Izinkan Aku Selingkuh

Izinkan Aku Selingkuh
Bincang Hangat


__ADS_3

“Halo, Sakila ya?” sapa Ilham.


“Ya, dok. Ada apa ya?” tanyanya.


“Gak apa-apa. Kamu ada di mana? Masih sama Fla?” tanya Ilham.


“Oh, Fla sudah saya antar ke rumahnya, dok. Saya juga sudah jalan ke arah rumah.”


Mendengar hal tersebut, Ilham merasa sangat bimbang. Tidak mungkin Ilham meminta Sakila untuk kembali ke tempat Fla, dan menunggu bersamanya di sana.


Itu sungguh sangat tidak etis.


“Oh, gak apa-apa, Sakila. Kamu lanjutkan saja perjalanan kamu, ya. Terima kasih, maaf mengganggu.”


“Ya, dok. Terima kasih kembali.”


Sambungan telepon mereka terputus, membuat Ilham menghela napasnya dengan panjang.


Teringat dengan permasalahan Morgan dan juga Fla, yang harus secepatnya diperbaiki.


Ini menyangkut hubungan mereka.


“Ini harus segera dibenarkan. Kalau permasalahannya tentang keturunan, mungkin Fla bisa coba saran dari saya,” gumam Ilham, yang benar-benar sangat merasa kasihan pada Fla.


Tidak ada siapun lagi, yang bisa menjadi tempat untuk mengadu bagi Fla. Hal itu yang membuat Ilham merasa sangat simpatik, dan kasihan terhadapnya.


“Jika Morgan sampai berani menyakiti Fla, saya gak akan tinggal diam. Saya akan menghapus air mata Fla, dan gak akan membiarkan semua itu terjadi padanya,” gumam Ilham, yang masih bertekad untuk menjaga Fla.


Memang karena ia masih belum bisa melupakan Fla. Ia juga tidak ingin melihat Fla sakit, dan akan menjadi orang yang pertama, yang akan ada untuknya.


Ilham pergi dari sana, tak menghiraukan apa pun lagi. Namun, pikirannya masih tetap tertuju pada Fla, karena ia tidak bisa sedetik pun melepaskan pemikirannya terhadap Fla.


Baginya, Fla adalah seorang yang sangat spesial.


Namun, Ilham sama sekali tidak ingin merebut Fla secara paksa, dari sisi Morgan.


Yang ia inginkan, Fla datang padanya secara sukarela, dan melepaskan Morgan juga dengan keadaan sadar tanpa sebuah paksaan.

__ADS_1


Bukan dirinya, kalau ia merebut paksa Fla dari sisi Morgan. Namun, jika keadaan memaksanya untuk merebut Fla dari Morgan, mungkin akan ia lakukan nanti.


***


Malam ini, Fla sudah selesai membersihkan tubuhnya. Ia merasa sangat sendu, karena malam ini adalah kali pertama ia tidur tanpa adanya Morgan di sisinya.


Rasa bersalahnya terhadap Morgan, membuatnya merasa tidak bisa berhenti untuk berpikir tentangnya.


Bagaimanapun juga, Morgan masih tetap suaminya. Ia harus melakukan apa yang Morgan perintahkan.


Namun, hasrat itu seakan sirna, karena lagi-lagi Morgan membuatnya merasa acuh, dengan segala hal yang ia lakukan bersama dengan Ara.


“Bang, kenapa semuanya jadi seperti ini? Hanya karena kita gak bisa punya keturunan, lantas Bang Morgan melakukan semua ini sama Fla?” gumamnya, merasa sangat bingung dengan apa yang Morgan lakukan padanya.


Sebenarnya, Fla sangat tidak tega. Akan tetapi, rasa sakitnya memaksanya untuk melakukan hal demikian.


Air mata menggenang di pelupuk mata Fla, karena dirinya yang merasa sangat sendu dengan keadaan rumah tangganya bersama dengan Morgan.


Awalnya semua berjalan baik-baik saja, sampai akhirnya mertua Fla yang merupakan orang tua Morgan, membuatnya merasa tersisih.


Entah dari mana mereka mengenal sosok Ara, mereka berusaha untuk menjodohkan Morgan dengan Ara.


Keputusannya mengenai hal itu, membuat kedua orang tua Morgan tidak tahu, dengan hubungan yang sebenarnya terjadi antara Fla dan juga Ara.


