Izinkan Aku Selingkuh

Izinkan Aku Selingkuh
Berseberangan


__ADS_3

Fla terdiam sejenak, untuk memikirkan jawaban yang tepat, dari pertanyaan yang dilontarkan Ilham.


Sebenarnya, Fla sama sekali tidak ingin memberitahukan, tentang permasalahan mereka ini kepada Ilham. Akan tetapi, Fla juga tidak bisa menjawab apa yang Ilham tanyakan padanya.


Ilham memandangnya dengan dalam, “Kalian ... lagi bertengkar?” tanyanya, Fla mendelik lalu menghela napasnya dalam-dalam.


“Saya permisi pulang dulu, dokter. Terima kasih,” pamit Fla, yang lalu segera pergi dari sana.


Ilham hanya bisa memandangnya dengna sendu, karena ia yang tidak bisa melakukan apa pun lagi.


“Apa benar, mereka sedang bertengkar?” gumam Ilham, bertanya-tanya dengan apa yang terjadi dengan mereka.


Ilham menghela napasnya dengan panjang, kemudian bersiap untuk segera menuju ke ruangan rawat Morgan.


Kebetulan sekali, Ilham diminta untuk menggantikan Dhanu, yang tak lain adalah teman sejawatnya. Ia diminta untuk melakukan USG perut, karena penyakit Morgan yang katanya memerlukan tindak lanjut.


Dilangkahkan kakinya ke arah ruangan Morgan, dengan tangannya yang sudah siap sedia memegang tas dan beberapa peralatan lainnya.


Ilham telah sampai di depan ruangan kamar Morgan. Di sana, ternyata ada seseorang yang juga Ilham kenal.


“Dicky,” sapa Ilham, yang merupakan teman satu almamater dengan Dicky.


Dicky menoleh ke arahnya, “Oh, Ham. Apa kabar?” sapa baliknya, membuat Ilham tersenyum mendengar sapaan Ilham.


Mereka saling berjabat tangan, tak menyangka akan bertemu lagi di sini.


“Sudah lama gak jumpa. Gimana kampus? Aman?” tanya Ilham, Dicky tersenyum mendengarnya.


“Aman aja. Gimana, di sini juga aman? Apa ada kabar bagus?” tanya Dicky dengan kedua alis mata yang ia naik turunkan.


Mereka adalah dua orang yang sangat favorit di kampus mereka dulu. Namun, sampai sekarang mereka belum juga menikah, karena mereka yang masih sama-sama sibuk dengan pekerjaan mereka.


Ketika bertemu, mereka selalu saling meledek. Karena mereka yang sama-sama belum menikah, jadi mereka terus menanyakan tentang jodoh mereka.


Ilham yang sudah mengerti dengan yang Dicky maksud, langsung saja tertawa mendengar selorohan Dicky.


“Ah, gimana kamu juga? Udah ada?” tanya balik Ilham, yang berusaha untuk menetralisir keadaan.


Mereka saling tertawa, karena mereka sudah mengetahui jawaban masing-masing.


Teringat dengan tujuannya ke sini, “Eh, di dalam benar Morgan?” tanya Ilham, Dicky mengangguk mendengarnya.

__ADS_1


“Ya. Tadi Fla sudah ke sini buat periksa, tapi katanya dia belum kasih obat apa pun ke Morgan, karena sudah jam pergantian shift. Terus juga udah ada perawat pengganti yang kasih obat pereda nyeri ke Morgan,” jawab Dicky sembari menjelaskan pada Ilham.


Ilham memandangnya dengan bingung, “Kenapa mereka? Apa kamu tahu masalah yang terjadi sama mereka?” tanyanya, membuat Dicky menggelengkan kecil kepalanya.


“Saya gak tahu. Tapi katanya, ini hanya permasalahan biasa dan kecil. Morgan juga sudah meminta maaf kepada Fla. Tidak ada lagi yang dia katakan, selain itu,” jawab Dicky, membuat Ilham menganggukkan kepalanya.


“Ya sudah kalau misalkan hanya permasalahan kecil. Fla juga sudah pulang tadi,” ujar Ilham, membuat Dicky mendelikkan matanya.


“Fla pulang?! Kenapa dia begitu, sih? Suaminya lagi sakit, kenapa gak dirawat?” pekik Dicky, yang kesal dengan kelakuan Fla itu.


Ilham memandangnya bingung, “Fla ... gak enak badan. Dia pulang duluan, bareng sama temannya tadi,” ujarnya yang sedikit membela Fla.


Biar bagaimanapun juga, Ilham tidak ingi membuat semua orang menjadi salah paham dengan apa yang Fla lakukan.


