Istri Tampan Milik Gus Adam

Istri Tampan Milik Gus Adam
Baju pengantin


__ADS_3

Pada pukul 4 pagi ada seseorang yang mengetuk pintu kamar mereka,sakinah bangun dia mengira itu pasti santri yang biasa membangunkan mereka solat.


"Iya gue solat" katanya sedikit teriak.


" Ini ummi nak" mendengar suara ummi Khadijah Sakinah jadi kalang kabut mencari selimut untuk menutupi tubuhnya.


" Eh ummi ada apa?" Tanyanya saat sudah membuka pintu.


"Begini kamu kan hari ini akan menikah dengan adam sebaiknya bangun nanti kamu akan di dandani sama MUA pilihan ummi di tempatnya" sakinah sedikit berpikir, ia baru ingat bahwa hari ini hari pernikahannya.


" Gaunnya?" Sedari semalam ini lah yang di tunggu sakinah yaitu gaun pengantin.


" Ada di tempat MUA nya, ayo kamu solat dulu habis itu ke ndalem sama temen temen mu ya" ummi mengucapkan salam lalu bergegas pergi.


Sakinah membangun kan kedua curutnya namun nihil mereka tak kunjung bangun ini pasti karena mereka berdua habis maraton Drakor.


Karena sudah geram mereka tak bangun akhirnya sakinah menyiram mereka dengan air yang terdapat di tong depan kosnya.


" Bangun lah wahai cucu Adam" sakinah terus menyiram tanpa henti.


Pada akhirnya mereka berdua bangun dengan wajah dan baju basah kuyup.


" Anjing Lo" maki Naila.


" Kiki kenapa nyiram kita" Ririn bingung tumben Sakinah bangun pagi.


" Kalian lupa hari ini gue kawin, k-a-w-i-n" ejanya dengan menekankan setiap hurufnya.


Naila yang sudah sadar sepenuhnya tanpa banyak bicara dia langsung bangun bergegas turun untuk mandi.


" Lu gak mau liat gue kawin Rin?" Tanya Sakinah yang melihat Ririn masih diam seperti memikirkan sesuatu.


" Ikut kok kalian siap siap dulu aja aku sih gampang" sakinah mengerti lalu turun untuk mandi juga.


Di perjalanan ke kamar mandi sakinah berpapasan dengan ustadzah Syifa dan ustadzah Sarah.


" Eh udah pulang biang keladi"kata ustadzah Syifa saat berpapasan dengan Sakinah.


" Aduh setau gue kalau setan itu subuh udah kagak ada ini kok ada di depan gue" jawabnya nyelekit.


" 3 hari ini kamu pasti enak ya bebas berzinah di luar sana" hinaan yang di lontarkan sarah membuat Sakinah mengerti bahwa orang orang pesantren tak ada yang tau tragedi danau itu.


" Zina zina mulut lu nanti masuk neraka, kebiasaan fitnah orang gue Gibeng juga Lo" sakinah sudah ambil ancang-ancang untuk menonjok Sarah, namun Aris datang melerai.


" Heh mbak masih subuh ini kok udah pada ribut" tegur Aris


melihat ada Aris mereka berdua langsung merubah mimik wajahnya seakan akan sakinah yang memulai semuanya.


" Muka kaya Bidadari kelakuannya kayak setan" sakinah meludah ke arah Syifa dan Sarah.


" Astagfirullah mbak ini ustadzah tidak boleh seperti itu kalau ketahuan mas Adam bisa di marahi" sakinah malah meledek Aris dengan menjulurkan satu lidahnya,kebiasaan sakinah.


"Wlee ga peduli" dia lantas pergi ke tempat tujuannya dari tadi yaitu kamar mandi.


" Dosa apa mas Adam dapat jodoh kaya begitu modelnya" monolog Aris.


" Udah nai?" Sakinah Melihat Naila yang sudah menyelesaikan mandinya.


" Udah dong,ga kaya lu mandi sejam" ledeknya


"Ihh sorry ya, lu itu mandi bebek jangan bandingin sama gue yang mandi dengan benar" Naila tak kuasa berdebat ujung ujungnya tak akan selesai lebih baik ia bersiap saja habis itu pergi ke ndalem.


Waktu sudah menunjukkan pukul 5 pagi mereka bertiga sudah ada di ndalem ada ummi dan Fatimah sedangkan Adam,Abah,raka dan Ryan Sudah pergi duluan.


" Ummi nikahnya dimana?"tanya sakinah.


