Istri Tampan Milik Gus Adam

Istri Tampan Milik Gus Adam
perkara baju


__ADS_3

Keduanya telah sampai tepat di depan pintu rumah adam,sakinah hanya diam saja di sana tak kunjung masuk ke dalam dia masih heran apa benar ini rumah adam atau Adam hanya prank saja.


"Sakinah masuk" intrupsi dari Adam menyadarkan sakinah dari keterdiamannya.


" Dam kita gak tinggal di ndalem kah" Adam melirik sakinah dia jadi pusing jika sakinah terus bertanya.


" Kamu memangnya tidak mau punya rumah sendiri masa mau numpang sama orang tua" Adam menarik tangan sakinah untuk masuk ke dalam rumahnya.


Mereka menaiki satu persatu anak tangga sambil berpegangan tangan, sebenarnya sakinah masih ngelag makanya ia tak sadar dari tadi Adam menggandeng tangannya,Adam sih malah suka suka saja.


" Ini kamar kita berdua, sana mandi katanya gerah" Adam meletakkan koper sakinah di dekat lemari dan mulai membukanya untuk di kemasi.


" Gilaaa bagus banget kamarnya" sakinah takjub dengan isi kamar adam yang sangat besar dan rapih tentunya.


Mata sakinah Melihat Adam yang sedang mengemasi kopernya untuk di masukkan ke lemari tapi dia teringat sesuatu ada benda yang tak boleh di lihat Adam.


" ADAMMM STOPP"


Adam terlonjak kaget mendengar teriakan sakinah yang begitu keras, sakinah menghampiri Adam dan merampas koper itu.


" Biar gue yang kemas" katanya pelan.


" Tidak usah kamu itu lelah lebih baik mandi saja habis itu solat Dzuhur" Adam menarik lagi koper yang di pegang sakinah.


"Adam jangan!! ada benda keramat di koper itu biar gue aja"  Adam memicingkan matanya curiga.


" Kamu bersekutu sama setan?"


" Kalau benar iya buang sekarang benda itu saya tidak suka" lanjutnya dengan nada menyeramkan.


Sakinah menggeleng kan kepalanya berkali kali bukan, bukan itu yang sakinah maksud dasar Adam tidak peka.


"Kalau begitu biar saya saja yang buang" adam membuka lagi koper yang di tutup sakinah, ia mencari cari benda keramat yang di maksud sakinah.


Dia bahkan mengacak acak isi koper itu namun nihil hanya pakaian dalam sakinah saja yang ada,karena baju baju sudah di letakkan Adam di lemari tadi.


Sakinah sudah ngacir ke kamar mandi dia sangat malu, Adam dengan polosnya memegang satu bra miliknya di tangannya.


Adam yang tersadar maksud benda keramat itu adalah pakaian dalam,langsung terkekeh rendah kenapa istrinya itu tidak bicara langsung saja kalau ia malu.


" Sakinah saya mau taruh di mana bra warna merah ini " teriak Adam menggoda Sang istri.


" Adam gila" balasnya dari kamar mandi.


Adam tertawa lepas karena berhasil menjaili sang istri.


Dia melanjutkan mengemasi baju baju sakinah,dia Melihat tak ada satupun pakaian perempuan hanya berisikan baju dinasnya, baju kaos,celana pendek dan celana jins itu pun lutunya robek- robek.


Adam berpikir akan membakar bajunya sakinah setelah dia mandi nanti.


" Adam gue gak bawa handuk ambilin dong mas suami" sakinah sengaja menggunakan kata mas suami untuk membalas Adam.


Mendengar sakinah memanggilnya mas suami, Adam di buatnya greget sendiri,ingin mencubit mulutnya itu.


"Ini handuknya"


Adam memberikan handuk itu di depan pintu kamar mandi, sakinah mengambilnya,dengan sengaja dia meraih handuk itu sekaligus menyentuh tangan Adam.


" Jangan mancing saya nanti di terkam kamu marah" setelahnya berlalu untuk turun mandi dan solat di bawah.


Sakinah merinding di buatnya,dia tak akan memberikan sesuatu yang berharga itu untuk Adam.


" Awas aja si Gus Gus itu nyentuh gue" dengan cepat sakinah keluar dari kamar mandi dan memakai pakaiannya,sangat cepat takut Adam masuk.


Di rasa sudah selesai sakinah jadi ingin turun kebawah karena Perutnya sedari tadi menahan lapar.


