
“Ah, saya bercanda. Kamu tidak mendengkur, kok!” ungkap Ilham, membuat Fla agak sedikit malu bercampur kesal dengan Ilham.
“Ah, yang benar?” tanya Fla untuk lebih memastikan lagi.
“Iya, benar. Kamu gak mendengkur,” jawab Ilham pasrah, karena sudah tidak ingin mempermainkan Fla lagi.
Fla terdiam sejenak. Ia mendelik, karena melihat jam yang sudah pukul dua pagi.
“Ah! Pukul dua pagi?! Sudah waktunya bersiap!!” pekik Fla, Ilham tersenyum mendengarnya.
“Ya sudah, selamat bersiap-siap,” ujar Ilham, “nanti mau bareng, tidak?” tanyanya.
Fla terdiam ragu, saking bingungnya ia harus mengatakan apa pada Ilham.
Sebenarnya ia sangat tidak enak hati padanya, karena ia masih berstatus istri Morgan. Fla khawatir, kedekatannya dengan Ilham malah akan membuat masalah mereka menjadi semakin runyam.
“Saya berangkat dengan Sakila saja,” ujar Fla, mengisyaratkan pada Ilham untuk menolaknya.
“Ah, begitu.”
Walau Ilham mengetahui jawabannya, tetapi ia tidak ragu lagi untuk menawarkan tumpangan pada Fla.
“Baik, terima kasih ya dokter Ilham. Terima kasih sudah mau menemani saya berbincang. Saya siap-siap dulu,” ujar Fla, Ilham tersenyum mendengarnya.
“Ya, sampai jumpa di rumah sakit.”
“Sampai jumpa.”
Fla pergi bersiap, sementara Ilham kembali memandangi langit-langit ruangannya.
“Ternyata seindah ini,” gumam Ilham, yang hanya bisa merasakan nyamannya berbincang dengan Fla.
“Bagaimana ya, rasanya jadi Morgan? Fla sepertinya sangat mencintainya,” gumamnya, yang masih berpikiran hal seperti itu.
Padahal, jika dibandingkan dengan Morgan, Ilham tidak kalah kerennya. Ketampanan, pendidikan, harta, kedudukan, apa lagi yang tidak ia miliki?
Namun, Ilham mengerti, semua itu tidak bisa dijadikan sebagai tolak ukur perasaan Fla terhadapnya. Ia masih tetap kalah satu hal itu, dengan Morgan.
Napasnya ia hela panjang, “Masih kalah satu hal itu ....”
***
Fla sudah sampai di depan ruangan rawat Morgan. Ia menghela napasnya dengan panjang, karena bingung dengan apa yang harus ia lakukan.
__ADS_1
Sudah sejak lusa ia acuh pada Morgan, karena kesalahan Morgan dan juga Ara, yang mampu membuatnya merasa sangat kesal.
Fla tidak bisa menahan dirinya, untuk tidak menjenguk Morgan saat ini. Ia merasa sudah cukup menghukum Morgan, dan hendak memperbaiki sedikit hubungan mereka.
Ucapan Ilham semalam membuat hati dan pikiran Fla terbuka. Ia harus melakukan apa yang harus ia lakukan. Ia tidak bisa membuat hubungan mereka gantung, karena ia memiliki sebuah hak dan harga diri sebagai seorang istri.
Ia melangkah perlahan ke hadapan Morgan yang masih memejamkan matanya. Dilihatnya wajah penuh keringat itu, dalam-dalam. Fla tak kuasa menahan perasaannya.
Walaupun ia masih marah pada Morgan, tetapi ia juga masih ingin memperbaiki rumah tangganya. Ia ingin kembali mencoba dengan Morgan, untuk mendapatkan keturunan sehingga bisa memperbaiki rumah tangga mereka.
Air matanya seakan habis, karena semalaman ia tumpahkan pada Ilham. Walau sendu, ia masih tetap tidak bisa menangisinya. Ditatapnya wajah suaminya dalam-dalam, membuat sebuah pertanyaan muncul di benaknya.
‘Kenapa?’
Hanya itu saja. Entah apa maksud dari kalimat singkat itu.
Tanpa sadar, tangannya ia ulurkan ke arah wajah Morgan. Tak bisa dipungkiri, Fla sangat mencintai lelaki ini.
“Bisakah kita kembali bersama?” gumam Fla, yang tidak menuntut jawaban apa pun dari Morgan.
Saat ini ia hanya ingin mengatakannya, tanpa meminta jawaban apa pun dari Morgan.
Hanya itu.
Apa hati Fla terbuat dari baja? Tentu saja tidak.
