Izinkan Aku Selingkuh

Izinkan Aku Selingkuh
Tidak Perlu Lagi


__ADS_3

Akhirnya, Fla sampai di ruangan pemeriksaan. Di dalam sana, sudah ada seorang yang sangat Fla kenal.


‘Bang Morgan,’ batin Fla, yang merasa sangat kaget melihat Morgan yang terbaring lemas di atas ranjang pemeriksaan.


Fla menghela napasnya panjang, karena ia sudah mengerti maksud dari temannya itu.


‘Ternyata ini tuh settingan, supaya aku bisa ketemu sama Bang Morgan,’ batin Fla, yang merasa sedikit kesal dengan Sakila, temannya yang tadi memaksanya.


Dicky menoleh ke arah Fla, “Ah, akhirnya kamu datang. Cepat, periksa perut Morgan!” ujarnya, yang merasa sangat tenang melihat Fla yang datang, sembari memegang stetoskop itu.


Morgan melirik ke arah pintu ruangan, dan mendapati Fla yang berdiri di sana dengan tatapan yang tajam dan dingin.


‘Ternyata, dia benar tidak ada rasa kasihannya dengan saya,’ batin Morgan, yang merasa Fla benar-benar sangat membenci dirinya.


Karena tuntutan pekerjaan, Fla melangkah untuk memeriksa keadaan Morgan.

__ADS_1


Fla berusaha untuk professional, karena ia tidak ingin dianggap tidak baik, terlebih lagi pasiennya itu adalah suaminya sendiri.


Tangannya ia ulurkan ke arah kening Morgan, untuk memeriksa suhu pada tubuh Morgan.


Fla merasakan sensasi panas yang terbakar, membuat tangannya seakan melepuh karena menyentuh kening Morgan.


‘Panas banget,’ batin Fla, yang merasakan sensasi panas pada kening Morgan.


Timbul rasa bersalah Fla, karena ia yang tidak memperhatikan keadaan Morgan. Namun, di sisi lain hatinya, ia membantahnya karena seharusnya Ara menjaga dan merawat kekasihnya itu.


Fla mengeluarkan thermometer dari tas kecil yang ia bawa. Ia mendekat ke arah wajah Morgan, sembari mengulurkan alat tersebut ke arah mulut Morgan.


“Buka mulutnya,” pinta Fla, tetapi Morgan tidak mau membukanya.


Hal itu membuat Fla memandangnya dengan sedikit sinis.

__ADS_1


“Pak Morgan, tolong dibuka mulutnya. Saya ingin memeriksa suhu tubuh anda--”


Ucapan Fla terpotong, karena Morgan yang tiba-tiba saja memeluknya. Hal itu membuat Fla mendelik kaget, dan langsung menoleh ke arah Dicky.


Dicky melihat hal seperti itu, mendelik kaget, dan segera ia meninggalkan ruangan ini untuk membiarkan mereka menyelesaikan permasalahan yang terjadi, pada rumah tangga mereka.


Karena melihat Dicky yang sudah pergi dari ruangan ini, fokus Fla menjadi kembali ke arah Morgan. Ia merasa sendu, karena melihat kondisi Morgan yang tersiksa seperti ini.


Namun, Fla juga tidak mau meluapkan semua perasaan sedih dan kecewanya. Ia menyadari, hal tersebut hanyalah sebuah hal yang sia-sia, jika di sisi Morgan masih ada Ara.


“Bisa tolong lepasin Fla, Bang?” tanya Fla, Morgan yang mendengar hal itu, malah semakin mempererat pelukannya.


“Saya kesal! Kenapa kamu gak siapin sarapan, dan kasih obat magh seperti waktu dulu? Kenapa sekarang gak ada hal-hal manis yang kamu kasih ke saya?” tanya Morgan, yang mulai meluapkan emosinya dalam pelukan Fla.


Fla menghela napasnya dengan panjang, karena ia merasa hal itu tidak perlu ia lakukan lagi sekarang.

__ADS_1


“Semuanya gak perlu Fla lakukan lagi, Bang. Sudah ada Ara, yang bisa merawat Bang Morgan kalau Abang lagi sakit. Sudah ada Ara, yang saat ini di hati Bang Morgan. Fla gak perlu berperan lagi. Semua ini hanya soal waktu. Waktu yang akan menjawab, tentang keputusan yang akan Fla ucapkan nantinya, mengenai hubungan kita,” ujar Fla, membuat Morgan merasa sangat sakit mendengarnya.


__ADS_2