
Sesuai janjinya sakinah akan berangkat ke Jakarta malam ini, dia sudah pesan tiket kereta dari SBY-JKT yang memakan waktu sekitar 10 jam an.
"Ki kenapa harus malam ini kenapa gak besok anjirt"
" Keburu Adam ke sini jancok,ini salah satu cara meminimalisir masalah"
Raka yang mendengar nya hanya bisa diam tak ingin ikut campur sama sekali.
" Nai mana taksi nya ini udah jam 9 malam, kereta nya berangkat jam 10 malam nanti kita ketinggalan lagi" Sakinah benar benar lelah sekarang.
Tak berselang lama taksi yang di pesan Naila tiba .
" bapak berak ya kok lama?" tanya sakinah kesal.
" Macet neng, kaya gak tau kota aja"
Sakinah langsung menyuruh Raka dan Naila masuk duluan sedang Sakinah membantu pak supir menyimpan barang di bagasi.
Mobil itu melaju kencang karena sakinah yang suruh, dengan begitu mereka bisa sampai dengan cepat.
Akhirnya mereka tiba tepat waktu, sangat pas sekali keretanya akan berangkat dan mereka datang.
Sakinah dan kedua pengikut setianya mencari gerbong tempat mereka akan duduk. Di rasa sudah ketemu ketiga nya Langsung saja duduk, eh ralat hanya sakinah dan raka yang duduk sedang Naila sudah langsung molor.
Sakinah terkekeh melihat nya " kasian banget monyet gue"
Sakinah menaruh kepala Naila di pahanya agar gadis itu bisa tidur dengan nyaman, di elusnya Surai indah Naila" Naila cantik begini di tolak sama modelan Ryan ckckck"
"Mbak Raka laper, bawa makanan gak" tanya Raka.
" Ada di tas mbak, tadi sengaja mbak masak dulu"
Mendengar itu raka senang sekali dia langsung saja mengambil makanan nya dan melahap nya,melihat sang adik membuat Sakinah tersenyum.
" Dia mirip sekali dengan bapak...." Lirihnya tersenyum
Malam semakin larut, Sakinah dan kedua pengikut nya tidur dengan nyenyak.
Sampai pagi tiba sekitar pukul sembilan pagi kereta mereka telah sampai di Jakarta.
Sakinah keluar dengan semangat saking semangatnya Naila dan Raka dia tinggalkan, dia senang sekali saat kaki nya menginjak ke kota kesayangan nya, wanita itu menghirup rakus udara yang ada di sana.
"Jakarta im coming!!!!" Teriaknya senang
Semua mata memandang Sakinah heran, apa dia orang gila pikir mereka.
Naila menendang kaki sakinah kesal " jangan bikin malu anj kek orang kampungan aja"
" Akhh anj sakit ege, namanya juga Seneng"
Untuk sejenak sakinah melupakan masalah nya dengan Adam dia seperti orang yang sudah keluar dari tekanan batin.
" Mbak kita bakal tinggal di mana? " Tanya Raka
Mendengar pertanyaan dari raka Naila juga memikirkan hal yang sama akan tinggal di mana mereka.
" Jangan terlalu di pikir, kita tinggal dikossan yang lama aja samping buk Jum" Naila mengangguk mengerti sedang Raka iya iya saja karena remaja itu baru pertama kalinya ke Jakarta.
Sakinah pulang menggunakan taksi online dari kejauhan para tetangga sudah bergosip tentang sakinah yang pulang.
Di lihatnya bangunan yang berjejer rapi dan berdempetan itu sudah agak berubah,warna nya saja sudah beda, dan lantai atas seperti nya sudah tidak terlihat horor lagi, kos kosan yang mereka tempati dulu itu seperti bangunan yang besar di tengah tengah gang pemukiman yang padat penduduk.
" Eh Ki kenapa kamu pulang, bukannya katanya mau kerja tetap di sana?" tanya buk Jum, melihat ada buk Jum di sana sakinah langsung memeluk teman kelahinya itu.
" Aaaa buk jumm gue kangen ame luu hiks..." Buk Jum kaget dengan pelukan mendadak dari sakinah, apa gadis ini habis tersambar petir pikir buk Jum.
Sedang Naila sudah terkikik sendiri, dia tau betul kedua insan yang beda usia itu selalu bertengkar jika bertemu tapi sekarang malah berpelukan.
" Buk jumm Naila juga kangen" Naila memeluk buk Jum bergantian.
"Naila makin montok aja" puji buk Jum, tapi matanya melirik ke remaja lelaki yang di belakang sakinah.
__ADS_1
Buk Jum memandang sakinah seolah bertanya ' siapa?'
