Istri Tampan Milik Gus Adam

Istri Tampan Milik Gus Adam
Belajar Ngaji part 2


__ADS_3

Pagi pagi sekali sudah ada yang mengetuk pintu kamar mereka padahal jam masih menunjukkan pukul 04.30.


"Aduhh apaan sih lu ngetuk ngetuk pintu orang gajelas" lagi lagi santriwati itu mengganggu tidur nyenyak nya.


" Maap mbak sudah mau masuk waktu subuh ayo kita solat berjamaah" apa katanya solat jam segini?tanpa membalas perkataan santriwati itu sakinah langsung menutup pintu kamarnya dan kembali tidur.


" Ganggu gue tidur aja" sakinah melanjutkan tidur nyenyak nya kembali.


Sedangkan seseorang sedang menunggu dirinya di tangga masjid ntah kenapa dirinya ingin sekali melihat sakinah memakai mukenah yang dia pilih di toko waktu itu.


Santriwati yang tadi di suruh Gus Adam membangun kan sakinah dan teman temannya kembali.


" Maap Gus seperti nya mbak Kiki tidak ingin solat soalnya dia langsung tutup pintu" Adam mengerti lalu menyuruh santriwati itu mengikuti nya untuk membangunkan sakinah dan teman temannya.


" Tok tok tok"


" Assalamualaikum Sakinah, Naila, Ririn bangun sudah masuk waktu subuh" Adam terus menerus mengetuk pintu keras keras, sakinah yang kesal karena Adam mengetuk pintunya keras sekali dia langsung bangun dan membuka pintu.


Adam yang melihat sakinah membuka pintu kaget dan langsung menundukkan pandangannya. Bagaimana tidak seperti itu sakinah keluar hanya dengan pakaian kaos tipis dan celana sangat pendek.


" Sakinah biasakan jika keluar pakai pakaian yang sopan,hari ini saya yang datang jika pria lain bagaimana ha?" Terlihat jelas bahwa Adam terlihat begitu marah.


" Gajelas lu dam pagi pagi buta gedor pintu kamar orang, ceramahin gue lagi emang setress" sakinah menutup pintu namun di tahan Adam.


" Solat sekarang atau saya panggil Abah" jahat sekali Adam masa masalah seperti ini harus panggil Abah sudah pasti sakinah akan menurut.


"Dasar ancaman nya Abah ga adil" sakinah memukul lengan Adam dengan keras, santriwati yang menemani Adam bergedik ngeri bisa bisa nya sakinah memukul Gus mereka.


" Sakinah! Saya sudah wudhu!" Adam jadi harus wudhu lagi karena sakinah memukul lengannya walaupun tak bersentuhan kulit tetap saja dia harus wudhu lagi.


" Wleeee ga peduli gue" sempat sempat nya sakinah mengejek Adam.


"Cepat ambil mukenah kamu waktu subuh sudah mau mulai dan bangunkan teman teman kamu. Kalau saya tidak Melihat kalian di masjid hemm lihat saja apa yang akan saya lakukan" adam mengucap salam dan berlalu dari sana yang diikuti santriwati itu dari belakang namun sangat jauh di belakang.


"Dasar Agus gila" seperti nya sakinah belum bertanya arti Gus.


Sakinah langsung membangunkan kedua sahabatnya agar ikut solat. Mereka awalnya bingung tumben sekali sakinah mengajak solat. Sakinah langsung menceritakan kejadian tadi saat bertemu Adam mereka jadi paham dan langsung mengambil mukenah dan bergegas ke masjid.


" Ki Ki Ki ya Allah ganteng banget calon suami" kebetulan sekali Ryan baru datang dan berpapasan dengan mereka tapi tak di pedulikan oleh Ryan,sakinah dan Ririn jadi kasihan dengan naila.


" Udah lah nai lu sadar ga dia itu ga peduli" bukannya tak senang Naila mempunyai pujaan hati hanya saja ia meminimalisir masalah hidup Naila.


