
Morgan melangkah menuju ke arah kamar mandi, untuk sekadar membilas tubuhnya yang lengket.
Hari ini Morgan masih ada kegiatan untuk mengawas ujian tengah semester di kampusnya. Ia harus berangkat cepat, agar tidak terjebak kemacetan di jalan arah menuju ke kampusnya.
Morgan teringat dengan dirinya yang semalam merintih kesakitan. Ia tersenyum, karena pastinya Fla akan memperhatikannya dengan memberikan obat sakit perut dan juga memasakkan sarapan untuknya.
Dengan cepat, Morgan merapikan segalanya, bahkan dengan sangat cepat memakai kemeja dan juga jas hitamnya.
Morgan melangkah ke arah meja makan, untuk memeriksa sarapan yang pasti sudah disiapkan oleh Fla. Ia mencari, dan ternyata tidak ada apa pun di atas meja makan tersebut.
Karena terlalu bersemangat dan terlalu percaya diri, Morgan sampai gegabah dengan kenyataan yang terjadi. Di sana tidak ada apa pun, membuat Morgan merasa kesal dengan Fla.
“Kenapa dia gak siapin sarapan dan obat sakit perut buat saya? Dulu waktu saya sakit, dia diam-diam siapin semua di meja makan. Walaupun terlambat masuk kerja, dia bela-belain buat bikinin saya sarapan. Kenapa sekarang enggak?” gumam Morgan, yang terselip jelas nada kesal dalam ucapannya itu.
__ADS_1
Sekarang semuanya sudah berbeda, sudah tidak ada kehangatan dan kejutan lagi dalam pernikahan mereka. Fla sudah tidak memedulikan Morgan, sama seperti Morgan yang tidak memedulikannya.
Morgan pergi dengan perasaan dan hati yang kesal, padahal ia tahu dengan jelas kalau semua ini berkat kesalahannya juga.
Mau bagaimana lagi? Nasi sudah menjadi bubur.
Sepanjang perjalanan, Morgan hanya bisa menahan kesalnya pada Fla. Ia tidak bisa memungkiri, kalau pernikahannya dengan Fla ternyata memang sudah berada di ujung tanduk.
Tidak bisa maju, dan tidak bisa mundur.
Setelah sampai di kampus, seperti biasa Morgan mendatangi kantin kampusnya, untuk sekadar mengisi perutnya yang sudah sangat sakit. Tepat 24 jam hari ini, ia sama sekali belum mengisi perutnya.
Tubuhnya kian lama semakin kurus, karena ia sama sekali tidak merawat tubuhnya dengan benar. Ditambah lagi sakit perut yang selalu ia rasakan, membuatnya semakin tersiksa saja dalam menjalani hidupnya.
__ADS_1
“Harus makan kali ini! Jangan sampai enggak,” gumamnya sembari melangkah menuju ke arah kantin tempat biasa ia mengisi perutnya.
Belum sampai masuk ke dalam kantin, Morgan sudah melihat Ara yang duduk pada kursinya.
Kursi tempat biasa ia duduk saat berkunjung ke kantin kampus, sudah ditempati oleh Ara. Pandangannya mendadak menajam. Karena Ara, ia jadi benar-benar kehilangan selera makannya lagi.
‘Masa sih, saya harus gak makan lagi hari ini?’ batin Morgan, yang merasa sangat bingung dengan keadaannya itu.
Karena merasa sudah tidak berselera makan, Morgan segera pergi dari sana untuk menuju ke ruangannya.
Belum sampai Morgan pergi dari sana, Ara sudah berlari dan menahan lengan tangan Morgan yang kekar itu. Hal itu sontak membuat Morgan mendelik kaget, karena banyak sekali mahasiswa yang berlalu-lalang di sekitar mereka.
“Ra, lepasin. Banyak orang di sini,” gumamnya, membuat Ara merasa tidak terima diperlakukan seperti itu oleh Morgan.
__ADS_1
Matanya menajam ke arah Morgan, ia tidak bisa memaafkannya kali ini, saking kesalnya ia dengan kekasihnya itu.