" Di salah satu Masjid di kota ini" kecewa, itu yang dirasakan sakinah ia kira akan menikah di gedung atau di hotel,pupus sudah impian pernikahan yang dia inginkan.


Naila tau apa yang di rasakan Sakinah sejak SMA sakinah selalu mengatakan harus menikah sesuai impiannya yaitu tema ala ala kerajaan katanya.


"Ayok ummi mobilnya sudah siap" mereka semua pergi ke tempat MUA guna mendandani sakinah.


Ummi dan Ririn juga di dandani namun di ruangan yang berbeda. Sedangkan Naila satu ruangan dengan Sakinah.


Setelah selesai di polesi makeup waktu nya melihat gaun yang akan di pakai Sakinah.


" Mana gaunnya gue mau liat" sakinah sudah tak sabar melihat gaun pengantinnya, semoga saja sesuai ekspektasi nya.


Para MUA yang mendandani sakinah mengambil gaun pengantin yang akan di pakai pengantinnya hari ini.


" Ini dia baju pengantin mbak"MUA itu menunjukkan gaunnya pada Sakinah, Naila juga melihatnya, Naila yakin Sakinah pasti tak suka.


sakinah meneliti gaun berwarna putih itu seperti dress pikirnya,panjang sekali sangat menutupi lekuk tubuhnya di tambah ada hijab yang sangat panjang plus ada kain yang di yakini Sakinah adalah cadar.


" Kenapa jadi gini gaun pengantin gue" Sakinah rasa ingin menangis saja dibuatnya.


" Gue ga mau pakai ini" sakinah tak terima hari pernikahannya jadi seperti ini walaupun ia tak cinta dengan adam tapi sama saja ini itu menikah.


"Mbak ayo jangan seperti ini sebentar lagi pernikahan kalian akan di mulai" para MUA itu berusaha keras untuk membujuk sakinah Begitu juga dengan Naila.


Ditambah lagi ummi dan Fatimah sudah pergi duluan ke masjid menyisakan mereka bertiga saja yang akan pergi ke sana.


" Apa gue kabur aja ya? Lagi pula gue kan ga cinta sama Adam, buat apa nurut sama Abah dia kan bukan bapak gue" pikirnya kemudian bangkit.


" Sakinah ayo lah jangan gitu tinggal satu langkah lagi, Jangan kaya bocah" pinta Naila dengan memohon.


Ririn datang dengan wajah yang sudah di poles make up dan baju gamis berwarna putih yang di baluti hijab cantik sekali.


" Ki kok belum siap" tanya Ririn.


" Rin cobak lu liat masa gue pakai beginian muka gue mau taruh dimana maluu dong" sakinah mengadu pada Ririn dia tau Ririn pasti akan membelanya


" Ya udah ga usah di pakai seenaknya kamu aja mau pakai apa" Naila mendengar pendapat Ririn langsung menggeplak kepala Ririn dengan hijab yang ada di tangannya.


" Goblok anying, pendapat lu sungguh tidak berguna masa lu suruh Kiki ganti gaun apa kata ummi dan lainnya nanti" Naila tak habis pikir dengan kedua temannya ini.


" Lagian ini pernikahan Kiki kamu tidak berhak ikut campur" kurang ajar mulut ririn.


" Gue sahabatnya Kiki lu itu cuman orang baru yang datang merusak persahabatan kami" itu lah kata kata yang sedari dulu ingin Naila ucapkan ke Ririn.


"Oh ya? Sahabat tapi tidak bisa mengerti keinginan sahabatnya" Ririn mencemooh Naila seolah olah Naila adalah sahabat yang buruk.


" Tidak semua keinginan harus terpenuhi babi emang lu yatim piatu dari keinginan lu sendiri,gak kan?" Skakmat, Ririn langsung kicep di buatnya.

__ADS_1


" Udahh diemm kalian!!"bentak sakinah kencang.


Sakinah pusing sedari tadi memikirkan apa yang akan di lakukan selanjutnya,Kedua sahabatnya malah bertengkar.


Beberapa menit kemudian akhirnya dia menemukan ide cemerlang.


" Ayok kita ke masjid itu" mereka berdua bingung maksudnya seperti apa.


" Udahlah ayo ikut aja gaunnya kita tinggal aja di sini kita sewa gaun baru" sakinah menarik kedua lengan sahabat menuju mobil yang akan mengantarkan mereka ke masjid.


Saat sudah sampai di depan mobil


" Eh tunggu jilbab gue ketingglan" Naila berlari ke ruangan tadi.


" Isss si Naila ada ada aja" ucap sakinah kesal.


Saat akan mengambil hijab ia melihat para MUA yang akan menaruh kembali gaunnya tapi di cegat Naila.