" Di belakang gue? Ini Raka adek gue dia bakal ikut tinggal di sini" buk jumm mengangguk mengerti.
" Tapi kamu udah izin sama pak Harto kalau bawa adek laki laki?" Sakinah menggeleng.
" Cepetan sana bilang entar di usir adek mu di kira berzinah"
" Yaela buk ini masih bocah kagak ngerti yang begituan, lagian gue juga mau ke rumah pak Harto mau bilang kalau gue lanjut ngontrak sekalian bilang tentang Raka" jelas sakinah
Sakinah pergi sendiri ke rumah pak Harto meninggal kan Naila dan raka di rumah buk Jum sebentar, dia pergi dengan berjalan kaki karena memang rumah pak Harto sangat dekat dengan lokasi tempat mereka akan tinggal.
Setiap berjalan ada saja yang menyapa sakinah, karena memang sakinah terkenal di daerah itu biasalah gadis tampan.
" Assalamualaikum pak Harto" panggil sakinah agak keras.
Pria paruh baya keluar dengan menggunakan sarungnya siapa lagi kalau bukan pak Harto, dia membuka terlebih dahulu pagar rumah nya " walaikumsalam eh nak kinah,masuk masuk"
Sakinah langsung saja masuk lalu duduk dan menceritakan tentang tujuannya datang kemari.
" Untung saja nak kinah Dateng sekarang kalau besok udah mau di tempatin orang, karena bapak percaya kamu, jadi bapak lebih pilih kamu saja yang tempatin" sakinah tersenyum lebar kala pak Harto menerima nya lagi.
" Wahh makasih ya pak" pak harto mengangguk tersenyum.
" Tapi nak kalau untuk adik laki laki mu seperti nya tidak bisa ikut tinggal serumah dengan kamu"
" Loh kenapa pak?"
" Kamu kan tau warga sini kaya apa, di kos ada kamu dan Naila, sedang ada laki laki juga di dalam nya, baiklah kita katakan bahwa dia adikmu tapi apa dia juga adik Naila?"
Pak Harto mencoba memberi pengertian yang mudah untuk sakinah pahami.
"Adik mu sudah besar usianya 17 tahun kamu bilang, apa kata orang jika laki laki yang sudah beranjak dewasa satu rumah dengan para gadis? Itu hanya akan menimbulkan fitnah"
Sebenarnya sakinah mengerti apa yang di jelaskan pak Harto tapi tetap saja masa adiknya berpisah darinya lagi.
"Bapak masih ada kos kosan yang kosong gak?"
" Tapi pak bukannya pintu 19 di tinggali buk Jum?"
" Tidak lagi dia bilang mau pakai pintu no 7 aja biar gak naik turun tangga, sudah tua capek katanya"
Sakinah ber oh ria saja sebagai tanggapan, setelah mengobrol agak lama sakinah memutuskan untuk pulang setelah mendapatkan kunci rumah nya.
Di perjalanan dia bertemu sekumpulan ibuk ibuk julid sama kaya buk Jum, sakinah tersenyum ke arah mereka sebagai masyarakat yang baik.
" Eh Ki tunggu!!!" panggil salah satu ibu ibu yang bernama Lastri.
" Iya kenapa?"
" Kok kamu pulang?, ada masalah ya di tempat kerja nya atau di pecat? oh saya tau pasti kamu buat onar ya di sana makanya di usir ya hahaha" tawanya di akhir.
" Nggak lucu anjeng" gumam sakinah yang tak di dengar Bu Lastri.
"eh kamu tau gak anak saya sekarang udah jadi dokter di RS tempat kamu kerja dulu loh" astagfirullah, dia ingin menyapa sakinah apa ingin pamer.
" Hehehe iya buk saya malas aja di sana gak betah, lagi pula duit saya udah banyak makanya mau di sini aja bosen banyak duit soalnya , dan selamat ya buat anaknya saya sih rencana nya udah gak mau jadi perawat mau kerja kantoran aja" Sakinah berharap Ucapannya bisa membalas mulut ibu itu.
" Sombong kamu!!, sekolah perawat mahal mahal malah berhenti"
" Terserah saya dong emang bikin beras ibuk lastri berkurang kalau saya berhenti? Lagian saya bosan jadi tenaga kesehatan sekali sekali keluar dari zona nyaman" setelah nya Sakinah pergi dari sana sudah malas meladeni mulut ibu ibuk sadis.
" Di kasih tau malah nyolot, ndak sopan dia amit amit aku punya anak kaya dia" teriaknya ke Sakinah yang sudah agak jauh.
