
"Begini saja kamu mau tidak jika anak saya Adam tanggung jawab?" Sakinah yang sedang makan jadi tersedak karena perkataan Abah.
" Maksudnya bah?" Bukan hanya sakinah yang bingung yang lain pun juga bingung kecuali Adam.
" Saya akan menikahi kamu sebagai bentuk tanggung jawab"
" Whattt!!! Maksud Lo gue jadi istri Lo demi apa anjirrr"
" Kagak gue kagak mau titik. Gue belum mau kawin,udah dam gue maapin kok gpp lagian di peluk lu doang gue masih perawan,ga usah tanggung jawab terima kasih" sakinah hampir sesak nafas mendengar nya bagaimana bisa Adam melamar nya tiba tiba seperti ini.
" Nak ini demi kebaikan kita semua kamu tau kan keluarga Abah? Tidak pernah sekalipun anak Abah menyentuh anak gadis yang bukan mahram nya"
" Bukan begitu bah ibu Kiki lagi sakit lagi pula kalau kawin sekarang mana bisa kan harus ada walinya sedangkan adek Kiki masih sekolah di Surabaya" alibinya agar Abah tak kecewa.
" Bisa, Abah akan bawa adek mu ke sini" sakinah tak habis pikir kenapa Abah jadi memaksa nya menikah.
Sakinah menatap Naila dan Ririn berharap di selamatkan. Mereka malah buang muka seakan akan tuli 'anjir emang'.
Sakinah bingung seperti apa lagi cara menolak nya baiklah dia akan menggunakan cara ini saja.
" Mahar! Gue mau mahar 400 juta" teriaknya dengan lantang. Sakinah pikir Adam tak akan mampu karena setaunya Adam hanya seorang ustadz jadi dia tak akan bisa menikahinya.
" Saya sanggupi!" Tegas Adam
" Duh gimana ya dam gue ga bisa masak dan kagak bisa nyuci yang paling utama gue kagak bisa ngurus anak belom siap" nah ini pasti di tolak.
" Tidak jadi masalah bisa belajar" Adam sebenarnya tahu kalau sakinah berusaha keras menolak nya.
"Mak gue bisa bisa jantungan denger gue kawin tiba tiba jancok" cicitnya sambil melotot kan matanya ke arah Adam.
" Ini juga paksaan dari ibu kamu kalau bukan karena permintaan nya saya juga tidak akan mau menikahi gadis yang mudah sekali di sentuh laki laki" gumam Adam pada dirinya sendiri.
" Jadi gimana nak sakinah? Mau kan jadi menantu saya" sakinah jadi bingung,dia memang pasti akan menikah tapi bukan dengan adam.
"Aduhh bah gimana ya.... saya belum siap" lirihnya sangat pelan.
"Ya sudah tidak apa apa tapi nanti Abah harus di hukum sama Allah karena telah membiarkan anak Abah tidak tanggung jawab" Abah menunjukkan ekspresi seakan akan dia merajuk.
"Anuu... Ya udah iya...." Terdengar suara pasrah dari Sakinah
" Alhamdulillah" Abah dan ummi sangat senang sekali akhirnya Adam menikah juga. Senyum lebar terukir di bibir ummi dan Abah.
Naila dan Ririn melototkan matanya tak percaya bagaimana bisa Sakinah akan menikah secepat ini dan mendadak.
"Ya sudah kalau begitu Abah dan ummi akan Persiapkan pernikahan kalian dulu"
" Eh tunggu bah sakinah mau menikah sama si Adam tapi ada syaratnya" mereka semua menunggu syarat apa yang akan di berikannya.
" Saya mau pernikahan kami di rahasiakan dari orang orang pesantren" kata Sakinah dengan serius.
" Kenapa emang nya?" Adam merasa bingung kenapa harus di rahasiakan.
" Yaela gue belom siap lagian masa cewe kek gue bersanding dengan anak kiyai, ntar aja tunggu gue tobat" jawabnya dengan jujur.
Abah sedikit berpikir persyaratan yang di ajukan sakinah.