" Udah ayok berangkat liat udah jam berapa ini" mereka semua sudah masuk ke dalam mobil, sakinah melihat Naila memeluk kantong keresek seperti berisikan sesuatu.


" Apaan tuh" tanya Sakinah kepo.


" Baju gue yang dari rumah" jawabnya asal takut sakinah curiga. Namun sakinah percaya percaya saja.


Mereka berhenti di sebuah toko khusus gaun pernikahan, ada banyak macam model gaun di sana, pilihan Sakinah jatuh kepada gaun putih tak berlengan yang menampakkan belahan dada nya dengan rok yang mengembang panjang seperti gaun impiannya,itu lah yang dia inginkan.


" Gue mau gaun yang ini" finalnya, sakinah lalu membayar gaun yang di sewanya dengan uang tabungan yang ada di kartu ATM nya.


Sakinah sudah selesai memakai bajunya dia tampak cantik Naila saja sampai pangling apa lagi melihat sakinah memakai mahkota di kepalanya walaupun rambut nya seperti laki laki namun tak melunturkan aura perempuan nya.


" Aduh duit gue abis awas aja si adam gue bakal minta ganti rugi" kata Sakinah.


" Lo cantik banget besti huhuhu tapi yakin Adam ga marah" sakinah tersenyum lalu mengatakan


" Ga akan marah kalau marah gue ceraikan dia saat itu juga" mendengar itu membuat Naila bergedik ngeri.


3 manusia itu sudah sampai di masjid yang begitu besar tapi tak lewat depan karena memang ummi suruh lewat belakang soalnya belum sah.


Naila dan Ririn mengangkat gaun Sakinah dari belakang yang begitu besar takut kotor terkena tanah.


" Ihh gaun lu ribet amat sih ada ekornya segala" protes Naila.


" Ihh bacot lu, angkat juga dong slayer weddingnya nanti kotor" perintah sakinah.


Mereka sudah tiba di bagian belakang masjid ada orang yang menunggu mereka yaitu Fatimah dan sepupu perempuannya adam yaitu Zahra.


" Astagfirullah mbak kok pakai baju begini,setau aku gaunnya gak seperti ini" kaget Fatimah begitu juga dengan Zahra.


" Gaunnya jelek gue ga suka" Fatimah mengerti lalu menyuruh sakinah masuk ke ruangan yang sudah di siapkan mereka.


Bisa di dengar dari suara mikrofon,pak penghulu masih baca baca doa entah apa yang di ucapkan nya namun sudah pasti itu doa.


Badan sakinah sudah mulai dingin dia gugup karena ini pengalaman pertamanya seperti ini dadanya berdebar kencang, apakah keputusan nya sudah benar?


" Bismillahirrahmanirrahim" terdengar suara penghulu melalui pengeras suara,sakinah memejamkan matanya dia tau pak penghulu akan membacakan ijab qobul nya.


" Bapak maapin sakinah ,anak bapak ini belum bisa banggain bapak dan emak bisanya bikin malu aja dan sekarang pun sakinah menikah belum izin sama bapak" tangis Sakinah pecah.


Naila Langsung memeluk sang sahabat dengan sayang dia tau sakinah sebenarnya gadis yang rapuh tapi dia berlagak seolah olah dia kuat.


" Ayo silahkan kalian berdua berjabat tangan"


Adam membaca bismillah begitu juga dengan raka, adam begitu gugup ia takut tak bisa mengucapkan kabul dengan benar.


" Mas jangan gugup, mas pasti bisa" Ryan menyemangati kakaknya agar tenang.


Raka dapat merasakan tangan Adam begitu dingin saat menjabat tangan Adam.


"Dingin banget tangannya" gumam Raka pelan.


" Ayo akad nikah akan kita mulai" ucap pak penghulu.


“bismillahirrahmanirrahim saya nikahkan dan kawinkan engkau Muhammad Adam samudera Bin Imron Abraham dengan kakak saya yang bernama Nur sakinah binti Abdul Adhi(Alm) dengan mas kawin uang tunai sebesar 400 juta serta seperangkat alat sholat di bayar tunai"


suara lantang itu begitu jelas di telinga sakinah ia meneteskan air matanya dia tau suara siapa itu.


" Raka.." lirihnya terharu adiknya menjadi wali nikahnya.


" Saya terima nikah dan kawinnya Nur Sakinah binti Abdul Adhi (Alm) dengan mas kawin dan seperangkat alat solat tersebut di bayar tunai" Adam melafalkan kata itu hanya dalam satu tarikan nafas.