Fla juga manusia.
Per sekian detik ia menciumi kening Morgan, turun ke kedua pipinya, lalu turun lagi ke bibir Morgan.
Rasanya sudah berbeda dari sejak pertama mereka melakukannya.
Ara datang pagi-pagi sekali ke ruangan Morgan. Ia tidak bisa datang malam kemarin, karena ia sedang tidak berada di apartemennya.
Karena mendengar orang tua Morgan, tentang kabar Morgan yang masuk ke rumah sakit, Ara bergegas datang, meskipun agak terlambat.
Ia ingin menunjukkan, kalau dia sangat memedulikan Morgan.
Tangannya membuka tuas pintu, mendorong dengan cukup kuat.
Di hadapannya, terlihat Fla yang saat ini sedang mengelus wajah Morgan yang masih tertidur pulas.
Ia melihat Fla yang menciumi Morgan beberapa kali, sampai berakhir pada bibirnya.
__ADS_1
Hal itu membuat Ara sangat terbakar melihatnya.
Pandangannya membulat seketika, saking tak percayanya ia dengan apa yang ia lihat.
“Heh!” bentak Ara, sontak membuat Fla mendelik dan membalikkan tubuhnya ke arah Ara berada.
Ara menghampirinya, saking terbakar cemburu dirinya terhadap yang Fla lakukan pada Morgan.
“Ngapain lo cium-cium Morgan, hah?” pekik Ara, yang benar-benar tidak bisa menerimanya.
Walaupun Ara sangat mengetahui tentang hubungan Fla dan juga Morgan, tetapi ia tidak bisa menerima Fla melakukan hal itu pada Morgan.
Ditambah lagi perkataan orang ua Morgan, yang mengatakan kalau Fla tidak ingin merawat Morgan, membuat Ara bertambah geram karenanya.
Matanya mendelik, “Jawab, dong!” bentak Ara lagi, tetapi Fla hanya diam sembari memandangnya dengan tegas.
Tidak ada sedikit pun rasa takut, terhadap orang yang selama ini membuat hubungannya dengan Morgan merenggang.
Karena teriakan Ara itu, Morgan terkejut, sampai hampir melompat dari ranjang tidurnya.
Morgan menyadari keberadaan Ara dan juga Fla, yang membuatnya segera membenarkan pandangannya yang masih kabur.
“Ara, Fla. Kalian kok ada di sini?” tanya Morgan heran.
Morgan berusaha bangkit, kemudian duduk di atas ranjang tidurnya.
Ara memandang sinis ke arah Morgan, “Ngapain aja kalian tadi?” tanyanya sinis, membuat Morgan mendelik kaget mendengarnya.
“Berbuat apa? Saya tidak melakukan apa pun bersama Fla. Lagipula, saya gak tau kalau ada Fla di sini,” ujar Morgan apa adanya, membuat Fla sedikit banyaknya sedih mendengar penjelasan Morgan pada Ara.
‘Tanpa perlu dijelaskan, Fla lebih berhak melakukan ini daripada dia, Bang. Kenapa Abang menjelaskan sama dia? Seharusnya Fla yang bertanya sama dia, untuk apa sepagi ini ia di sini?’ batin Fla, yang tidak ingin mengatakannya, khawatir bertambah runyam permasalahan ini.
“Alah, bisa aja ‘kan itu cuma alasan kamu aja!” bentak Ara terhadap Morgan.
Morgan tak tahan lagi, karena ia baru saja sembuh dari sakit perut yang hebat. Apalagi hari masih sepagi ini, mereka sudah menyambut Morgan dengan serentetan masalah tentang perasaan.
Lagi dan lagi, Morgan hanya bisa memandang Ara dengan sinis.
“Saya baru saja bangun,” ujar Morgan sembari berusaha menahan amarahnya pada Ara, di hadapan Fla.
“Apa? Aku lihat tadi dia cium kening, pipi, bibir, terus kamu masih bilang gak ngapa-ngapain?!” pekik Ara, membuat Morgan tak percaya dengan apa yang Ara katakan.
Morgan terdiam sejenak, sembari menyimak ucapan Ara yang demikian. Paling tidak, ia sudah mengetahui tentang Fla yang masih menyayanginya.
__ADS_1
Morgan menatap Ara dengan nanar, “Kamu ... kenapa saya harus jelaskan hal ini sama kamu? Saya dan Fla masih sah suami istri. Soal dia ingin menciumi saya, itu hak dia. Apa hak kamu?” ujarnya sedikit membentak, sontak membuat Ara mendelik tak terima mendengarnya.