" Baiklah senyaman nya kamu saja" mendengar Abah menyetujui syaratnya membuat Sakinah mengulas senyuman.
"Ini sudah malam sebaiknya kamu tidur Abah dan ummi akan pulang ke rumah,kamu cepat sembuh ya biar bisa ngaji lagi" Abah dan yang lainnya pamit untuk pulang kecuali Naila dan Ririn yang tetap menemani sakinah di RS.
Setelah semuanya pergi Naila langsung saja menatap dan berniat mengintrogasi sakinah.
" Apa Mandang Mandang!!" Ketusnya.
" Ki, Beneran lu mau kawin? Yakin sama si Adam?" Tanya Naila.
" Ya udah lah kali udah terjadi mau gimana lagi" jawabnya enteng.
"Loh si Ririn kenapa tiba tiba pergi begitu" Naila heran kenapa Ririn pergi tanpa pamit.
" Ntah lah dia aneh" sakinah tak mau ambil pusing dia berusaha mengalihkan pembicaraan agar Naila tak menggibahi Ririn.
__ADS_1
"Gue jadi ga sabar liat lu jadi bini orang truss punya anak nakalnya kek lu " Naila tertawa membayangkan sahabatnya menikah nanti.
" Jaga mulut mu Bani Israel! Ternyata otak sama akal sehat lu udah berpulang ke sisi Tuhan" sarkasnya
" Hallo Ki, gimana udah mendingan?" Dokter Ali masuk bersama perawat di belakang nya yang akan memeriksa sakinah sepertinya.
" Dok gue boleh pulang gak? Bosen disini lagian gue dah sehat kok" mohon sakinah pada dokter Ali.
" Belum boleh Ki paling cepat lusa kamu bisa pulang" dokter Ali mengelus rambut sakinah sayang semua itu tak luput dari penglihatan Adam. Ternyata dia tak mengantar keluarga nya pulang,namun Ryan yang mengantarnya.
"Assalamualaikum, ini makanan buat kamu dan teman teman kamu" sakinah mengalihkan pandangannya ke arah Adam yang meletakkan 4 bungkus makanan.
" Lah? Belum pulang lu dam, gue kira udah pulang" sakinah pikir Adam ikut pulang.
" Kenapa? Tidak suka saya ada Disni begitu maksud kamu" tanyanya, tak tau kah sakinah bahwa Adam sedang panas dingin sekarang.
Dengan cepat sakinah menggeleng kan kepalanya tanda tidak seperti yang Adam bicarakan.
" Ya sudah kalau begitu saya jaga kamu di luar,perintah Abah!" Katanya dengan wajah yang sudah di tekuk sedemikan rupa.
" Lo ada masalah apa sama gue Sampek muka lo di tekuk begitu" walaupun wajah Adam memang kaku seperti itu namun sakinah bisa melihat perbedaannya.
" Maap pak, anda siapanya Kiki" tanya dokter Ali penasaran.
" Calon suaminya" jawab Adam ketus.
Dokter Ali terkejut bukan main saat mengetahui bahwa pujaan hatinya sudah ada yang punya.
" Ohh" setelah mengatakan itu dokter Ali keluar guna menenangkan hatinya.
" Ya Allah kenapa hamba harus menerima sakit hati ini" Ali mengelus dadanya yang berdegup kencang sampai sampai air matanya jatuh ke pelipisnya.
" ADAMMM!!!" Teriak sakinah nyaring.
Adam yang di panggil menoleh lalu mendekat ke arah sakinah.
" Ga usah di perjelas ANJIRR"lanjutnya sambil mencubit pinggang Adam.
" Belum kawin udah kdrt aja nih anak, wah gue ramal si Adam bakal jadi suami takut Istri"gumam Naila terkikik sendiri.
Ririn melihat kejadian itu di balik pintu ruangan sambil meremas tangannya pada gagang pintu di sana kemudian pergi lagi. Niatnya akan menemani sakinah tidur,namun Melihat itu niatnya di urungkan.
" Makanya kan udah gue bilang jangan kasih tau siapa siapa dasar kepala batu" marahnya pada Adam.
