
Gadis itu telah mengganti pakaiannya dengan seragam yang di berikan suaminya.Di lihat nya pantulan dirinya di cermin kamarnya.
" Kalo udah siang pasti panas nih, pakaian nya panjang amat,mana pakai jilbab lagi" sakinah begitu risih dengan jilbab instan panjang di kepalanya.
" Sakinah ayo turun nanti kamu telat ini hari pertama kamu" suara lantang itu berasal dari suaminya yang tengah menyiapkan makanan.
" Iyaa ini gue turun" jawab sakinah teriak agar suaminya dengar dari kamar.
Sakinah menuruni satu persatu anak tangga hingga sampai ke meja makan,bisa di lihat sang suami sedang memasukkan makanan ke tempat bekal.
"Masyaallah cantik sekali, istri siapa sih" Adam mencubit kedua pipi tembem nya gemas.
" Bini tetangga" kata Sakinah masam.
mendengar itu Adam tertawa lepas bisa bisa nya istri kecilnya berkata seperti itu.
" Saya sengaja belikan kamu jilbab instan, karena saya tau kamu tak bisa pakai jilbab yang segi empat" ucapnya menjelaskan.
Sakinah hanya iya iya saja lalu duduk melahap makanannya.
" Emmm... Enak, lumayan lah buat ukuran memasak pria" puji sakinah.
" Terima kasih pujiannya" sakinah hanya mengangguk.
Dia menenggak susu yang di buat Adam hingga tandas tak tersisa, lalu berdiri mengambil handphone nya untuk di bawa ke sekolah.
" Sudah siap?" Tanya adam
" Iya udah" jawabnya melas.
" Kamu dulu Sekolah ga bawa tas kah" Sindir Adam tentu untuk Sakinah.
" Maksud Lo" benar saja otak sakinah memang seperti udang.
" Maksud saya kamu ke sekolah masa tidak bawa tas, mana tas mu?"
" Owhhhh" Sakinah hanya ber oh ria saja.
Mendengar reaksi sakinah, Adam jadi geleng geleng kepala kenapa sakinah jadi bodoh.
Adam berjalan ke arah sofa ruang tamu, tangannya mengambil sebuah tas bergambar unicorn pink.
" Ini pakai" sakinah mengambil nya.
Di lihat nya tas itu, Adam sudah siap jika harus di protes Sakinah sekarang.
" Ihhh ucul bgt sih" sakinah langsung memakai tas itu dengan wajah penuh kebahagiaan.
Respon tak terduga dari sang istri itu pun membuat Adam kaget kenapa jadi tidak seperti eskspetasi nya. Adam tak ambil pusing dia menarik tangan Sakinah sampai ke mobil dan berniat akan mengantarnya.
" Sakinah jangan nakal ya di sekolah" peringat Adam, dia hanya takut nanti sakinah buat onar.
" Emang gue anak kecil apa, ya ga mungkin lah" sebenarnya Adam kurang percaya tapi ya sudahlah namanya juga belajar.
Mobil berhenti di depan gerbang pesantren, terlihat sangat ramai pagi ini karena memang sudah jam nya.
" Sakinah belajar yang pintar ya...jangan di lepas hijabnya, nanti di lepas kalau Sudah pulang, nanti saya jemput" sakinah memutar matanya malas kenapa jadi alay.
" Dam gue kasih tau ya,jarak rumah kita sama pesantren itu kagak jauh gue bisa jalan kaki"ucap sakinah greget.
Sakinah menadah kan tangannya, adam malah memberikan tangannya juga karena Adam kira sakinah ingin salaman.
" Minta jajan bukan Salim"
" Hemmm saya kira mau salaman"kekehnya.
" Ini uang jajannya" adam memberikan selembar uang merah ke sakinah.
" Uyeee" dia berniat untuk turun tapi sang suami menahan tangannya.
" Apa sih dam" kesal sakinah.
" Salim"
Sakinah jadi kesal kenapa harus Salim segala, ini kan bukan sholat.lebih baik dia mengalah saja,di ciumnya tangan Adam cepat lalu pergi dari sana.
" Sakinah jangan lupa makan bekalnya,ada di tas mu" teriak Adam dari dalam mobil.
Sakinah yang di teriaki jadi malu sendiri kenapa suaminya ini tidak tau malu berteriak seperti itu.
Saat ini sakinah ada di depan kantor guru, kata Adam dia harus mencari orang yang bernama ustadzah Siti, karena ustadzah Siti wali kelas nya nanti.
" Assalamualaikum ukhti sedang cari siapa" tanya seorang wanita yang mungkin seumuran dengan suaminya.
" Uti? Nama gue Kiki bukan uti" jelas nya.
" Ukhti sayang bukan uti,itu panggilan untuk wanita muslimah" jelas wanita itu,sakinah hanya mengangguk saja.
" Cari siapa ukhti" tanya wanita itu lagi
" Eh iya kak, gue cari ustadzah Siti"Jawab sakinah, wanita itu hanya tersenyum seraya mengelus tangan Sakinah lalu berkata.
" Saya adalah orang yang kamu cari" ucapnya tersenyum, menurut sakinah wanita di depannya seperti ummi sangat ramah.
" Apa kamu orang yang ingin hijrah itu?" Sakinah sedikit bingung dengan pertanyaan ustadzah Siti.
" Gus Adam bilang kamu ingin hijrah jadi Gus Adam mendaftarkan mu" dari pernyataan wanita di depannya, sakinah mengerti bahwa Adam masih memegang janji nya untuk tidak mempublish pernikahan nya.
"Iya itu gue, si Adam mungut gue dari jalanan" kata Sakinah asal.
" Tidak boleh memanggil Gus Adam dengan mamanya saja,tidak sopan, beliau anak kiyai pesantren ini" kata ustadzah Siti mengingatkan sakinah dengan suara lembut nya.
" Nama kamu siapa gadis manis"
" Oh, nama gue sakinah kak panggil aja Kiki" ustadzah Siti maklum dengan gaya bicara sakinah yang seperti itu,namanya juga baru belajar.
" Baiklah sekarang kita ke kelas ya sama-sama" mereka berdua berjalan beriringan hingga sampai di depan kelas bertuliskan ruangan kelas 10.