" Isss apaan sih lu lagian kita baru ketemu wajar aja lah" keteguhan hati Naila wajib di berikan nominasi.


" Nai tapi kamu siap kan di tolak" Ririn juga begitu,takut nya tak sesuai ekspektasi.


" Nah tuh liat Gus Ryan lagi ngomong sama ustadzah cantik itu" tunjuk Ririn yang membuat Naila dan sakinah menoleh ke arah pintu masjid yang terdapat Ryan dan ustadzah Sarah.


" Kayanya ustadzah itu juga suka deh sama si Ryan di liat dari gelagat nya aja udah ketebak" pernyataan dari sakinah membuat hatinya Naila memanas dia langsung saja pergi ke masjid dan menyenggol ustadzah itu dengan sengaja.


" Astagfirullah mbak" ustadzah Sarah sedikit kaget karena tiba tiba saja Naila menabrak nya.


" Makanya kalau berdiri jangan di depan pintu ngalangin orang masuk dasar tolol" Ryan yang mendengar Naila berbicara tidak sopan seperti itu melotot kan matanya tak percaya.


" Naila! Bicara yang sopan dia ustadzah Disni"bentaknnya,Naila yang merasa Ryan membela Sarah air matanya langsung turun dengan spontan.


" Dasar ustadzah ganjen" Naila langsung pergi dari sana dan masuk ke masjid untuk melaksanakan solat subuh.


" Ustadzah Sarah maafkan Naila pikirannya masih seperti anak anak jadi tolong di maklumi" kenapa jadi Ryan yang minta maaf, Ryan saja heran sendiri.


" Tidak apa apa Gus Ryan saya mengerti" ustadzah Sarah tersenyum lembut saking lembut nya pengen Naila tonjok.


" Awas lu gue mau lewat" Adam bisa melihat dari dalam sakinah datang ke masjid dengan menggunakan mukenah yang ia pakai.


" Alhamdulillah cocok dengan dia" tersadar dengan yang di ucapkan Adam langsung beristighfar.


" Denger ya Ryan kalau pacaran tuh di pojokan jangan di masjid malu maluin aja lu" setelah sakinah berlalu dari sana menyusul Naila yang duduk.


Ustadzah Sarah menunduk seolah olah terzolimi


" Gus Ryan bener kata sakinah pacaran nya nanti aja dasar,ustadzah ganjen" Ririn juga merasa ustadzah itu caper makanya Ririn berkata seperti itu.


Ririn berlalu dari sana sambil menenjelingkan matanya ke arah ustadzah. Ryan jadi heran ada apa dengan ketiga wanita itu dia kira Ririn waras ternyata sama gilanya.


" Saya duluan ustadzah sudah mau masuk waktu solat assalamualaikum" Ryan berlalu dari sana ia tak mau lama lama takut timbul fitnah juga.


"Iya Gus Ryan walaikumsalam" Sarah memandang tubuh tinggi Ryan yang mulai menjauh darinya.


" Aku harus dapetin dia bagaimana pun caranya wanita itu tidak akan bisa bersanding dengan Gus Ryan" ucapnya di dalam hati.


Iqamah sudah di kumandangkan waktu solat subuh akan di mulai semua orang solat dengan tenang.


Mereka bertiga sudah kembali ke kosan,hari ini adalah hari pertama mereka bekerja di RS Majapahit.


" Kii rok gue kependekan ya? Kek nya sih iya tapi gpp kan ya soalnya rok gue cuman 2 satunya dicuci" rok yang di pakai Naila panjang nya hanya selutut dan ketat sehingga memperlihatkan lekuk tubuh nya.


" Kalau mau pakai punya ku nai aku ada kok kalau kamu mau" Ririn menawarkan roknya siapa tau Naila mau pakai.

__ADS_1


" Udah biarin aja Rin udah biasa dia begitu lagian gak bakal mau rok lu sempit ke badannya ga liat apa badan nya montok begitu" sakinah sudah bisa tau karena badan Ririn itu mungil mana mungkin muat di pinggang teman seksi nya.


