Izinkan Aku Selingkuh

Izinkan Aku Selingkuh
Harapan Yang Sia-sia


__ADS_3

Melihat kepergian Morgan, Ara merasa sangat kesal sampai bola matanya hampir keluar dari pelupuk.


“Morgan!!” pekik Ara, yang tak dihiraukan sama sekali oleh Morgan.


Semua orang memperhatikannya dengan tatapan yang aneh, membuat dirinya merasa malu sendiri dengan keadaan.


Karena sudah malu dengan keadaan, Ara pun pergi dari sana untuk menuju ke arah kelasnya.


***


Sudah genap sebulan ke belakang, Morgan selalu mengonsumsi semangkuk mi goreng dengan topping telur ceplok rebus. Hal itu ternyata berdampak pada kesehatannya, dan mengganggu sistem pencernaan yang ia miliki.


Sudah beberapa kali ia keluar masuk toilet, karena perutnya yang terasa sangat perih.


Bagaimana tidak? Setelah makan semangkuk mi goreng tersebut di pagi hari, Morgan sama sekali tidak mengisi apa pun lagi pada perutnya. Esok paginya Morgan kembali menyantap mi goreng tersebut.


Bagaimana tidak sakit?

__ADS_1


Apalagi kesibukan Fla selama beberapa bulan ke belakang ini, membuatnya jadi tidak bisa menyiapkan makanan untuk Morgan di pagi hari.


Sudah beberapa kali Morgan hanya keluar masuk toilet rumahnya saja, karena merasakan sakit pada perutnya yang membuatnya lemas. Ia melangkah keluar dari toilet rumahnya, dan menghela napasnya dalam-dalam.


“Perut saya perih,” gumam Morgan, sembari memegangi perutnya yang sudah terasa perih.


TRING!


Sebuah pesan singkat masuk ke kotak masuk pada handphone Morgan. Walaupun masih merasa sakit pada perutnya, ia masih sempat membuka dan membaca pesan singkat tersebut, yang ternyata adalah dari Fla.


“Fla lembur long shift. Mungkin gak akan pulang. Abang tidur aja duluan, gak usah nunggu Fla balik ke rumah.” Isi pesan dari Fla.


Sudah lemas karena kekurangan cairan, ditambah lemas karena istrinya tidak pulang ke rumah malam ini.


“Fla gak pulang?” gumamnya, yang lalu menepuk keningnya yang terasa sangat panas.


“Kenapa kening saya malah panas begini? Apa saya beneran sakit?” gumam Morgan, yang benar-benar sudah tidak bisa merasakan tubuhnya lagi.

__ADS_1


Morgan melangkah dengan langkah yang sempoyongan, menuju ke arah ranjang tidurnya yang berada beberapa meter di hadapannya. Ia sangat butuh banyak cairan, tetapi ia sama sekali tidak bisa melangkah lebih jauh lagi, selain ke arah ranjang tidurnya.


Saking lemasnya, ketika sudah sampai di ranjang tidurnya, Morgan melayangkan tubuhnya ke atas ranjang, lalu berusaha merasakan tubuhnya yang sudah tidak terasa itu.


“Lemas ....” Morgan menelan salivanya yang hampir kering, karena merasa tenggorokannya yang sangat kering.


“Haus ....”


Tak ada yang bisa Morgan lakukan, selain berbaring di atas ranjang tidurnya. Ia berharap Fla pulang secepatnya, agar bisa merawatnya yang benar-benar sedang sakit itu.


Morgan menoleh ke arah foto pernikahan mereka, yang terpampang jelas pada dinding kamarnya. “Fla ... cepat pulang ... saya gak bisa tanpa kamu ...,” rintihnya dengan tatapan sendu.


TRING!


Satu pesan singkat masuk kembali pada kotak masuk handphone-nya. Morgan tersenyum sangat senang, karena ia berpikir kalau Fla berubah pikiran, dan sedang menuju pulang ke rumah mereka saat ini.


“Fla ....”

__ADS_1


Senyuman Morgan seketika luntur, ketika melihat yang mengirimkan pesan singkat tersebut adalah Ara dan bukan Fla. Ia merasa sedikit kesal, karena sudah mengharapkan sesuatu yang tidak mungkin terjadi.


“Sia-sia saya berharap, Fla ....” Morgan merasa dirinya sudah benar-benar down, dan tidak bisa melakukan apa pun selain menerima hal yang sudah ia mulai.


__ADS_2