Sakinah menduga kalau dia Disni kembali menjadi anak SMA.
" Assalamualaikum murid ku yang cantik cantik" kata ustadzah memberi salam saat masuk, sebab memang sekolah putri dan putra di pisah makanya dalam sekelas jangan heran jika isinya sejenis semua.
" Walaikumsalam ustadzah Siti"jawab mereka serempak.
Tapi bisik bisik bisa terdengar di sana banyak pertanyaan kenapa Sakinah ada di sini, bagaimana tidak semua santri di sini sudah tau siapa itu Sakinah.
" Ustadzah kok mbak Kiki di sini sih bukannya dia itu perawat ya" tanya salah satu santriwati.
Ustadzah Siti malah kaget mendengar nya, benarkah? Berarti umur sakinah sudah dewasa.
" Bacot banget kalian semua, gue udah gak lagi kerja soalnya mau sekolah aja biar nambah ilmu" semua yang di sana ber oh ria, mereka sangat senang karena ada sakinah di kelas mereka pasti menyenangkan.
" Baiklah, walaupun kalian sudah kenal dengan kakak kalian ini, mbak Kiki kalian tetap harus memperkenalkan diri" kata ustadzah sambil mempersilahkan sakinah memperkenalkan dirinya.
" Hallo, good morning semuanya, nama gue Nur sakinah, umur 22 tahun pernah kuliah di UI , pindahan dari Jakarta sekarang akan menetap disini" ucapnya dengan lantang, semuanya bertepuk tangan riuh kecuali Wulan and the geng.
" Kok cewe jadi jadian itu sekolah Disni sih" bisik salah satu temannya Wulan.
" Ndak tau aku, palingan dia itu di hukum sama Gus Adam" kata Wulan menebak.
Kalian ingatkan dengan yang namanya Wulan seorang Santriwati yang di Jambak sakinah di tempat wudhu.
" Sakinah lebih baiknya kamu itu jika ingin menyapa seseorang gunakan lah bahasa yang lebih halus dan biasakan ucap salam jika bertemu dengan orang, tapi kamu sudah bagus kamu hebat" ucap ustadzah Siti lembut,itu lah yang membuat Sakinah menyukai Siti.
" Oke kak Siti" balasnya dengan tangan yang membentuk simbol OKE.
Ustadzah Siti hanya geleng-geleng kepala melihat murid barunya.
" Kamu silahkan duduk, kita mulai pembelajaran hari ini dengan mengucap basmalah" semua yang di sana mengucap basmallah secara kompak.
Sakinah berjalan ke belakang untuk mencari tempat duduknya, dia menemukan tempat yang kosong di samping gadis bertumbuh gempal lucu berkacamata. Gadis itu tersenyum lalu menunduk seperti nya takut.
" Ga usah takut, gue ini ga bakal jahat Ama Lo" kata sakinah memberi tahu.
" Hehehe iya mbak" katanya tersenyum simpul.
Sakinah duduk lalu mendengar kan ustadzah Siti bicara namun tak sampai selesai dia hanya mendengar kan sedikit lalu tidur sampai saat ketika bel istirahat berbunyi dia bangun.
"Eh keluar yok" ajak sakinah pada teman sebangkunya.
Gadis itu menatap sakinah dengan mata berbinar " apa boleh mbak"
" Ya boleh lah kan gue yang ajak" gadis itu terlihat sangat senang karena belum Pernah teman kelasnya mengajak dirinya keluar.
Mereka berdua akan berjalan ke arah kantin, sambil mengobrol ria.
" Nama Lo siapa" tanya Sakinah.
"Nama aku bunga kak" jawab bunga dengan senyuman khasnya yang lucu.
Sakinah sangat senang mendapat kan teman sebangku yang sangat lucu dia jadi pengen peluk.
" Tau gak sih badan Lo itu pelukabel" bunga mengernyit kan alisnya maksud nya apa.
" Maksud nya itu enak di peluk" kata sakinah seakan akan tau pertanyaan di hati bunga.
" Oala masa sih mbak, padahal orang orang sering ngatain ak gendut" ucap bunga sedih.
" Yaela siapa yang berani ngatain lu sini biar gue tonjok, tenang aja kita ini teman sekarang" bunga sangat senang mendengar nya dia jadi punya teman baru.
" Aaaaa mbak baik BANGET" bunga memeluk Sakinah erat, orang yang di peluk malah terkekeh.
"Udah udah pelukan nya sekarang kita makan dulu" sakinah menarik tangan bunga agar cepat.
Sesampainya di kantin, ada 2 gadis terlihat kaget melihat bunga di tarik tangan nya oleh sakinah.
" Eh teman kami mau di apain, tolong jangan bully dia saya tau dia emang agak nakal tapi tolong ya lepasin dia" kedua gadis itu terlihat memohon di depan sakinah.
" HAHAHAHA" Sakinah malah tertawa lepas melihat 2 gadis itu.
" Nurul, intan mbak ini teman baru aku di kelas dia teman sebangku ku" kata bunga menjelaskan.
Nurul dan intan jadi malu sendiri terhadap sakinah." Maap ya mbak kami ga tau"
Sakinah menyelesaikan tawanya dia begitu ngakak melihat ekspresi teman teman bunga.
" Emang muka gue vibes nya tukang bully jadi santai aja" mereka bertiga jadi tak enak.
" Udah jangan di pikirin, lebih baik kita makan" mereka mengangguk lalu duduk di salah satu meja yang kosong.
mereka memesan bakso 4 porsi tak lupa dengan teh es nya.
" Kek nya aku pernah liat kamu deh Tapi dimana ya" Nurul berusaha mengingat wajah seperti sakinah di depannya.
" Gue Kiki orang yang pernah ngekos di dekat asrama Disni" ucap sakinah menjawab.
Intan dan Nurul kaget, wah ternyata Mbak Kiki bisa berhijab juga.
" Mbak Kiki cantik loh pas pakai hijab" kata intan yang di angguki mantap oleh bunga dan Nurul.
" Kalo gak karena paksaan ga bakal gue di sini"
" Mbak di hukum ya sama Gus Adam?" tanya bunga.