" Ya udah yuk pergi" mereka bertiga pergi bersama ke tempat kerja dengan jalan kaki karena memang tidak jauh.


Saat melewati lingkungan pesantren semua pasang mata melirik mereka ada yang mengucap istighfar ada yang mengucap hamdalah karena bisa melihat para gadis seksi berbaju putih.


" Kiii lu kalau pakek tas pasti yang gendongan kalau barang bawaan lu banyak beli yang kaya punya Ririn tuh gede tas nya ga di pikul tapi di tenteng"sakinah kira Naila tak akan mengomeli nya lagi ternyata sama saja di Jakarta dan di sini tak ada bedanya.


Saat sampai depan gerbang pesantren mereka Melihat Adam dan Ryan yang sedang mengobrol di samping mobil mereka seperti nya.


" Eh ada calon suami Naila gimana tidurnya nyenyak gak" Ryan memutar bola matanya malas apalagi melihat pakaian kerja yang di pakai Naila.


" Mas aku duluan ya mau ke campus" Ryan berlalu dari sana menggunakan motor nya.


Naila jadi sedih padahal tadinya ia mau memberikan masakannya untuk Ryan bawa eh malah pergi. Adam yang Melihat itu jadi kasihan.


" Ada apa Naila? apa ada sesuatu yang mau kamu sampai kan ke Ryan adik saya" Naila yang mendengar nya semangat kembali dan  langsung saja mendekat ke arah Adam namun Adam langsung mundur.


" Hehehehe maaf Gus Adam saking semangatnya,ini tadi calon adik iparmu masak buat calon Suami tapi belom sempat ngasih udah pergi duluan" Naila mengatakan nya dengan nada yang sangat sedih sakinah dan Ririn jadi ikut sedih juga karena seingat sakinah,Naila tak pernah seperti ini kalau sedang jatuh cinta.


" Ya sudah nanti saya antarkan ke kampus nya" hati Naila jadi menghangat ia sangat senang saking senangnya ia memeluk Ririn sangat kencang.


" Udah nai sesek napas aku" Ririn mengambil napas dalam dalam setelah Naila melepaskannya.


" Eh btw calon suami itu udah semester berapa teruss umurnya berapa"Naila jadi kepo jangan jangan umur Ryan lebih muda darinya.


" Dia tidak kuliah dia dosen di salah satu kampus di Jogja, umurnya 28 tahun" apa, dosen? Naila menganga tak percaya bagaimana bisa dia menjadi dosen semuda itu.


" Ya sudah saya pamit assalamualaikum" Adam pamit dari sana namun matanya melihat ke arah sakinah dia Melihat pakaian yang di pakai Sakinah kenapa jadi benar benar seperti pria tampan terutama tatonya sangat mengganggu penglihatan nya.


" Kalau si Ryan 28 tahun jadi umur si Agus berapa ya gue jadi penasaran" Ririn dan Naila mengedikkan bahunya tak tau.


Sesampainya di rumah sakit mereka berkenalan satu sama lain sama tenaga kesehatan di sana,memang RS yang di bangun itu terbilang sangat baru jadi mereka semua adalah tenaga kesehatan pertama di RS Majapahit.


" Bagus juga ya RS di sini kayanya orang orang di sini pada baik" sakinah bicara seperti itu karena di RS Kutai tak seperti ini orangnya, jika di sana sakinah selalu di cemooh tentang penampilan nya yang menyimpang.


" Iya Alhamdulillah ya Ki kita dapat tempat yang bagus" sakinah senang sekali sekarang sahabat nya bertambah satu Ririn begitu perhatian terhadap dirinya dan juga naila.


Sakinah juga tau kalau ririn itu merantau dari kampung sendirian karena memang orang tuanya sudah tiada dia jadi tak punya siapa siapa hanya sepupu nya saja itu pun tak baik.


Jam pulang sudah tiba sekarang sudah pukul 16.00 wib. Mereka pulang ke kosan alias ke kos pesantren lagi dan lagi sakinah harus berpapasan dengan adam.