" Kamu sudah solat sakinah?" tanya adam saat Melihat sakinah turun.


" Belom" ucapnya santai tapi tidak dengan orang yang di hadapannya.


Tatapan itu begitu nyalang, sakinah jadi takut menatap matanya.


"Tu mata dulu ga berani natap gue lebih dari 5 detik sekarang berani beraninya dia natap gue begitu" gumamnya kesal.


" Solat atau saya solatkan!!" ancam nya.


" Astagfirullah dam lu mau jadi duda? Belom juga bikin anak Ama gue udah ngebet bgt jadi duda" sudah lah lebih baik dia pergi solat saja dari pada di marahi Adam.


Setelah sakinah pergi,adam tersenyum sendiri karena perkataan Sakinah.


"Sakinah kenapa kamu selalu buat saya tertawa dan bahagia dengan ucapanmu, saya takut nanti berharap lebih terhadap mu sedang kamu hanya bercanda"


Adam memilih memasak saja sambil menunggu sang istri selesai solat.


Tapi di sisi lain bukannya solat sakinah malah merokok di pojok kamar memikirkan sesuatu.


Dering telepon berbunyi, itu punya Sakinah.


"......."


" Iya gue tau tenang aja, tapi bayaran oke kan?"


"........"


" Bangsat banget omongan Lo, jangan bawa adek gue dalam rencana busuk lo" sakinah langsung mematikan teleponnya dan memblokir nomor tadi.


" Sialan" umpatnya yang masih menyesap batang rokok.


Tak lama telephone tadi berbunyi lagi namun nama yang tertera adalah Naila.


" Bestiiiii aaaa gue kangen sama monyet kesayangan guee huwaaa" Naila begitu heboh di telpon.


" Alay Lo nai" Naila jadi semakin dramatis.


" Ihh kok begitu sih kan gue kangen" tuh kan di bilang juga apa Naila ini hoby sekali menangis.


"Nai Lo punya tangki berapa bisa nampung air mata banyak bener" sudah dari dulu selalu saja seperti itu.


" Udah ah gue laper mau makan bayy" sakinah mematikan sambungan telepon nya.


Sebelum itu dia membuang bekas rokonya ke dalam tong sampah yang ada di kamar dan turun ke bawah untuk makan siang.


" Aduh pak suami udah nyiapin masakan ya, jadi ga sabar pengen makan" dia sudah menangambil piring beserta nasi padahal lauknya belum di taruh Adam ke atas meja.


" Sakinah bantu saya bawa lauknya dulu ke meja,baru makan" Adam memberikan mangkuk berisikan lauk pauk untuk di bawa sakinah ke meja.


Setelah meletakkannya sembarangan,dia langsung menyantap makanan itu tanpa menunggu suaminya.


" Kamu itu makan yang pelan pasti belum baca doa" sakinah hanya melirik Adam sekilas lalu melanjutkan makannya lagi.


Adam hanya bisa geleng-geleng kepala melihat tingkah istrinya dia ikut makan di samping Sakinah, bisa diliat sakinah sangat lahap sekali.


" Pelan pelan sayang nanti kamu bisa tersedak" peringatan Adam itu benar benar membuat Sakinah tersedak.


Adam memberikan segelas air minum untuk dirinya yang langsung di minum sampai tandas.


" Jangan manggil gue begitu geli dengernya"


"Hemmm" hanya deheman yang di berikan Adam.


Mereka menyelesaikan acara makan mereka, Adam sudah selesai duluan lalu bergegas pergi ke ruang kerja.


Sakinah membersihkan alat makan bekas tadi,dia terpikir perkataan orang yang di telpon apakah dia mampu melaksanakan tugasnya.


Tiba tiba saja sakinah meneteskan air matanya, dia teringat akan ibunya.


" Gue tau kok cuman nunggu kalian jujur aja" gumamnya.


Setelah selesai,Sakinah berkeliling rumah Adam,sangat indah jika di tambah tanaman di halaman belakang pasti lebih indah lagi.


" Apa gue nanam bunga aja ya tapi cari dimana" dia berpikir mencari tanaman apa yang cocok untuk rumah besar Adam.


" Oh iya di pesantren kan banyak tanaman tinggal minta aja lagian pesantren kan punya mertua gue" sakinah jadi senang hoby nya bertanam kembali lagi.