Mungkin, kalau sebelumnya ia mengatakan hal itu kepada mereka, mereka tidak akan pernah menjodohkan Ara dengan Morgan.


“Sekarang bicara pun sudah percuma. Mereka masih tetap akan menjodohkan Morgan dengan Ara. Lantas, harus bagaimana lagi? Morgan juga sudah sangat ingin menikahi Ara. Apa yang harus aku pertahankan lagi?” gumamnya, yang merasa sangat bingung dengan keadaan.


Handphone-nya berdering kencang, membuatnya terkejut mendengarnya. Dihapuskan air matanya yang hampir mengalir, dan ia berusaha menghela napasnya, agar tidak terdengar seperti hendak menangis.


Terlihat nama ‘dokter Ilham’ pada bagian depan layar handphone-nya. Dengan segera Fla mengangkat telepon darinya itu.


“Halo, dokter Ilham?” sapa Fla, dengan suara yang sangat hati-hati.


Jangan sampai Ilham mengetahui, kalau dirinya sedang tidak baik-baik saja saat ini.


“Halo, Fla. Maaf mengubungi kamu malam-malam seperti ini. Apa saya mengganggu?”

__ADS_1


Fla menggelengkan kepalanya, “Tidak, dok. Ada apa ya, dok?”


Ilham tersenyum, karena ternyata Fla masih saja berusaha bersikap tegar. Padahal ia sangat tahu, saat ini Fla pasti sangat tertekan dengan permasalahannya.


Bukan bermaksud untuk menertawai permasalahan Fla, tetapi ia sangat senang karena keteguhan hati Fla dalam menghadapi setiap permasalahannya.


“Begini, Fla. Pertama, saya mau bilang ... kalau di luar rumah sakit, bisa gak kamu panggil saya Ilham saja? Anggap saja, saya teman kamu,” ujarnya, sontak membuat Fla mendelik kaget mendengarnya.


“Saya ... mana berani seperti itu, dokter. Saya ini hanya asisten, gak pantas panggil nama ke dokter. Saya juga gak pantas temenan sama dokter,” ujar Fla merendah, membuat Ilham merasa sedih mendengarnya.


Fla terlalu merendah, sampai Ilham merasa sangat sedih mendengarnya.


“Jangan seperti itu, Fla. Sudah lebih dari 8 tahun lalu kita kenal. Jangan sungkan panggil nama saya, ya. Di luar rumah sakit gak apa-apa, saya anggap kamu teman, kok,” bantah Ilham, membuat Fla tersenyum mendengarnya.


Selama ini, Fla hanya berani berteman dengan orang sejawatnya saja. Ia tidak berani berteman dengan atasannya. Apalagi, Ilham adalah salah satu dokter senior di tempat ia bekerja.


“Terima kasih, dok ... maksud saya, Ilham,” ujar Fla, membuat Ilham tersenyum mendengarnya.


Sementara itu di sana, Morgan sedang beristirahat. Ia terkejut, karena mendengar suara kedua orang tuanya, yang terdengar dari luar kamarnya.


Morgan menghela napasnya dengan panjang, karena ternyata efek dari obat yang Ilham berikan padanya, sangat berpengaruh pada dirinya, sehingga membuatnya terus mengantuk.


“Obatnya bisa bikin ngantuk,” gumam Morgan, yang masih berusaha untuk membenarkan pandangannya yang masih rabun.


Kedua orang tua Morgan menerobos masuk ke dalam ruangan, membuat Morgan benar-benar terkejut melihat mereka.


Wajah mereka terlihat kesal, sehingga membuat Morgan tambah bingung saja dengan keadaan.


“Morgan! Kenapa kamu?!” pekik Mama, membuat Morgan merasa bingung dengan kedatangan mereka.


“Kenapa ada Mama Papa di sini? kenapa?” tanya Morgan, mereka memandang sinis ke arah Morgan.


“Ada apa? Kenapa kamu sakit begini? Kenapa kamu?” tanya Mama, Morgan hanya bisa menghela napasnya dengan panjang.


Padahal, ia sama sekali tidak ingin memberitahukan pada orang tuanya, kalau dia dirawat di rumah sakit. Akan tetapi, ternyata mereka sudah datang dengan sendiri, membuat dirinya merasa agak bingung.


“Siapa yang beri tahu kalian, kalau saya ada di sini?” tanya Morgan.

__ADS_1



__ADS_2