" Lu lagi lu lagi,hari hari liat muka lu bosen gue" Adam yang mendengar nya menghentikan langkahnya.


" Sakinah jangan lupa habis Maghrib ngaji dengan Fatimah" adam mengatakannya agar sakinah tak lupa.


" Eh Agus! nama gue Kiki dan satu lagi gue ga ada iqra mana bisa ngaji,kalau begitu besok aja ya" gus Adam membalikkan badannya dia menaikkan satu alisnya kenapa sakinah memanggilnya Agus.


Sakinah menganggukkan kepalanya tanda 'iya memang benar tak bisa baca Al Qur'an'


" Gimana dong dam mau beli iqra gue belom gajian ntar aja ya nunggu gajian" Adam menghela nafas nya panjang.


" Di masjid ada iqra nanti saya ambilkan untuk kamu" Adam berlalu dari sana sakinah menganga tak percaya gagal sudah rencana tidur tampannya.


"Allahuakbar Allahuakbar" adzan Maghrib sudah tiba semua santri berhamburan pergi ke masjid begitu juga dengan sakinah dkk.


Setelah solat selesai sakinah akan ke ndalem sesuai perjanjian.


" Eh Ki gue ikut ya ke ndalem temenin lu bolehkan biar lu ada temen nya" sakinah memicingkan matanya curiga ada maksud lain di balik semua ini Naila yang paham langsung berkata jujur.


" Ihhh masa lu ga ngerti sih sahabat lu ini mau ketemu calon suami masa gitu aja harus di jelasin" sakinah hanya memberikan jempolnya tanda setuju.


" Tapi aku ga ikut gpp kan aku mau istirahat aja" sakinah dan Naila mengangguk Ririn langsung pamit pergi ke kosan.


" Assalamualaikum semuanya" astaga sakinah berteriak sangat kencang sampai sampai ummi kaget.


" Eh ummi kaget ya maap ya ummi" sakinah langsung berlutut meminta maap ia takut ummi jantungan.


" Sakinah kamu itu seorang perempuan tidak baik seperti itu suara juga aurat perempuan" sakinah melihat siapa yang sudah mengatakan itu, oh pantas saja ternyata si Sarah sialan.


" Lo ga ada hak buat nasihatin gue cuman Abah Sama ummi yang boleh" ummi yang mendengar nya tersenyum ternyata sakinah menanggapnya istimewa.


" Sudah nak Sarah tidak apa namnya juga sedang belajar tidak sekaligus bisa" Naila yang mendengar nya jadi senang ummi Khadijah membela sakinah.


" Assalamualaikum" Abah,Adam dan Ryan baru datang dari masjid dengan adam yang memegang satu buku yang sudah pasti itu iqra.


" Ini iqra nya Sekarang kamu bisa belajar" Sarah yang melihat nya malah tertawa tiba tiba namun berhenti setelah di tatap heran oleh Adam dan yang lainnya.


" Eh maap pak kiyai saya tiba tiba saja tertawa karena wanita seusianya masih membaca iqra" Sarah masih saja menahan tawanya jika tidak ada pak kiyai sudah sakinah tonjok.


" Tidak ada batasan usia untuk belajar sudah beruntung sakinah mau belajar bagaimana jika tidak? Orang seperti kamu lah yang membuat orang seperti sakinah jadi tidak ingin belajar" nah kan ustadzah Sarah jadi bungkam dia jadi malu di tegur oleh ayah dari pujaan hatinya.


" Oh ya ngomong ngomong ustadzah Sarah ada apa kesini"kiyai Imron bertanya.


" Begini pak kiyai malam ini pesawat ustadzah Syifa akan mendarat saya berencana menjemput beliau dan kalau boleh di temani Gus Ryan saya takut pergi sendiri" dasar Sarah modus Naila yang mendengar nya jadi panas dingin.