Dia mencari Adam ke seluruh rumah,tadi suaminya bilang sedang bekerja di ruangan atas dia akan menyusul Adam.


" Adamm gue pakai halamam di belakang rumah buat nanam bunga sama sayuran ya?" Izinnya, Adam menghentikan kegiatan pada laptop nya.


" Kemarilah sakinah" sakinah menghampiri Adam, dia duduk di kursi yang terdapat di depan meja kerja Adam.


"Rumah dan seisinya ini milik kamu harta saya harta kamu juga tidak perlu minta izin selagi apa yang ingin kamu lakukan membuat dirimu senang lakukanlah" kata Adam lembut,dia mengusap kepala sakinah sayang.


Sakinah hanya terdiam di tempat dia bagaikan patung karena speechless setelah mendengar kalimat adam.


" Emang bener semuanya punya gue" tanya sakinah lagi.


Adam mengangguk, pertanda benar.


" Saya lupa belum membacakan doa untuk istri saya"


Pria tampan itu meletakkan telapak tangannya di kepala wanita di depannya dia seperti membaca doa yang sakinah tak mengerti.


"Allahumma barik li fi ahli, wa barik ahli fiya. Allahumarzuqhum minni, warzuqni minhum. Allahummajma’ bainana ma jama’ta fi khair. wa farriq bainana idza faraqta fi khair."

__ADS_1


Bisik Adam ke telinga sakinah dengan tangan yang masih menempel di kepala istrinya, telinga sakinah meremang mendengar nya.


Setelah selesai Adam mencium kening Sakinah lama,pria itu meneteskan air matanya haru itu yang di rasakan adam.


" Terima kasih telah menjadi istri saya walaupun kamu belum mencintai saya tapi saya sangat mencintai kamu sebelum tragedi danau itu terjadi" bisik Adam dengan lembut yang masih setia mengelus Surai sang istri.


Sakinah tak berani menatap mata Adam, ada perasaan aneh yang menggerogoti hatinya, apakah Adam begitu mencintai dirinya, benarkah?


" Gue ga tau artinya" Adam tau wanita di depannya ini mencoba mengalihkan pembicaraan baiklah dia akan sedikit bersabar.


" Ya Allah berkahilah kehidupanku dalam keluargaku, juga berkahilah keluargaku dalam hidupku. Ya Allah berikanlah rezeki untuk keluargaku dari ku dan berikanlah rezeki untukku dari keluargaku. Ya Allah kumpulkanlah kami sebagaimana Engkau kumpulkan dalam kebaikan, juga jangan pisahkan kami kecuali dalam perpisahan yang baik" ucap Adam tersenyum menatap manik mata indah sang istri, adam gemas sendiri melihat pipi sang istri tampak merah.


" Itu artinya humairahku" Adam menciumi pipi sang istri secara tiba tiba.


Sakinah melotot kan matanya, kurang ajar itu kan ciuman pertamanya walaupun hanya dipipi tetap saja dia tak terima,dia memang bejat tapi belum ada satupun laki laki yang berani mencium nya.


" Sialan Lo berani berani nya curi ciuman pertama gue" sakinah memukul dada Adam berkali kali namun Adam merasa tak kesakitan sama sekali dia malah tertawa.


" Sekali lagi mengumpat saya cium bibir kamu" ancamnya tapi sakinah tetaplah sakinah dia akan melawan suami gilanya ini.


Sakinah pergi dari sana untuk pergi ke pesantren mengambil bunga yang akan di tanam.


" Loh mau kemana sakinah?" adam mengejar sakinah.


" Mau ke pesantren" jawabnya tapi kakinya masih terus berjalan keluar.


" Dengan pakaian seperti itu?" sakinah berhenti dia meneliti pakaiannya menurutnya tak ada yang salah seperti biasanya.


" Ini itu ootd biasa yang gue pakai ga ada salahnya" ucapnya malas.


" Ingat kamu itu istri saya, mau buat saya malu?"


" Oh jadi Lo malu punya bini kek gue,oke fine kalau gitu kita..." Belum sempat melanjutkan perkataannya suaminya menutup mulut sang istri dengan tangannya.


" Sakinah jangan bicara seperti itu kamu itu sudah dewasa, saya tidak malu kepada manusia tapi saya malu terhadap pencipta saya karena tidak becus mendidik kamu"kata Adam serius.