Sakinah menggeleng kenapa dia di hukum" gak, gue gak di hukum"
" Tapi kata Wulan dan geng nya mbak Kiki di hukum sama Gus Adam" sakinah yang mendengar nya tak habis pikir dengan wulan tukang fitnah.
" Mulut Bani Israel emang begitu ga bener" ketiga gadis itu tertawa mendengar nya.
" Iya ya bener mereka itu emang tukang fitnah" ucap Nurul membenarkan.
" Mbak Kiki santri tetap apa Santri yang pulang pergi" tanya bunga,sakinah berpikir lalu menjawab.
" Keknya pulang pergi deh soalnya gue udah ada rumah" mereka ber oh ria saja.
Keempat gadis itu menyelesaikan makan mereka dan berniat ingin membayar tapi Wulan malah mendorong sakinah hingga terjungkal.
" Upss sorry, sakit ya... HAHAHAHA" sakinah tak terima lantas bangun dan menjambak rambut Wulan yang tertutup hijab kasar.
" Anak anjing emang, udah di kasih pelajaran minta lagi, mau ujian Lo Ama gue minta pelajaran terus" sakinah sudah menjambak nya hingga dia membanting Wulan sampai ke tanah.
Semua orang melihat kejadian itu mereka semua mengerumuni TKP.
" Jangan macem-macem sama gue ya bangsat" kemarahan sakinah sudah meledak ledak.
" Heh ada apa ini hah!!" Ketua kemanan santriwati yang terkenal garang tiba di sana.
" Ya ampun mbak Widia Dateng bisa gawat mbak Kiki" bisik intan. bunga dan Nurul jadi takut sendiri.
" Kamu santri baru ikut saya ke ruang BK" tunjuk Widia ke sakinah.
" Lo ga ada hak buat nyuruh nyuruh gue ya bangsat!!" Widia yang di bentak sakinah melotot kan matanya terlihat kemarahan di wajah Widia.
" Lo kalau merasa manusia minggir gue mau lewat" Sakinah menggeser tubuh Widia.
Widia begitu marah tapi entah kenapa dia tak bisa melawan.
" Mbak Widi liat tuh si Kiki mukulin aku" adu Wulan tentu saja Widia percaya ke Wulan karena dia merasa Wulan adalah korban.
Sakinah sekarang berada di wilayah santriwan, dia sudah tau kalau sekarang dirinya tengah menjadi buronan se pesantren.
Dia memanjat tembok belakang asrama yang begitu tinggi, dia kesusahan karena rok nya yang panjang.
" Nih baju ribet banget ANJIRR" Sakinah jadi kesal sendiri.
Akhirnya dia sudah sampai dia atas lalu melompat ke bawah sekarang dia Sudah berada di wilayah asrama santriwan.
Sakinah melepas hijab nya dan membuka bajunya di toilet yang ada di asrama santriwan untung saja dia masih pakai kaos dan celana pendek.
" Mas ga sekolah ya kenapa gak pakai seragam " tanya santriwan yang ingin masuk ke toilet saat Melihat sakinah keluar.
" Lo juga kenapa ga sekolah malah balik ke asrama" bukannya menjawab sakinah malah balik bertanya.
" Saya itu tidak enak badan jadi di asrama saja sudah izin kok" jelasnya.
" kebetulan, gue pinjem baju muslim Lo boleh gak "
" Untuk apa, emang nya mas tidak punya baju"
" Gue itu Santri baru jadi ga ada baju muslim" santriwan itu berpikir bahwa pria di depannya adalah Santri baru.
" Ya udah mari Ikhwan ke kamar saya" ajaknya dia sudah pergi duluan.
__ADS_1
" Nama gue Kiki bukan Ikhwan" aneh sekali orang ini.
Santriwan itu terkekeh rendah lalu berkata " mas kalau Ikhwan itu artinya saudara laki laki, itu panggilan untuk laki laki muslim"
Sakinah sekarang sedikit mengerti dengan tutur bahasa disini.
Sesampainya di kamar santriwan itu mencari baju yang pas untuk di pakai Sakinah.
" Ini baju saya silahkan di pakai" mata sakinah berbinar lalu langsung saja ia pakai di kamar itu.
Tapi saat akan memakai kopiahnya, pintu kamar itu di dobrak tiba tiba.
" SAKINAH!!!" teriakan itu berasal dari ustadzah Syifa yang sudah memegang rotan di tangannya.
Santriwan itu terkejut lantas menundukkan pandangannya.
Dia memandang sakinah dengan tanda tanya apa pria ini membuat kesalahan.
"Ustadzah ganjen kenapa di sini" Santriwan itu hanya mengelus dadanya semoga saja Kiki di ampuni.
" Kamu sakinah tidak tau aturan sama sekali kamu itu perempuan tidak baik berduaan dengan yang bukan mahram!!!" Malas sekali sakinah mendengar ceramah Syifa.
" Astagfirullah kamu perempuan Ki" kagetnya, Kiki mengangguk kan kepalanya iya.
" Sakinah sekarang kamu ikut saya ke kantor dan kamu Rizal juga ikut" santriwan yang bernama Rizal hanya bisa pasrah toh ini memanglah kesalahan nya juga.
Sakinah di tarik tangannya oleh keamanan pesantren tentu saja perempuan, seluruh orang yang ada di pesantren bisa melihat bahwa sakinah di seret ke ruang BK.
" Ya Allah ganteng banget mbak Kiki pakai baju koko, kalau cowok udah aku lamar" ucap salah satu santriwati dan masih banyak lagi bisik bisik mengenai sakinah apalagi dia sangat tampan saat keluar menggunakan baju koko plus sarung dan peci.
Ustadzah syifa sudah duduk di kursi ruang BK bersama para ustadz dan ustadzah lainnya termasuk juga ustadzah Siti tersirat kekecewaan di matanya.
Sakinah masuk tanpa mengucap salam dia malah langsung duduk di kursi itu dengan Santainya.
" Siapa yang suruh kamu duduk, berdiri!!" Tegas ustadz Fahri.
" Kamu tau kan kesalahan apa yang kamu perbuat" sakinah hanya berdehem.