" Bagaimana semuanya para saksi apakah sah?" Tanya penghulu semuanya tersenyum.


" Sahhhh" jawab mereka semua kompak


" Alhamdulillah" semuanya mengucap hamdalah bersama sama.


" Yuhuuu mas Adam ga jomblo lagi" goda Aris pada kakak sepupu nya.


" Baarakallahu laka wa baarakaa alaika wa jamaa bainakumaa fii khoirin, semoga menjadi pasangan Hingga ke Jannah" ucap Ryan tulus memeluk kakaknya, Ryan terharu Melihat kakaknya sudah menikah.


" Abah dan ummi hanya bisa mendoakan kalian agar di berikan keberkahan di setiap langkah kalian,Semoga kalian akan terus bersama hingga akhir hayat dan dipertemukan kembali di dalam surga-Nya kelak" doa Abah untuk anak sulung nya.


Sang ummi masih diam tapi matanya tak bisa bohong dia terlihat menahan tangisnya Adam langsung memeluk ummi nya dengan berlinang air mata.


" Sekarang kamu sudah punya istri le sudah besar ternyata anak ummi, ummi hanya bisa mendoakan kebahagiaan kalian selalu, jika ada masalah bicara baik baik tidak perlu emosi anakku kamu tau Sakinah seperti apa kan? Ingat kata ibunya kamu harus jaga dia" tutur sang ummi yang diangguki Adam.


" Ayo sekarang ambil mantu ummi" ucap ummi tak sabar.


" Iya....ndak Sabaran banget liat mantunya" kata Adam yang mengundang tawa semua orang.


Fatimah mengantarkan masnya ke ruangan yang terdapat sakinah dan 2 curut di dalamnya. Adam mengetuk pintu itu.


" Assalamualaikum sakinah ini saya suami mu" dia yang ngomong dia juga yang salting,dasar Adam.


" Eh ada laki lu ayo siap siap" Naila membetulkan make up sakinah agar lebih rapi.


"Jangan heboh deh" ucap sakinah malas.


"Ayo Rin kita keluar" Ririn hanya diam saja memandang sakinah dengan tatapan yang sulit di artikan.


" Lu mau liat mereka begituan Rin? Masalah nya lu tahan gak" tanpa aba aba Naila menarik Ririn keluar lalu membukakan pintu untuk Adam.


" Eh Gus Adam ganteng banget, selamat ya Gus" Adam hanya mengangguk tapi Adam melihat pancaran permusuhan dari mata Ririn yang begitu kentara.

__ADS_1


Adam memilih tak ambil pusing dia langsung masuk ke ruangan itu dan menutup pintunya.


Saat akan membalikkan badannya dia kaget dengan apa yang di lihat di depannya.


" Sakinah?"


" Apa?cantik kan gue hihihi" ucapnya pede.


Mata Adam mulai memanas dia meremas kedua tangannya ke baju miliknya saat melihat pakaian yang di kenakan oleh sakinah,bukan seperti gaun yang di pilih Adam kemarin.


"Kamu ingin menghina saya dengan memakai baju seperti itu?" Tanya adam yang masih menahan emosi nya.


Melihat tatapan marah dari mata Adam membuat bulu kuduk sakinah berdiri merinding.


" Gaunnya jelek gue gak suka,semuanya ga sesuai dengan apa yang gue inginkan,dari dulu impian gue itu nikah dengan acara yang besar bukan di masjid seperti ini" Sakinah berkata seperti itu tapi masih belum mampu menatap mata laki laki di depannya.


Adam hanya bisa menahan rasa sakit di hatinya kala sang istri berkata seperti itu.


" Ganti" perintah Adam dengan suaranya yang dingin


" Tidak mau" ucapnya tak mau mengalah.


"Sakinah Wallahi saya tidak ridho kamu keluar dengan pakaian seperti itu" Adam meneteskan air matanya entah kenapa dirinya jadi sedih dia takut tak akan bisa membimbing Sakinah.


" Kalau kata gue gak mau ya gak mau, masih untung gue Dateng ke pernikahan tadinya sih mau kabur" katanya enteng namun mampu menyulut emosi Adam.


" SAKINAH!!" Bentak Adam sangat keras sakinah sampai kaget di buatnya baru itu dia Melihat Adam semarah ini.


Mata Adam begitu tajam menatap sakinah seperti ingin memangsanya hidup hidup


" Lo mau mukul gue silahkan" tantang sakinah.


Adam langsung mendekat ke arahnya, sakinah sudah was was dia takut Adam benar akan memukulnya.


