Izinkan Aku Selingkuh

Izinkan Aku Selingkuh
Tidak Butuh Semua, Kecuali Kamu


__ADS_3

Morgan menghela napasnya dengan panjang, “Fla, jangan seperti ini terus. Yang saya butuhkan itu kamu, bukan Ara!” ujarnya, yang membantah ucapan Fla.


“Yang Bang Morgan butuhkan memang Fla, tapi yang keluarga Abang butuhkan itu Ara, bukan?” ujar Fla, membuat Morgan semakin sendu saja mendengarnya.


Fla melepaskan pelukannya dari Morgan, karena ia merasa sudah salah melakukan hal seperti ini, pada saat jam kerja. Terlebih lagi, di sini ia adalah perawat yang akan memeriksa keadaan Morgan.


“Fla di sini asisten dokter, Bang. Tolong professional sedikit. Fla lagi kerja sekarang,” ucap Fla dengan datar, membuat Morgan merasa sangat kesal mendengarnya.


‘Persetan dengan masalah pekerjaan! Saya ini suami kamu!’ batin Morgan, membentak Fla dalam hatinya.


Morgan tidak sampai hati, untuk memaki Fla di hadapannya. Ia tidak ingin membuat hati Fla semakin sakit, karena bentakan yang tadinya hendak ia lontarkan pada Fla.


Fla mengulurkan kembali thermometer itu, ke arah mulut Morgan.


“Buka sedikit mulutnya. Angkat lidahnya, biar saya periksa suhu tubuhnya,” ujar Fla, dengan nada bicara dan pandangan yang sangat professional.

__ADS_1


Tak ada pilihan lain, selain menurut. Morgan menuruti ucapannya, dengan melakukan semua yang Fla katakan.


Fla mulai memasukkan termoter itu ke dalam mulut Morgan, dan meletakkannya tepat di bawah lidah Morgan.


Sembari menunggu thermometer bekerja, Fla menyiapkan stetoskop, dan memakainya pada telinganya.


BIP!


Bunyi thermometer terdengar, membuat Fla segera mencabut alat tersebut dari mulut Morgan.


Fla membuka sedikit kemeja Morgan, dan memeriksa bagian perut Morgan. Ia mengetuk-ngetuk perut Morgan, sembari mendengarkan suaranya melalui stetoskop yang ia tempelkan pada perut Morgan.


Fla masih memeriksa kekembungan yang terjadi pada perut Morgan, sampai timbul rasa nyeri pada perut Morgan.


“Aww ....” Morgan merintih, membuat Fla tidak tega melihat rintihan yang sama, yang ia dengar malam itu.

__ADS_1


Namun, Fla setengah tidak memedulikan, dan malah tidur saja.


“Asam lambung,” gumam Fla, yang sudah memeriksa Morgan dengan pemeriksaan dasar.


Fla memandang datar ke arah Morgan, “Pemeriksaan lanjut, akan dilakukan oleh dokter Dhanu sedang menangani pasien lain. Kemungkinan besar, nanti akan dilakukan USG perut, atau bisa juga dilakukan foto rongent. Untuk sementara, saya akan berikan kamu infus, untuk pereda nyeri. Kamu juga kelihatannya kurang cairan,” ucap Fla, sembari merapikan barang-barang yang ia bawa.


Morgan memandangnya dengan dalam, “Percayalah, Fla. Saya gak butuh semua obat itu. Yang saya butuh cuma kamu buatkan saya sarapan setiap pagi,” ucapnya, membuat Fla terdiam mendengarnya.


Walaupun sedikit banyaknya Fla merasa sedih, tetapi kesedihannya selalu ditepiskan oleh pemikiran lainnya.


‘Sudah ada Ara, saya tidak perlu lagi melakukan apa pun untuk Bang Morgan. Tinggal tunggu saatnya, saya bisa melupakan Morgan. Di saat itulah, saya akan meminta cerai padanya,’ batin Fla, yang berpikiran demikian.


“Pak Morgan, tolong ikuti prosedur yang ada. Ini sudah menjadi tanggung jawab dokter Dhanu, dan saya hanya membantu beliau saja. Jadi, jangan mempersulit, apa yang akan saya kerjakan,” ujar Fla, masih dengan nada datarnya.


Morgan benar-benar tidak habis pikir. Di saat seperti ini, Fla masih tidak bisa melembutkan hatinya untuk Morgan.

__ADS_1


“Paling tidak, sampai saya sembuh, Fla! Jangan seperti ini,” ujar Morgan, merengek seperti anak kecil yang meminta sebuah lollipop pada orang tuanya.


__ADS_2