" Tidak sopan" ucap Syifa.
" Bacot" semua yang ada di sana beristighfar.
" Rizal katakan dengan jujur apa yang terjadi di asrama Santriwan, saya sangat percaya dengan kamu jangan berdusta sedikit pun" ucap ustadz Fahri dia sudah hapal akan Rizal tak mungkin dia mau melakukan hal tak terpuji bersama Sakinah.
Rizal menceritakan awal pertemuan nya tanpa di kurangi dan di tambah sedikit pun.
" Baiklah saya percaya, semua orang juga jika bertemu dengan dia pasti akan seperti kamu" Rizal senang kali ini dia tak kena fitnah.
" Kamu bisa keluar" titah ustadz Fahri.
" Syukron katsiran ustadz" ustadz mengangguk lalu Rizal pamit.
"Ini kinah pakai hijab mu dulu" ustadzah Siti memakaikan hijab yang ia bawa di tasnya karena posisi sakinah sekarang hanya menutup kepala nya dengan peci.
" Sudah pusakah kamu buat onar di hari pertama mu hah?" Pertanyaan yang di lontarkan ustadz Fahri hanya di cueki sakinah.
" ukhti tidak bisu kan?"
" Belom puas ustadz" jawaban yang sangat memuaskan.
" Dasar tidak tau diri" hardik Syifa.
" Lo bacot banget ya dari tadi heran gue"
" Sakinah dia guru kamu juga tidak baik sayang" ustadzah Siti tau Sakinah ini tidak bisa di kasari dia harus di perlakukan dengan lembut.
" Karena kamu sudah melanggar aturan pesantren ini kamu akan saya berikan takziran" ucap ustadz Fahri tegas.
" Y" hanya itu jawaban nya.
" Sesuai peraturan yang ada dengan izin dari ustadz dan ustadzah yang ada disini saya menghukum kamu, bersihkan masjid dan areanya selama seminggu tidak ada bantahan sama sekali" sakinah yang mendengar itu langsung pergi dari sana tanpa mengucap salam dia membanting pintu kasar.
" Astagfirullah" ucap semua orang yang ada di sana.
" Sial amat gue hari ini, awas aja si Wulan gue Gibeng tuh anak" sakinah menggerutu selama perjalanan.
" Mbak kikiiiii" ketiga bocil sakinah terlihat ngos ngosan menghampiri sakinah.
" Mbak Kiki gpp kan, pasti kena takzir sama ustadz Fahri ya mbak" tanya bunga sedih.
" Udah tenang aja cuman di suruh bersihin masjid bukan hapalan" sebenarnya Sakinah suka suka saja di hukum seperti ini dari pada di suruh hapalan.
" Yok temenin gue ganti baju entar di marahin lagi" mereka bertiga mengangguk lantas pergi ke toilet yang ada di sekolah putri.
Sebenarnya dari tadi di kelas tidak ada guru setelah pelajaran ustadzah Siti seharusnya pelajaran bahasa Arab namun sang guru berhalangan hadir jadi mereka jamkos deh sampai pulang.
" Eh bunga kalau jadi santri di sini enak gak sih apalagi lu kan nginep di asrama seru gak" tanya sakinah yang dari tadi bosan hanya duduk saja.
" Enak kok karena ada Nurul sama intan kalau gak mungkin gak bakal seru" jawabnya jujur.
Sakinah mengerti mungkin bunga tak ada teman selain kedua bocil itu. Akhirnya yang di tunggu semua siswa tiba, bell pulang berbunyi pada jam 14.00 waktunya mereka pulang dan beristirahat sebelum melanjutkan kegiatan.
" Mbak Kiki mau aku temenin gak takzirannya" tawar bunga.
" Ga usah gue bisa kok lagian ya seharusnya Lo itu istirahat isi stamina buat nanti apalagi bentar lagi ashar"
" Ya udah deh mbak, assalamualaikum semangat" sakinah mengacungkan jempol nya terkekeh.
Saat akan pergi ke masjid Sakinah melihat Ryan yang sedang mengobrol bersama wanita bercadar entah apa yang di bicarakan nya namun Ryan terlihat tertawa bersama wanita itu.
" Wah wah si Ryan kurang ajar, gue aduin ke Abang nya mantap kali ya" sakinah menghampiri mereka.
" RYANNNN" teriak nya, Ryan menoleh ke sumber suara dia menyipitkan matanya kesal ternyata kakak iparnya yang bar bar.
" Apa"
" Lo ya bener bener gue aduin ke Abah sama ummi, katanya alim sok Sokan nolak Naila tapi berduaan sama nih cewek" wanita di balik cadar itu terlihat tersenyum karena matanya menyipit jadi sakinah tahu.
" Ini Fatimah" ucap Ryan malas.
"OMAYGATT!!!, Lo Fatimah?" Sakinah menghampiri Fatimah dan melihat wajah nya di balik cadar itu ternyata benar itu Fatimah.
" Gue kira siapa lagian pakai acara bercadar udah kayak Aisyah aja" kedua wanita itu terkekeh kecuali Ryan.
" Mbak kenapa di sini" tanya Fatimah.
" Gue kena takziran pertama gue" ucapnya bangga.
Ryan Sudah menduga hal ini pasti akan terjadi. Kakak iparnya pasti akan membuat onar.
" Ya udah gue mau ke masjid dulu Babay" sakinah melambaikan tangan nya ke Fatimah.
" Walaikumsalam" Sindir Ryan, namun kakak ipar nya itu tak mau menyahut sedikit pun.
Fatimah hanya bisa mentertawai mas nya karena tak di lirik sakinah.
Sesampainya di masjid sakinah langsung saja melaksanakan hukumannya,tak tau kah ustadz Fahri kalau sebenarnya sakinah hobi berkemas. Dari jauh ustadzah Siti tersenyum dia tau kalau sakinah tak akan lari dari hukumnya.
Namun di depan gerbang adam sudah menunggu istrinya, sudah hampir setengah jam istrinya tak kunjung datang.
" Ini sudah jam nya pulang kenapa dia belum keluar" Adam memilih masuk saja dan mencari sang istri ke dalam pesantren.
