Izinkan Aku Selingkuh

Izinkan Aku Selingkuh
Tidak Butuh Siapa Pun


__ADS_3

Karena sudah lebih dari jam pergantian shift, Ilham segera melepas jas putih yang ia kenakan.


Ilham memandang dalam ke arah Morgan, “Ini sudah lebih dari jam pergantian shift. Kamu bisa menganggap saya teman, dan bisa mengatakan hal yang menjadi permasalahan yang kamu hadapi sekarang,” ujarnya, Morgan lantas memandangnya tak percaya.


“Ah, untuk apa juga saya bercerita sama kamu? Kita hanya kenal sebatas asal saja. Kau temannya Fla, dan saya suaminya. Saya tidak ingin mengatakan apa pun kepada kamu,” ujar Morgan, dengan nada yang ketus, membuat Ilham merasa agak bingung menghadapi sikap Morgan.


“Tujuan saya baik, untuk mempersatukan kalian lagi. Mungkin, saya bisa memberi saran kepada Fla, agar bisa memaafkan kamu,” ujar Ilham, Morgan memandangnya dengan sinis.


Morgan merasa sangat kaget, dan juga sangat tersinggung dengan apa yang Ilham katakan. Ia tidak mau ada seorang pun, yang ikut campur dengan permasalahan yang sedang ia alami.


Berlaku untuk semua orang, bukan hanya berlaku pada Ilham saja.


“Saya gak butuh siapa pun, buat mengurus kehidupan rumah tangga saya. Saya masih bisa mengurusnya sendiri, kamu gak perlu ikut campur, dan bantu kasih saran apa pun ke Fla,” ujar Morgan dengan sangat ketus, membuat Ilham merasa bimbang mendengarnya.


“Tapi kelihatannya, kalian sedang menghadapi masalah yang besar. Saya bisa memberi saran kepada Fla, agar dia memaafkan kamu--”


“Saya gak butuh kamu sama sekali!” pangkas Morgan sinis, membuat Ilham tak bisa berkata apa pun lagi.


Niat hati Ilham yang sangat murni, untuk membuat mereka kembali bersatu, tetapi ternyata Morgan sama sekali tidak memberikan celah padanya.


Ilham menghela napasnya dengan panjang, karena sudah tidak ada lagi yang perlu ia lakukan.


“Ya sudah, pemeriksaan sudah selesai, saya juga sudah selesai bicara. Sudah tidak ada lagi yang perlu saya bicarakan dan lakukan. Jaga kesehatan, jangan lupa istirahat yang cukup,” ujar Ilham yang merupakan sebuah formalitas belaka.


Ilham bangkit sembari membawa barang bawaannya, kemudian pergi meninggalkan Morgan yang sedang tidak bisa diajak bicara itu.


Morgan memalingkan wajahnya, tak ingin melihat kepergian Ilham dari hadapannya.


“Apa-apan itu? Kenapa dia mau ikut campur masalah keluarga saya? Memangnya siapa dia?” gumam Morgan, yang sudah terlanjur kesal dengan pribadi Ilham.

__ADS_1


Sudah sangat kesal dengan sikap Fla terhadapnya, ia malah bertambah kesal kembali, karena masalah Ilham yang tidak ia duga.


Morgan memang tidak bisa membagi semua perasaan yang ia rasakan, kecuali dengan orang yang ia cintai.


Fla.


Dengan Fla saja, terkadang Morgan masih merasa sungkan, dan tidak bisa mengungkapkannya secara utuh.


Apalagi, ditambah dengan kesalahan besar di dalam rumah tangga mereka ini, yang membuat Morgan semakin tidak semegah saja untuk melakukan sesuatu.


Pikirannya lagi-lagi kalut, dalam rasa bersalah yang perlahan seperti membunuhnya. Ia tidak bisa melawan gejolak perasaannya, tetapi ia juga tidak siap menerima takdir yang ditentukan untuknya.


Dalam hati Morgan, ia masih sangat menginginkan Fla. Namun, ia juga masih ingin mendapatkan keturunan.


Jika tidak bisa mendapatkannya bersama dengan Fla, paling tidak ia bisa mendapatkannya bersama dengan orang lain.


“Sudah tiga kali mencoba program bayi tabung, ternyata memang tidak bisa. Harus berapa banyak uang lagi yang dikeluarkan, hanya untuk membayar sesuatu yang sama sekali tidak ada hasilnya,” gumam Morgan, yang merasa sangat kesal dengan keadaan ini.