" Tidak boleh!!!" Tiba tiba saja Naila membentak Sarah dan berdiri di depan Gus Ryan sambil merentangkan kedua tangannya pertanda tak boleh di bawa.

__ADS_1


" Mas Ryan aku tidak ridho kamu pergi sama perempuan lain awas aja kalau berani berani nya kamu pergi sama Sarah dia itu modus" Ryan yang mendengar Naila seperti menjadikan dirinya miliknya beristighfar kenapa dia bisa bertemu wanita aktif seperti dia.


" Kamu itu bukan siapa siapa nya Gus Ryan tidak perlu ikut campur urusan kami" Sarah bicara seperti itu membuat Naila sedih.


" Tuh kan kamu sih ga niakhin aku" Naila jadi lemas mendengar fakta itu, Ryan jadi iba Melihat Naila sudah 3 kali menangis karena dirinya.


" Nak Naila sudah tenang dulu saya kan belom kasih ijin" Naila kembali duduk di samping sakinah.


" Lu malu maluin gue aja besok besok jangan ikut gue" sakinah jadi greget sendiri melihat tingkah bucin Naila.


" Begini nak Sarah ini kan sudah malam tidak baik pria dan wanita yang bukan mahram pergi bersama dalam satu mobil jauh lagi semoga nak Sarah mengerti"Abah memberikan pengertian selembut mungkin agar Sarah mengerti.


" Tapi pak kiyai..."


" Kamu bisa naik mobil sendiri minta temenin sama santriwati di sini untuk menjemput ustadzah Sifa kalau kamu takut" kalau sudah Gus Adam yang bicara Sarah sudah tak bisa berkutik.


" Baiklah pak kiyai kalau begitu saya pamit assalamualaikum" Sarah pergi dengan kekecewaan karena tak bisa pergi dengan Gus Ryan.


" Eh kenapa pada ngumpul disini" Fatimah datang dari arah tangga setelah menyelesaikan solat dan mengaji nya.


" Mbak Kiki jadi kan belajar ngajinya?" Fatimah bertanya sakinah dan diangguki mantap.


" Ya sudah kalian lanjutkan saja kegiatan kalian Abah ke atas dulu,yuk ummi" ummi Khadijah pergi mengikuti sang suami.


" Ngapain lu berdua di sini sana pergi gue mau ngaji" Adam dan Ryan yang merasa perkataan itu untuk dirinya langsung mengerti dan meninggalkan mereka bertiga.


"Mbak kata mas Adam mbak Kiki belum bisa baca Qur'an ya?"


" Iya fat gue aja ga hafal huruf Hijaiyah" Fatimah mengangguk paham.


" Ayok kita mulai baca Al Fatihah dulu" untung saja sakinah tau Al Fatihah. Naila hanya duduk mendengar sakinah belajar. Naila mengambil hp nya untuk merekam memori ini.


" Alif ba ta tsa" agak susah memang karena baru pertama jadi dia agak kaku.


Adam mendengar sakinah belajar mengaji tersenyum dari lantai atas kadang dia kesal karena tidak bisa mengucap huruf dengan benar kadang juga dia senang karena berhasil mengucapkannya.


" Nur Sakinah" lirihnya.


" Lancang sekali kamu akhir akhir ini ada di dalam pikiran saya"


" Wah Alhamdulillah mbak Kiki cepat belajar nya udah sampai 5 lembar" sakinah senang dia sudah hafal huruf Hijaiyah tinggal sambungannya saja.


" Woiya jelas Kiki gitu loh" mereka tertawa bersama namun adzan isya menghentikan mereka. Sakinah dan Naila pergi ke masjid setelah berpamitan dengan Fatimah karena seperti nya ummi dan Abah belum turun.


"Bughhh"


" Aduhh sialan" sakinah seperti di tabrak batu keras sekali.


" Kamu ngalangin jalan saya awas saya mau lewat" sakinah Melihat seorang wanita bersama Sarah di samping nya apakah dia itu Syifa yang tadi mau di jemput.