Tapi tak seperti yang di bayangkan Sakinah Adam duduk di depannya lalu memeluk tubuh sakinah,di bawanya tubuh kurus itu ke pelukan hangat milik Adam.


" Jangan buat saya marah sakinah, ini hari pernikahan kita" sakinah bisa mendengar detak jantung Adam yang mengacu cepat suaranya juga terdengar bergetar.


" Maaf" ucap sakinah ikut menangis, entahlah gadis itu seperti merasa bersalah.


" Gaun itu saya yang pilihkan khusus, teman teman saya datang hari ini, saya tidak mau bagian tubuh dari kamu menjadi tontonan mereka semua"


Adam mengatakan itu dengan tulus dia bukannya mengekang sakinah,hanya saja dirinya tak rela jika itu terjadi.


" Tunggu di sini saya akan Carikan baju gamis siapa tau Fatimah bawa" Adam melepas pelukannya lalu pergi keluar tak lupa menutup pintu.


Adam Melihat naila berdiri tak jauh dari pintu nya sedang berselfie ria, Naila yang sadar Adam sudah keluar langsung menaruh hpnya ke tas.


" Dam gue tau, pasti lu mau cari baju ganti kan" tebak Naila yang di angguki Adam.


Naila memberikan kresek yang dia bawa dari tempat make up mereka, ternyata isi kresek itu berupa baju yang tadi di tolak sakinah.


Adam tak tau lagi bagaimana cara berterima kasih dengan Naila.


" Naila terima kasih banyak" Naila memberikan 2 jempolnya.


" Udah sana suruh dia ganti, sebenarnya cantik sih gaunnya tapi masih cantikkan gaun yang di pilih Lo" Naila pergi dari sana untuk ikut duduk bersama para tamu.


Adam kemudian masuk ke kamar dan menyerahkan kresek hitam itu.


"Sakinah ini gaunnya" sakinah melihat kresek yang di bawa Adam seperti tak asing.


" Loh kok ada gaun yang tadi bukannya di tinggal ya?" Sakinah heran kenapa bisa sampai sini.


" Sahabat mu yang bawa" sakinah mengangguk mengerti ternyata Naila.


Sakinah melihat Adam yang masih di ruangan itu tak kunjung pergi. Adam yang tau lantas tersenyum jahil.


" Saya kan suami mu tak apa, ganti lah di depan saya" Naila melotot kan matanya tak terima.


" Gak bisa, sana keluar" usir Sakinah.


"Memangnya kamu pandai pakai gaun itu sendiri" benar juga pikir sakinah dia kan belum pernah pakai pakaian seperti ini.


" Oke fine tapi Lo hadap belakang dulu dong gue pakai bajunya dulu" perintah Sakinah.


" Sudah selesai?" Tanya adam


" Belomm anjir" suaranya begitu terdengar kesusahan.


" Mulut kamu sakinah mau saya cabe?" Ancam adam.


" Duh jangan ceramah nanti aja"


Adam membalikkan badannya sakinah terkejut reflek dia mengambil hijab panjang untuk menutupi tubuhnya.


" Itu sudah selesai tinggal hijab aja kan kenapa di tutup" tanya adam heran.


" Resleting nya susah belom di pasang"


" Sini saya bantu"


Adam mendekat ke arah Sakinah tapi sakinah malah menjauh


"Jangan deket Deket Adam aku malu" Cicitnya pelan.


" Giliran yang bukan mahram tidak tahu malu giliran sama suami malu" Adam Langsung membalikan tubuh sakinah dan menarik resleting sakinah dengan cepat.


" Ihh Adam mesumm" ucapnya tak terima dia takut Adam melihat Dalemannya alias bh nya.


" Sudah lah saya tau,warna merahkan?" Sakinah mengeplak mulut Adam dengan hijab di tangannya.


Tawa Adam seketika pecah, namun tidak dengan sakinah dia masih jengkel.


"cepat pasang jilbab nya tamu dari tadi sudah menunggu mempelai wanitanya"


" Gak tau caranya" sakinah menunduk malu.


Dia seorang muslimah tapi tak tau cara pakai hijab keterlaluan, benar tebakan Adam selama ini,dia saja tak punya mukenah pasti dia juga tak ada hijab.


" Sini duduk saya pakaikan"


Adam memakaikan model hijab paling simple agar tak lama, melihat suaminya dengan telaten memasang kan hijab di kepalanya membuat hati Sakinah tersentuh.

__ADS_1


" Dam Lo MUA ya?"


" Pertanyaan kamu sungguh tidak berbobot"


__ADS_2