
" masyaallah manis sekali" puji Adam tanpa sadar.
" Ohh berarti gue gak cantik gitu" Adam heran kenapa Sakinah jadi sewot.
" Cantik itu relatif sakinah semua wanita itu cantik tapi tidak semua wanita manis" jelas Adam.
Sakinah mati Matian menahan senyumnya agar tak terlihat tapi gagal dia tak tahan di puji seperti itu sampai Sampai dia menutup wajahnya dengan cadar di tangannya.
" Loh kenapa mukanya jadi merah begini, Disni panas ya?" Adam sengaja menggoda sakinah.
"Dasar Agus gila" lirihnya
" Bismillah semoga kamu bisa Istiqomah dengan hijab kamu" doa Adam untuk sakinah.
" Gue pakai hijab cuman hari ini doang ya jangan salah paham Lo" Adam hanya tersenyum mendengar penuturan dari Sakinah.
Selesai sudah mendandani istri tampannya sekarang waktunya mereka keluar untuk menunjukkan mempelai wanitanya.
" Sakinah tunggu" baru saja sakinah akan keluar Adam menarik tangannya.
" Kamu tidak pakai ini" Adam menunjukkan sebuah cadar di tangannya.
" Gak mau"
" Kenapa?"
" Percuma make up mahal mahal masa di tutup, orang nanti ga bisa liat muka gue"katanya yang langsung pergi meninggalkan Adam.
Adam hanya bisa ngelus dada saja melihat tingkah istrinya.
"Sakinah tunggu saya,kamu jalannya cepat Sekali" teriak Adam langsung menyusul Sakinah dan menggandeng tangannya.
" Apaan sih dam jangan heboh deh" ucap Sakinah malas dia berusaha melepaskan tautan tangan mereka namun tak bisa tenaga adam lebih kuat.
" Untuk hari ini saja nanti mereka kira kita menikah karena terpaksa"
" Kan emang terpaksa"
Lagi dan lagi Sakinah membuat luka di hati Adam kenapa ucapannya begitu tajam.
"Wahh itu dia pengantin kita" yang tadinya duduk kini semua orang berdiri menyambut pengantin yang akan tiba bahkan fotografer sudah memotret dari tadi.
" Ya Allah besti ini lu? Kok beda sih kayak ustadzah" tawa Naila seketika pecah saat itu juga.
" Awas lu ya kalau kawin sama Ryan gue ledekin 7 hari 7 malam mampus lu" ucap sakinah sedikit menendang kaki Naila.
" Sakit anjir" Naila meringis karena kaki nya di tendang.
" Lagian gue maunya sama Aris bukan sama Ryan lagi" katanya dengan memukul lengan sakinah pelan.
Ryan yang mendengar itu sedikit gelisah entahlah dia tak enak hati saat Naila mengatakan tak ingin dengan dirinya lagi.
"Canda ariss" lihatlah Naila berani beraninya dia mempermainkan Ryan.
"Ayo kalian berdua duduk dulu" ummi menuntun pengantin baru itu untuk duduk.
" Kalian berdua sekarang sudah menjadi pasangan, jika ada masalah coba selesai kan dulu secara baik baik jangan mengambil keputusan yang akan merugikan kalian" ummi mengelus kepala Sakinah sayang.
" Iya ummi pasti Adam ingat nasihat ummi" Adam memeluk sang ummi begitu juga dengan Sakinah.
Semua orang yang datang ke pernikahan mereka memberi doa dan ucapan selamat kepada pengantin begitu juga dengan Naila dan Ririn mereka juga mendoakan yang terbaik untuk pernikahan Sakinah.
" Eh dam adek gue mana" tanya Sakinah pasal nya ia tak melihat adik kesayangannya itu.
__ADS_1
" Tidak tau" jawab Adam.
" Dasar gitu aja ga tau" Sakinah berdiri lalu mulai mencari sang adik ke seluruh penjuru masjid.
Sakinah sampai ke belakang masjid, ia Melihat sang adik tengah menangis sambil memandangi langit.
" Dorrr" Raka terlonjak kaget karena tiba tiba saja seseorang memeluknya.
" Mbak kinah kaget aku" Raka dengan cepat menghapus air matanya.
" Cowok kok nangis sih, kamu itu harus lakik masa cuman gini aja nangis"
" Gpp cuman sedih aja,mbak sekarang udah ada yang punya" Sakinah masih setia memeluk sang adik.
" Walaupun mbak udah punya suami tetap dek Raka yang mbak sayang" begitulah sakinah dia sangat menyayangi sang adik lebih dari apapun.
Semua itu tak luput dari penglihatan Adam, dia hanya tersenyum melihat mereka,dia kira sakinah orang yang tak akan bisa selembut itu.
" Sakinah, semua tamu akan pulang lebih baik kamu ada di sana sekarang" Sakinah langsung melepas pelukannya saat mendengar suara Adam.
" Iye ini gue mau ke sana" sakinah menggandeng tangan sang adik menuju ke dalam masjid.
" Terima kasih buat kalian semua yang sudah mau datang ke acara sakral anak kami" ucap Abah kepada para tamu yang hadir.
abah dan Adam mengantar para tamu sampai ke depan masjid karena memang sebentar lagi akan adzan Dzuhur.
" Gimana mi, kita langsung pulang apa si Adam langsung pergi ke rumah nya" Abah bertanya pada ummi namun yang di tanya malah menatap putra sulungnya.
" Langsung ke rumah Adam saja" kata Adam dengan tangan yang masih menggandeng sang istri.
Sakinah bingung maksudnya apa dia sih iya iya saja.
"Adam gue ngantuk...." sakinah merengek pada Adam dia bahkan sudah menarik narik tangan Adam pertanda sudah tak tahan.