Di perjalanan banyak yang menyapanya Adam hanya berdehem menanggapi. Adam pergi ke ndalem bisa di lihat Ryan dan Fatimah yang akan memasuki rumah.
" Assalamualaikum Ryan, dek kamu ada liat sakinah" tanya adam.
" Mas tanya serius"
" Ada di masjid kena takzir sama ustadz Fahri" jawab Ryan.
Adam yang mendengar itu memijat pangkal hidung nya, dia sangat pusing dengan tingkah apalagi yang di buat sang istri.
" Ya sudah mas ke sana assalamualaikum"
" Walaikumsalam" jawab keduanya.
Adam bisa melihat Sakinah sedang menyapu teras masjid dengan telaten seperti orang yang tak ingin tertinggal satu debu pun.
Sakinah belum menyadari kalau sang suami sudah ada di depan pintu masjid sambil menyilangkan tangannya.
" Lagi nyapu ya mbak, mau saya bantu mbak" Adam sengaja mengejek sakinah.
Sakinah menoleh ke sumber suara dia kesal sekali kenapa ada adam.
" Eh ada pak ustadz udah selesai kah pengajian nya" balas sakinah mengejek.
" Jelaskan semuanya di rumah!!!" kata Adam dengan tatapan yang Begitu tajam lalu masuk ke masjid,sakinah jadi takut kalau sudah seperti itu.
" Allahuakbar Allahuakbar" suara adzan itu begitu merdu di telinga sakinah kira kira siapa yang adzan sebagus itu. Telinganya meremang saat suara masuk ke pendengaran nya.
" Siapa tuh merdu banget suaranya" Sakinah mengintip dari balik tirai pembantas.
" Assalamualaikum Kiki" suara Naila menganggetkan sakinah.
" Astagfirullah nai kaget tau gak" Naila hanya terkekeh geli melihat ekspresi terkejut sakinah.
" Tumben istighfar Ki" sakinah memutar bola matanya malas.
"Gimana sekolah nya lancar gak" sakinah mengangguk iya.
" Mbak kikiiii" terlihat bunga dan dkk menghampiri mereka di saff paling depan.
" Bocil bocil ini siapa Ki" tanya Naila.
" Temen sekolah gue"
" Ihh ucul banget sih kamu jadi pengen peyukk" kata Naila gemas ke bunga.
" Hehehe mbak juga lucu sama cantik dari dulu aku pengen punya body kayak mbak" kata bunga jujur.
" Hemm iya tapi Gus Ryan ga suka percuma" ucapnya sedih.
" Ngimpi" ucap ustadzah Sarah ikut menimpali di belakang mereka.
" Apaan sih kuntilanak halal nyambung aja" dari dulu memang Naila tak akan bisa akur dengan si Sarah bagaimana pun juga.
Ketiga bocil nya sakinah hanya menyimak saja mereka ambil aman.
" Udah lah nai udah mau mulai Solatnya jangan ribut" Naila menurut lalu berdiri untuk mengikuti ibadah sholat ashar.
" Bismillahirrahmanirrahim" suara merdu yang menggema itu berhasil membuat jantung dan hati sakinah bergetar hebat. Tangan dan kaki sakinah sampai dingin.
" Gue harus minta no hp nya" monolog nya dalam hati sambil tersenyum sendiri.
Selesai solat Sakinah langsung mengintip siapa yang menjadi imam tadi, hanya sorban putih nya yang di lihat sakinah bahkan tubuh nya di tutupi oleh jemaah yang lain.
" Ki lu ngapain sih" ucap Naila dengan suara berbisik.
" Diem bisa gak lu gue mau liat imam nya" balas sakinah dengan suara berbisik juga takut menganggu orang lain yang sedang berdoa.
" Udah Ki malu ANJIRR" Naila menarik tubuh Sakinah biar dia duduk dengan tenang.
" Apaan sih nai gue belum liat mukanya" kata sakinah kesal.
" Nanti aja Ki abis solat bisa,malu di liat orang"
Sakinah teringat akan satu hal yang ingin di ceritakan nya.
" Oh ya, nai gue lupa mau kasih tau Lo info penting" Naila langsung merapat kan kuping nya.
" Bener kata Lo si Ririn itu lesby dia suka Ama gue" bisik sakinah.
" Dia semalem datang ke kantor laki gue minta gue ke Adam ,ya mana mungkin si Adam mau ngasih bini nya, dikira laki gue tolol" lanjut nya.
" APAAA!!!!" teriak Naila kaget, semua jemaah perempuan melihat ke arah mereka sinis.
" Nai mulut Lo udah kayak kembang api bikin orang kaget" sakinah memukul Naila pelan, dasar naila tidak tau malu.
Sakinah sudah bersembunyi di balik mukenahnya " bukan temen gue suer"
" Hehehe maap ya semuanya"
" Kalian kalau mau ribut jangan Disni kalian bisa keluar" ucap mbak Widia kemanan santri.
" Tuh kan diem gak Lo" Naila dan sakinah Diam sambil menunggu imam selesai membaca doa.
Akhirnya yang ditunggu-tunggu tiba,sakinah dan Naila sekarang sedang berada di tangga masjid untuk bertemu dengan imam sorban putih itu.
" Ki gue pulang ya...capek nunggu nya dia udah pulang kali Ki" ucap Naila dengan wajah melas.
Sakinah membalikkan badannya mengarah ke Naila " nanti nai tungguin gue, gitu amat Katanya besti"
Bersamaan dengan itu pria bersorban putih yang di maksud sakinah keluar namun beberapa detik kemudian membalikkan badannya jadi memunggungi Sakinah dan Naila.
" Iya iya" balasnya kesal.
Sakinah melihat ke arah pintu lagi, hatinya dag dig dug serr karena orang yang di tunggu nya ada di depannya tapi dia malah memunggungi sakinah karena sedang bicara dengan ryan.
" Itu si Ryan kenapa di situ sih jadi ga bisa liat mukanya" ucap Sakina kesal.
Saat orang itu berbalik sakinah menutup matanya dia tak sanggup memandangi wajah itu sedang Naila terkikik geli melihat siapa pria itu.