"Katanya cuman orang orang di pesantren" benarkan, Adam tidak salah sakinah sendiri yang mengatakannya.
" Bukan gitu dam gue malu, masa gue kawin sama ustadz yang kerjaannya pegang kitab" singkat tapi kata kata yang di lontarkan sakinah mampu membuat hati Adam serasa dicucuk jarum,sakit sekali.
Naila saja sampai berdebar jantungnya bagaimana bisa Sakinah mengatakan hal semenyakitkan itu.Dengan cepat Naila menutup mulut sakinah dengan tangannya.
" Goblok lu bangsat mulut lu kagak pernah dapat rangking ya di sekolah" bisiknya pada sakinah dengan tangan yang masih menempel di mulut sakinah.
" Hmphhhhh" sakinah berontak karena naila belum juga kunjung melepaskan tangan dari mulutnya.
" Minta maap ga lu sama si Adam!" Bisiknya lagi namun dengan nada yang menyeramkan.
Kemudian Naila melepaskan dekapan tangannya membuat Sakinah mengambil nafas dalam dalam. Bagaimana tidak Naila bukan hanya menutup mulutnya namun sumber pernapasannya juga.
" Bangsat,tangan lu bau tai" umpatnya kasar.
" Nafas lu bau neraka" balas Naila tak kalah sarkas.
Sakinah bingung ingin mengatakan apa,sebab Adam masih diam sambil menundukkan pandangannya. Apakah Adam sakit hati pikir sakinah.
" Eeeee.... Anu dam" belum juga selesai Adam sudah pergi keluar dari ruangan itu menyisakan sakinah dan Naila saja.
" Kan dia pergi" Naila Begitu tampak kesal kenapa sakinah seperti tak ada salah sama sekali.
Dia malah asik makan nasi bungkus yang di bawa Adam tadi dengan santai sambil menghidupkan musik.
"SAKINAHHHHH!!!" Bentak Naila sampai sampai Sakinah tersedak acara makan enaknya jadi terhenti.
__ADS_1
" Emang ya mulut lu udah kayak raja namrud sungguh berdozza" Naila sudah siap menceramahi sakinah dia bahkan sudah duduk di brankar tepat di depan wajahnya.
Tangannya sudah menempel di kedua pipi milik sakinah seperti mendekapnya erat.
" Apaan sih singkiran tangan lu dari wajah gue, najiss" sakinah berusaha keras untuk menepis kedua tangan Naila dari kedua pipinya namun nihil ia tak mampu.
" Dengerin ya sayang" ucap Naila Begitu lembut berharap sakinah akan mengerti nanti.
" Perkataan lu ke Adam itu salah banget darling, lu udah kayak injak injak harga dirinya bangsat. Sumpah gue aja sakit denger nya apa lagi si Adam"
entahlah Sakinah mendengarnya atau tidak tapi Naila akan berusaha keras agar perkataannya sampai ke otak cetek sakinah.
" Santai aja kali" ucapnya kelewat santai.
Naila jadi greget sendiri bagaimana lagi cara memberi tahu anak setan satu ini ya tuhan.
" Santai santai pala lo kotak"
" Salah kepala gue segitiga wlee" sempat sempat nya human satu ini bercanda.
" Lu tau gak, harga diri laki laki adalah bekerja dan Lo udah menghina pekerjaan mulia nya babi!!" mulut Naila sudah tak terkontrol.
" Lagian emang bener, gue ntar makan apa sama dia masa makan nunggu dia di kasih amplop" sudah cukup Naila tak tahan lagi ingin mengeplak mulut sakinah sangat kurang ajar.
"Benar kata sakinah nai, Adam kerjaannya cuman ustadz, Sakinah pasti selalu bermimpi punya suami yang bisa menyukupi kehidupannya dia pasti juga mikir kedepannya anak anaknya nanti makan apa" sahut Ririn tiba-tiba memotong pembicaraan antara Sakinah dan Naila.
"Tadi dia pergi tiba tiba sekarang datang tiba tiba juga" batin Naila yang tak suka melihat kedatangan Ririn.
Naila mendengus tak suka kenapa anak ini malah membela perilaku salah sakinah.
