
Melihat adegan bermesraan Morgan bersama dengan Ara tadi, hilang sudah selera makan Fla. Padahal, Fla ingin sekali makan bersama dengan Morgan, karena ia sadar kalau pola makan Morgan yang pastinya sudah berubah.
Fla sangat baik dengan membelikan makanan untuk Morgan, tetapi Morgan dengan teganya melakukan hal ini padanya.
TES!
Air mata yang dengan susah payah ia bendung, kini menetes dengan sendirinya ke atas lantai. Fla sudah kalah dengan rasa sakitnya sendiri. Sudah terlalu sering ia menahan, dan membiarkan perasaan sakit itu menggerogoti hati dan jiwanya.
Kini, Fla tak lain hanyalah raga yang tak bernyawa.
“Argh!” teriak Fla, sembari menjambak rambutnya sendiri, saking frustrasinya ia dengan keadaan.
__ADS_1
Ini semua karena dirinya yang tidak bisa memberikan keturunan pada Morgan. Kalau saja Fla bisa melakukan itu, pernikahannya dengan Morgan pasti tidak akan pernah hancur seperti sekarang ini.
Morgan membawa Ara keluar dari rumahnya, dan melepaskan tangannya ketika sudah berada di luar rumahnya. Ia merasa sikap Ara sudah keterlaluan, karena itu sudah membuat Fla sakit hati karenanya.
Ara memandangnya dengan sinis, “Kamu kenapa, sih? Kenapa kasar banget sama aku?” tanyanya dengan sinis, Morgan tak bisa berkata-kata lagi.
Morgan hanya bisa menunjukkan telapak tangannya saja pada Ara, tanda kalau ia meminta Ara untuk menyudahi semua permainannya. Ia merasa sudah lelah, menghadapi sikap Ara yang sangat kekanakkan, berbanding terbalik dengan sikap yang Fla miliki.
Hanya dengan satu pandangannya saja, Morgan mampu membuat Ara membeku takut, karena tatapan Morgan yang sangat menyeramkan. Ara diam tak berkutik, karena ia sudah melihat Morgan versi marah seperti sekarang ini.
“Enough, Ra! Kita memang menjalin hubungan, tapi gak begini juga caranya! Kamu gak seharusnya melakukan ini di depan Fla, karena biar bagaimanapun juga saya dan Fla masih--”
__ADS_1
“Suami istri, kan?” pangkas Ara, membuat Morgan terdiam menatapnya dengan sinis. Ara memandangnya dengan tatapan heran, “Kalau kamu masih sayang sama kak Fla, suruh dia kasih kamu keturunan, dong! Heran banget aku sama kamu, kenapa cewek mandul kayak gitu masih aja dipertahanin?” ujarnya, sontak membuat Morgan mendelik kaget mendengarnya.
“Sudah cukup, Ra! Wanita yang kamu bilang mandul itu, adalah kakak kandung kamu! Tolong berdamai sedikit dengan keadaaan!” ujarnya, berusaha mengingatkan Ara tentang hal yang sangat penting ini.
Ara sama sekali tidak menganggap Fla sebagai kakak, melainkan hanya menganggapnya sebagai musuh dan saingannya dalam hal perasaannya kepada Morgan. Ia tidak bisa membiarkan Fla memiliki Morgan sepenuhnya, karena dirinya yang juga sangat mencintai Morgan.
Apalagi hati kedua orang tua Morgan sudah berhasil direbut oleh Ara, sehingga tidak ada lagi yang bisa Morgan lakukan selain menurut dengan apa yang mereka perintahkan.
Tak mau kalah dari Morgan, Ara memandangnya dengan sinis dan tinggi. “Berdamai dengan keadaan? Seharusnya dia yang berdamai dengan keadaan! Udah tau mandul, kenapa masih kukuh gak mau dimadu?”
Ucapan dan perkataan Ara itu sangat membuat Morgan marah. Tangan kanannya ia layangkan ke arah wajah Ara, dengan Ara yang sudah menunduk ketakutan karena amarah Morgan yang ternyata sudah meluap.
__ADS_1
Morgan tak kuasa melanjutkan apa yang hendak ia lakukan pada Ara. Ia menahan tangannya, dan menarik kembali tangan yang hampir menampar wajah Ara itu.