Karena keluarganya mendesak Morgan untuk memiliki anak, mereka berusaha untuk menjodohkan Ara padanya.


Kesalahannya di sini adalah, mereka sama sekali tidak tahu, kalau Ara adalah adik kandung dari Fla. Yang mereka ketahui, hanyalah Ara adalah anak yang baik, dan juga bisa memberikan keturunan untuk mereka.


“Salah Fla juga, kenapa dia gak mau memberitahu tentang Ara, kepada keluarga saya?” gumam Morgan, yang semakin menyalahkan Fla dalam kasus ini.


Padahal, Morgan sangat paham dan sangat mengerti, kalau semua ini juga kesalahan darinya. Ia menurut dengan apa yang orang tuanya katakan, untuk menikahi Ara.


Morgan juga sudah menerima Ara sebagai kekasihnya, padahal ia sama sekali tidak ada niat untuk menyakiti Fla.


“Seandainya saya gak nerima Ara saat itu, mungkin semua ini gak akan pernah terjadi. Pemikiran saya tentang menerima lebih dulu, dan menjalaninya kemungkinan akan menumbuhkan perasaan cinta, ternyata salah. Saya memang menerima Ara, tetapi selama ini sama sekali tidak ada perasaan yang timbul ketika bersamanya,” gumam Morgan, sembari mengelap keringatnya yang mengucur deras di keningnya.

__ADS_1


Ia sangat mengerti, kalau dirinya salah langkah. Ia sudah memberi harapan palsu pada Ara, dengan dirinya yang tidak bisa mendapatkan perasaan cinta itu dengan Ara.


Kini, Ara jadi bersikap semena-mena dengannya. Ia sudah benar-benar menganggap mereka menjalin hubungan, padahal Morgan tidak berpikir demikian.


Karena sudah terlanjur saja, Morgan jadi melakukan semua hal tersebut. Ia jadi terpaksa melakukan semua yang Ara inginkan, walaupun semua hal tersebut sama sekali tidak Morgan sukai.


“Morgan, kamu bodoh sekali!” gumamnya, yang memaki dirinya sendiri dengan kata-kata kasar setelahnya.


Ilham masih berdiri di balik pintu, mendengar setiap perkataan Morgan dengan jelas. Ia menyimpulkan, kalau permasalahan yang mereka alami, sangatlah berat dan bukan permasalahan yang ringan.


Ilham menghela napasnya, berusaha untuk menyadarkan dirinya tentang apa yang akan ia lakukan setelahnya.


‘Mereka benar-benar sedang terguncang. Kalau tidak salah, tadi Morgan menyebutkan tentang program bayi tabung. Apa ini ada hubungannya dengan semuanya? Tentang keturunan?’ batin Ilham, yang mulai menangkap semua permasalahan yang sedang terjadi di antara mereka.


Timbullah sebuah tekad, yang membuat Ilham harus mengatakan hal ini kepada Fla.


‘Hanya dengan bicara dengan Fla, semua masalahnya mungkin tidak akan bertambah lebar, kalau dipangkas sedikit demi sedikit,’ batin Ilham, yang masih berusaha untuk memikirkan cara, agar hubungan Morgan dan Fla, masih tetap utuh.


Ilham pergi dari sana, karena sudah mengetahui dengan jelas duduk permasalahan yang ada.


Sekarang, tinggal bagaimana caranya Ilham untuk mengatakan kepada Fla, tentang permasalahan yang mereka hadapi saat ini.


Ilham melangkah ke arah mobilnya. Ia masuk ke dalamnya, sambil berusaha untuk menghubungi Sakila dan juga Fla.


‘Tidak mungkin kalau saya hanya bertemu dengan Fla sendirian. Harus ada orang yang menemani, agar tidak terjadi salah paham nantinya,’ batin Ilham, yang masih terus berusaha untuk menghubungi Fla dan Sakila di sana.


Ilham menghubungi Fla, tetapi sepertinya Fla sengaja menonaktifkan handphone-nya. Kemudian, ia menghubungi Sakila, untuk memberitahukan maksud dan tujuan ia menghubunginya.


“Halo?”

__ADS_1


Terdengar suara lembut di ujung sana, membuat Ilham tersadar dari pemikirannya yang sudah kacau.


__ADS_2