Ilham mengerti, bahwa Fla pasti memiliki alasan tersendiri untuk melakukan semua itu.


“Fla gak enak badan? Bukan berarti dia gak nungguin Morgan di sini, dong?” tanya Dicky, yang masih kukuh dengan persepsinya.


Dicky tidak mengetahui, kalau sebenarnya pendapat antara dirinya dan juga Ilham, sangatlah berseberangan.


Ilham menghela napasnya dengan panjang, “Kamu coba hubungi keluarganya saja. Minta mereka ke sini, buat jaga Morgan,” suruhnya, membuat Dicky juga menghela napasnya dengan panjang.


“Ya sudah, saya masuk dulu ke dalam,” pamit Ilham, Dicky pun mengangguk mendengarnya.


“Oke.”


Ilham masuk ke dalam ruang perawatan Morgan.


Di sana, Morgan terlihat sedang menahan rasa sedihnya. Terlihat jelas dari ekspresi wajahnya, karena Ilham juga belajar ilmu psikologi.


Tanpa ragu, Ilham melangkahkan kakinya ke hadapan Morgan.


“Permisi,” sapa Ilham, Morgan menoleh ke arahnya dengan bingung.


“Ya, dokter Ilham,” sapa balik Morgan, yang juga mengenal sosok Ilham.


“Bagaimana perutnya? Apa masih sakit?” tanya Ilham, sembari meletakkan barang-barang yang ia bawa, di nakas yang tersedia.


“Masih sakit.” Morgan menghela napasnya, berusaha untuk menghentikan rasa sakit pada perut dan dadanya.


Namun, ketika ia menarik napasnya, ia merasa bertambah sakit. Ia kaget, karena rasa sakit itu malah menjalar ke area dadanya.

__ADS_1


“Kenapa jadi menjalar ke area dada? Tenggorokan saya juga panas, dan terasa asam pedas,” ujar Morgan menjelaskan.


Ilham mempersiapkan alat-alat untuk melakukan pemeriksaan, “Wajar. Itu namanya asam lambung kamu naik.”


“Apa bahaya?” tanya Morgan yang baru kali ini merasakan hal seperti ini.


“Ya, tentu saja. Bahkan kalau kronis, bisa menyebabkan kematian,” jawab Ilham, membuat Morgan menghela napasnya.


Lengannya ia letakkan menutupi kedua matanya, “Kalau memang harus begitu, kenapa tidak terjadi saja? Biar semua permasalahan ini selesai,” gumamnya, yang masih terdengar jelas oleh Ilham.


Ilham seketika terdiam, berusaha untuk mencerna perkataan Morgan yang seperti itu.


“Maksudnya apa?” tanya Ilham, Morgan tak menghiraukannya.


Tahu pertanyaannya tidak akan dijawab, Ilham lantas melanjutkan untuk melakukan pemeriksaannya terhadap Morgan.


Setelah selesai melakukan USG pada perut Morgan, Ilham menyimpulkan kalau penyakit yang diderita Morgan adalah magh akut.


Karena terlalu sering makan mi instan, Morgan sampai harus merasakan penyakit yang meresahkan ini.


Ilham menghela napasnya dengan panjang, setelah menjelaskan kepada Morgan, apa yang terjadi dengan Morgan.


“Jaga kesehatan. Kamu harus dirawat di sini dulu, dan kita lihat perkembangannya beberapa hari ke depan,” ujar Ilham, yang baru saja selesai merapikan barang-barangnya ke dalam tasnya.


Morgan hanya diam, sembari memandang sendu ke arah langit-langit kamarnya.


Hal itu yang membuat Ilham merasa simpatik, dan hendak menanyakan tentang permasalahan yang sedang terjadi di antara mereka.


“Sepertinya ... kamu sedang ada masalah,” ujar Ilham, Morgan menoleh ke arahnya.


“Setiap orang pasti memiliki masalahnya sendiri,” ujar Morgan dengan datar, membuat Ilham merasa bingung harus mengatakan apa lagi.


“Emm ... ya, kamu benar. It’s means kamu sedang ada permasalahan yang sedang kamu jalani?”


“Ya,” jawab Morgan singkat dan seadanya.


Ilham menghela napasnya dengan panjang, “Apa ... itu menyangkut tentang Fla?” tanya Ilham.


“Ya.”


Mendengar jawaban Morgan yang singkat, Ilham jadi segan hendak bertanya apa lagi kepadanya. Ia hanya bisa memandangnya dengan sendu, sembari mengubah posisinya menjadi duduk di hadapan Morgan.

__ADS_1


__ADS_2