Baiklah kali ini sakinah percaya tapi dia tak akan mau di perintah oleh Adam dia tetap pergi dengan pakaiannya yang seperti itu.


" Ya Allah bagaimana lagi cara memberi tahu dia" Adam memilih masuk ke dalam rumah.


Dia membongkar semua pakaian yang dia masukkan tadi ke lemari, adam memilih pakaian sakinah yang masih layak untuk di Sumbangkan sedangkan pakaian yang sengaja di robeknya Adam akan bakar.


Adam meraih handphonenya untuk menelpon sekertaris sekaligus asisten pribadinya.


" Assalamualaikum,Gavin tolong kamu ke rumah saya ambil uang lalu belikan pakaian untuk istri saya"  perintah nya pada Gavin.


" Baik pak saya segera ke sana" Adam menutup telponnya.


" Saya akan jadikan kamu ibu dari anak anak saya secara sempurna" tekad Adam sudah bulat tidak bisa di tawar.


Di pesantren seperti biasa jam segini pujaan hati Naila akan pulang,makanya dia menunggu di gerbang hanya itu kesempatan dia bertemu.


" Cieee lagi nunggu babang Ryan ya" sakinah sudah sampai di depan gerbang pesantren dia melihat sang sahabat duduk dengan anteng di bawah pohon.


" Eh kok Lo disini si Ki, Lo itu harusnya di rumah melayani suami kasian si Adam tega banget" kebiasaan Naila selalu saja mengomel.


" Katanya kangen Ama gue giliran Dateng sewot"


" Lagian ya Nai gue udah kawin jangan ngomel Mulu udah kayak Mak gue aja" lanjutnya


Naila merungut mendengar nya namun tak lama,karena pujaan hati sudah datang tapi ada Aris di belakang Ryan.


" Assalamualaikum mas Ryan" Naila menghadang motor Ryan, astaga gadis ini tidak tahu malu,sakinah saja sampai bersembunyi di balik pohon karena Naila setres.


" Mas itu cewe setres ya" tanya Aris baru ini ia melihat gadis segila itu.


"Minggir Naila" ucap Ryan dingin.


" Jangan sok kull sama calon istri dong nanti nyesel pas nikah" Aris tertawa mendengar nya.


" Nikahin toh mas kasian" Naila yang merasa di ejek oleh Aris langsung memukul lengan Aris kasar.


" Aduhh, mbak saya sudah wudhu masyaallah" benar Aris tak bohong dia memang sudah wudhu.


" Mas Ryan kenapa boncengi makhluk ini sih liat masa dia ngejek aku" Ryan malas mendengar ocehan Naila yang tak jelas itu ingin pergi tapi wanita ini ada di depan motor nya.


"Naila saya mau pulang tolong minggir,bisa tidak" Ryan sedikit menegaskan suaranya, nyali Naila jadi ciut.


" Iya, tapi ini aku mau kasih kamu kue buatan aku tadi siang aku buat sendiri awas ya ga di makan" Ryan tak ingin lebih lama dia memilih mengambil saja lalu pergi.


" Makan yang banyak mas Ryan biar kuat jaga anak anak kita nanti" sakinah mendengar teriakkannya jadi berpikir harus taruh di RSJ mana sahabat nya ini.


" Gadis gila" gumam Ryan tersenyum mendengar teriakan Naila.


" Ganggu aja orang lagi bahagia" katanya dengan wajah sewot.


" Halu boleh tapi jangan berlebihan nanti overdosis baru tau" dia lebih memilih meninggalkan Naila dan masuk ke pesantren demi tujuan awalnya.


" Kikiiiiiiiii tunggu"


"Ki tau gak,si Ririn sekarang semenjak Lo nikah ga pernah keluar kamar keknya tu anak ga terima lu nikah"


Mendengar pernyataan naila membuat Sakinah sedikit berpikir sikap aneh Ririn padanya.


" Gue curiga deh dia suka Ama Lo" Naila curiga bukan tanpa alasan, Naila itu sangat peka dengan keadaan sekitar seperti kejadian Ririn dia sangat tau ada sesuatu.


" Jangan suudzon nanti di ceramahin laki gue" Naila sudah tau Kiki pasti tidak akan percaya.


" Lagian dia itu perempuan masa suka sama perempuan gila emang, mungkin dia gitu karena dia kehilangan sosok sahabat seperti gue ini" reflek Naila bilang 'dih'.


