Izinkan Aku Selingkuh

Izinkan Aku Selingkuh
Honey Moon


__ADS_3

Kecupan itu berubah menjadi *******. Morgan ******* setiap inci leher Fla, saking merasakan sensasi yang sudah lama tidak ia rasakan bersama Fla.


Fla tak berkutik, ia bergeming membiarkan Morgan melakukan hal itu padanya.


Tangan Morgan bergerak naik, menangkup kedua gundukan kenyal milik Fla.


Setiap lenguhan yang terdengar, menambah hasrat yang inginkan lebih dan lebih lagi.


Mereka saling menikmati manis bibir mereka, dengan beberapa gerakan yang bisa menambah gairah yang telah lama terpendam.


Bau hangus masakan Fla tercium, matanya mendelik seketika dengan tubuh tersentak kaget. Ia berusaha melepaskan dirinya dari Morgan, tetapi itu hanyalah sebuah hal yang sia-sia.


Dengan sangat sulitnya, tangannya menggapai ke arah pemantik kompor. Ia memutarnya, untuk mematikan kompor, agar tidak terjadi hal yang tidak diinginkan.


Kali ini, Fla menyerahkan seutuhnya hatinya untuk Morgan. Ia harap, hal ini bisa membuatnya mendapatkan keturunan dengan Morgan.


Semoga saja.


***


Setelah melewati malam yang panjang bersama Morgan, Fla terbangun di saat matahari sudah menyorot menyilaukan pandangannya. Fla terusik, hatinya kesal karena matahari tersebut sudah mengganggu tidurnya.


Namun, rasa kesal di hatinya tergantikan, karena matanya yang mendapati Morgan sedang memandangi wajahnya, dengan sebelah tangan yang menyangga kepalanya.


Morgan tidur dengan posisi dimiringkan menghadap Fla, dengan tangan kirinya yang selalu memainkan rambut hitam legam milik Fla, yang terurai bebas.


Sesekali ia menciuminya, dengan mata terpejam.


“Selamat siang, putri tidur,” sapa Morgan, berusaha untuk menggoda Fla di pagi harinya.


Senyum Fla merekah, “Ini sudah siang?” tanyanya.


Morgan mengangguk kecil, “Sudah pukul 10.”


“Ya ampun ... kenapa siang banget Fla bangun?” gerutunya bertanya-tanya.


“Gak apa-apa. Reward karena sudah memberikan yang terbaik semalaman tadi,” ucap Morgan yang semakin menggoda Fla saja.


Wajahnya merona, mendengar ucapan Morgan yang sangat membuatnya malu.


Pandangan mereka saling bertemu, Morgan menciumi kembali area sekitar wajah Fla, sampai turun ke bibir dan leher Fla.


Fla hanya diam, membiarkan Morgan melakukan apa yang ia inginkan padanya.

__ADS_1


Sejenak Morgan menghentikan aktivitasnya, “Cutimu, tinggal berapa hari lagi?” tanya Morgan penasaran, ia masih ingin bermanja-manja bersama istrinya itu.


“Sekitar seminggu,” jawab Fla singkat.


Morgan membaringkan tubuhnya, dan menuntun Fla untuk tidur di dalam pelukannya.


Keduanya saling menatap lekat, sampai napas mereka saling beradu.


“Bagaimana kalau kita berbulan madu, ke Paris? Sudah berapa tahun lalu, sejak kita ke sana. Kita sudah terlalu sibuk dengan urusan masing-masing setelahnya,” ujar Morgan, membuat Fla merasa sangat senang mendengarnya.


Wajahnya seketika sumringah, Fla sangat senang mendengar Morgan ingin mengajaknya pergi ke Paris.


Memang sudah lama mereka tidak ke sana. Ditambah lagi dengan mereka yang juga sudah lama tidak berbulan madu.


Mungkin saja, dengan adanya bulan madu ini, mereka akan menjadi fresh dan akan benar-benar memiliki kualitas waktu bersama yang sangat baik, untuk dapat menghasilkan keturunan.


Morgan melihat tips di mesin pencarian, dan menemukan saran seperti ini. Mengajak berbulan madu, karena hati yang senang dan bahagia, memungkinkan mereka untuk mencapai kualitas yang sangat baik.


“Beneran? Gak bohong?” tanya Fla memastikan, masih dengan wajah yang sumringah.


Morgan mengangguk kecil, “Ya. Tentu saja. Kenapa saya harus bohong sama kamu?”


Ada sedikit keraguan di hati Fla, “Gimana dengan pekerjaan Abang di kampus?” tanya Fla ragu.


“Masih libur semester. Waktu saya jatuh sakit ‘kan sedang ulangan,” jawabnya menjelaskan, membuat Fla mengerti dan paham dengan apa yang Morgan maksudkan.


“Kamu ‘kan perawat, mana ada libur akhir semester seperti saya,” seloroh Morgan, keduanya terkekeh, sama-sama tertawa mendengar kepolosan Fla.


“Kapan kita berangkat ke Paris?” tanya Fla, yang memang sudah sangat tidak sabar untuk pergi ke sana.


“Setelah selesai kita bersenang-senang.” Morgan menunjukkan dua buah tiket pesawat, sembari mengerlingkan sebelah matanya ke hadapan Fla.


Fla tersenyum teduh, melihat setiap hal yang Morgan lakukan untuknya.