" Ho'oh maksud gue begitu ngerti ga lu? Ririn aja yang baru kenal gue ngertiin perasaan gue masa lu yang udah dari SMA kagak ngerti ngerti juga" sakit hati, itu yang di rasakan Naila saat ini kenapa sakinah mulutnya seperti setan sekarang.
Naila tak mampu membendung air matanya, kenapa sesakit ini di bandingkan? Naila meninggalkan sakinah bersama Ririn, entah lah saat ini Naila hanya ingin sendiri.
" Dikit dikit nangis dasar cengeng" ucapan itu terlontar dari mulut sakinah yang masih bisa di dengar jelas oleh Naila.
Naila yang sudah terlanjur menangis memilih untuk segera menjauh dari keramaian dan mencari tempat yang tepat untuk menangis.
Naila duduk di taman yang ada di rumah sakit dia termenung memikirkan ucapan sakinah yang membandingkannya dengan Ririn.
" Jadi Lo selama ini mikir gue ga pernah ngertiin perasaan Lo" tangisnya pecah, Naila memang tak bisa mendengar kata kata yang menyakiti dirinya hatinya begitu lembut sehingga jika di senggol sedikit akan layu.
" Si Ririn anjing!" Umpatnya kesal memikirkan Ririn akhir akhir ini memang dekat sekali dengan sakinah seperti lem tak ingin lepas.
" Ya ampun kalau Sakinah di ambil Ririn gue sama siapa hikss ...gue ga punya siapa siapa lagi di dunia ini cuman punya Lo sakinah hikss...siapa yang nemenin gue nanti hikss...gue sendirian didunia ini "tangisannya terdengar pilu sekali.
"Jangan pernah merasa sepi dan sendiri. Karena sejatinya kita tidak sendiri,masih ada Allah yang menemani kita" suara itu, Naila mengenalnya. Dengan cepat Naila menoleh ke samping nya dia kaget kenapa ada pujaan hatinya di sini? Ya walaupun ada jarak beberapa meter di antara mereka.
Naila tersenyum lalu menjawab
" Gue ga kaya lu ataupun ustadzah Sarah yang dekat dengan Allah, gue masih jauh dari Allah"
Ryan mendengar suara bergetar milik naila jadi sakit dadanya dia seperti tak terima air mata itu jatuh dari mata indah milik naila.
"Gue masih butuh sakinah,ya udah lah ngalah aja anggap aja Kiki ga pernah ngomong apa apa tadi" dengan cepat Naila menghapus sisa air mata yang membajiri pipi gembulnya.
"Naila,jika sudah tidak ada telinga dan pundak manusia yang bisa mendengar dan menahan keluh kesah kita,maka yakinlah masih ada tempat sujud untuk berdoa meminta kepada Allah"Ryan menjelaskan nya dengan begitu lembut.
Ryan melepas sorbannya lalu membaluti tangannya dengan sorban itu Naila yang melihatnya bingung, kenapa?
Ryan mendekati naila tak lama ia mengangkat tangannya dan meletakkan tangan yang di bungkus sorban itu untuk mengelus kepala naila dan memberikan ketenangan untuk naila
"Sudah tak apa dia sahabat mu, maafkan lah dia" ucapnya yang masih mengelus kepala naila. Sebenarnya Ryan ingin memeluk Naila agar dia kuat tapi Ryan sadar itu perbuatan yang sangat salah karena dia masih tau batasan.
Naila saja sampai terharu melihat apa yang di lakukan Ryan,Naila jadi speechless.
Tersadar apa yang sudah di lakukan nya Ryan buru buru menghentikan aksinya yang mengelus kepala naila.
" Kok berhenti sih mas Ryan" wah si Naila kambuh lagi,ini lah yang membuat Ryan tak habis thinking.
" Jangan berharap lebih karena sekarang kamu mencintai bukan dicintai"
__ADS_1
kejam! Itu kata yang tepat untuk Ryan dasar laki laki sudah bikin nyaman malah di tinggali. Lihat lah bahkan Ryan pergi tanpa pamit,hanya mengucap salam.