" Apa Lo ga terima makanya jangan jahat jahat sama Ririn"


Naila mendengus tak suka mendengarnya, selalu saja membela Ririn.


" Lo mau ngapain ke sini" tanya Naila penasaran.


" mau minta bunga sama ummi buat di tanem di rumah gue" Naila tersenyum aneh.


" Senyuman lu bikin gue curiga deh"


" Hehehe sekarang udah punya rumah ya, gue kapan ya punya rumah" Naila sedikit iri sahabat nya sekarang menikah duluan.


" Makanya suruh Ryan lamar lu ke gue,anggap aja gue ini keluarga lu jadi perantara"


Naila jadi terharu mendengar nya walaupun semua orang mengatakan cinta nya pada Ryan hanya obsesi tapi hanya Sakinah yang percaya cintanya tulus untuk Ryan.


" Sayang banget sama monyet gue satu ini" sakinah yang di peluk Naila tiba tiba kaget.


" Anjing lu lepasin gak! Malu gue"


" Bangsat emang,baru aja mau sosweet "


" Aela hari ini sosweet besoknya bikin kesel,Lusa minta di tabok,besoknya bikin ketawa Mulu,random sih tapi kalau ga sama Lo gue gak mau hehehe"


" Dih lu gombalin gue ceritanya, si Maemunah ternyata bisa gombal juga"


Begitu lah mereka berdua jika bertemu semua nama bintang tidak ada yang absen.


Saat di perjalanan menunju ndalem mereka bertemu Aris yang sedang menyirami bunga di pekarangan.


" Ris ada ummi gak" tanya Sakinah.


" Walaikumsalam" sindirnya.


" Ya Allah iya assalamualaikum" sakinah lupa kalau dia sedang berada di lingkungan orang alim sekarang.


" Ummi tidak ada mbak Abah juga ga ada lagi pergi ngisi acara ke luar kota cuman ada Fatimah" sakinah manggut manggut saja.


" Gue mau minta bunga sama bibit sayur ada gak,buat nanem di rumah" dia bicara pada Aris tapi matanya melihat lihat bunga di sana.


" Ambil aja mbak bunga nya kalau bibit sayur tidak ada, mbak bisa beli ke pasar atau toko tanaman" jawab Aris.


Sakinah mengerti lalu mengambil pisau untuk memotong batang bunga yang akan ia tanam,kira kira dia mengambil sekitar 10 macam tanaman.


" Oke deh thanks ya gue mau pergi semoga berhasil pdkt nya besti,muahh" ciuman sakinah tak pernah meleset walaupun Naila mengelak tetap kena.


" Bwajingan,Sialan anjir"umpat Naila kesal


tak terima di cium,Naila melempar batu kecil ke arah sakinah yang sudah berlari menjauh.


" Wleeee HAHAHA" dia senang karena sudah berhasil membuat Naila kesal.


" Naila jaga lisan kamu" peringat Ryan yang baru saja datang dari arah ndalem.


" Eh mas Ryan, maap kelepasan bibir ini sudah aku peringatkan namun bibir ini tidak mau mengerti" Naila menggeplak bibirnya sendiri.


Seakan sudah tau rencana Naila yang akan menggodanya lagi Ryan mengusir Naila.


" Pulang lah ini sudah sore jangan ganggu saya sehari bisa kan? saya ingin duduk tenang tanpa kamu bisa kan?"  Kata kata Ryan begitu menyakitkan tapi Naila sudah terbiasa.


" Oke deh aku pulang dadah Gus Ryan" Naila pamit tapi ada yang janggal dari perkataan Naila di telinga Ryan kenapa gadis itu memanggilnya Gus.


" Mungkin lagi merajuk mas" aris berkata seolah tau pikiran Ryan.

__ADS_1


|❤️|~


Jam menunjukkan pukul 4 sore sakinah sudah ada di rumahnya tapi dia tak melihat suami kaku nya itu.


" Adamm Lo dimana sih" sakinah jadi gelisah karena suaminya tak ada di rumah.


Dia naik ke atas mencari sang suami di ruang kerjanya tapi tidak ada. Sakinah melihat ada bingkai foto yang di pajang adam di meja kerjanya ada sekitar 4 orang pria di dalam foto tersebut tampak tersenyum lebar.


" Bukannya ini orang yang waktu itu,kalau mereka sedekat ini kenapa orang itu melakukan ini" pikirnya mengingat orang itu.


