
Morgan sudah berada di ruang UKS kampus. Ia pingsan, dan baru saja siuman saat ini.
Pemandangan pertama yang ia lihat adalah Dicky –temannya– yang sedang duduk di kursi yang berada di hadapannya.
Morgan memegangi kepalanya, dengan pandangan yang masih berkunang-kunang itu.
“Dik ...,” panggil Morgan lirih.
Mendengar Morgan yang memanggilnya, seketika Dicky menyimpan handphone-nya di saku celananya. Ia memandang tajam ke arah Morgan, dengan pandangan yang sangat khawatir.
“Gimana kondisi kamu? Sudah enakan?” tanya Dicky, Morgan menghela napasnya dengan panjang.
“Masih lemas,” jawab Morgan, yang memang benar merasakan lemas pada tubuhnya.
Pandangan Dicky menajam ke arah sahabat seprofesinya itu, ia tidak biasanya seperti ini. Selama Morgan bekerja di kampus ini, baru kali ini Morgan tumbang seperti ini.
__ADS_1
Ada rasa curiga Dicky pada Morgan, karena ia mungkin sedang tidak dalam kondisi yang baik saat ini.
“Are you okay? Kenapa bisa begini, Gan?” tanya Dicky, Morgan memandangnya dengan tatapan yang lesu.
“Saya gak apa-apa, saya juga gak tau kenapa bisa seperti ini,” jawab Morgan, yang tidak ingin memberitahu, kebenaran tentang masalah yang ada di dalam rumah tangganya.
Walaupun mendengar Morgan yang mengatakan hal itu, Dicky sama sekali tidak percaya dengan apa yang ia katakan. Ia merasa ada banyak permasalahan, yang dirasakan oleh Morgan saat ini.
Dicky menggelengkan kecil kepalanya, “Gak mungkin, kamu pasti ada masalah. Ngomong aja, jangan sampai pikiran itu malah menggerogoti kesehatan kamu. Baik kesehatan jasmani, ataupun rohani,” ujarnya, Morgan hanya bisa memandangnya dengan tatapan yang biasa saja.
“Ya sudah, saya juga gak mau ikut campur ke dalam masalah kamu, kalau memang benar kamu punya masalah.” Dicky kembali mengeluarkan handphone-nya, dan membaca informasi di grup.
Dicky membaca semua informasi yang ada, sementara Morgan hanya bisa menahan rasa sakit pada perutnya itu.
Rasa sakit yang datang kembali, saat Morgan sedang tidak melakukan kegiatan apa pun. Jika ia sedang melakukan suatu kegiatan, sedikit banyaknya rasa sakitnya bisa teralihkan pada kegiatannya.
__ADS_1
“Aww ....” Morgan kelepasan merintih, walaupun lirih, Dicky yang fokus membaca informasi saja, bisa sampai mendengar dan menyadarinya.
Dicky memandang ke arah Morgan dengan bingung, “Kamu beneran gak apa-apa? Kenapa malah merintih gitu?” tanyanya lagi, berusaha untuk meyakinkan hati Morgan.
“Sepertinya ... ini sudah gak bisa tertahan lagi,” ujar Morgan, sontak membuat Dicky mendelik kaget mendengarnya.
“Ah?! Ayo ke rumah sakit, sekarang!” pekik Dicky, yang langsung segera memapah Morgan, agar Morgan bisa segera dibawa ke rumah sakit.
Dicky membawa Morgan ke rumah sakit, untuk melakukan pemeriksaan. Dengan kekuatan seadanya, Dicky memapah Morgan seorang diri, karena Morgan yang tidak ingin dibantu oleh siapa pun.
Morgan masih saja sok kuat, di saat seperti ini. Alhasil, Dicky menjadi kalang-kabut memapah Morgan, karena tubuh Morgan yang sedikit lebih besar dibandingkan dirinya.
Setelah menempuh perjalanan yang cukup lama, akhirnya mereka tiba di rumah sakit tempat Fla bertugas.
Dicky mengantarkan Morgan untuk menerima pemeriksaan terkait sakit pada perutnya, karena ia merasakan sakit yang begitu luar biasa, sampai tidak bisa menahan sakitnya lagi.
__ADS_1