Ibuk ibuk yang lain malah diam saja tak mau mengiyakan perkataannya, karena mereka sudah tahu buk Lastri mulutnya selalu menjatuhkan orang lain.
Sakinah datang dengan amarah yang bergejolak " emang anj si Lastri itu!!"
" Lo kelai sama siapa lagi hari ini hah?" Naila sudah bosan, kalau di sini sehari tak adu mulut bukan sakinah namanya.
" Mbak jangan sering kasar kasar ngomong nya gak baik apalagi sama orang tua" ucap Raka mengingatkan.
__ADS_1
Sakinah lupa kalau adiknya ini di didik sebagai anak baik baik dan Soleh, mungkin dia agak kaget dengan tingkah kakak perempuan nya.
" Mbak Lo itu kalau gak ngomong nama bintang sehari aja dunia mau runtuh bagi dia" ujar Naila yang membuat raka geleng geleng kepala.
" Jangan di perjelas babi!" Sakinah menggeplak mulut Naila geram.
" Nah itu salah satu contoh nyata"
Raka tertawa melihat perdebatan mereka tak ada habisnya.
"Dek kata yang punya ni kosan nggak bolehin kamu tinggal sama mbak"
" Jadi tinggal di mana dia" tanya Naila
"Pokok nya tinggal di sini,tapi gak satu rumah sama mbak ya..., ada di samping rumah mbak pintu no 19 di lantai atas,nah tuh laki laki tinggal sendiri biar mbak yang ngomong ke dia boleh gak kamu pakai kamar dia satu nya" Raka mengangguk mengerti, itu tak jadi masalah baginya.
Sakinah langsung saja naik ke lantai atas untuk mengemasi barang barang nya dia sudah lelah seharian ini tidak tidur.
Saat melewati rumah no 19, pintu dan jendela itu tertutup seperti nya tidak ada orang di rumahnya.
Mereka berdua langsung saja berkemas kemas di rumah, Raka juga ikut membantu kakaknya berkemas sambil menunggu tetangga sebelah pulang.
Tak terasa sudah hampir 1 jam mereka berkemas, sangat lelah karena memang rumah itu sangat berdebu saking lamanya di tinggali kemarin.
Naila sudah pergi ke kamarnya, mungkin sedang bocan alias Bobo cantik. Karena pintu kamarnya terkunci dan pastinya gadis seksi itu sedang tidur.
Adzan Maghrib berkumandang, waktu nya menunaikan kewajiban sebagai umat Islam, tapi hanya raka yang sholat, sakinah dan Naila malah asik main handphone di ruang tamu.
" Eh nai udah pulang kali ya si tetangga sebelah?"
" Mana gue tau Ki, liat aja sendiri!!" jawab Naila kesal seperti nya gadis itu sedang badmood.
" Lu kenapa sih nai pms Lo?"
Naila mengangguk iya " pantesan"
" Kenapa emang nya gak suka hah?"
" Lo kalo pms kaya mau ngajak perang satu dunia semua lu marahin herman gue"
" Heran bukan Herman" kata Naila mengoreksi
" Bawel Lo" ucap sakinah melempar kacang ke wajah Naila.
" Yok temenin gue ke tetangga sebelah nanyain kamar" sakinah menarik tangan Naila agar gadis itu cepat bergerak.
" Sendiri aja gue males ege"
" Gak boleh nai bukan mahram"
" Tcih sok alim Lo, paling juga besok kambuh" sakinah hanya terkekeh rendah Mendengar nya.
Tapi jujur sekarang sakinah agak canggung jika hanya bicara berdua dengan pemuda yang bukan mahram nya dia terbayang wajah Adam yang mengamuk jika tahu dia begini.
" Tok tok tok"
" Assalamualaikum bang" panggil sakinah agak keras.
Terdengar suara kunci yang di putar seperti nya pemilik rumah sedang membuka pintu rumahnya, jadi sakinah hanya diam menunggu.
Saat pintu terbuka seorang pemuda keluar dari sana " walaiku...."
Salam pria itu menggantung kala melihat siapa yang mengetuk pintu Rumah nya " Kiki kan ya, kamu Kiki kan?" Tanya nya Kaget.
Sakinah sampai spechslees melihat pemuda yang di maksud pak Harto, pria itu kan....
" Lo kok bisa di sini sih?" Bukan hanya pemuda itu saja yang kaget sakinah juga.
Naila meneliti pria di depannya dia seperti nya pernah lihat wajahnya tak asing, Naila menatap sakinah dan menatap pria itu secara bergantian.
Naila menutup mulut nya tak menyangka setelah sadar siapa pria itu, dia ingat sekali pria itu kan........." OMAYGATSSSS LO?!!!!"
__ADS_1