"Duh mas sorban putih jangan deket deket nanti saya sakit jantung" ucap sakinah tersipu malu dengan mata yang masih terpejam.
" Jikalau anda berkenan bolehkah saya meminta no hp jenengan" ucap sakinah menyerahkan hp nya ke pria itu tapi matanya memandang ke bawah,entahlah sakinah tak mampu melihat wajah itu.
" HAHAHA mas sorban putih kasih dong nomor nya kasian temen saya dari tadi gelisah Mulu nungguin mas sorban sampai Solat pun tak khusyuk" sakinah hanya tersipu malu di goda Naila seperti itu.
Pria itu membuka sorbannya dan memukul kepala sakinah pelan dengan sorbannya.
" Aduh anjir" ucap sakinah mengaduh setelah nya di tatap siapa pria itu.
" Eh mas suami, gue kira siapa hehehe" sakinah menggaruk tengkuknya yg tak gatal.
Ternyata yang membuat sholat sakinah tak khusyuk adalah suaminya sendiri dasar Sakinah suara suami nya sendiri tak tahu.
" Emang nya kalau bukan saya kamu mau apa hah?" Tanya adam mengintrogasi.
" Nakal banget istri saya.." adam menjewer telinga sakinah, yang di jewer malah cengengesan.
" Ya kan ....anu...eee...ha ya yang namanya manusia kan harus saling mengenal biar tidak sombong begitu" ucap sakinah asal.
Sakinah memang tak pandai berbohong sama sekali ,lihat lah masih pintar bocah SD jika berbohong dibanding sakinah.
__ADS_1
" Sudah lah ayo pulang" Adam menarik tangan sakinah untuk di bawa pulang.
Meninggalkan naila dan Ryan berdua di masjid, suasananya jadi agak canggung karena semenjak kejadian Ryan mengusir nya Naila jadi tak ingin bertemu dengan Ryan.
" Eeee... Gus Ryan saya pamit assalamualaikum" Naila sudah ngacir dari sana namun suara Ryan menghentikan langkahnya.
" Masakan mu enak terimakasih" sesingkat itu tapi mampu membuat getaran di hati gadis itu,sekarang Naila semakin semangat.
Ya walaupun sudah tak bertemu tapi Naila tetap masak untuk Ryan tapi masakannya itu di titipkan ke satpam pesantren.
" Iya Gus Ryan sama sama" Naila langsung ngacir dari sana sambil menahan senyumnya.
" Jikalau kamu sudah merubah penampilan mu, demi Allah saya berjanji akan langsung mengkhitbah mu" janji itu di dengar langsung oleh langit, Allah adalah saksi janjinya itu.
Di rumah Adam, saat ini Sakinah tengah duduk di sofa ruang tamu sudah siap di ceramahi oleh suaminya.
" Lagian gue gak bakal gitu kalau gak di senggol duluan" ucap sakinah membela diri.
" Tapi tetap saja kamu salah karena memukul dia itu tidak baik sakinah" kata Adam menahan emosi nya.
" Kok lu bela dia sih, seharusnya Lo marahin dia karena udah dorong bini Lo" ucapnya balik memarahi Adam.
" Sakinah kamu itu harus bersabar tidak boleh emosi, Rasulullah saja di ludahi dia hanya senyum, kamu sebagai makhluk Allah juga harus bisa meniru perilaku Rasulullah" kata Adam menjelaskan.
" Kan gue manusia biasa bukan Rasulullah" Sakinah memang tak bisa di nasehati.
" Kamu ini di kasih tahu tidak mau dengar, dasar kepala batu" adam sudah lelah menghadapi tingkah istrinya.
" Tadi saya dengar dari ustadzah Syifa, apa benar kamu kabur ke asrama santriwan dan mengganti pakaian mu di depan Rizal hanya berdua di kamar?" Tanya adam dengan mata yang sudah memanas.
" Kalau benar seperti itu saya yakin ustadz Fahri akan menghukum mu lebih dari ini"
Adam berharap ustadzah Syifa berbohong dia tak akan sanggup jika iya benar.
Sakinah mengangguk pertanda benar.
" Itu perbuatan yang salah Sakinah, kamu sudah memperlihatkan aurat kamu dengan orang yang bukan mahram mu saya saja tidak pernah melihat nya sedang kamu dengan mudahnya memperlihatkan nya ke lelaki lain!!!" Suara itu menggelegar hingga ke seluruh rumah.
" Demi Allah saya tidak rela..."
" tapi kan gue masih pakai baju sama celana gak telanjang bulat kecuali gue telanjang bulat di depan si Rizal" mendengar itu Adam tak kuasa menahan emosinya.
" Brakk!!!" Adam memukul meja kaca yang ada di depan mereka, terlihat tangan kanan Adam berdarah, sakinah meringis sakit melihat itu.
Serpihan kaca terlihat bertaburan di mana mana sampai sampai serpihan kaca itu mengenai dada Sakinah.
Sakinah mencoba meraih tangan Adam memberikan ketenangan tapi Adam malah menepisnya.
"JANGAN SENTUH SAYA DENGAN TANGAN KOTORMU ITU DASAR WANITA MURAHAN!!!!"
" Kalau bukan karena wasiat dari ibumu saya Tak akan mau menikahi wanita murahan yang mudah sekali di sentuh dan memperlihatkan aurat Nye ke lelaki yang bukan mahramnya, kenapa Allah menjodohkan saya dengan wanita yang tidak tahu malu seperti dirimu" tunjuknya ke arah Sakinah.
Sakinah sudah terisak, dia sudah biasa di bentak dan dicaci oleh orang, tapi suaminya? Dia sangat syok akan itu.
" oke kalau gitu ceraikan gue sekarang juga, niakhin si Syifa pusa Lo" mendengar itu Adam sudah tak bisa mengkontrol emosinya.
" Plakk" sebuah tamparan keras di layangkan Adam untuk sakinah.
Karena tamparan yang begitu kuat Darah segar keluar dari mulutnya, sakinah sudah menangis terisak.
" Kamu kira pernikahan ini adalah permainan bagimu hah!!!" Ucap Adam mencekram pergelangan tangan Sakinah kuat.