" Lo yang nabrak gue anjir pake ga minta maap lagi sialan Lo" sakinah melirik sinis Syifa Begitu pula dengan Syifa.


" Ustadzah Syifa?" Gus Adam datang diikuti dengan Ryan seperti nya akan ke masjid.


" Eh Gus Adam anuu.. saya di tabrak oleh wanita ini dia membentak dan memaki saya padahal saya tidak sengaja" wah sama setannya ternyata dengan wulan, aktingnya bagus sekali.


" Dih najis cantik Lo begitu?" Naila sudah muak kenapa banyak ustadzah munafik di pesantren ini.


"Gus Adam lihatkan kelakuan mereka seperti apa mereka ini siapa Gus berani seperti ini" sakinah saja sampai ingin muntah mendengar suara sayu nan lembut yang di buat buat Syifa.


" Mereka anak kos pesantren bekerja di RS Majapahit sebagai perawat di sana" jelasnya.


" Cuihhh dasar yok nai pergi mau muntah gue denger banyak orang munafik di sekitar sini" Naila menurut lalu mengikuti sakinah ke masjid untuk melaksanakan solat isya.


" Gus Adam,dimana Abi sama ummi saya rindu mereka"


" Nanti saja ustadzah besok pagi, Abi mungkin akan melaksanakan solat lalu istirahat begitu pula dengan ummi" Ryan harap perkataan nya tidak menyinggung ustadzah Syifa.


3 minggu telah berlalu sakinah sering keluar masuk ndalem untuk mengaji begitu pula Naila dia juga jadi ikut ikutan belajar mengaji. Tapi ada yang aneh Adam malah semakin menjauhkan diri dari sakinah jika bertemu Adam pasti akan langsung pergi tanpa memperdulikan sakinah karena Adam sadar dirinya tidak baik jika harus terus bertemu dengan sakinah,itu tidak baik karena mereka bukan mahram.


kadang ada saja yang selalu membuat mereka ribut siapa lagi kalau bukan Syifa yang suka adu domba. kadang ustadzah Syifa dan Sarah sering mengawasi mereka.


Seperti sekarang tepat nya hari Minggu kalau para santri hari libur itu hari Jumat namun hari Minggu mereka tetap ada kegiatan seperti mengaji dan membaca sholawat sholawat nabi sampai siang.


" Hari Minggu nih masa kita kaga ngapa ngapain sih ga seru amat idup" hari ini sakinah dkk memutuskan untuk liburan di kasur saja karena memang ini kesempatan mereka tidur.


" Aelah gue mau keluar ikut gak?" Ririn dan Naila menggeleng tak mau.


" Nai main hp Mulu itu si Ryan rindu Ame lu tuh kagak di sapa sapa" mendengar nama Ryan jadi membuat Naila sedih.


" Mana ada rindu orang dia bilang ga usah ketemu lagi dia risih katanya hemmm hikss" wahh nih anak agak Laen malah nangis.


" Emang belum takdir nai sabar aja" Ririn tau belakangan ini Naila sering murung terakhir kali dia tersenyum saat bilang ingin memberikan Ryan gelang cople yang di buat langsung oleh Naila.


" Hadehh udah tau gitu tapi masih lu masakin juga udah lah lu sama dia beda nai dia mana mau sama wanita kaya lu pasti maunya modelan si Sarah" walaupun perkataan sakinah pedas namun untuk kebaikan bersama.


" Ya udah lah bay" sakinah bangkit dari tidurnya dan keluar seperti biasa hanya dengan kaos polos lengan pendek yang lututnya robek.

__ADS_1


Dia mondar mandir keliling pesantren sesaat dia jadi ingat kehidupan yang dia tinggalkan di jakarta.ia duduk di pinggiran danau yang terdapat di lingkungan pesantren.


" Mak bapak maapin Kiki belom bisa jadi anak Soleh bisanya buat aib keluarga, apa kabar Mak gue disana ya apa masih sakit?" Terakhir sakinah menelpon ibunya semalam kata sang adik ibunya sakit.


__ADS_2