Istri Tampan Milik Gus Adam

Istri Tampan Milik Gus Adam
permintaan maaf


__ADS_3

Hari ini terhitung sudah 3 hari sakinah berada di rumah sakit dan akan pulang siang ini namun sejak kejadian itu Adam tak pernah muncul hanya abah,ummi, Fatimah dan Ryan tidak dengan adam entah kemana Calon suami sakinah itu.


" Yok ki gue udah lipat baju baju lu udah disimpan dalam tas" ucap Naila.


Naila menggandeng sakinah keluar dari rumah sakit untuk di bawa ke kosnya.


Sedangkan Ririn dia sudah lebih dulu pulang ke kos untuk membersihkan kamar agar sakinah bisa istirahat dengan nyaman.


"Nai Adam semarah itu ya sama gue sampai sampai ga mau jenguk pulang pun kagak di jemput" Naila sudah malas mendengarnya sejak semalam sakinah selalu bilang begitu.


" Makanya udah gue bilang kan, nanti kalau si Adam ga mau kawin ame lu baru nyahok" Sakinah jadi takut kalau emang iya.


" Lu kok jadi negatif thinking sih nai" Naila terkekeh melihat sakinah yang gelisah.


"Neng udah nyampek" kata sang supir taksi,mereka turun dan sudah ada Ririn yang siap untuk menyambut sakinah di gerbang.


" Kok lama sih Ki, ayok aku buatin kamu sup ayam tadi" Ririn tau makanan kesukaan sakinah dari Naila.


Mendengar sup ayam sakinah langsung saja bergegas ke kos dan gandengan tadi di ambil alih oleh Ririn.


" Dasar Ririn biadab" makinya pada Ririn.


" Jangan sering sering mengumpat Naila"tegur Ryan yang sedang mengendarai motornya menuju kampus.


" Hati hati mas ryann" teriak Naila padahal Ryan sudah jauh tapi teriakan Naila masih bisa di dengar Ryan, responnya hanya jempol saja namun bisa di rasakan pipi Naila bersemu merah.


" Wahh enak masakan lu Rin kapan kapan masak lagi ya" puji sakinah pada Ririn, pipinya menjadi merah di puji seperti itu.


" Iya Ki pasti aku masakin lagi" balasnya sambil menyisir rambut Sakinah.


" Assalamualaikum teman teman" Naila masuk dengan wajah yang sangat bersinar.


Sakinah sudah tau penyebabnya


" Pasti abis ketemu pujaan hati" tebak sakinah.


Naila mengangguk bahagia, Ririn juga ikut bahagia Melihat Naila sudah bisa kembali lagi seperti dulu.


" Mana sup nya Rin gue laper" mereka berdua saling pandang, sakinah menggaruk tengkuknya yang tak gatal.


" Sup nya udah masuk ke Perut gue semuanya kalau mau gue muntahin"


" Dih jorok Anjir" Naila tak bisa membayangkan sup itu keluar dari mulut sakinah.


" Nanti aku masakin lagi nai tenang aja bahan bahannya masih ada"


sebenernya Naila bingung terhadap sikap ririn terkadang buat kesal terkadang juga buat kita senang.


" Woke lah gue mau ke ndalem mau kasih tau ummi kalau Lo udah pulang" Naila pergi namun di cegat sakinah.


" Gue ikut" pintanya


" Lo tuh istirahat aja jangan banyak tingkah dulu Ki"


" Pokoknya gue ikut pliss" pintanya, tak tega melihat wajah mengenaskan milik sakinah ya sudah di iyakan saja.


" Aku ga ikut di rumah aja" nah kan Ririn bikin Naila kesal lagi.


" Ya udah gue juga gak ngajak lu" sakinah mencubit pinggang Naila.


" Aduhh anj ngapain lu cubit gue" Naila menepis tangan sakinah dari pinggangnya.


" Rin makasih ya, lu istirahat aja kita cepet kok" sakinah bergegas pergi menarik tangan Naila dari kos.


Di perjalanan


" Lu apa apaan sih nai kayak bocah aja, kasian si Ririn jangan kasar sama dia" marahnya pada Naila.


" Terserah" entah lah Naila jadi malas kalau sakinah lebih membela Ririn.


" Assalamualaikum ummi" ucap mereka secara bersamaan.