Bersama Morgan, memang penuh dengan kejutan.


Diletakkan dua lembar tiket penerbangan itu di atas meja, kemudian Morgan mulai memfokuskan dirinya ke arah Fla, yang masih mengenakan lingerie hitam yang agak transparan, sehingga tubuhnya masih terlihat dengan cukup jelas di mata Morgan.


Tangan Morgan menuntun, hendak mengisyaratkan pada Fla agar mereka kembali melakukan hal itu lagi.


Memang keinginan Fla juga untuk mendapatkan keturunan, ia juga sangat gencar untuk melakukannya bersama dengan Morgan.


Mereka pun kini mengulang kembali hal yang indah, yang mereka lakukan malam tadi.

__ADS_1


***


Pesawat telah lepas landas, penerbangan menuju Paris dari Jakarta Indonesia mereka lakukan, untuk membuat suasana hati mereka membaik setelah pertikaian kemarin.


Jarak antara kota Paris dengan Jakarta Indonesia melalui udara, yakni sekitar 11.581 km. Oleh karena itu, waktu tempuh menggunakan pesawat pun bisa dibilang cukup lama, hampir mencapai 17 jam.


Memang sih, perjalanan tidak ditempuh secara langsung selama 17 jam penuh. Akan tetapi, biasanya perlu transit dulu di bandar udara tertentu selama beberapa jam.


Fla rela melakukannya, karena ia merasa harus membahagiakan dirinya sendiri. Terlebih lagi semua itu ia lakukan, agar ia bisa mendapatkan hasil yang memuaskan dari bulan madu bersama dengan Morgan kali ini.


Mereka melakukan penerbangan pertama pada pukul 11.15 siang. Fla sangat menikmati perjalanan bersama Morgan. Walaupun sesekali ia terlelap, tetapi ia sama sekali tidak lupa untuk memerhatikan awan, ketika ia berada di atas ketinggian.


Tentu saja perjalanan mereka tidak semulus itu. Sepanjang perjalanan mereka menuju bandara, Ara selalu meneror Morgan dengan cara meneleponnya terus-menerus.


Fla agak kesal, tetapi kesalnya tertahan karena ia menang kali ini dari Ara. Morgan akan berlibur bersamanya, tanpa adanya Ara di sisinya.


Morgan memang sengaja tidak memberitahu Ara, karena ia tidak ingin Ara melakukan hal bodoh. Bisa-bisa ia menyusul mereka ke Paris, hanya untuk membawa paksa Morgan pulang.


Mereka tiba di Bandar Udara Charles de Gaulle Paris, pada pukul 22:15 waktu setempat, atau sekitar pukul 04:15 WIB setelah menempuh perjalanan kurang lebih 17 jam lamanya.


Setelahnya, mereka dijemput oleh shuttle bus hotel Pullman Paris Tour Eiffel, yang letaknya tak lebih dari 500 meter dari menara eiffel yang terkenal seantero raya.


Mereka check-in di hotel tersebut, dan mulai menata barang bawaan, pada tempat yang tersedia di kamar mereka.


Fla terlihat sangat lelah, ia membaringkan tubuhnya di atas ranjang berukuran king size, bernuansa sprei putih polos, dengan hiasan handuk berbentuk dua angsa sedang berhadapan satu sama lain.


Belum lagi taburan kelopak bunga mawar di sekitar sprei putih tersebut, membuat nuansa ranjang tersebut sangat hidup dan memberikan kesan romantis.


Morgan sengaja memesan kamar hotel khusus untuk pasangan yang hendak berbulan madu. Walaupun usia pernikahan mereka sudah menginjak 5 tahun, tetapi perihal sekecil ini, tetap harus dipikirkan juga.


Saking lelahnya, tanpa sadar Fla memejamkan matanya, dengan Morgan yang masih merapikan barang-barang bawaan mereka.


Pandangan Morgan tak sengaja tertuju pada Fla, yang saat ini sudah memejamkan matanya. Ia mengerti, Fla pasti sangat kelelahan, karena belasan jam berada di dalam pesawat.


Beberapa saat, Morgan sudah merapikan barang-barangnya. Ia bergegas membilas tubuhnya, agar tubuhnya terasa lebih segar.


Seharian berada di pesawat, membuat tubuhnya sangat lengket.


Setelahnya, Morgan keluar dengan rambut yang ia gosokkan menggunakan handuk kecil berwarna putih. Ia melangkah menuju ke arah Fla, yang ternyata masih saja tertidur pada posisi kedua kakinya menggantung pada tepi ranjang.


Morgan perlahan duduk di samping Fla, ia memandang lekat ke arah wajah istrinya. Kerutan di wajah Fla terlihat lebih jelas daripada beberapa waktu lalu. Morgan sadar, rasa sakit yang ia derita pastilah penyebab dirinya tak terawat seperti ini.


Tangannya ia ulurkan ke arah leher dan kaki Fla, berniat hendak memindahkan Fla ke tempat yang lebih nyaman. Namun, niatnya terhenti karena ternyata handphone-nya berdering dengan sangat keras.

__ADS_1


Sudah pukul 12:05 dini hari, Morgan merasa sangat lelah untuk menerima telepon yang entah dari siapa itu.


Pikirannya menduga, pasti tidak jauh dari Ara. Morgan lantas mengabaikannya.


__ADS_2