah teman sekolah Rio. Dengan beberapa siasat, Rio berhasil membuat Anwar dan Riana bercerai. Bahkan sekarang, Rio sudah berhasil mewujudkan impiannya menikahi Riana.


Harusnya, Rio senang. Tetapi dia kecewa dan marah karena Riana sama sekali tidak mengingatnya. Rio menarik napas dalam-dalam. Lamunannya terhenti, saat mendengar Riana bergumam dan menangis dalam tidurnya.


Dia pasti sedang bermimpi buruk. Dan akulah yang telah membuat hidup Riana terasa buruk. Maafkan aku, Riana.

__ADS_1


...****************...


__ADS_2