__ADS_1


" Walaikumsalam" ternyata yang buka pintu bukan ummi melainkan adam.


" Ummi sedang ada acara di luar kalian boleh kembali nanti selepas Maghrib" katanya dengan dingin. Sakinah saja takut Melihat wajah Adam sekarang.


Saat akan menutup pintu sakinah menahannya


" Gue mau ngomong" Adam membuka pintunya kembali


" Dam Lu gak jadi kawin Ama gue ya" tanyanya, entah lah sakinah hanya takut kalau memang iya.


" Menurut mu" tanya adam balik


" Kan gue tanya kok lu tanya balik sih" disini lah yang membuat Sakinah tak menyukai sifat Adam.


" Iya menurut mu seperti apa" ulangnya


"Hemmm.... Apa ya .....kalau kata gue sih jadi pasti" Sakinah mengatakan itu dengan sangat pede.


" Ya sudah kalau begitu" Adam akan menutup pintunya kembali tapi


" Adam gue minta maaf" ucap sakinah cepat dia agak malu mengatakannya.


" Iya"


Satu kata tapi mampu membuat Sakinah tersenyum begitu lebar.


" Kapan ijab qobul nya" tanyanya penasaran.


" Besok"


" Whatt?? Besok, kok cepet sih Mak gue belom gue kasih tau adek gue juga belom tau gue kawin" ucapnya tak terima dengan keputusan mendadak dari Adam.


" Bukan kawin tapi menikah" koreksi adam.


" Saya sudah lamar kamu ke rumah mu, kemaren ibumu setuju walaupun saya kerjanya cuman pegang kitab" sindiran Adam itu tentu untuk Sakinah.


" Masih dendam ternyata" gumam sakinah.


Sakinah memicingkan matanya curiga, benarkah adam ke rumahnya tapi tau dari mana alamat nya, baru ingin bertanya Adam mengeluarkan sesuatu dari sakunya lalu memberikannya pada Sakinah ternyata itu adalah handphone milik Sakinah.


"Dam makasih ya,huh untung gak..." Saat mengangkat kepalanya ternyata Adam sudah tak ada di depannya keterlaluan.


" Dasar Agus gila" sakinah menendang pintu ndalem lalu pergi diikuti Naila dari belakang.


" Tuh kan masih dendam hayolo di bujuk pacarnya" Naila menggoda sakinah terkikik sendiri.


" Isss awas aja kalau kawin gue kasih perhitungan" sakinah mengatakannya dengan wajah yang serius.


" Ralat bukan kawin tapi menikah" Naila mengikuti gaya adam bicara.


" Bacot lu Sama aja kalik"


" Beda lah say, kalau kawin tuh begituan Ama lakik, kalau menikah ya ijab qobul"


"Begituan apa" tanya sakinah polos.


" ******* maksud gue" ucapnya frontal.


Sakinah yang mendengar ucapan frontal itu menyumpal mulut naila dengan daun yang ada di tangannya tadi.


" Heh mulut,kalau ketahuan si Ryan mana mau dia Ama lu" bisik Sakinah ke telinga Naila.


" Ga denger dia lagi di kampus" Naila mesem mesem sendiri mengingat dirinya di hadiahi jempol.


" Yaela menghayal lagi gue tinggal aja lah" Naila yang tersadar langsung menyusul Sakinah yang berlari meninggalkannya.


" Tunggu anjir" teriaknya.


Karena berlari kencang membuat Sakinah menabrak orang di depannya.


"Bruk" Sakinah jatuh namun di tahan oleh laki laki itu tak lama kemudian di lepas.

__ADS_1


" Anjir, nolong tuh yang ikhlas mas,udah di tolong malah di jatuhin" omelnya kepada lelaki tak di kenal itu.


" Maaf mbak saya tidak sengaja awalnya saya kira anda laki laki tapi pas saya teliti anda ini perempuan" jelasnya tapi mata Naila yang melihatnya tak bisa berkedip, wah Naila ternyata mata keranjang.


" Wahh ada yang sama beningnya kaya Ryan apa gue tinggalin Ryan aja ya lalu berpaling ke mas ini" gumam nya yang tersenyum sendiri seperti orang setres.


Sakinah melihat Naila tak berkedip menggeleng kan kepalanya bisa bisanya lihat yang bening Ryan langsung di lupakan.