" Sakit ANJING!!" sakinah meringis kesakitan.
" Jangan pernah injakkan kaki mu ke kamar, saya tidak Sudi jika kaki kotor mu itu menyentuh kamar saya!!!!" Setelah nya Adam mendorong tubuh sakinah kasar hingga terjatuh ke sofa.
Tubuh sakinah sudah bergetar dia sangat takut dengan tatapan Adam, tatapan yang penuh akan cinta sekarang penuh akan kemarahan.
" Sialan si Adam, bangsat banget gaya Lo"
Seolah teringat akan sesuatu dengan cepat dia membuka tas nya, astaga dia lupa kalau Adam memberikan nya bekal.
"Maap ya nasi gue lupa" dengan cepat Sakinah melahap nasi itu.
Dirasa sudah kenyang sakinah melempar tempat bekalnya ke sembarang arah.
Gadis itu berjalan ke luar rumah guna menenangkan pikirannya.
" Emang bener kata orang, gue gak bakal bisa bahagia seumur hidup" ucapnya memelas.
Kakinya terus berjalan hingga dia duduk di tepi sungai yang tak jauh dari rumah nya.
Di pandang nya langit yang mendung itu dia jadi teringat dengan tragedi danau waktu itu, masih jadi tanda tanya besar siapa yang sudah mendorong nya, Sakinah hanya ingat topeng pria itu.
" Adam jahat banget mukul gue hikss.... Kemaren katanya cinta tapi kok mukul ga elit banget omongannya" sakinah menangis di sungai itu meluapkan kesedihannya.
Bersamaan dengan tangisannya hujan turun begitu derasnya karena melamun sakinah sampai tak sadar. Hingga langit mulai gelap pun dia masih menangis di bawah hujan.
Di rumah tepat nya di kamar Adam sudah menunaikan ibadah sholat Maghrib nya.Dia melihat hujan dari balik jendela itu bohong jika dia tak khawatir dengan gadisnya.
" Saya tidak perduli dia mau kemana, kenapa harus saya pikirkan" memang ucapan nya seperti itu namun jauh di hatinya Adam begitu gelisah kemana gadisnya pergi.
"Loh? Kok baju gue basah" sakinah baru sadar hujan turun membasahi tubuhnya.
" Lah? Udah gelap aja Langitnya, gue harus pulang kalau gak si adam ngamuk" dia berlari dengan kencang, karena berlari begitu kencang sakinah tak melihat jika di belakang nya ada motor yang melaju sangat kencang.
"Tin,tin.....!!!"
" Brukkk" tubuh sakinah sampai terseret beberapa meter.
Bersamaan dengan itu petir dan kilat menyambar, Adam sampai kaget saat membaca buku.
" Astagfirullah" dia berlari ke jendela kamar untuk melihat keluar berharap Istrinya sudah pulang. Tapi nihil sang istri tak ada bahkan sudah di cek cctv.
Kegelisahan begitu kentara di matanya, tubunya sudah tak enak hatinya merasa nyeri seakan akan sesuatu telah terjadi.
"Apa dia lari dari rumah"
" Kalaupun dia lari dari rumah saya tidak peduli itu hidupnya, lebih baik saya tidur dari pada memikirkan orang" adam menarik selimut lalu memejamkan matanya.
Tak lama kemudian dia membuka lagi matanya karena memikirkan perbuatan nya yang begitu keterlaluan terhadap gadisnya.
Di tatap nya tangan kanan itu yang sudah di pakai untuk menampar pipi yang biasa di singgahi bibir nya, dia juga teringat bagaimana darah segar keluar dari bibir yang biasa di singgahi bibir nya juga.
Adam meneteskan air matanya " itu hukuman untuk mu karena telah menyakiti hati saya"
Perkataan tak sejalan dengan hati,bibir berkata seperti itu tapi hatinya begitu merasa bersalah.
"Mbak mbak, masih idupkan" tanya pemuda yang menabraknya.
" Iya masih idup, bantu gue berdiri"ucapnya menahan sakit, untung sakinah masih kuat.
pemuda itu membantu sakinah berdiri terlihat sakinah penuh dengan luka di sekujur tubuh nya.
" Mau saya antar ke rumah sakit mbak" sakinah menggeleng dia tak ingin Adam salah paham lagi.
" Kagak usah, rumah gue Deket itu di situ" tunjuknya pada rumah Adam.
" Oh ya udah saya pamit sekali lagi saya minta maap ya mbak" sakinah mengacungkan jempol nya.
Pemuda itu pergi dari sana sedang sakinah berjalan tertatih tatih untuk pulang. Saat membuka gerbang terdengar bunyi ,Adam langsung berjalan ke arah jendela dia mengintip dari sana.
Bisa dilihat sakinah berjalan dengan kesakitan tubuh nya penuh dengan luka bekas kecelakaan tadi. Dia berusaha berjalan hingga ke pintu utama tapi Adam tak ada inisiatif sedikit pun untuk membantu, dia terlalu egois.
" Saya tidak akan membantu nya lebih baik saya tidur dengan nyenyak dari pada mengurusi orang seperti dia" Adam kembali ke kasur nya lalu berusaha memejamkan matanya.
Sakinah meraih gagang pintu utama lalu membukanya " assalamualaikum"
Dilihat nya ruang tamu yang sudah bersih dari serpihan kaca, dia yakin bahwa Adam yang membersihkan nya.
" Si Adam udah tidur kali ya" ucapnya saat melihat rumah begitu sepi.
Sakinah mengambil kotak p3k yang terdapat di ujung ruang tamu untuk mengobati lukanya lalu pergi ke dapur guna membersihkan lukanya terlebih dahulu.
Sakinah duduk di bawah meja makan agar tak terlihat jika Adam tiba tiba turun.
Gadis itu mulai memperban luka yang ada di kepala nya terlebih dahulu baru setelah nya tangan dan kaki nya dia melakukan nya dengan cepat,karena memang dia sudah ahli jika hal yang seperti ini.
Tapi ada satu yang jadi masalah nya sekarang yaitu punggung nya juga terluka dia agak susah mengobati nya.
