Izinkan Aku Selingkuh

Izinkan Aku Selingkuh
Mengantar Pulang


__ADS_3

Karena tak terjadi apa pun dengannya, Ara menoleh ke arah Morgan dan memandangnya dengan sinis. Ia merasa Morgan sudah sangat berubah, dan tidak seperti saat dulu lagi.


Ara mendelik kaget, karena ini adalah kali pertama Morgan yang hendak menamparnya. Ia memandang dengan sinis ke arah Morgan, karena ia tidak percaya Morgan akan melakukan itu padanya.


“Kamu mau nampar aku?” tanya Ara sinis, Morgan membuang pandangannya saking kesalnya dengan Ara. Matanya mendelik tajam ke arah Morgan, “Tampar! Ayo tampar aku! Kenapa gak jadi tampar?” tantang Ara, yang merasa sangat kesal dengan Morgan yang ternyata sudah mulai berani bermain tangan dengannya.


“Argh!!” Tak ingin meladeni Ara, Morgan melampiaskannya dengan berteriak sekeras yang ia bisa. Walaupun ia tahu ini sudah larut malam, ia tetap tidak bisa menahan diri untuk tidak berteriak.


Morgan memandang Ara sembari menahan amarahnya, “Sekarang kamu pulang,” suruh Morgan dengan datar, sembari menunjuk ke arah mana saja yang ia kehendaki.


Ara merasa terusir, karena Morgan yang dengan entengnya menyuruhnya kembali seperti itu.


“Kamu ngusir aku, Gan?” tanya Ara tak percaya, Morgan memandangnya dengan sinis.


“Ya, saya usir kamu dari sini. Ini sudah malam, jangan berbuat keributan di rumah orang!” ujarnya ketus, sampai Ara tak percaya mendengarnya langsung dari mulut Morgan.

__ADS_1


“Hah? Paling enggak anterin aku, kek!” rengek Ara yang tak percaya dengan yang Morgan katakan itu.


Karena malam sudah larut, Morgan tidak bisa membiarkan Ara kembali seorang diri. Ia juga sangat memikirkan keselamatan Ara, kalau saja nanti terjadi sesuatu yang tidak baik dengan Ara. Ia tidak menginginkan hal apa pun terjadi pada Ara.


Morgan menghela napasnya dengan panjang, “Ini yang terakhir saya antar kamu pulang. Besok-besok, jangan kamu nekat datang ke sini lagi!” ujarnya memperingati Ara, sontak membuat Ara kesal mendengarnya.


Karena sudah tidak ingin melanjutkan perdebatannya dengan Ara, Morgan pun meninggalkan Ara dan masuk ke dalam mobilnya. Ia mengantarkan Ara untuk kembali ke rumahnya, dan Ara tidak jadi pergi ke mall, sesuai dengan keinginannya.


***


Morgan merasa gagal, karena ia sudah membuat hubungannya dengan Fla hancur, akibat keinginannya untuk mendapatkan keturunan.


Kali ini, Morgan masih duduk di dalam mobilnya, yang entah di daerah mana Morgan berada. Ia memandang ke arah hadapannya, merenungi nasib pernikahannya dengan Fla yang sudah diujung tanduk.


“Harusnya saya bisa sabar menunggu Fla untuk bisa mengandung,” gumam Morgan, yang merasa sangat bersalah dengan dirinya sendiri.

__ADS_1


Karena terlalu tidak sabar, ia sampai mengambil jalan pintas seperti itu, dan secara langsung sudah membuat pernikahannya menjadi hancur.


Wanita mana yang mau memberikan izin, untuk suaminya yang hendak menikahi adik kandungnya sendiri?


Fla tidak bisa mengabulkan permintaan Morgan mengenai hal itu.


Padahal, Fla sudah meminta Morgan untuk menceraikannya saja, tetapi saking cintanya Morgan pada Fla, ia sampai tidak bisa melakukan hal itu sama sekali.


Tidak bisa menceraikan Fla, tetapi sudah membuat hati dan perasaan Fla hancur.


Sungguh tidak berprikemanusiaan.


Morgan menghela napasnya dengan panjang, “Haruskah saya mencoba kembali untuk mendapatkan keturunan bersama dengan Fla?” gumamnya, yang masih sangat ragu untuk melakukan hal itu.


Morgan sangat paham, apa yang akan ia katakan pasti tidak akan pernah didengarkan oleh Fla.

__ADS_1


__ADS_2