" Nai ngedip nai ngedip" sekali lagi Sakinah merusak momennya yang berharga.


" Apaan sih Ki sirik amat liat orang bahagia" kesal Naila.


" Hai mas ganteng kok aku baru lihat mas ganteng Disni" goda Naila, laki laki yang merasa dirinya di ajak bicara memilih menundukkan pandangannya.


"Mas yang cantik di depan bukan di bawah" katanya sedikit merajuk.


"Namanya siapa mas" tanya Naila lagi.


"Aris Munandar"jawabnya singkat


" Udah udah ayok nai, giliran yang bening aja melek Lo" belum juga memberi tahu namanya sakinah sudah menarik dirinya pergi dari hadapan Aris.


" Gadis aneh" lirihnya tersenyum


"Mas Adam saya tadi ketemu sama 2 gadis aneh" Adam sudah tau siapa gadis aneh itu pastinya yang itu.


" Apakah salah satu nya seperti laki laki" tanya adam pada Aris yang sedang menyeruput teh hangat manis.


" Iya dia gadis yang tampan tapi satunya cantik tapi agak gila sepertinya" Aris terkekeh jika mengingatnya.


" Yang gadis Tampan itu calon istri mas" Aris kaget mendengar penuturan dari masnya.


" Kok bisa mas? Di jodohin ya" Adam mengangguk benar.


"Besok mas sudah menikah dengan dia" Aris kaget untuk yang kedua kalinya, pasalnya di ndalem tak ada persiapan apa pun.


" Nikahnya di mana mas kok belum ada persiapan"


"Di masjid kota ini" jawabnya lalu pergi ke kamarnya meninggalkan Aris.


Hari sudah malam Abah dan ummi sudah pulang tapi tidak berdua saja mereka datang dengan membawa seseorang, dia adalah adik Sakinah yang sengaja di jemput Abah dan ummi dari Surabaya.Adam dan Aris menyambut kedatangan mereka dengan suka cita.


" Bagaimana di perjalanan baik baik saja kan?" tanyanya pada lelaki remaja berusia sekitar 15 tahun.


Remaja itu mengangguk yang berarti benar dia baik baik saja selama perjalanan.


" Oh ya saya lupa nama kamu siapa" tanya adam.


" Ya ampun le Calon adek iparmu suruh istirahat dulu jangan malah di tanya tanya" omel ummi karena putranya tak membiarkan adik Sakinah beristirahat.


" Maap ya dek, ya sudah kamu bisa istirahat di kamar tamu nanti di antar sama Ari sepupunya mas" Adam menyuruh Ari untuk mengantar adik Sakinah ke kamarnya.


Saat akan melangkah pergi,adik Sakinah berhenti lalu membalikkan badannya menatap Adam lama, adam yang di tatap seperti itu hanya senyum saja.


" Nama saya Raka Nusantara" ucapnya kemudian melanjutkan langkahnya mengikuti Ari di depan.


" Kakak sama adek sama aja, sama sama aneh" gumamnya pelan.


Di lain tempat sakinah sedang memainkan Handphone nya sedangkan Naila dan Ririn tidur cantik.


" Loh adek gue kok nelpon sampai 10 kali ada apa ya" dia meng scrooll layar hpnya di tanggal tertulis adiknya menelpon pada hari di mana dia tenggelam di danau 3 hari yang lalu.


" Ini siapa yang angkat ya" sakinah heran melihat ada panggilan masuk dari adiknya yang terjawab kira kira siapa yang angkat.


" Apa Naila ya?" Jika di pikir pikir oleh Sakinah lagi tak mungkin orang handphone nya dengan adam 3 hari ini.


Tak lama kemudian dia melotot kan matanya


" Ini yang angkat pasti si Adam" siapa lagi kalau bukan adam pikirnya lalu beranjak ke kasurnya untuk tidur.


" Oh iya besok gue nikah kok gak dikasih gaun nikah sih" padahal Sakinah dari tadi sudah menunggu gaunnya tapi tak kunjung datang.

__ADS_1


Dia jadi ragu apakah Adam benar akan menikahi nya esok.


" Biarin aja lah ga peduli kalau mau kawin ya kawin ,gak ya gak" dia menarik selimutnya dan sudah mulai masuk ke alam mimpinya.


__ADS_2