" Sakinah" tiba tiba saja Adam datang dari arah belakang gadis itu jadi kaget.


" Astagfirullah pak ustadz ente kadang kadang ente, duh kalau datang tuh assalamualaikum" adam tersenyum lalu memberikan tangan kanannya, sakinah mengernyit heran.


" Apa?"


" Salim"


Sakinah paham lalu mengambil tangan Adam untuk di Salim tapi kelihatannya Adam tak suka dengan cara Salim sakinah.


" Salim itu cium tangannya bukan di tempel di jidatnya"


" Banyak mau nya ni anak" walaupun begitu dia tetap mengulang Saliman tangannya dengan punggung tangan Adam.


Adam merasakan bibir sakinah menyentuh punggung tangannya jantung Adam berdesir kala itu.


" Terima kasih" ucapnya menatap intens sakinah.


" Kenapa"


" Tidak apa apa hanya ingin berterima kasih"


"Ohhh" hanya itu saja yang di katakan sakinah.


" Kamu kenapa ke sini?" tanya adam


"Cari Lo mau nunjukin bunga tapi nanti aja deh besok pagi"


" Oh ya dam ini saudara lu semua kah?" Tanya Sakinah sedari tadi begitu penasaran.


Adam duduk di sofa yang ada di ruangan itu lalu menjawab " Bukan"  nada bicaranya terlihat begitu sedih.


Sakinah ikut duduk di samping Adam dan berkata " kok jadi sedih begitu alay Lo"


" Benarkah?" tanya adam dengan kekehan rendahnya


" Y"


" Udah kaya cewe dingin ngetik aja pakek y doang" sakinah sudah malas melihatnya.


" Jadi ini sahabat lu semua atau bagaimana"


" Mereka semua sahabat saya tak sedarah tapi seperti sedarah" terdengar hembusan nafas di akhir kalimatnya.


Adam mengambil foto yang di pegang Sakinah.


" 3 orang ini sahabat saya, yang ini sudah jadi sekretaris saya sekarang"


" Sudah jangan ngomongin orang ngomong yang lain saja" sakinah bisa menebak suaminya ini ingin mengalihkan pembicaraan baiklah dia ikut alur saja.


" Gak ah mending turu"  sakinah menaruh kembali bingkai foto itu, lalu pergi dari sana.


" Kamu di mana sebenarnya" lirih Adam melihat langit langit ruangan itu.


Hari sudah malam waktu nya tidur, jam sudah menunjukkan pukul 8 malam tapi adam tak kunjung datang ke kamar,apa dia masih di pesantren karena tadi dia izin pergi ke pesantren Untuk solat berjamaah, pikir sakinah.


" Awas aja dia pulang gue Gibeng tuh lakik berani berani nya dia buang baju gue sialan" sakinah berniat membuat perhitungan.


Flashback on


Saat akan memasuki waktu Maghrib sakinah memilih untuk mandi tapi adam malah ingin pamit untuk pergi solat berjamaah.


" Dik, saya mau ke masjid solat berjamaah" katanya meminta izin.


" Ngapain minta izin tinggal pergi aja dan satu lagi udah gue bilang jangan manggil begitu gue geli"


" Iya maap spontan" Adam pergi dari kamar itu.


Sakinah lebih memilih mandi saja, setelah selesai dia berniat mengganti pakaian di kamar saja dari pada di kamar mandi lagian Adam tak ada.


Saat membuka lemari dia sangat syok saat Melihat secarik kertas tertempel di lemari itu, di sana tertulis.


" Maap ya cintaku, saya kasih baju kamu ke yang membutuhkan,sebagian saya bakar kerena pakaiannya ada yang robek robek, tapi tenang,sudah saya ganti dengan yang baru dan lebih bagus  - Adam suami mu." Sakinah meradang saat membacanya dironyoknya kertas itu lalu di buang ke sembarang arah.


" ADAMMM" teriak sakinah frustasi dia sudah jatuh terduduk lemas di lantai dengan handuk yang masih melilit di tubuh nya.


" Baju kesayangan gue hikss....."  sakinah begitu menyayangi baju bajunya karena itu di beli dengan keringat nya,kurang ajar memang.


" Awas Lo adam pokoknya gue bikin perhitungan" sakinah mengucapkan nya dengan nada yang berapi api.