" Diem! Lu itu ga di ajak"
" Dih siapa juga yang mau di ajak lo najis"
Semua orang yang ada di sana tak habis pikir ada saja hal yang akan di perdebatkan Mereka berdua.
"Sudah jangan berdebat, sekarang Sakinah ikut Adam, Naila Ririn sama Raka ikut sama Ryan biar Abah sama ummi dengan Aris" perintah Abah semuanya langsung patuh.
Abah, ummi dan Aris sudah pulang duluan ke ndalem mereka tak bisa lama lama meninggalkan pesantren.
" Rakaaaa ihh kamu disini kok gue ga tau ya" Naila langsung berhambur memeluk Raka.
" Udah gede sekarang makin ganteng aja" Raka sudah kesakitan di buat Naila karena Naila mencubit kedua pipinya.
" Nai emang gila ni anak, adek gue kesakitan itu" Naila langsung melepaskan tangannya, ia mengusap usap pipi Raka karena merasa bersalah.
" Ekhem" Ryan berdehem, Naila merasakan aura menyeramkan saat mendengar Ryan berdehem seperti itu.
" Hehehe tenang aja mas Ryan paling ganteng kok paling hot" Naila memberikan jempolnya di depan wajah Ryan.
" Singkirkan tangan mu" tatapan ryan begitu tajam Sakinah saja sampai merinding.
" Adek lu serem ya dam kalau cemburu" bisik sakinah.
" Memang seperti itu biarkan saja" balas Adam tak mau tau.
" Iya gue minta maap lagian ini kan adeknya si sakinah dari kecil udah Ama gue" jelas Naila.
" Kenapa kamu jelaskan,saya kan tidak tanya"Ryan sudah berjalan keluar masjid Naila mengejar Ryan membujuknya agar tak marah.
__ADS_1
"Dasar Naila" Ririn geleng geleng kepala melihat nya,terpaksa ia harus ikut menyusul bersama kedua orang bucin itu.
" Mbak,Raka duluan ya assalamualaikum" Raka menyalimi tangan Adam dan Sakinah bergantian.
Saat menyalimi tangan kakaknya,tangan Raka malah di tahan oleh sakinah.
" Eh tunggu dulu kayak ada yang gue lupa tapi apa ya" sakinah merasa ada yang kurang di pernikahannya.
Adam sudah deg deg an Begitu juga dengan Aris mereka berdua takut Sakinah akan bertanya sesuatu yang seharusnya tidak mereka jawab sekarang.
" Astagfirullah Mak gue dam" heboh sakinah.
Sudah mereka duga Sakinah pasti akan bertanya seperti ini.
" Dek si emak ga ikut kah kasian dia sendirian di rumah ada siapa di sana, aduh masa Mak gue ga liat gue kawin sih" tubuh Aris sudah dingin ia berusaha keras menahan air matanya.
"Eeeee... Anuu mbak si emak lagi sakit kata dokter tidak boleh melakukan perjalanan jauh" Ainun jadi sedih tapi tak apa dari pada sesuatu terjadi pada ibunya yang penting wanita tersayang nya sudah tau ia akan menikah.
" Mak bilang apa dek kasih restu gak" tanya Sakinah.
" Rahasia wlee" Adam tertawa Melihat Raka sudah ngacir dari sana karena sudah berhasil mengejek kakaknya tapi langsung kabur.
" Dasar bocil"
" Dik sakinah mau pulang atau tidak" pertanyaan Adam malah membuat Sakinah terlihat heran kenapa Adam memanggilnya dik( adik).
Tanpa pikir panjang Adam menarik tangan sakinah sampai ke mobil.
Saat di perjalanan tidak ada yang bicara sama sekali mobil menjadi sangat sunyi.
"Dam" panggil Sakinah
" Apa dik" Adam menoleh sekilas menunggu perkataan selanjutnya.
" Lo kok manggil gue dik sih gue kan bukan adek Lo" menurut Sakinah panggilan Adam itu sangat tidak aestetik.
" Sudah bagus itu, tidak enak jika saya panggil istri dengan namanya saja tidak sopan" nah Kalimat itu sebenarnya sindiran namun si Sakinah tak mau mengerti.
" Gue ga mau ah di panggil begitu udah kayak orang Jawa medok banget"
" Kan memang saya orang Jawa kenapa emang tidak suka ya?"
" Iya ga suka" kata Sakinah memalingkan wajahnya ke jendela mobil
" Emangnya kamu itu suku apa" Adam bertanya seperti itu mungkin saja sakinah ingin menikah se suku.
" Suku Jawa asli Ponorogo tapi tinggal di Jakarta jadi ga bisa bahasa Jawa kalau adek gue bisa" jelas sakinah.
" Lah, orang Jawa toh dik tapi ora iso ngomong nya" Adam heran sendiri jadinya.
" Udahlah cepetan bawa mobilnya badan gue gerah pengen mandi" Adam melajukan mobilnya sesuai perintah sang istri.
"Loh kok pesantren di lewati sih dam"
" Diem cobak kamunya, katanya mau pulang" Adam memberhentikan mobilnya tepat di depan gerbang rumah yang sangat mewah.
" Waduh buset rumah siapa dam bagus bener" sakinah takjub melihat desain dari rumah itu menurutnya sangat mewah walaupun ada sedikit sentuhan jawanya.
" Rumah kita" jawab Adam.
Sakinah menganga tak percaya di buatnya.
" Lu ngepet ya dam?"
__ADS_1
" Otak mu itu beli dimana nanti saya minta servis sama yang jual" malas sekali Adam mendapatkan pertanyaan bodoh seperti itu.