Biar lebih leluasa sakinah membuka bajunya dan bra nya lalu di lempar nya ke sembarang arah.
" Aisss perban sialan" umpatnya saat perban itu tak bisa di pasang ke punggung nya.
Tiba tiba saja tangan seseorang mengompres luka di punggung nya dengan air hangat.
" Anjir sakit..." Sakinah Meringis kesakitan kala kain itu menyentuh lukanya.
" Diamlah" ya, orang itu adalah Adam.
Adam dengan telaten mengobati luka di punggung sakinah. Tampak sakinah menahan sakit dan malu secara bersamaan karena memang saat ini dia tak mengenakan sehelai benang pun di badannya hanya celana pendek yang sekarang ini di pakainya.
" Berbalik lah" kata Adam mengintrupsi.
" Tidak mau" cicitnya pelan.
" Berbalik atau saya yang paksa untuk berbalik" ancam adam.
" Di dada gue mana ada luka" ucapnya yang masih memunggungi suaminya.
" Sakinah....." baiklah sakinah nurut saja.
" Lagian laki gue, ga dosa kan?" monolog nya dalam hati.
Perlahan Sakinah membalikkan badannya tapi dia menutup matanya karena terlalu malu jika melihat wajah Adam.
" Gue bodoh banget pakek sok sok an ngelempar baju" sakinah merutuki kebodohan nya sendiri.
Adam hanya menarik nafasnya saat melihat benda kenyal itu di depan matanya.
Adam mengoleskan salep pereda luka di dada yang terkena serpihan kaca itu, bohong jika Adam tak tergoda, tak tau kah sakinah saat ini Adam tengah menahan hasratnya mati Matian. Bagaimana pun juga Adam tetaplah pria normal yang jika melihat seperti itu pasti akan tergoda juga apalagi di depannya ini sudah halal untuk dia miliki.
Apalagi sakinah bahkan tak menutupi asetnya sama sekali terlihat jelas di mata Adam dua benda kenyal itu.
" Stttss sakit...." Ucap sakinah kesakitan saat salep itu menyentuh lukanya, reflek dia menyentuh tangan Adam.
"Tahan" ucapnya singkat.
" Udah belom " tanya sakinah.
" Hemmm" dia hanya membalas nya dengan deheman.
Dengan gerakan cepat sakinah langsung memalingkan badannya.
" Duh baju gue kemana ya" Sakinah celingak-celinguk mencari keberadaan bajunya.
" Bajumu itu basah,pakai yang lain"
" Ambilin dong dam" ucap sakinah memohon.
" Tidak mau"
" Gue malu kalau ke atas" cicitnya malu
" Saya sudah lihat,apa yang mau kamu malukan" sakinah melotot kan matanya.
" Dasar mesum" sakinah menyilang kan tangannya di depan dadanya.
" Ambil sendiri masih punya kaki kan"
" Kaki gue sakit gendong dong" sakinah merentangkan kedua tangannya.
"Ya udah kalau Lo gak mau, gue Disni terus,tanpa baju biar semua orang liat" nah kalau sudah seperti ini Adam pasti mau.
Lihatkan wajah Adam sudah berbeda, wajah masam nya begitu tersorot.
" Baiklah" sakinah tersenyum menang
Adam menggendong sakinah ala koala agar dia tak bisa melihat aset istrinya tapi kedua benda kenyal itu malah menempel di dada bidang Adam.
" Astagfirullah" ucapnya istighfar.
" Kenapa" tanya sakinah bingung.
Sakinah memang otak udang, sudah tahu suaminya tengah menahan nafsunya masih saja di tanya.
Bukannya menjawab Adam langsung saja menggendong sakinah ke kamar tapi saat di tangga,tanpa sengaja sakinah bernafas di leher Adam itu membuat Adam semakin berhasrat.
" Jangan bernafas di leher saya" ucap Adam dengan suara beratnya
Tapi sakinah malah semakin menjadi
" Mau berhenti atau saya lempar ke bawah?!!" sakinah langsung takut dia menyembunyikan wajahnya di ceruk leher Adam.
Saat sudah sampai di kamar, Adam tidak langsung menurunkan sakinah ke kasur atau pun ke sofa, karena kedua kaki Sakinah memeluk erat pinggang Adam begitu pun Adam dia begitu nyaman.
" Turun"
" Tidak mau" ucapnya menirukan suara Adam.
" Dam Lo gak mau tidurin gue" kata sakinah menarik turunkan alisnya.
" Tidak mau"penolakan yang sangat menyakitkan.
Baiklah sepertinya sakinah harus agresif duluan, tanpa ba bi Bu dia langsung saja menarik tengkuk Adam, dia ******* bibir adam kasar, Adam yang mendapat kan serangan mendadak langsung membawa tubuh sakinah ke sofa, tanpa melepas gendongan.
Ciuman kasar itu sekarang menjadi ciuman lembut nan mesra, karena Adam mengimbangi permainan yang di lakukan sang istri.
" Nakal banget" ucap adam berbisik di telinga sakinah, dibisiki seperti itu membuat telinga sakinah meremang.
Bibir adam kini mencumbu leher sakinah dan menggigitnya sedikit, tampak leher sakinah sudah penuh dengan tanda merah karena ulah adam
Tangan Adam sudah bergerilya kemana mana termasuk meremas kedua benda yang dari tadi menjadi penyebab dirinya beristighfar, sakinah mendesah saat Adam menyentuh miliknya.
Mendengar ******* sakinah malah makin membuat Adam bersemangat.
" Sakinah saya sudah tidak tahan" bisik Adam dengan suara serak di telinga sakinah.
Adam dengan gerak cepat membawa tubuh kurus itu ke kasur, di letakkan nya sakinah pelan pelan.
"Bolehkah malam ini saya ambil hak saya" tanya adam yang sudah berada di satu selimut dengan istrinya.
Sakinah mengangguk malu, adam tesenyum lalu mengucap bismillah.
__ADS_1
sebelum melakukan ibadahnya Adam membaca doa dan menuntun sakinah membacanya agar mendapatkan hasil yang maksimal.
Selanjutnya cukup Adam, sakinah dan Allah yang tau apa yang mereka lakukan。◕‿◕。