Sakinah bangkit lalu mencoba memilih baju yang masih bisa dia pakai,semuanya berisikan gamis baju panjang,ada baju tidur panjang nya selutut motif nya bunga bunga lagi.


" Kurang ajar ga ada celananya lagi" sakinah terus saja ngedumel.


Dia melihat ada banyak daster berbagai macam motif menurutnya sangat cantik tapi masih bagusan bajunya yang dulu.


" Ya udah lah dari pada ga pakai baju mendingan daster aja deh"


Sakinah berdiri melihat dirinya di pantulan cermin terlihat aneh.


" Tuh kan apa gue bilang kaya banci anjir gue nya,nangis banget sumpah"


Flashback off 


" Assalamualaikum" mendengar suara Adam yang akan membuka pintu Sakinah pura pura tidur.


" Sakinah kamu sudah solat" tanyanya


adam mencoba membangun kan sakinah tapi dia agak tak tega dia memilih berhenti saja.


Adam mengganti pakaiannya di depan sang istri, sakinah sedikit mengintip apa yang di lakukan adam.


" Anjir mata gue ternodai" monolog nya


"Tadinya sih mau ngasih uang eh malah tidur" adam sengaja memancing sakinah dia sudah tau gadisnya ini hanya pura pura.


Sakinah yang mendengar kata uang langsung on matanya.sakinah pura pura menguap.


" Hoamm( anggap aja suara nguapnya)"


" Eh Adam udah pulang" tanyanya dengan nada khas bangun tidur.


Adam ingin sekali menggigit istrinya ini sangat gemas saat membohongi nya.


" Bajunya pas ya ternyata"


Sakinah teringat dia akan memberikan Adam perhitungan.


" Adam Lo apain baju gue hah?!!" sakinah sudah bangkit dan berkacak pinggang dia sudah siap untuk mengomeli suaminya.


Adam malah memilih duduk di sofa seperti orang yang sudah sangat siap mendengar ocehan Sakinah.


" Lo tau gak itu semua baju gue di beli bukan pakek daun tolol, itu semua hasil keringat gue semua Gilak kali Lo" murkanya pada Adam.


" Semuanya Lo buang emang ga ada otak, mana otak Lo itu katanya pinter"  sakinah terus saja mengomeli Adam dengan berkacak pinggang.


" Pokoknya gue ga mau tau Lo balikin baju gue atau...."


" Atau apa? Baju kamu sudah ada di orang yang tepat mereka senang mendapat kan hadiah dari kamu walaupun bekas kamu pakai" baiklah sakinah memang senang bersedekah tapi bukan bajunya juga.


" Aaaaaa Adam baju metal guee hikss..." sakinah sudah merengek di samping Adam yang duduk di sofa.


Sebenarnya Adam tak tega melihat istrinya seperti ini tapi mau bagaimana lagi demi kebaikan, untuk sehat memang harus minum obat pahit dulu iya kan?


"Aaaaa adam baju gue balikin dong"rengeknya lagi berharap bajunya kembali.


rengekan manja itu membuat Adam gemas, apalagi sakinah memakai daster jadi keliatan sangat lucu dengan rambut pendek nya itu terlihat seperti bocah.


Baiklah adam mengakui memang sakinah agak terlihat aneh memakai baju perempuan karena memang terlihat seperti laki laki menyerupai perempuan Alias BANCI


" Cup cup udah ya..... pakai yang ada saja, syukuri Allah masih bisa kasih suami mu ini rezeki buat beli baju yang baru, tuh liat sampai satu lemari" tunjuknya pada lemari yang berisikan banyak pakaian untuk Sakinah.


Adam menenangkan Istrinya yang masih terisak perihal baju kesayangan nya.


Dia menggunakan kain sorbannya untuk menghapus air mata sakinah sekaligus ingusnya itu,tak jijik bagi adam istrinya masihlah seorang gadis kecil yang manis.


Setengah jam sakinah baru berhenti itu pun karena dia tertidur. Lihatlah dia anteng sekali tidur di pelukan Adam.


Adam tak tega membangunkannya dia lebih memilih menggendong sang istri ke kasur, dia letakkan secara hati hati.


" Maap ya kekasih ku, saya tidak bermaksud membuat kamu bersedih ini demi kebaikan masa depan kamu" Adam menciumi kening sang istri lalu ikut tidur di samping nya sambil mendekap tubuh ramping sakinah.


🐢

__ADS_1


__ADS_2